
Pengacara Jhon kini benar-benar di buat tak berkutik dengan berita Farah yang begitu marak sekali. Tidak hanya satu atau dua orang saja yang meminta pengacara Jhon untuk membantu pihak yang di rugikan yaitu, Helena. Ini benar-benar sangat rumit sekali, padahal untuk kasus penabrak Velerie baru saja akan dia selesaikan setelah Helena terus memancing penasaran masyarakat, juga membuat Pengacara Jhon harus terus memikirkan ide baru yang seperti tak ada habisnya.
Hari ini dia mencoba menghubungi Helena, tapi dia sama sekali tak bisa di hubungi. Entah apa yang sedang di rencanakan wanita itu, tapi sepertinya pengacara Jhon memiliki firasat buruk kali ini. Untungnya, dia sudah menyelesaikan masalah dengan betapa pihak dan dia cukup yakin kalau dia tidak akan terseret dalam kasus itu.
"Pengacara Jhon, Nona Helena meminta izin untuk bertemu dengan anda, dia sudah ada di tangan tunggu."
"Baiklah, biarkan dia masuk."
Helena masuk ke ruangan pengacara Jhon, dan tak lama pembicaraan di antara mereka berdua di mulai.
"Maaf menggangu waktu pagi anda, Pengacara Jhon."
"Tidak masalah, katakan saja apa yang ingin di katakan."
Helena menghela nafasnya, tersenyum menatap pengacara Jhon.
"Kalau begitu, aku akan mengatakan intinya saja. Mulai hari ini, aku memutuskan untuk tidak lagi menggunakan jasa pengacara Jhon. "
Pengacara Jhon benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang sebenarnya di inginkan Helena, sempat dia berpikir apakah mungkin Helena mengetahui sesuatu? Kalau memang iya, sejauh apa? Sekarang bisa saja mengatakan bahwa dia cukup yakin dengan dirinya, tapi bukan berarti akan selamanya seperti itu bukan? Ada pepatah yang mengatakan jika, tidak ada kejahatan yang sempurna tak memiliki celah, dan sesulit apapun langkah menerjang bencana, selama dia berada di jalan kebenaran, untuk kebenaran, maka akan memiliki akhir yang indah.
Pengacara Jhon tidak bisa mengatakan tidak, tidak pula juga memintanya untuk memikirkan kembali, dia memilih untuk diam dan memikirkan ini dengan baik-baik agar dapat membuat keputusan yang tepat. Jadilah Helena meninggalkan kantor pengacara dengan harapan yang terpenuhi.
__ADS_1
Setelah menemui Pengacara Jhon, kini Helena beralih untuk menemui pengacara Martin yang sudah menunggunya, di tempat baru dia bekerja. Sebenarnya Helena benar-benar penasaran sekali, karena Sofia bisa ikut bekerja agar Martin bisa mengasuhnya, tentu saja karir pengacara itu tidak biasa kan?
Beberapa saat kemudian.
Helena mengeryit bingung, kembali dia melihat ponselnya untuk memastikan benar ataukah tidak alamat yang di kirimkan Martin padanya.
"Aneh, alamatnya benar, tapi kenapa bukan gedung kantor? Rumah tua seperti ini apa iya di jadikan kantor?" Gumam Helena seorang diri, matanya kini menatap menyusuri rumah yang terlihat tua, tapi bagusnya rumah itu cukup rapih dan pepohonan yang tumbuh juga terlihat terawat.
Merasa masih kurang yakin, Helena memutuskan untuk menghubungi Martin dan menanyakan apakah benar rumah tua itu adalah rumah yang di gunakan Martin untuk bekerja? Begitu sambungan telepon mereka tersambung, ternyata memang benar Martin tegah berada di dalam sana. Tadinya Helena ingin langsung menuju ke sana, tapi langkah kakinya terhenti saat melihat seorang anak perempuan yang juga memilki down syndrom, mirip sekali dengan putrinya, hanya saja kulit Velerie lebih putih di banding anak perempuan itu, dan sepertinya usianya juga masih di bawah anak itu.
