Why?

Why?
Tentang Eva


__ADS_3

Tit tit tit tit ....


Dengan perlahan Eva mengerjap lalu mengucek kedua matanya. Tangan satu lagi yang bebas ia rentangkan panjang menuju nakas untuk mematikan alarm. Setelah itu, dia turut menguap lebar, meregangkan badannya, kemudian bangun dari ranjangnya.


Langit di balik gorden masih gelap ketika Eva selesai mandi. Waktu sekarang menunjukkan pukul 6 pagi, yang berarti telah terlewat 30 menit sejak alarm dimatikan. Terus terang, jarak antara sekolah dan rumahnya hanya berkisar 10 menit perjalanan. Namun, ia tidak bangun pagi untuk mengerjakan tugas ataupun mengevaluasi pembelajaran, melainkan untuk membenahi penampilannya, terutama rambut.


Tidak seperti kebanyakan orang yang memiliki rambut lurus atau sekadar ikal, rambut Eva adalah keriting alami dan kembang besar. Selain susah perawatan, Eva yang tidak terbiasa tidur sambil kepangan—terasa tidak nyenyak—hanya bisa bangun tidur dengan bed hair yang frizzy* dan menyebalkan. Bangun subuh untuk merapikan rambut adalah rutinitas setiap paginya.


Berpapasan dengan selesainya Eva merias diri, terdengar suara ketukan dan pintu terbuka. “Selamat pagi, Nona Eva,” sapa Erdawati, kepala pembantu rumah sekaligus pengasuhnya sejak kecil. “Apa tidur Nona nyenyak semalam?”


“Selamat pagi, Bi Erda,” balas Eva. “Eva tidurnya nyenyak, kok, seperti biasa.”


“Sarapannya sudah ada di meja, ya. Perlu Bibi temani?”


Eva yang sudah menyampirkan tas ransel hanya menggeleng. “Tak perlu, Bi. Eva makan sendiri saja.”


Setelah menuntun nona mudanya ke meja makan, Erda memohon diri dengan sopan dan beranjak pergi. Dilayani oleh pembantu rumah lainnya, Eva menduduki tempat biasanya di meja makan keramik klasik yang besar dan cukup panjang—total 16 kursi—kemudian memulai sarapannya. Di hadapannya telah terhidang berbagai macam makanan, mulai dari sandwiches isi ham dan sayur, croissants dengan mentega, salad sayur telur, multi grains hot cereal, segelas jus buah, segelas susu hangat, segelas teh hijau, dan segelas cappuccino.


Hari ini bukan hari yang spesial, dan Eva pun tidak dipaksa harus menghabiskan makanan sebanyak ini. Menghidangkan banyak makanan sebagai pilihan sudah menjadi tradisi di keluarganya, tidak terkecuali saat sedang makan sendiri. Terus terang, Eva merasa tradisi keluarganya ini sangat memboroskan. Untunglah ia tidak dilarang untuk membagikan sisa makanannya—yang tidak tersentuh—untuk para pembantu.


Pagi ini Eva memilih untuk sarapan salad dengan jus. Ia makan dalam keheningan, tidak ada suara selain dentingan alat makan. Ada sekitar lima pembantu berseragam rapi berbaris di sampingnya, tetapi juga bungkam. Mereka dilarang berbicara kecuali disuruh oleh majikan rumah.


“Papa belum bangun?” tanya Eva kepada salah satu pembantu.


Yang berdiri paling dekat dengannya menjawab, “Tuan berangkat ke Singapura malam tadi, Nona. Beliau mengatakan mungkin kali ini akan pergi selama dua minggu.”


“Kalau Mama?”


“Nyonya belum bangun, Nona. Beliau pulang larut malam dari pesta dan ingin istirahat.”


Eva mendesah pendek. Sebagai anak semata wayang dari pasangan orang tua yang sibuk, kesepian sudah menjadi hal yang lazim. Meskipun tidak suka, Eva sudah bersahabat dengan kesunyian dan kesendirian setiap ia berada di dalam rumahnya.


Tak butuh waktu lama, Eva sudah menyelesaikan sarapannya. Lantas ia berangkat sekolah diantar oleh supir pribadinya. Tepat jam tujuh pagi, Eva tiba di ruang kelasnya yang sudah cukup ramai.


“Selamat pagi,” sapa Eva kepada teman satu mejanya.


