Why?

Why?
Jijik Yang Berlebihan


__ADS_3

"Selamat pagi menjelang siang? Saya ingin tanya apakah Helena ada di dalam?" Sebenarnya semalam Martin ingin masuk ke dalam dan bertanya, tapi Martin begitu yakin kalau Helena tidak mungkin berada di sana dan memilih segera mencari Helena ke apartemen dan ke tempat Airi lebih dulu, setelah itu Martin terus mengemudikan kendaraannya sembari meminta sahabatnya untuk membantu mencari tahu keberadaan Helena. Sayang sekali tidak ada kamera pengawas di jalanan, di rumah kedua orang tua Helena juga tidak ada.


"Helena? Tentu saja dia sibuk dengan dunianya sendiri, dia bahkan tidak datang saya Ibunya sakit padahal kami sudah memberitahu berkali-kali." Jawab Freya dengan mimik sinis, karena membicarakan Helena memang cukup membuatnya kesal.


Martin mengeraskan rahangnya, sungguh dia kesal sekali, tapi dia benar-benar harus menahan itu bukan?


"Akan ku beritahu kepada kalian, Helena datang semalam, hanya saja dia tidak sempat masuk karena dia di culik di depan rumah kalian. Semalam aku menemukan tasnya di halaman rumah kalian."


"Tidak! Helena, dia di culik?" Tanya Ibunya Helena yang baru saja datang dan tidak sengaja mendengar apa yang di katakan Martin.


Martin mengangguk, dan itu benar-benar membuat Ibunya Helena hampir saja terjauh lemas seandainya saja tidak ada kedua anaknya yang menahan tubuhnya. Ibunya Helena menangis meratapi kemalangan demi kemalangan yang telah menghampiri putrinya itu. Dia tentu saja sedih karena bagaimanapun Helena memperlakukannya dengan dingin bak orang lain, Helena tetaplah anak yang telah dia lahirkan dengan susah payah.


"Nyonya, aku datang bukan untuk membuang waktu, aku hanya ingin mencari Helena saja. Karena Helena tidak ada di sini, maka aku juga tidak bisa berlama-lama lagi."


Martin sudah bersiap untuk melangkahkan kaki, tapi Ibunya Helena sebagai bangkit dan mendekati Martin, menahan langkah kakinya dengan memegang lengannya.


"Pengacara Martin, Helena pasti menghilang karena seseorang yang dendam dengan apa yang dia lakukan beberapa waktu ini bukan? Helena membuat banyak sekali pihak di penjara, mereka pasti adalah salah satunya!" Ucap Ibunya Helena sembari menangis sedih karena memang itu lah yang dia rasakan.

__ADS_1


" Bisa saja iya, tapi jangan mengalahkan Helena lagi, percayalah apa yang terjadi belakangan ini adalah hal yang membuat Helena menyesal. Menyesal karena tidak bisa membunuh dan menghancurkan mereka dengan tangannya langsung. Helena sudah melakukan apa yang seharusnya di lakukan, jadi apa yang terjadi dengan dia kali ini tolong bantu menemukan dia, doakan juga dia tetap baik-baik saja." Ucap Martin membuat Ibunya Helena menangis tak berdaya dengan apa yang terjadi sekarang ini.


"Kalau begitu, aku akan bantu mencari Helena, bila perlu ajak aku untuk mencari Helena, Pengacara Martin." Linta Ibunya Helena yang langsung membuat raut wajah kedua kakak Helena terlihat begitu tak senang.


"Maafkan saya, Nyonya. Tapi wajah kedua anak anda yang lain, dan kondisi tubuh anda sepertinya sedang tidak mengizinkan. Aku akan mencari Helena dengan caraku, kalaupun memang ingin membantu, setidaknya biarkan kedua anak anda membantu ku."


