
Sore itu, sekitar pukul empat sore, upacara untuk memakamkan Melisa di gelar dengan kabar. Seperti yang dia inginkan, dia di makamkan tepat di sebelah makam putrinya. Kedua orang tua Melisa juga hadir di sana, masih menggunakan baju tahanan, mereka juga di apit oleh polisi yang menjaga mereka. Dengan sedih mereka melepaskan dan merelakan putrinya untuk di kuburkan, melihat putrinya sebelum benar-benar mereka tak bisa lagi melihat Melisa seumur hidup.
Tentu saja mereka menangis, Ibunya Melisa menangis dengan begitu kuat dan sejadinya, Tuan Feto sendiri juga menangis, hanya saja dia tidak begitu bersuara namun matanya jelas menjelaskan bahwa dia benar-benar merasa kehilangan dan terpukul sekali melihat putrinya putrinya terbujur kaku, dan dia juga tidak memiliki pilihan lain selain merelakan putrinya dan mendoakan supaya Tuhan mengampuni segala dosa, menempatkan putrinya di tempat yang membahagiakan dan dapat bertemu kembali dengan Denise agar mereka bisa hidup bersama di sana.
Helena juga ada di sana, dia datang bersama dengan Martin dan Ibunya Helena. Mereka enggan untuk mendekat melihat bagaimana Ibunya Melisa yang begitu emosional sekali. Sudah jelas dalam keadaan seperti itu dia akan lagi-lagi menyalahkan Helena jika saja dia melihat Helena di sana kan?
Setelah selesai, Ibunya Melisa dan juga Tuan Feto bersiap untuk kembali ke tahanan. Tapi saat mata Tuan Feto menyadari adanya Helena yang berada cukup jauh dari pemakaman, Tuan Feto hanya bisa tersenyum dan membatin di dalam hati bahwa dia bahagia dapat melihat Helena yang terlihat baik-baik saja, dia juga terlihat sangat cantik seperti biasanya.
Helena terus menatap Tuan Feto yang tak henti menatap dirinya, entah perasaan apa itu, tapi Helena seperti merasa ingin membalas senyumnya.
"Helena, jangan begitu Auh padanya. Walaupun memang dia melakukan kesalahan, tapi Ibu yakin begitu dia tahu kalau kau adalah putrinya, dia merasa begitu menyesal hingga tidak akan menolak jika kau menginginkan nyawanya. Dia menyayangi mu, dia bahkan selalu meminta kabar dari mu, dan dia juga menempel kan photo mu dan photo Melisa di dinding tahanan untuk mengusir kerinduan yang dia rasakan terhadap kalian."
__ADS_1
Helena mengeryit, menatap Ibunya dengan segala pemikirannya.
"Ibu, apakah Ibu memiliki sesuatu yang tidak di bicarakan padaku?"
Ibunya Helena membulatkan matanya, mengalihkan pandangannya enggan bertatapan dengan Helena membuat Helena benar-benar berdecih keheranan tapi dia juga tidak memiliki minat untuk bertanya lebih lagi.
Helena membuang nafasnya, dia benar-benar tidak ingin ikut campur apapun yang Ibunya inginkan. Selama itu tidak membahayakan Ibunya, Helena hanya akan mendukung dan mendoakan saja bagiamana keputusan Ibunya karena kebahagiaan Ibunya juga adalah kebahagiaan untuknya. Begitu Helena melihat Tuan Feto yang masih menatanya, Helena akhirnya memberikan senyum kepada pria yang pernah melayangkan tangannya membuat dia terluka cukup serius. Helena merasa sudah bukan waktunya lagi untuk dia mempertahankan kebencian yang dia rasakan. Bagaimanapun Helena adalah bagian dari pria itu, jadi memaafkan dan menerima semua yang terjadi adalah pintu menuju kebahagiaan.
Melihat senyum indah dari wajah putrinya, Tuan Feto benar-benar merasa begitu bahagia meski tetap saja dia merasakan kesedihan di waktu yang sama. Senyum Helena yang di arahkan padanya seolah menjadi pertanda baik kalau pada akhirnya dia masih bisa sedikit saja memiliki kesempatan untuk menjadi Ayah yang baik untuk Helena.
Melihat tingkah gila calon suaminya itu, Helena benar-benar hanya cukup menghela nafas dan menatapnya dengan tatapan sebal.
__ADS_1
"David, kami turut berduka cita. Kejadian ini pasti sangat mengguncang mu, tapi aku harap kau tetap kuat menghadapinya."
David membuang nafasnya, matanya memerah menahan tangis padahal matanya juga sudah bengkak karena sebelumnya juga sudah banyak sekali menangis. Padahal dia pikir sudah cukup sampai di situ saja, tidak usah ada yang meninggal lagi, tidak usah ada masalah lagi, baik Melisa atau dia dapat hidup dengan baik meski jelas itu tidak akan mudah untuk mereka berdua. David mengingat benar bagaimana tatapan Melisa yang begitu tidak biasa seolah dia sudah mengisyaratkan semua ini sejak hari itu.
David pikir keputusan Melisa ini karena dia mengajukan cerai sehingga Melisa memutuskan untuk mengakhiri hidup. Jelas ini benar-benar tidak mudah untuk David, setelah melalui banyak rintangan hidup, kehilangan putri pertamanya, kehilangan putri keduanya, dan sekarang kehilangan wanita yang selama beberapa tahun menjadi istrinya. Belum lagi Ibunya David juga tengah sakit, dia menderita stroke Meksi masuk kedalam hitungan stroke ringan.
"Walaupun ini berat, setidaknya kau harus kuat karena mereka yang telah meninggalkan mu lebih dulu pasti ingin kau melanjutkan hidup dan carilah kebahagiaan mu agar mereka tenang di sana."
Martin meraih tangan Helena, dia menggenggam tangan Helena kuat. Rasanya dia tidak akan sanggup kalau sampai dia kehilangan Helena setelah terlalu terbiasa dengan adanya Helena. Walaupun memang kematian adalah pemisah di antara mereka berdua nanti, Martin benar-benar berharap dia akan menjadi orang yang lebih dulu mati. Helena tentu saja akan baik-baik saja jika dia meninggal lebih dulu kan? Tai kalau Martin yang di tinggal meninggal, sepertinya Martin akan memilih untuk menyusul Helena saja.
Helena menatap Martin, dia seolah mengerti apa yang sedang di pikirkan Martin jadi dia mengeratkan genggaman tangan mereka dan berdoa di dalam hati. Dia harap Tuhan akan memberikan mereka umur yang panjang sehingga mereka bisa mendapatkan banyak masa untuk mereka habiskan bersama dalam suka dan cita. Walaupun memang pada akhirnya mereka akan menemui ajal, tapi setelah mereka menciptakan banyak kenangan bersama, kebahagiaan bersama, menjalani dan menghadapi segala rintangan maka pada akhirnya mereka tidak perlu mati membawa penyesalan bukan?
__ADS_1
"Aku sudah melakukan kesalahan, tapi dengan begitu percaya diri aku justru sibuk menyalahkan Melisa dan segala tingkah juga sifatnya yang begitu super egois. Ternyata aku lupa kalau aku juga tidak pernah mencoba untuk membuatnya mengerti dan berhenti menjadi egois. Aku terlaku fokus kepada kesalahan Melisa sampai aku lupa untuk melihat bagaimana aku juga memilki kesalahan. Pantas saja Tuhan menghukum ku seperti ini, sepertinya aku memang pantas mendapatkan semua ini."
Bersambung.