“Hei, Eva. Sudah kerja PR Fisika, kan? Pinjam copy dong,” ujar Gita kemudian langsung membuka tas Eva tanpa persetujuan. Eva yang sudah terbiasa hanya membiarkannya merampas bukunya.


“Selamat pagi, Eva-chan.”


Seketika Eva menoleh dengan spontan. Ren si anak baru telah berdiri di sampingnya sambil tersenyum cemerlang. Tanpa sadar Eva menjauhi tatapannya lalu membalas, “Selamat pagi ....”


“Eva-chan sudah sarapan? Saya sarapan Nasi Lemak, enak sekali. Itu makanan favorit saya di Indonesia.”

__ADS_1


Eva hanya tersenyum kecil. Tidak menyadari keseganan Eva, Ren masih setia di sampingnya dan bertanya lagi, “Eva-chan suka makan apa? Pernah coba makan makanan khas Jepang?”


“Hm ... Belum pernah makan.” Keluarganya lebih terbiasa makan makanan barat.


“Eva-chan mau coba makan? Saya akan mengajakmu kalau kamu mau. Saya tahu beberapa tempat yang menjual makanan Jepang yang enak.”


Eva terkejut. Apa dia barusan ingin mengajaknya jalan? “Tidak. Tidak u—"


“Wah, wah, anak baru ajak Miss Popular kencan,” sambung Gita yang setia curi dengar dari samping. “Sejak kapan kalian dekat begini? Jangan-jangan sudah pacaran?”


“Tidak, kok!” Eva buru-buru menggeleng. “Kami baru kenalan kemarin, hanya teman, bukan apa-apa.”


Gita menyeringai. “Masa’? Kok aku lihatnya bukan begitu? Kamu jarang dekat cowok soalnya, dipanggil chan-chan lagi, spesial banget.”


“Ren, kok belum duduk, sih? Ada yang ingin kutanyakan soal anime ....” Andi yang hendak mendekati Ren pun terdiam melihat mereka bertiga yang kini menatapnya balik. “Kalian lagi bahas apa?” tanyanya kemudian.


“Hot news, dong! Apa kamu tahu? Teman satu mejamu ini sedang PDKT dengan Nona Eva kami!”


Kedua mata Andi membelalak. “Serius, Ren? Cepat banget! Gila, apa orang Jepang memang pemberani, ya? Perasaan aku baca di shoujo manga* para karakter malu-malu, kok.”


Gita tersenyum mengejek. “Jangan samakan dengan komik bodohmu, dong. Ren ini orang asli, bukan fiktif! Biar kutebak, pasti Eva yang jatuh cinta duluan didekati oleh pria tampan seperti Ren.”


“Sudah, hentikan!” seru Eva cepat dengan wajah yang mulai memanas. Karena suara Gita yang lumayan melengking tadi, beberapa siswa sudah menaruh perhatian ke percakapan ngawur mereka. Jangan sampai kesalahpahaman ini berlanjut lebih jauh.


“Kalian salah paham. Kami benar-benar hanya teman biasa, kok, tidak pacaran. Benar, kan, Ren?” lanjut Eva lagi yang kini menoleh ke arah Ren.


“Hah? Masa’ kamu tidak— Tunggu, kamu orang Jepang, aku lupa, hehe.” Gita menjulurkan lidahnya spontan. “PDKT itu singkatan dari ‘Pendekatan’, artinya kamu lagi mendekati Eva supaya bisa akrab, Ren.”


Ren membentuk bibir O lalu mengangguk-angguk. Kemudian ia meraih jemari Eva dan menggenggamnya. “Baiklah, saya akan PDKT denganmu, Eva-chan.”


Semua orang yang berada di sekitar Ren tercengang terutama Eva. “Tunggu, Ren. Kurasa kamu salah pa—”


“Saya suka sama Eva-chan. Saya ingin dekat dan akrab denganmu.”


Sekali lagi Eva—beserta temannya yang lain—tercengang mendengar deklarasi cinta Ren yang begitu polos tapi mendadak.


***


“Selamat, ya, Eva. Pengagummu bertambah lagi satu orang.”


Eva tidak menggubrisnya.


“Kali ini rekor baru, lho,” lanjut Gita berbisik. “Putra si berandalan saja butuh waktu 1 minggu baru nembak kamu, yang ini tidak sampai 24 jam, gandengan lagi. Boleh dipertimbangkan, Say.”

