Why?

Why?
Mencemooh Diri Sendiri


__ADS_3

Hari hari Helena jalani dengan perasaan campur aduk yang kadang kala membuatnya mual, kadang juga tiba-tiba ingin marah, menangis pun bukan hanya cukup sekali atau dua kali saja dalam satu hari. Mau bagaimana lagi? Ini adalah jalan dan pilihan yang sudah harus dia terima dan dia jalani, kepahitan ini mungkin akan membuatnya merasa tidak nyaman, bahkan perasaan ingin menyerah juga begitu sering datang. Tapi hidup memang seperti itu kan? Hidup tidak lain seperti sebuah pertarungan di mana yang kuat, gigih, dan sabar akan mendapatkan apa yang dia inginkan, sedangkan yang lemah dan tak memiliki semangat berjuang akan berada di tempat yang sama.


Setelah sekian waktu semenjak terdakwa di amankan di langit polisi, ini adalah yang pertama kalinya untuk Helena datang kesana untuk bertemu dengan pria yang namanya adalah Jul.


Cukup lama Helena terdiam menatap Jul yang memilih untuk menunduk entah apa yang di pikirkan oleh pria itu. Helena datang bukan untuk menekan Jul dan memintanya untuk mengakui kejahatan yang entah benar atau tidak dia orangnya. Tapi Helena datang ke sana hanya untuk melihat Jul, menunjukkan kepada Jul bahwa wajahnya masih bisa dia gunakan untuk menemui Jul yang katanya adalah penabrak putrinya.


"Aku tidak tahu dari mana aku akan mulai bicara, tapi aku akan mengatakan intinya saja padamu." Helena menatap Jul dengan tatapan serius meski Jul masih saja menunduk tak sedetikpun ingin membalas tatapan Helena. Tentu saja pria itu tidak terlihat takut, yang Helena rasakan adalah, pria itu seperti sedang mencoba untuk menghindari pertanyaan demi pertanyaan yang akan di tanyakan Helena kepadanya. Tidak tahu apakah dia merasa takut untuk menjawabnya karena menjaga perasaan Helena untuk tidak marah dan sedih, ataukah dia takut salah bicara dan pada akhirnya semua akan terbongkar dengan cepat.


"Manusia tidak salah jika dia miskin, tapi manusia yang tidak memiliki kualitas adalah manusia yang paling salah dan menyedihkan. Aku bersyukur sekali karena kau memilih diam, karena kalau sampai kau membuka mulutmu sedikit saja untuk bicara, maka aku akan tahu segala yang kau sembunyikan. Tetaplah seperti itu, tutup mulutmu rapat-rapat, biarkan aku lihat sampai di mana kau akan membayangkan mulutmu."


Helena menarik nafasnya, dan membuang perlahan masih menatap Jul dengan segala pemikirannya. Sungguh tidak masalah, entah dia mau bicara atau tidak, yang sedang Helena lakukan adalah agar Pengacara Jhon mengetahui jika dia menemui terdakwa dan tidak terkesan tidak perduli lagi. Memang benar kalau Pengacara Jhon pasti sudah menyadari banyak hal yang janggal, tapi sayangnya Helena sama sekali sudah tidak ingin memperdulikan bagaimana pendapat orang itu lagi.


"Aku senang bertemu denganmu, melihat wajah mu yang seperti pengecut, bersembunyi dan mencoba untuk melarikan diri dari tatapan mataku, dan dari pembicaraan ini. Aku tidak ingin menghinamu sebenarnya, tapi entah mengapa aku merasa kau memang terbiasa untuk menjadi pengecut dan melarikan diri. Aku merasa terhibur membayangkan bagiamana melakukannya hidupmu, ah! Kau jadi penasaran apakah kau memiliki keluarga? Istri, anak? Orang tua? Sungguh, apakah mereka baik-baik saja memiliki mu yang seperti ini?"


Jul nampak mengeraskan rahangnya membuat Helena tersadar bahwa apa yang dia katakan barusan cukup mempengaruhi hati Jul.