Kedua kakaknya Helena menghela nafas dengan kompak, mereka sebenarnya bukan tidak ingin mencari Helena, hanya saja kalau mereka pergi siapa yang akan menjaga Ibunya? Freya memiliki tiga anak yang jaraknya begitu dekat, anak pertamanya saja berumur enam tahun, jadi sulit untuk meninggalkan anaknya. Sementara kakak laki-lakinya Helena benar-benar tidak tega membiarkan Ibunya di tinggal, Ayah mereka sedang bekerja, Kath juga sedang kuliah, Freya benar-benar tidak bisa di andalkan mengutus Ibunya, jadi dia juga merasa tidak nyaman menitipkan Ibunya dengan Freya.


Di sisi lain.


"Di sinilah kau membuat putriku satu-satunya pergi ke penjara, di tempat ini juga semau kekacauan terjadi. Sekarang cucu ku satu-satunya, pewaris keluarga dan harta keluarga juga sudah tiada. Apa kau puas? Kau puas dan senang sekarang?!"


"Sayang sekali, sungguh sayang sekali...." Helena terkekeh, dia menangis dalam tawa membuat Tuan Feto begitu muak di buatnya.


"Apa maksudnya?!"


Helena tak menjawab, dia hanya terus tertawa dan tak mengatakan apapun tentang apa yang dia katakan tadi. Padahal sekarang tubuhnya terikat menjadi satu dengan yang yang ada di pinggir pagar atap rumah sakit yang dulu di gunakan Helena untuk menjebak Melisa. Tangannya terikat kuat, kakinya juga terikat rantai menjadi satu dengan satu tiang itu.

__ADS_1


"Kau telah membuat keluargaku hancur, kau menghancurkan segalanya! Sekarang lihatlah betapa kau juga akan merasakan apa yang di rasakan oleh putri dan cucuku! Kau akan kepanasan di sini, kehujanan, bisa juga tersambar petir, kelaparan, aku juga akan menggunakan tanganku sendiri untuk memukul mu setiap pagi dan malam."


Helena berhenti tertawa, menatap Taun Feto dengan tatapan yang begitu terlihat dingin dan tajam. Aneh, tatapan Helena itu benar-benar membuat dia merasa tertekan seolah Helena begitu mengetahui banyak hal tentang Tuan Feto yang ngakak Tuan Feto tidak sadari.


"Yang menghancurkan keluargamu, adalah ulah kalian semua. Melisa dengan ambisi yang berlebihan, menjadi temanku hanya untuk mendekati dan merebut suamiku. Kalian yang bodoh hanya memiliki ambisi membahagiakan putri tersayang, menuruti apa yang dia inginkan, membiarkan dia tumbuh dengan cinta yang salah. Kalian membelanya tidak perduli dia salah atau benar, kalian selalu melimpahkan kesalahan kepada orang lain. Putramu yang meninggal itu, dia bahkan tidak tahu bagaimana caranya menghargai diri sendiri, lalu meninggal dengan alasan tidak jelas, tapi kalian menyalahkan ku yang tidak menerima cinta darinya? Pft! Bodoh, aku benar-benar tidak pernah menemukan orang sebodoh kalian."


"Tutup mulutmu!" Kesal Tuan Feto yang tentu saja tidak bisa menerima apa yang di katakan Helena barusan. Bagaimana dia memaki bodoh dengan mudahnya? Ini benar-benar pertama kalinya dia mendengar ada orang yang memakinya, jadi dia benar-benar tidak akan membiarkan begitu saja.


"Tidak, aku tidak akan menutup mulutku. Ah, Tuan Feto, akan aku beritahu satu hal padamu ya? Sebelumya aku membenci mu karena kau berlebihan dalam mencintai putrimu itu dan menghalalkan segala cara untuk menutupi kesalahannya. Tapi mulai dari hari ini, aku membencimu, aku jijik padamu, aku jika sangat mual melihat wajahmu. Untuk pertama kalinya aku begitu benci dan jijik, mual saat melihat wajah, dan itu adalah wajahmu. Kau, benar-benar membuatku sampai membenci diri sendiri karena harus melihatmu."


" Dasar sialan!"


Bugh!


Bugh!


Dua pukulan itu mendarat di perut Helena.

__ADS_1


"Benar, aku sialan. Tapi jangan lupa, kau adalah bajingan sialan juga!"


Bersambung.


__ADS_2