
David kembali ke rumah, rumah di mana Melisa, Denise, dan Ibunya tinggal. Rasanya masih belum siap untuk kembali sekarang, tapi semua akan menjadi sangat rumit kalau David tidak segera kembali. Ini sudah pukul dua belas malam, David benar-benar berharap Melisa sudah tidur jadi dia tidak perlu bertengkar dulu dengannya.
"Kau benar-benar semakin hebat sekarang, David." Ujar Melisa seraya berjalan mendekati David yang sedang menyimpan kunci mobilnya.
David membuang nafasnya, sepertinya dia memang tidak akan pernah mendapatkan ketenangan di rumah itu. Sebentar David mencoba untuk mengabdikan saja Melisa. Ini sudah sangat malam, jadi akan malu kalau bertengkar di tengah malam seperti itu bukan?
"Katakan padaku, apa yang kau lakukan setelah membentak Denise, lalu pulang sampai semalam ini? Mau di pikirkan bagaimanapun, sebenarnya kau adalah seorang pengecut, David."
David tersenyum tipis seolah ucapan Melisa itu memang seperti kenyataannya. Dia benar-benar sedang tidak memiliki minat untuk bertengkar, apa yang dia tahu tentang Velerie sudah cukup mengguncang jiwanya, Jadi dia tidak ingin memikirkan yang lain sekarang ini.
"David, aku sedang bicara!" Melisa membentak, matanya membulat marah menatap David yang mencoba untuk menghindari dirinya. Melihat itu Melisa jadi berpikir bahwa David pasti melakukan kesalahan hingga tidak berani menatap matanya dan bicara padanya.
David membuang nafas kasarnya, menatap Melisa sebentar saya dia bicara.
"Aku tidak tahu harus menjawab apa, Melisa. Kalau aku mengatakan sesuatu, kau hanya akan tahu marah, berteriak tidak perduli waktu bukan? Ini sudah tengah malam, aku hanya tidak ingin pertengkaran kita menggangu yang sedang tidur."
Melisa menahan lengan David yang sudah ingin berjalan pergi meninggalkan dirinya. Tentu saja dia tidak bisa melanjutkan pembicaraan mereka karena kalau sudah seperti ini biasanya David akan berada di ruang baca, bahkan juga tidur di sana. Rasanya memang menyebalkan karena setiap kali David selalu mengindari dirinya, dan tidur juga mencoba untuk tidak dekat dengan dirinya. Sebenarnya Melisa ingin seperti suami istri pada umumnya, tapi dengan sifat David yang lebih suka mengindari dari pada membicarakan masalah, di tambah David juga hanya tahu mengalah tapi tidak pernah sekalipun mencoba untuk membujuk dan memanjakannya sebagai seorang istri. Melisa sebenarnya menginginkan itu semua dari David, tapi David sendiri sama sekali tidak peka dan memiliki tidak banyak bicara setiap waktu mereka berdebat.
"Benar, apa yang kau katakan memang benar, aku adalah orang yang tidak perduli waktu, aku ingin semuanya selesai secepat mungkin. Kau harus menjelaskan padaku, kemana kau pergi dan apa yang kau lakukan!"
David menepis tangan Melisa, menatap Melisa dengan tatapan dingin. Sungguh, kalau saja dia boleh memukul, maka dia ingin sekali memukuli Melisa dan membuat mulutnya untuk diam tak lagi bisa bicara. Tapi, David juga tidak melakukan apapun, apalagi sampai menyakiti Melisa. Kemarin sempat David menampar Melisa, dan pada akhirnya itu menjadi adalah yang cukup pelik. Orang tua Melisa datang mengancam, memaki, bahkan juga mengancam orang tua David, belum lagi Denise juga di racuni otaknya, mereka meminta Denise mengadukan kepada nenek dan kakeknya jika David melakukan hal yang menyakiti Ibunya.
__ADS_1
"Baiklah, kau ingin tau aku kemana? Aku pergi menemui Farah, lalu menemui Helena."
