Why?

Why?
Ketakutan Dan Ketenangan


__ADS_3

Setelah Ati benar-benar memutuskan untuk tidak akan memiliki hubungan apapun dengan Lukas, mau tak mau Lukas hanya bisa keluar dari apartemen Airi dengan perasaan sedih, hancur dan kecewa. Bukan hanya kecewa dengan penolakan Airi saja, namun dia juga sangat kecewa dengan dirinya sendiri yang telah membuat semua kepedihan ini terjadi. Sekarang dia hanya bisa menjadi Ayah tapi gak memiliki kesempatan untuk ikut membesarkan anaknya, dia hanya akan menjadi pria yang tidak akan bisa memiliki hati dari wanita yang ia cintai. Semuanya sudah hancur, dia sudah tidak akan bisa menjalani harinya seperti sebelumnya saat bersama dengan Airi, dia hanya akan menjadi Lukas yang linglung dan bersedih sepanjang waktu karena perasaan bersalah, kecewa, juga marah kepada dirinya sendiri.


Airi juga kacau, dia sedih karena bagaimana perasaan cinta itu seperti muncul lagi, namun selain cinta dia juga merasakan benar hatinya yang kembali terluka seolah luka itu kembai dia rasakan dengan jelas. Farah, dan Lukas, wajah mereka yang terasa begitu menjijikan membuat Airi bahkan tidak sanggup lagi mengingat pengkhianatan itu.


"Sudah, ini adalah jalan yang terbaik. Aku, dan kau adalah dua orang yang memilki permasalahan hati. Kalaupun kita kembali bersama, aku hanya akan mengingat luka yang pernah kau berikan, kau juga akan merasakan rasa bersalah itu, kita hanya akan tersakiti tanpa kata dan sikap. Melepaskan mu jelas saja aku merasa sakit karena aku juga merasakan tidak rela, tapi mengingat pengkhianatan yang kau berikan, sepertinya aku bahkan tidak akan sanggup mengahadapi mu lagi. Selamat tinggal, Lukas. Kau harus hidup dengan baik, dan semoga kau menemukan cinta baru, orang yang pantas untuk mu, dan sesuai harapan keluarga mu." Gumam Airi, dia membuah nafasnya dan memilih untuk masuk ke dalam kamar putranya. Dia berjalan mendekati putranya, menatap wajah itu dengan seksama lalu tersenyum bahagia. Setidaknya dunianya tidak begitu hancur, Tuhan yang maha baik memberikan sosok malaikat yang begitu tampan setelah luka yang mendalam dalam hidupnya.


Di sisi lain.


"Gaun pernikahan sudah, cincin sudah, hidangan utama dan camilan juga sudah, semua yang kecil dan prenik juga sudah. Kita hanya tinggal menunggu hari saja kan, sayang?" Martin tersenyum lebar setelah memberikan tanda ceklis dari daftar apa saja yang di butuhkan untuk pernikahan mereka. Memanglah ini bukan pernikahan pertama mereka, tapi Martin benar-benar ingin menikahi Helena dengan layak dan seharusnya. Tamu undangan benar-benar tidak banyak, hanya sekitar seratus orang saja.


Helena memaksakan senyumnya, sesungguhnya semakin dekat dengan hari pernikahan Helena justru begitu banyak hal yang dia pikirkan. Tapi melihat bagaimana Martin yang begitu bersemangat, Helena benar-benar tidak bisa menyampaikan apa yang sebenarnya sedang dia pikirkan saat ini.


"Sayang, nanti setelah kita menikah aku memutuskan untuk pindah ke perumahan saja. Sepertinya tinggal di apartemen masih kurang nyaman untuk kita, apa kau setuju?"

__ADS_1


Helena mengangguk saja, sebenarnya dia masih tidak rela meninggalkan apartemen miliknya, apartemen yang sudah dia sewa selama beberapa tahun yang menyimpan kenangan begitu banyak bersama Velerie. Tapi kalau Helena pikirkan lagi, bukankah ini juga sama artinya dengan memaksa Martin untuk tinggal di apartemen? Apartemen miliknya hanya memiliki dua kamar, satu ruang tamu, dapur menjadi satu dengan ruang makan dan ruang televisi. Akan sangat sempit sekali bukan? Ibunya juga tinggal di apartemen itu, di tambah Martin, Helena dan Sofia, tentu saja akan sangat penuh.