Helena yang jelas akan teringat dengan putrinya tanpa sadar terus menatap anak itu membuat Ibunya yang berada di sampingnya, tengah menggandengnya menatap Helena dengan tatapan marah.
Helena sama sekali tak mendengar ucapan wanita itu, dia terus menatap wajah anak kecil itu sembari menahan tangisnya. Sungguh dia rindu sekali dengan Velerie, dia menginginkan Velerienya juga hingga lagi-lagi merasa tidak rela dan tidak akan bisa merelakan Velerie yang sudah meninggalkan dunia ini.
"Nyonya, hentikan menatap putriku!" Kesal Ibu dari anak itu.
"Bolehkah, bolehkah aku memeluk putrimu?"
"Apa?" Wanita terdiam tak bisa berkata-kata, apalagi saat Helena menatap kearahnya, memperlihatkan matanya yang memerah dan begitu pula wajahnya seperti menahan tangis.
"Putriku sama seperti putrimu, hanya saja dia meninggal dua bulan lalu karena seseorang menabraknya dengan mobil."
__ADS_1
Wanita itu terlihat sangat bersalah dan menyesal telah mengatakan kalimat yang tidak baik, tapi melihat sorot mata yang begitu memohon, wanita itu mengangguk dan tersenyum.
Helena dengan segera memposisikan dirinya, menatap sebentar wajah anak kecil itu dengan seksama. Iya, walaupun mirip tetap saja Helena menemukan banyak perbedaan antara mereka berdua.
"Anak cantik, boleh tidak bibi peluk? Bibi rindu sekali anak bibi, dia mirip sekali denganmu, jadi bisakah sebentar saja bibi peluk?"
Anak itu menatap wajah Ibunya, mungkin dia ingin bertanya, tapi begitu Ibunya mengangguk, gadis kecil itu juga dengan segera mengangguk.
Helena tersenyum bahagia, dia langsung memeluk erat tubuh mungil itu sembari membayangkan kalau yang ia peluk adalah Velerie. Tidak apa-apa, walaupun kehilangan Velerie, nyatanya semua akan baik-baik saja juga demi Velerie seorang. Benar hatinya sakit, hatinya perih karena merindukan tapi tak menemukan sosok yang dapat menghilangkan kerinduan di hatinya. Rasa ingin bertemu langsung jelas sekali ada, ingin membelai wajahnya, tapi apalah daya saat dunia sudah tak lagi sama?
"Terimakasih, terimakasih banyak."Ucap Helena setelah dia mengendurkan pelukannya, menatap gadis itu dengan tatapan yang hangat penuh kasih.
"Aku memang tidak tahu, juga tidak ingin merasakan kehilangan anak seperti yang kau rasakan, tapi aku mohon jangan menyerah, jangan mengutuk diri dan menyalahkan diri sendiri. Memiliki anak dengan keadaan istimewa seperti anak kita jelas bukan hal yang mudah, Tuhan juga tidak sembarangan menganugerahkan anak seperti mereka kepada umatnya. Di mata Tuhan, orang seperti kita ini adalah orang yang memiliki kesabaran dan cinta yang luar biasa tulus, jadi apapun yang terjadi selanjutnya Tuhan pasti memiliki rencana terbaik untukmu." Ucap wanita itu menyemangati Helena. Dia tahu benar bagaimana sulitnya memiliki anak dengan keistimewaan yang tidak biasa, dia tahu sesulit apa dan seberapa besar perasaan bersalah yang di rasakan oleh seorang Ibu dari anak istimewa.
"Terimakasih banyak, aku akan mengingat nasehat mu dengan baik. Sekali lagi terimakasih karena membuat hatiku sedikit lega dengan memeluk putrimu." Ucap Helena.
Wanita itu tersenyum, lalu mengangguk.
"Memperhatikan wajahmu aku baru sadar kalau kau adalah wanita si pejuang keadilan untuk putrimu, aku ingin mengucapkan terimakasih padamu. Berkat melihat bagaimana kau memperjuangkan putrimu, aku jadi memiliki keberanian terbesar untuk putriku."
Bersambung.
__ADS_1