Melisa terdiam. mematung, matanya yang begitu terkejut dan marah begitu jelas terlihat tapi David sama sekali tidak perduli. Kenapa dia harus terus mencoba untuk tidak mengatakan kalimat yang akan melukai hati Melisa? Toh nyatanya dia juga akan tetap salah apapun alasannya.
"Kenapa? Kenapa kau menemui wanita itu?!Kau tahu kan Denise sedang dalam masa penyesuaian? Kau jangan membuat ulah, kita seharusnya fokus dengan Denise saja!"
Tadinya David ingin mengacuhkan saja ucapan Melisa, tapi saat dia mengingat kembali dengan apa yang penting tentang Denise, David kembali menatap Melisa dan menatap Melisa dengan tatapan menyelidik.
" Melisa, kau bilang akan menemui keluarga pendonor ginjal untuk anak kita bukan? Katakan, kapan kita akan menemui mereka." Tanya David yang sebenarnya dia sangat takut menanyakan itu, dia takut jika dugaannya memang benar.
Melisa terlihat tak gentar, dia dengan percaya diri tersenyum.
"Apa kau sedang menuduhku dalang di balik pencuri ginjal putrimu? Jangan curiga lagi, berita itu sudah sangat marak sekarang, tapi kau tidak berhak menuduhku seperti itu."
"Kau mengabaikan ku lagi?!" Protes Melisa.
David yang sudah mulai menjalankan langkah kakinya dengan cepat kini kembali berhenti dan menatap Melisa.
"Lebih baik kau tidak berbohong, karena karena kalau sampai kau membohongi ku, terutama masalah ginjal Velerie, maka aku tidak akan pernah memaafkan mu, aku juga tidak akan perduli padamu, apalagi melindungi mu. Percayalah, aku juga adalah orang yang akan mendorong mu ke penjara jika kau benar-benar melakukannya."
Melisa terdiam, menatap David dengan tatapan marah yang begitu besar. Padahal seingatnya, dulu David sama sekali tidak pernah membentak Helen, apalagi memperlakukan Helena dengan kasar seperti saat dengannya. Kenapa? Padahal jelas Melisa adalah anak dari pembisnis sekaligus pejabat negara, dibandingkan dengan Helena yang hanya anak mantan pegawai pabrik biasa, tentu saja Melisa jauh lebih baik bukan?
__ADS_1
"Kau tidak boleh memperlakukan ku seperti ini, David. Aku sudah mencoba untuk bersabar selama lima tahun ini, kau tidak berhak melakukan ini padaku."
Esok Harinya.
Pengacara Jhon kini benar-benar di buat tak berkutik dengan berita Farah yang begitu marak sekali. Tidak hanya satu atau dua orang saja yang meminta pengacara Jhon untuk membantu pihak yang di rugikan yaitu, Helena. Ini benar-benar sangat rumit sekali, padahal untuk kasus penabrak Velerie baru saja akan dia selesaikan setelah Helena terus memancing penasaran masyarakat, juga membuat Pengacara Jhon harus terus memikirkan ide baru yang seperti gak ada habisnya.
Hari ini dia mencoba menghubungi Helena, tapi dia sama sekali tak bisa di hubungi. Entah apa yang sedang di rencanakan wanita itu, tapi sepertinya pengacara Jhon memiliki firasat buruk kali ini. Untungnya, dia sudah menyelesaikan masalah dengan betapa pihak dan dia cukup yakin kalau dia tidak akan terseret dalam kasus itu.
"Pengacara Jhon, Nona Helena meminta izin untuk bertemu dengan anda, dia sudah ada di tangan tunggu."
"Baiklah, biarkan dia masuk."
Helena masuk ke ruangan pengacara Jhon, dan tak lama pembicaraan di antara mereka berdua di mulai.
"Maaf menggangu waktu pagi anda, Pengacara Jhon."
"Tidak masalah, katakan saja apa yang ingin di katakan."
Helena menghela nafasnya, tersenyum menatap pengacara Jhon.
"Kalau begitu, aku akan mengatakan intinya saja. Mulai hari ini, aku memutuskan untuk tidak lagi menggunakan jasa pengacara Jhon. "
__ADS_1
Bersambung.