Why?

Why?
Bersiap Menyerahkan Diri


__ADS_3

Di rumah sakit.


"Aku baru saja datang ke kantor polisi untuk menyampaikan surat laporan polisi seperti yang sudah kita bicarakan." Ucap Martin seraya membuka kotak makanan yang Martin beli sesuai dengan pesanan Helena. Sup kacang merah dengan teh hijau hangat.


Helena memaksakan senyumnya, mengangguk saja karena dia tidak tahu harus bagaimana menanggapi masalah ini. Sekarang kenyataannya adalah, Tuan Feto adalah Ayahnya, walaupun kesannya seorang anak memenjarakan Ayahnya sendiri, tapi Helena merasa kalau seseorang yang bersalah patas mendapatkan hukuman.


"Lusa Dokter sudah memperbolehkan mu keluar dari rumah sakit, tapi kau tetap harus banyak istirahat di rumah."


Helena menghela nafasnya.


"Aku benar-benar tidak bisa bekerja ya?"


Martin tersenyum sembari mencuri kesempatan untuk mengacak rambut Helena.


"Kalau begitu, bagaimana kalau cepat kita menikah supaya kau tidak usah bekerja selamanya?"


Helena menyipitkan matanya, rasanya dia ingin mengatakan tidak mau! Tapi bibirnya seperti terkunci rapat membuat Martin terkekeh sendiri.


"Kau mengatakan itu hanya ingin membuatku menjadi pengasuh Sofia kan?"


Martin menghela nafas, menyingkirkan dulu bubur kacang yang akan dia suapkan kepada Helena, mendekatkan posisi mereka agar menjadi lebih dekat.


"Aku tidak akan menjadi selicik itu, Helena. Aku meminta Sofia memanggilmu Ibu karena aku hanya ingin kau yang jadi Ibunya, dan jadi istriku. Aku, tidak pernah memiliki minat mencari pengasuh anak karena aku bisa mengasuh anakku sendiri."


Helena menelan salivanya melihat Martin yang begitu dekat dengan wajahnya.

__ADS_1


"Kalau saja kau tidak sedang lemah, aku benar-benar tidak akan membiarkan begitu saja. Diam mu yang seperti barusan benar-benar membuatku sulit menahan diri, jadi setelah sembuh lebih baik pikirkan tentang pernikahan kita. Kalau kau masih tidak setuju, aku akan memaksamu dengan segala cara." Martin memamerkan barisan giginya yang rapih dan bersih, berucap dengan santai setelah sebentar mengecup bibir Helena tapa permisi. Yah, kalau dia izin dulu jelas sudah jelas Helena tidak akan memberikan izin kan.


"Kenapa kau mengancamku? Aku tentu saja memiliki hak untuk menolak, dan kau juga tidak boleh memaksa. Ingat, aku adalah penduduk negara yang haknya di sahkan negara asalkan tidak merugikan orang lain dan negara bukan?"


Martin terkekeh, sekarang Helena benar-benar amat pintar berdebat tentang hukum, tapi sayang sekali Martin tidak akan berhenti apapun yang terjadi.


"Yah, tetap saja kita ini di ciptakan satu sama lain, kita ini benar-benar berjodoh, Helena."


"Bagaimana kalau tidak?" Tanya Helena.


"Aku akan memaksa apapun yang terjadi."


"Jodoh, ada di tangan Tuhan."


Kalau memang benar Martin begitu serius, dan benar-benar siap menjadi bagian dalam hidupnya, maka Helena juga akan mengikuti alur itu. Entah akan menjadi seperti apa hidupnya juga dia menikah dengan Martin, tapi Helena cukup mempercayai Martin, pria itu tidak akan menyakiti dirinya seperti yang pernah di lakukan David padanya.


"Kalau begitu memaksa, biar ku lihat bagaimana kau menunjukkan nilai mu padaku." Setelah mengatakan itu Helena segera mengubah posisi tubuhnya, manarik selimut tinggi menutupi sebagian wajahnya karena dia tidak ingin Martin melihat bagaimana wajahnya yang memerah sekarang.


Martin terdiam membeku, dia takut akan salah dengar, tap melihat bagaimana Helena menyembunyikan dirinya di balik selimut, Martin benar-benar yakin yang dia dengar itu adalah benar. Segera Martin mendekati Helena, menarik selimutnya dan kembali mendekatkan wajah mereka.


