
Helena terduduk di ujung ruangan, tak ada suara lain selain hembusan nafasnya. Tak ada penerangan, dia biarkan saja ruangan itu gelap segelap hatinya. Helena kini tengah berada di dalam kamar Velerie, memeluk kedua lututnya dan terdiam merenung setelah sekian lama dia menangis terisak sendirian di sana. Padahal dia ingin semuanya membaik, padahal dia ingin hidup dengan tenang siapa bisa konsentrasi penuh untuk mendapatkan keadilan bagi Velerie. Tapi dia sama sekali kalau pada akhirnya dia akan mengorbankan banyak hal seperti sekarang.
Mengingat kembali apa yang di katakan Martin, Helena sebenarnya masih merasa berat dan tidak rela, tapi kalau memang hal itu bisa memberikan petunjuk untuk menemukan pelaku yang sudah membunuh putrinya, rela tidak rela dia memang harus melakukan ini.
"Erie, kadang-kadang Ibu memikirkan, apa kau merasa takut di dalam sana? Apa kau kesepian? Lalu apakah kau akan merasa marah saat Ibu mengusik mu? Apa tidak apa-apa kalau Ibu melakukan ini? Tapi jika Ibu memikirkan dan terus tidak siap, semua juga tidak akan segera berakhir. Ibu tidak sanggup berlama-lama di dunia yang kejam ini."
Helena bangkit dari posisinya, bangkit dan berjalan untuk menyalakan lampu. Setelah lampu kamar Velerie menyala, sebentar Helena terdiam menatap seluruh ruangan dengan diam. Kamar ini memang pernah memberikan kebahagiaan yang kini tinggal kenangan, dan sekarang Helena hanya punya satu pilihan saja yaitu, menjaga kenangan itu tetap ada, dan membiarkan putrinya berada di alam sana dengan tenang dan tidak tertahan karena ada hal yang mengganjal setelah dia meninggal.
"Erie, Ibu akan melangkah jauh, jauh hingga Ibu tidak akan perduli kalau langkah Ibu akan menyakiti hati Ibu. Maafkan Ibu, maafkan karena tidak bisa menjagamu dengan baik, maafkan Ibu yang tidak bisa tetap menggenggam tanganmu dan berjalan bersama seperti yang Ibu janjikan. Tapi, Ibu janji tidak akan membiarkan mereka bahagia setelah menghancurkan mimpi kita, memisahkan kita, dan membuat kita kehilangan segalanya."
Helena berjalan keluar dari kamar Velerie dengan keyakinan yang begitu besar meski masih sadar benar jika pada akhirnya dia juga akan merasakan sakit nantinya. Yah, tidak apa-apa, anggap saja semua ini dia lakukan untuk sebuah jawaban yang masih misteri.
Begitu sampai di kamarnya, Helena meraih ponselnya, menghubungi Martin untuk mengatakan apa yang ingin dia katakan.
__ADS_1
"Aku setuju, lakukan apa yang kau katakan, aku harap kita mendapatkan jawaban yang kita inginkan."
Setelah mendapatkan telepon dari Helena, Martin terdiam sebentar sembari menatap putranya yang kini sudah mulai tertidur pulas. Dia mengeraskan rahangnya, lalu menatap ke arah lain, arah di mana jendela kamarnya berada. Martin berjalan mendekati jendela itu, sebentar membuka jendela kamar dan membuang nafas panjangnya, menarik nafas dan begitu beberapa kali.
Kehidupan yang dia jalani beberapa tahun terakhir adalah hidup yang seperti mati, sekarang sudah saatnya bangkit dan mengerahkan segala kemampuan untuk bertindak maju. Martin menatap ke ponselnya, lalu menghubungi seseorang.
"Paman, aku akan mulai bekerja di sana lusa. Tolong bimbing aku, dan aku akan berusaha melakukan yang terbaik."
Esok harinya.
Pengacara Jhon menghela nafas, menatap Martin dengan senyum aneh yang membuat Martin menyadari benar jika lagi-lagi surat permohonan untuk mengundurkan diri miliknya hanyalah omong kosong belaka.
