
"Sekarang, apa yang harus kita lakukan?" Tanya Helena kepada Martin yang kini duduk berseberangan meja dengannya.
Martin tersenyum, apa? Sekarang mereka bahkan tidak perlu melakukan apapun sampai sidang pertama di gelar. Karena setelah sidang pertama selesai, baik Martin ataupun Helena benar-benar tidak akan memiliki waktu untuk istirahat, bahkan tidur juga jelas tidak akan nyenyak.
"Untuk sementara jangan melakukan apapun, sampai sidang pertama nanti selesai." Baru saja Martin selesai bicara, dia mendapatkan pesan yang membuatnya melihat ke ponselnya.
"Sial!" Maki Martin seraya bangkit dari duduknya, wajahnya yang terlihat senjata terkejut, tapi juga marah membuat Helena menjadi ikut panik.
"Ada apa?" Tanya Helena.
Martin menatap Helena dengan segala pemikirannya, lalu memejamkan mata sebentar berharap itu bisa membuatnya tenang.
"Para bajingan itu bertindak sangat jauh, mereka menculik putriku."
Helena jatuh duduk, dia terlihat sangat syok sekali membayangkan betapa takutnya Sofia sekarang ini. Kenapa mereka harus melibatkan anak kecil lain setelah melenyapkan anaknya? Sofia adalah gadis kecil yang tidak bersalah, dia mudah ketakutan dan pasti sekarang dia terus merintih memanggil nama Ibunya. Helena mengepalkan tangannya, dia benar-benar sangat marah karena semua perjalanan mencari keadilan ini harus melibatkan anak kecil lagi. Tidak, kali ini sepertinya dia harus bertindak sendiri, dia akan berusaha melakukannya sendiri karena jelas Martin akan terkekang dan tidak berdaya untuk melindungi anaknya.
"Jangan berpikir buruk dulu, pergilah ke jalan veteran, blok c no enam rumah nomor dua puluh satu. Katakan kau datang karena permintaanku, dan jangan memperlihatkan wajah serius saat bicara. Semua orang sedang mengintaimu, semua sedang mengawasimu. Percayalah tidak ada yang tidak mungkin, aku memang tidak bisa terang-terangan membantumu, tapi percayalah aku selalu ada di pihakmu dan akan melindungimu dari belakang secara diam-diam." Martin mengatakan itu dengan posisinya yang masih berdiri, suaranya sangat pelan karena dia menyadari salah satu pengunjung restauran tempat di mana dia dan Helena bertemu adalah orang yang mengawasi mereka.
Mendengar kalimat yang di ucapkan Martin, Helena benar-benar merasa cukup lega meski pada akhirnya niat untuk memburu mulai membara di hatinya. Iya, pria yang mengedepankan keadilan memang tidak boleh kalah, menyerah. Karena dengan adanya orang-orang seperti Martin, pada akhirnya dunia akan terasa lebih seperti seorang Ibu bukan?
"Maafkan aku, Helena." Martin menyentuh wajah Helena, membungkuk mendekatkan wajahnya, lalu mengecup pipi Helena.
"Untuk sekarang mereka pasti tidak akan membunuhmu, tapi apapun yang terjadi kau harus tetap berhati-hati. Aku harus segera kembali, jangan mengirimkan pesan padaku, biar aku yang melakukannya nanti." Setelah itu Martin kembali ke posisi semula, tersenyum menatap Helena dan mengusap rambutnya. Mungkin Martin ingin membuat orang yang mengintai mereka berpikir bahwa mereka berdua memiliki hubungan lain sehingga masih bertemu meski sudah tidak ada hubungan kerja lagi.
__ADS_1
Setelah keluar dari restauran, Martin dengan segera menuju ke kantor. Kenapa? Karena Pengacara Jhon membawa putrinya kesana. Tentu saja dengan membawa putrinya ke kantor, mengirimkan photo Sofia yang sedang duduk di bangku sembari menangis adalah ancaman untuknya.
Begitu sampai di firma, Martin berlari mencari keberadaan putrinya dan ternyata bukan hanya putrinya, namun Bibinya yang dia panggil Ibu juga berada di sana. Ibunya memang tersenyum bahagia saat Pengacara Jhon menggendong Sofia seolah dia menyukai Sofia, padahal jelas sekali dia ingin membuat Martin tidak berdaya.