"Apa yang mau kau lakukan?!"


Martin mendekatkan bibirnya, mengecup tapi cukup lama dia menempelkan bibirnya. Untung saja dia ingat benar kalau Helena sedang tidak baik, kalau saja keadaannya tidak seperti ini, sungguh Martin tidak akan perduli di mana mereka sekarang, dia benar-benar akan melahap Helena sampai tak tersisa.


Di sisi lain.

__ADS_1


"Kau gila?! Kau akan menyerahkan diri?! Kau ingin menghancurkan kita semua hah?! Kau, dan aku bisa di penjara seumur hidup!" Protes Ibunya Melisa saat mengetahui jika Tuan Feto sedang bersiap untuk pergi ke kantor polisi dan menyerahkan diri untuk menerima hukuman.


Tuan Feto menghela nafas, dengan menggerakkan telapak tangannya dia meminta asisten sekretaris nya untuk lebih dulu keluar dari rumah dan dia akan sebentar berbicara dengan Ibunya Melisa.


"Benar, hanya dengan begini aku akan menyeret masuk ke penjara dan kau bisa berhenti memikirkan hal-hal tidak berguna. Jangan kau kira aku tidak mengetahui apa yang ingin kau lakukan beberapa waktu ini, kau sudah gila dan tidak bisa berpikir jernih. Mari kita hidup di dalam penjara sembari merenungi kesalahan kita semua."


Ibunya Melisa menggelengkan kepala tak menyetujui apa yang di katakan Tuan Feto. Tidak, dia tidak ingin hidup di dalam penjara, dia tidak ingin terkurung dan lebih mempermalukan nama keluarga setelah apa yang terjadi dengan Melisa.


"Kau tidak boleh melakukan ini, Feto! Tidak boleh! Lagi pula aku tida terlibat apapun, aku tidak terlibat jadi untuk apa aku takut?!"


Tuan Feto tersenyum miring menatap istrinya yang begitu bersikeras ingin menyembunyikan segala yang telah dia lakukan.


"Jangan membohongi diri sendiri, Sera. Kau adalah orang yang memerintahkan pembunuh untuk membunuh guru SLB itu. Kau juga adalah orang yang mencoba menabrak Helena, kau juga orang yang telah mencelakai pengacara Martin. Aku pikir sebagai seorang suami perlu bagiku melindungi mu dan membiarkan semua orang menyalahkan dan mencurigai ku. Aku bahkan mengikuti permainan gila mu dengan berpura pura bodoh saat kau menunjukkan kepanikan seolah aku adalah pelakunya. Sera, aku terjerat dengan tiga pasal, menghilangkan barang bukti, penganiyaan dan suap. Dibanding dengan apa yang sudah kau lakukan, sepertinya kau akan tinggal seumur hidup di penjara bukan?" Tuan Feto mengakhiri ucapannya dengan senyum dingin dan smirik membuat Ibunya Melisa merasa tertekan dan enggan mengakui semua itu.


"Tidak, tidak benar! Aku tidak melakukan apapun! Guru SLB itu di bunuh oleh Melisa, aku tidak melakukan apapun!"


Tuan Feto membuang nafas kasarnya, dia tersenyum karena dia sendiri juga tidak menyangka kalau pada akhirnya semua akan berakhir seperti ini.


"Sera, Melisa bisa melakukan tindakan itu juga atas provokasi mu kan? Kau yang membuat Melisa berbuat nekad dengan ide untuk mengambil ginjal Velerie, kau melakukan semua itu dengan sengaja."


Ibunya Melisa menolak untuk mengakui apa yang di katakan Tuan Feto. Tidak, apapun yang dia lakukan seharusnya menjadi tanggung jawab suaminya bukan?


"Berhentilah, Sera. Semua sudah tidak ada artinya lagi. Kau ingin membawa Dokter untuk mengambil sel telur Melisa? Jangan lupa masalahnya bukan rahim Melisa, tapi tubuh Melisa yang sudah tidak lagi bisa menghasilkan sel telur, kau tidak bisa melakukan itu, karena itu juga akan menyakiti Melisa."


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2