Why?

Why?
Hukuman Untuk Melisa


__ADS_3

Melisa terdiam tak mengatakan apapun, segala tuduhan tak dia banyak maupun tak dia sargah. Entah akan jadi apa hidupnya sekarang, yang jelas dia benar-benar tidak bisa memikirkan apapun bahkan membalas dendam juga adanya seperti tidak mungkin. Hati ini adalah sidang pertamanya, dia pikir dengan dia diam tak menolak semua tuduhan yang di tunjukkan padanya semua akan selesai begtu saja. Tapi, Martin membuat kondisi persidangan menjadi cukup tegang karena beberapa bukti dan penjelasan yang di ucapan Martin benar-benar sangat masuk akal.


"Bagaimana mungkin anda menciptakan sebua rencana sebesar ini jika anda saja sibuk mengurus putri anda yang bahkan tidak membaik meskipun ginjalnya sudah di ganti? Apakah anda memiliki seseorang yang anda kerjakan untuk membantu anda? Ataukah, orang terdekat anda membantu anda untuk melakukan semua itu?"


Melisa tak tahu harus mengatakan apa, dia memiliki pengacara yang mendampinginya, tapi sepertinya pengacara itu juga tidak dapat membantunya.


"Mengemudi dan menabrak seorang anak dengan motif agar bisa mendapat ginjalnya, itu sama artinya dengan pembunuhan berencana." Martin menatap hakim yang ada di sana, dengan sopan dia mengatakan..


"Yah mulia, terduga secara sadar melakukan pembunuhan berencana degan tujuan tersendiri, kejahatan ini benar-benar dia lakukan dengan perhitungan, maka pihak korban menuntut agar terduga di jatuhi hukuman mati sama seperti yang telah dia lakukan hingga nyawa seseorang harus menghilang dan di curi ginjalnya."


Melisa mengangkat wajahnya dengan tatapan terkejut, dia menatap Martin yang terlihat tak menyesal setelah memohon kepada hakim untuk menjatuhi hukuman mati padanya. Tidak, tentu saja Melisa tak bisa menerima itu begitu juga dengan orang tua Melisa. David juga hadir di sana, tapi dia benar-benar tidak perduli hukuman apa yang akan di jatuhkan kepada Melisa. Dia sudah cukup merasa amat sakit dan kecewa, dia tidak sanggup lagi menjadi orang baik kepada Melisa meski dia memang merasa kasihan melihat Melisa sekarang ini.


"Jangan, jangan! Aku tidak boleh di hukum mati. Bagiamana dengan putriku, dia membutuhkan ku, kau tidak boleh memohon seperti itu!" Ucap Melisa hingga tanpa sadar air matanya jatuh karena dia benar-benar tidak tahan dengan perasaan sedih jika memang benar permohonan untuk mendapatkan hukuman mati di setujui oleh hakim. Dia tentu saja tidak akan dapat menerima kenyataan yang pada akhirnya akan membuat dia tidak dapat melihat Denise lagi di dunia ini.

__ADS_1


"Tolong pertimbangkan lagi, yang mulia. Terduga tidak melakukan semua itu dengan sengaja. Seperti yang ada pada rekaman itu, dia mengakui kalau dia datang ke sekolah untuk bicara baik-baik, tapi karena dia teringat bahwa korban memiliki masalah pada parunya, Ibu korba pasti tidak akan mengizinkan usulan untuk mendonorkan ginjal sehingga terduga kalap dan melakukan apa hah seharusnya tidak di lakukan." Begitulah pembelaan yang di katakan oleh pengacara Melisa. Dia pikir sebelum Melisa bicara lebih jauh dan akan merugikan pihak yang sedang di lindungi, maka dengan segera dia bertindak dan memutus jalan pembicaraan agar tak melebar kemana-mana.


"Lalu bagaimana dengan donor ginjal yang sudah di rencanakan sejak jauh hari?" Tanya Martin.