Suara dering ponsel membuat Helena teralihkan, dia segera menerima panggilan telepon yang ternyata berasal dari Martin. Mendengar Martin mengatakan jika dia ingin bertemu segera mungkin, Helena menjadi harus segera meninggalkan tempat itu untuk menemui Martin.


Helena sebentar menatap Jul, lalu tersenyum tipis.

__ADS_1


" Sayang sekali aku harus pergi, tapi tidak usah khawatir aku akan datang lagi nanti, bahkan lebih sering agar kau bisa lebih sering melihatku, membuatmu merasa tertekan dan muak sekali."


Setelah mengatakan itu, Helena bergegas meninggalkan tempat itu, menuju parkiran mobil, dan dengan segera menjalankan mobilnya untuk menuju ketempat di mana Martin berada. Entah apa yang akan di katakan Martin, tapi sepertinya memang ada hal yang cukup serius sehingga Martin meminta untuk buru-buru bertemu.


Beberapa sat kemudian.


"Kenapa kau menyewa ruang VVIP? Bukanya kita bisa mengobrol di tempat yang biasa saja?" Tanya Helena begitu dia sampai di sana.


Martin memaksakan senyumnya, dia menghela nafas pelan dan meminta Helena untuk duduk di sebelahnya.


"Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya lagi Helena yang semakin tidak sabar karena wajah Martin benar-benar terlihat tidak biasa. Dia terlihat seperti sangat sedih, tapi juga lega, tapi juga marah, entah benar atau salah apa yang di pikirkan Helena tentang raut wajah Martin kala itu.


"Aku ingin memberitahu hasil autopsi putrimu."


"Aku tahu kau pasti terkejut, tapi aku tidak ada waktu untuk memberitahumu sebelumnya. Salah satu dokter forensik kemarin adalah sahabatku saat kuliah, aku memintanya untuk diam-diam merahasiakan ini, aku menceritakan bagaimana tumitnya masalah ini, dan akhirnya dia bersedia membantu kita. Sebenarnya hasil autopsi akan di keluarkan lusa, tapi hasil yang akan diberikan kepada kita adalah hasil yang sudah di ubah. Sahabatku sengaja mengkopi aslinya secara diam-diam, karena kepala rumah sakit kemungkinan menerima suap dalam jumlah besar."


Helena masih terdiam, kini matanya memerah, sudah banyak air mata yang mengembung di pelupuk matanya. Bagiamana bisa putrinya terseret jauh hingga seseorang begitu gencar menyuap banyak pihak seperti ini?


"Sebenarnya aku juga tidak habis pikir, tapi sepertinya kepala rumah sakit juga mendapatkan tekanan."

__ADS_1


Helena membuang nafas seraya dengan air matanya yang jatuh. Masih saja hatinya terus bertanya, kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa harus putrinya? Kenapa harus seperti ini? Kenapa kematian putrinya begitu rumit?


"Katakan padaku, bagaimana hasilnya?" Tanya Helena yang sudah tidak ingin membuang waktu lagi, membuat hatinya bimbang dan bingung hingga dadanya terasa begitu sesak dan sakit. Walaupun memang nanti tidak ada yang berubah, tetap saja Helena begitu yakin akan ada titik terang yang terlihat.


Martin terdiam sebentar, mengeraskan rahangnya, dia merasa bingung bagaimana dia akan menyampaikan itu kepada Helena. Tapi Helena adalah orang yang paling berhak tahu tentang ini, jadi Martin benar-benar harus segera memberitahu Helena.


"Sebab kematian putrimu sama persis seperti yang di jelaskan oleh temanmu itu."


Helena tertawa kecil seolah dia sedang mencemooh dirinya sendiri yang terbuai karena mengikuti saran dari Martin untuk membingkai makam putrinya tapi tidak ada hasil apapun.


"Hanya saja,"


Deg!


Helena menatap Martin dengan tatapan serius dan juga terkejut.


"Hanya saja apa?!"


Martin membuang nafasnya sebentar.

__ADS_1


"Kedua ginjal putrimu, tidak ada."


Bersambung.


__ADS_2