"Katakan padaku, apa yang membuatmu ingin berhenti bekerja di firma hukum yang begitu terkenal ini?"
__ADS_1
Martin tersenyum, bagaimana dia akan menjelaskan bahwa hatinya benar-benar merasa menggelikan mendengar pengacara Jhon mengatakan jika firma hukum itu sana terkenal. Apa yang terkenal sesungguhnya adalah, orang-orang dengan seragam pengacara, berdasi rapih, senyum ramah yang mengembang dan kalimat bijak keluar dari bibir mereka, menyambut dengan begitu bersahabat, tapi kenyataannya yang mereka inginkan hanyalah satu yaitu, memuaskan rasa lapar mereka terhadap uang yang tidak ada akhirnya.
"Aku ingin bekerja di tempat saya bisa menjadi diri saya sendiri. Beberapa tahun lalu aku masih begitu egois dan muda, aku pikir dengan bekerja di firma hukum ini akan membuatku merasa bahwa aku adalah hebat. Tapi sayangnya aku tidak merasa seperti itu, yah mungkin karena semua yang ada di sini adakah pengacara hebat."
Pengacara Jhon terdiam, dia jelas merasa ada yang tidak beres, tapi mengingat akan kemampuan Martin selama ini, dia merasa kalau kekhawatiran yang dia rasakan itu berlebihan. Memang apa yang bisa di lakukan Martin? Selama ini hanya tahu mendompleng saja, menjadi pesuruh teman-temannya. Walaupun memang benar pada akhirnya akan tetap menjadi pengacara, tentu saja pengacara seperti Martin mentok hanya akan menangani kasus pencopetan atau sejenisnya.
Kalaupun memang nantinya pengacara Martin masih bisa bekerja, dan akan memberikan ancaman untuknya, tentu saja pengacara Jhon tidak akan tinggal diam, dan dia akan meminta Martin untuk diam lewat putri nya.
Martin keluar dari ruangan pengacara Jhon dengan senyum lega karena pada akhirnya dia sudah tidak memiliki ikatan lagi dengan firma hukum yang selama beberapa tahun ini seperti neraka baginya. Hati Martin benar-benar merasa lega dan bahagia, hingga dia sama sekali tidak memperdulikan bagaimana teman kerjanya yang lain menatap dirinya dengan tatapan mencemooh. Yah, hidup itu sebenarnya simple saja bukan? Abaikan ucapan orang lain yang akan membuatmu rendah diri, semangati diri sendiri dengan kalimat baik, dan tetap berada di lingkungan yang mendukungmu.
"Mari kita bertarung dengan benar...."Martin membuka pintu dan keluar dari gedung firma sembari menghembuskan nafas lega. Sudah dua tahun terakhir ini dia hanya diam, mencuri ilmu dari rekan kerjanya secara diam-diam di balik wajah bodohnya. Membaca lembar demi lembar salinan dokumen saat dia di minta untuk mencetak dokumen itu. Martin sengaja membuat kopi untuk pengacara Jhon dan atasan lainnya supaya bisa mencari apa yang dia inginkan, dan mencuri dengar apa saja yang akan berguna nantinya yatu, ilmu.
Begitu keluar dari sana, Martin segera menghubungi Helena yang pastinya di jam sekarang Helena sedang bekerja. Tapi mau bagaimana lagi? Dia harus secepatnya menghubungi Helena, mengambil semua data diri yang di butuhkan demi keperluan untuk pembongkaran makan, juga melakukan autopsi. Sebenarnya kegiatan autopsi ini akan menimbulkan beberapa masalah, pro dan kontra pasti akan selalu ada dalam tindakan sebesar ini, tapi apapun resikonya sudah tidak boleh mundur lagi.
__ADS_1
Masalah Sofia, mulai dari sekarang Martin akan benar-benar menjaganya dengan baik, dan karena dia akan bekerja di salah satu kenalan pengacara lawas yang dia panggil paman itu, dia bisa membawa Sofia untuk ikut bersama dengannya.
Bersambung.