"Donor ginjal tentu saja adalah hal yang sangat di butuhkan agar dapat memperpanjang hidup anak terduga sampai sepuluh atau dua belas tahun mendatang. Pada akhirnya dia memutuskan untuk mengambil ginjal korban jelas bukanlah hal yang di rencanakan hingga jauh-jauh hari."


Martin tersenyum tipis, tentu saja tidak masalah bagiamana pengacaranya Melisa akan membela Melisa. Setidaknya diamnya Melisa sudah cukup menjelaskan bahwa Melisa di jadikan tumbal dari semua yang terjadi ini. Biarlah saja apapun yang akan di lakukan Melisa demi melindungi keluarganya, asalkan Melisa terbukti melakukan pembunuhan berencana maka penjara seumur hidup atau hukuman mati sudah pasti akan dia dapatkan bukan? Pengadilan jelas tidak akan menerima suap, Tuan Feto juga tidak akan berani melakukan itu karena jelas jika di ketahui itu akan sangat menghancurkan keluarga.


Martin mengeluarkan semua bukti-bukti, mulai dari kecepatan mobil saat menabrak Velerie, lalu kegiatan menyuap pihak berwajib, menyuap Dokter rumah sakit, juga menyuap kepala sekolah dan juga saksi yang kini telah tiada. Tentu saja perdebatan tetap terjadi hingga mereka saling membantah untuk membela klien mereka masing-masing, mencari kebenaran dan keadilan, dan di sidang pertama itu pada akhirnya menjadi sudah terakhir juga untuk Melisa. Dia benar-benar di nyatakan bersalah atas tindak pidana yaitu, pasal tiga ratus empat puluh KUHP tentang pembunuhan berencana.


Helena tersenyum tipis, sejak tadi dia sama sekali gak bicara, tak menatap sedikit pun Melisa yang sepertinya banyak menangis dan terlihat tertekan sekali.


Puas?

__ADS_1


Tentu saja belum puas sama sekali, tapi dari pada Melisa di hukum mati tentu saja penjara seumur hidup adalah pilihan yang paling benar. Melisa pasti akan menderita seumur hidupnya bukan? Mengingat putrinya yang sakit dan membutuhkan dia, tapi dia tidak bisa melakukan itu, dia hanya akan menyesali semua itu dan menangis setiap detik. Rasanya ingin sekali mengatakan kepada Melisa bahwa dia senang bisa melihat Melisa menderita. Tapi untuk apa juga? Toh tidak akan ada manfaatnya untuk Helena bukan?


Kesedihan rupanya juga begitu di rasakan oleh kedua orang tua Melisa, terlebih Ibunya Melisa benar-benar menangis sesegukan tak kuasa melihat Melisa harus menjalani kurungan seumur hidup, tak bisa melihat tumbuh kembang Denise yang pasti adalah pukulan yang paling menyakitkan, jauh dari pada hukuman seumur hidup yang dia dapatkan.


Ibunya Melisa menatap Helena yang tak menunjukkan ekspresi apapun, tapi jelas dia bisa menebak kalau dia pasti merasa bahagia bukan? Sungguh dia semakin membenci Helena sampai ingin sekali menikam Helena dengan tangannya sendiri.


"Kita sudah memasukkan satu kelinci ke kandangnya, bersiaplah untuk menikam pemangsa yang sebenarnya." Ucap Martin dengan nada pelan dan hanya Helena saja yang mendengarnya.


Helena tersenyum, mengangguk setuju dan paham tanpa menatap Martin yang berada di sebelahnya.


Setelah Helena dan juga Martin keluar dari ruang sidang, mereka benar-benar sudah di tunggu oleh para reporter yang memang memantau bagaimana kasus Velerie ini berjalan. Helena tak ingin mengatakan apapun, dia tidak pandai bicara jadi semua di wakilkan oleh Martin.


Martin mengatakan jika pada akhirnya tersangka sudah akan menjalani hukuman yang seharusnya, Martin benar-benar mengatakan jika semua ini hanyalah keberuntungan saja sehingga pada akhirnya pelaku yang sebenarnya terungkap, lalu pelaku palsu juga membuat nama pengacara Jhon semakin menjadi bulan-bulanan masyarakat saja.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2