"Sofia!" Martin dengan segera mengambil Sofia dari gendongan Pengacara Jhon.
"Martin, maaf Ibu datang kemari ya? Sejak pagi Sofia terus saja menangis. Mungkin lemas setelah sakit membuat dia menjadi rewel. Ibu sudah coba untuk menghubungimu, tapi tidak kau angkat."
Martin menatap Pengacara Jhon yang kini tengah tersenyum dengan mimik menakutkan. Yah, jangan hanya dan tidak perlu hanya lagi apa maksudnya tatapan seperti itu.
Di sisi lain.
Helena kini sudah berada di depan rumah Farah, dia tidak menggunakan mobil karena mobilnya sedang berada di bengkel untuk di servis. Tapi syukurlah dengan tidak menggunakan mobil dia bisa mendengar apa yang tengah di bicarakan oleh Farah dan juga Ibunya. Padahal niatnya datang baik-baik dan bicara dengan Farah.
"Kenapa tidak ada habisnya membahas soal Helena? Aku sudah tidak ingin memiliki hubungan apapun, dia tidak penting lagi untukku. Semua orang mengatakan bahwa kematian Velerie itu bisa di sebut berkah, toh dengan begitu Helena tidak akan repot mengurus anak cacat lagi! Sial! Tapi dia terlalu bodoh dan tidak tahu diri sampai membuat kehebohan di internet seperti ini!"
Helena mundur dari sana, perlahan menjauh hingga tidak ada yang menyadari jika dia pernah berada di sana.
"Rupanya semua orang memang mengkhianati ku."
Helena tersenyum miring, dia menatap kedua tangannya yang kini terangkat sampai ke dadanya.
"Dengan tangan kosong ini aku akan membawa kalian semua, aku akan menghukum kalian semua."
__ADS_1
Helena berjalan cepat menuju ke SLB, tempat di mana Velerie sekolah dan di mana Velerie meninggalkan dunia ini untuk selamanya. Dengan wajah marahnya, Velerie berjalan tanpa mengabaikan yah lainnya, menuju ke ruangan kepala sekolah. Untungnya para anak sekolah sudah pulang, jadi dia cukup leluasa untuk menemui kepala sekolah.
Brak!
Helena membuka pintu ruang kepala sekolah dengan kasar membuat kepala sekolah terperanjak kaget.
"Anda datang dengan sikap yang sangat buruk, Nyonya." Ujar Kepala sekolah dengan wajah kesalnya.
Helena tersenyum miring, menatap kepala sekolah dengan tatapan marah dan mengancam. Helena mengeluarkan ponsel dari tasnya, membuka layar ponselnya lalu berjalan mendekati kepala sekolah untuk menunjukkan layar ponselnya.
"Tanggal dua puluh satu Maret, pukul empat sore, tiga jam setelah putriku meninggal di depan gerbang sekolah, kau menerima tujuh ratus juta, lalu kau kirimkan kepada Vethie Jolie sebanyak dua ratus juta, lalu tidak lama dia mengundurkan diri dan entah kemana perginya. Jadi, bisakah anda jelaskan tentang ini, kepala sekolah yang terhormat? Mungkin jika aku melaporkan ini ke kantor polisi tidak akan membuatmu di penjara karena para polisi itu adalah kubumu. Tapi, bagaimana jika aku membuat salinan akun bank mu ini di lihat banyak orang, kira-kira apa yang akan kau lakukan? Kau tidak lupa jika aku sedang di perbincangkan karena kasus anakku bukan?"
Kepala sekolah terdiam, dia sungguh tidak tahu harus mengatakan apa. Jika dia bilang uang itu adalah uang pribadinya, bagiamana dia akan menjelaskan kenapa dia mengirimkan dia ratus juta kepada saksi kecelakaan itu?
"Tidak usah bingung, katakan saja siapa yang memberikan uang ini, dan kemana perginya guru Jolie?"
Di tempat lain.
Dia menemui kepala sekolah!
Martin terdiam sebentar.
" Biarkan dia melakukan apa yang ingin dia lakukan, bantu dia, aku janji akan menepati apa yang aku janjikan padamu. Lindungi dia, apapun yang terjadi, pastikan semuanya aman."
__ADS_1
Bersambung.