__ADS_1


Eva membuang napas dengan kasar lalu menempelkan telunjuk di bibirnya. Apa temannya ini tidak bisa menghargai gurunya yang sedang menjelaskan di depan?


“Apa kali ini kamu berniat untuk tolak lagi? Putra yang patah hati sampai bolos 3 hari, lho, gara-gara kamu. Theo si kakak kelas yang keren pun kamu tolak juga. Dasar perempuan tidak tahu diri!”


Eva lupa kalau Gita adalah perempuan paling cuek dan berani yang pernah ia kenal. Sudah berapa kali temannya ini beradu mulut dengan guru-guru sampai mereka memutuskan untuk lepas tangan dan tidak memedulikannya lagi?


“Apa, sih, yang membuatmu populer?” Gita menatap Eva penuh selidik. “Aku yakin aku lebih cantik dan lebih baik darimu, mulai dari wajah, bentuk badan, dan skill, kecuali otak. Apa ... karena rambut?”


Eva memutar bola matanya jengah. Kenapa harus membahas rambutnya lagi?


“Sebetulnya rambutmu itu jelek, Va, ngembang dan berantakan. Tapi anehnya, cocok denganmu. Kamu kelihatan imut. Jadi apa benar rambutmu yang membuat para lelaki terpikat padamu?”


Itu tidak mungkin. Eva ingin sekali berkata seperti itu dan membantah pernyataannya. Namun, mengingat Ren yang memang benar menyukai rambutnya, Eva mengurungkan niatnya. “Aku tidak tahu,” jawabnya kemudian.


“Itu suara siapa?” Sialnya, Eva yang lupa memelankan suaranya sukses menarik perhatian gurunya untuk berbalik dan mengamati seisi kelas dengan tajam. Eva si pelaku buru-buru menunduk, sedangkan Gita hanya tawa tertahan.


“Karena kalian ngobrol, Bapak anggap kalian sudah paham dengan materi pembahasan bab ini. Berikutnya salah satu dari kalian, coba kerjakan soal yang ada di papan tulis.”


Seketika kelas menjadi sunyi. Murid lain yang juga diam-diam berceloteh selama pelajaran berjalan pun ikut bungkam dan saling mendorong untuk maju ke depan. Ternyata tidak ada yang berani, lebih tepatnya tidak mampu.


Pak Gunawan selaku guru pelajaran Fisika jelalatan. “Tidak ada yang maju?”


Tiba-tiba di antara keputusasaan, sebuah tangan yang berwarna cukup putih mengacung tinggi. “Apa saya boleh coba untuk menjawabnya, Pak Guru?” tanyanya.


Secara serentak semua menoleh ke asal suara, termasuk guru yang duduk di depan. “Baiklah, silakan maju, Anak Baru,” ucapnya.


Ren yang sudah berdiri pun berjalan ke depan. Begitu ia menerima spidol, tanpa berpikir lama ia langsung mengerjakan soal di papan. Rumus-rumus Fisika yang baru saja dijelaskan setengah oleh Pak Gunawan berhasil ia uraikan dengan rapi dan cepat. Bahkan tanpa bantuan kalkulator , perkalian dalam rumus yang cukup rumit dengan angka yang banyak pun bukan masalah baginya. Tidak sampai semenit, Ren sudah mendapatkan jawabannya.


“Saya sudah selesai, Pak Guru.”


Sang Guru takjub. Secepat kilat ia menyambar kalkulator yang ada di meja dan mengetik perkalian yang sama. Sulit dipercaya, ternyata jawabannya tepat!


Pak Gunawan berdeham. “Ok, ini jawabannya betul. Silakan duduk,” ujarnya datar dan Ren menurut. Tanpa ia sadari, tidak hanya guru mapel, ternyata seisi kelas juga terkesima menyaksikan kemampuan Ren.


“Selain berwajah Asia yang tampan, putih, ramah, dan pemberani, ternyata dia juga memiliki otak yang cemerlang. Kamu yakin akan menolak yang satu ini, Eva?” lanjut Gita berkomentar lagi.


Untuk kesekian kalinya Eva hanya menghela napas lalu memilih untuk tidak menjawab.


***


Catatan:


*6: Istilah rambut yang mengembang berantakan seperti surai singa.

__ADS_1


*7: Sebutan komik untuk pembaca perempuan


Bersambung ...


__ADS_2