Tapi sekarang, bukan masalah apartemen yang begitu di pikirkan Helena, hanya satu saja tapi dia masih merasa berat untuk mengatakannya kepada Martin.


"Sayang, kau kan bilang tidak ingin tidak ada kegiatan, nanti kau pikirkan saja kegiatan apa yang kau inginkan. Selama itu tidak berlebihan membuat mu lelah, tentu saja aku akan mendukung saja."


Helena Kembali mengangguk, Martin sekarang benar-benar menyadari jika Helena memang lebih pendiam dari biasanya, dan jelas dia bisa tahu kalau ada yang sedang di pikirkan Helena saat itu.


"Sayang, katakan saja pada ku, katakan apa yang sedang kau bicarakan agar aku paham."


"Martin, aku....."


Martin mendalam salivanya, tidak! Entah kenapa ekspresi Helena membuatnya merasa takut, jika apa yang akan di katakan Helena adalah hal yang tidak dia inginkan, bukankah lebih baik kalau dia tidak usah bertanya, tidak usah mendengar, dan tidak usah mengerti, berpura-pura bodoh saja.

__ADS_1


"Martin, jika kita menikah nanti, lalu kalau aku hamil, dan kalau anak kita memiliki kekurangan, apakah kau bisa menerimanya? Apakah keluarga mu akan menyalahkan ku?"


Martin terhenyak, dia menatap Helena yang mengindari tatapan matanya, menyembunyikan diri karena ingin menangis. Martin menghela nafas sebentar, meraih tangan Helena dan menggenggamnya erat.


"Bukankah bagiamana pun keadaanya dia tetap anak kita? Entah seperti apa wujudnya, dia adalah bagian dari kita untuk apa aku harus merasa keberatan? Anak tetaplah anak, entah sampai kapan kita hanya perlu memenuhi kewajiban sebagai orang tua kan? Kau juga tidak boleh memikirkan soal keluarga ku, Ibu ku sudah meninggal, Ayah ku, Ibu tiri, dan Win, kau pikir mereka akan memperdulikan kita? Tidak. Aku berjanji tidak akan berubah apapun yang terjadi, bagaimana anak kita nanti, dan bagaimana kondisi mu nanti."


Helena menatap kedua bola mata Martin, pria itu benar-benar jujur sekali. Dia mengatakan apa yang sebenarnya dia rasakan. Helena menangis, lalu memeluk Martin erat. Bagaimanapun apa yang terjadi dengan Velerie dulu sangatlah menyakitkan. Dia dan David tentu saja menerima dan mencintai Velerie, tapi orang di sekitarnya sama sekali tidak seperti itu, bahkan Velerie juga harus menerima penghinaan terang-terangan. Cukup saja dia terluka karena anak kandungnya di rundung oleh keluarga sendiri, dia tidak ingin anaknya yang lain merasakan seperti yang Velerie rasakan.


"Sayang, tolong jangan merasa terbebani. Apa yang terjadi pada Velerie dulu jelas bukanlah salah mu. Kau sudah menjadi Ibu yang baik, kau memenuhi kebutuhannya dengan baik, hanya orang di sekitar mu yang tidak baik. Tapi percayalah padaku sekarang, semua orang akan berada di garda terdepan untuk melindungi mu, melindungi anak kita."


Helena mengangguk, dia semakin erat memeluk Martin dan mengucapkan banyak terimakasih di dalam hati.


Keturunan, nyawa, masa depan, semua yang ada di dunia ini tentu saja ada karena Tuhan. Walaupun memang tidak melulu tentang kebahagiaan, setidaknya rasa sakit dalam hidup adalah pacuan agar bisa lebih bersyukur saat kebahagian datang.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2