
Martin terdiam tak mengatakan apapun, saat ini dia tengah duduk di sisi tempat tidur kamarnya. Dia benar-benar mengingat jelas setiap kata yang keluar mulut Win, ucapan yang begitu menggambarkan bawa Ayah mereka adalah Ayah terburuk di dunia, juga Ibunya Martin adalah sosok yang begitu bersalah begitu juga Martin. Selama ini dia cukup menganggap bahwa tidak memiliki Ayah agar dia bisa hidup dengan lega, tapi ternyata itu sama sekali tak terjadi.
Ayahnya ternyata adalah seorang pria yang bahkan tidak tahu cara menghargai istrinya, dia juga dengan tidak berperasaan menjalin hubungan dengan Ibunya hingga hamil, dan melahirkan Martin. Entah sebesar apa kesalahan orang tua Martin dalam hal ini, tapi sekarang Martin benar-benar memahami jika kebencian yang di sarankan oleh Win adalah hal yang wajar saja.
"Ibu, kenapa Ibu harus melakukannya? Tahu kah pada akhirnya aku harus menanggung rasa bersalah meski aku tidak melakukan apapun?"
Helena yang sejak tadi memperhatikan Martin hanya bisa terdiam membatin. Jelas sudah kalau menemui Ayahnya Martin cukup membuatnya terguncang sekali.
Helena masuk sebentar untuk melihat Sofia yang sudah mulai tertidur sejak tiga puluh menitan yang lalu. Setelah itu Helena keluar dari sana untuk menemui Martin sebelum dia memutuskan untuk pulang ke apartemennya karena seja tadi Ibunya Helena terus menghubungi Helena dan menanyakan kapan Helena akan pulang.
"Kau terlihat begitu gelisah, kau yakin tidak akan membicarakannya padaku?" Tanya Helena seraya mengambil posisi duduk di sebelah Martin.
Martin memaksakan senyumnya, bagaimana dia akan menceritakan kepada Helena tentang apa yang sebenarnya terjadi? Jujur saja dia benar-benar merasa malu tapi jika tidak diceritakan pada akhirnya hanya akan membuat hubungan mereka memiliki kesalahpahaman dan menjadi melebar masalahnya.
"Aku masih tidak tahu bagaimana akan memberitahu mu. Aku merasa sangat malu, juga merasa bersalah karena kenyataannya aku tidak sadar kalau aku bahkan juga berada di dalam posisi yang salah. Tentang detailnya, aku akan menceritakannya nanti, sekarang aku benar-benar belum siap. Tapi aku harap kau terus mempercayaiku karena apapun yang terjadi, kesungguhan yang aku miliki terhadap mu tidak akan pernah berubah."
Helena mengangguk paham, tentu saja dia akan mempercayai hal itu.
__ADS_1
Di sisi lain.
David menatap Melisa yang kini terus menatap surat permohonan cerai yang di berikan David untuknya.
Sejujurnya dia merasa kasihan melihat keadaan Melisa yang begitu kacau seperti tak memiliki energi untuk hidup, tapi David juga cukup sadar benar apa sebabnya.
"Maafkan aku karena memilih jalan seperti ini. Aku harap kau tidak mempersulit ku, dan membiarkan aku hidup dengan jalan ku tanpa adanya ikatan apapun."
Melisa masih tak bicara tapi hatinya membatin sedih. Tentu saja hubungan apapun sudah tidak akan ada gunanya lagi untuk mereka, David adalah pria yang dia cintai dan menjadi sumber obsesinya. Sekarang dia tidak bisa melakukan apapun di dalam sana, dia tidak akan pernah tahu bagaimana menghirup udara bebas setelah hukuman seumur hidup yang dia dapatkan. Cintanya, anaknya, Ibunya, Ayahnya, semua yang dia cintai tidak ada di sisinya, tidak ada yang mampu menyeka air matanya saat jatuh, juga sudah tidak bisa lagi menjadi alasan untuk Melisa tertawa atau bahkan tersenyum.
"Melisa, ini adalah kali pertama aku menemui di penjara, tapi juga akan menjadi yang terakhir karena setelah ini aku juga tidak akan pernah datang sama sekali. Aku tidak tahu bagaimana aku akan menghabiskan hidup ku, tapi aku sudah janji kepada diriku sendiri kalau aku akan melakukan yang aku bisa, aku juga akan memilih untuk tidak menikah dengan siapapun lagi."
Melisa tersenyum kelu, matanya berair seolah dia begitu ingin menangis mendengar apa yang David katakan.
"Jangan lakukan itu, David. Seumur hidup ku kau selalu menderita karena ku, jangan putus ada karena aku tidak akan hadir di dalam hidup mu dan mengganggu mu. Percayalah pada keadilan Tuhan, jangan menyerah begitu saja dan cobalah untuk menerima semua ini sebagai jalan hidup yang memang sudah Tuhan tentukan untuk kita. Berbahagialah dan temukan orang yang benar-benar akan kau cintai dan mencintai mu. Jangan mengatakan mau tidak akan menikah lagi, tolong jangan membuatku merasa lebih bersalah lagi." Ucap Melisa dengan tatapan sedih karena semua yang dia katakan adalah benar-benar seperti yang di rasakan oleh hatinya.
David terdiam sebentar, tentu saja dia benar-benar merasa sangat trauma dengan apa yang di alaminya. Dua kali menikah dan dua putrinya juga menderita dengan segala kekurangan mereka, dia juga telah menyakiti Helena, dan apa yang terjadi dengan kekuatan Melisa cukup membuatnya sadar bahwa dia yang tidak memiliki ketegasan tidak akan bisa menjalin hubungan terutama dengan hubungan pernikahan.
__ADS_1
"Melisa, kebahagiaan seseorang bukan berarti harus memiliki hubungan pernikahan, aku ingin mengajukan perceraian karena aku tidak sanggup lagi mempertahankan hubungan yang jelas tidak akan berhasil pada akhirnya, aku tidak ingin terjerat dengan hubungan ini."
Melisa menatap kedua bola mata David, sorot matanya yang seolah menjelaskan betapa dia menderita dengan semua yang terjadi, menderita karena kedua putrinya meninggal, cintanya hancur bahkan hidupnya juga seperti hancur sekali.
"Aku akan melakukannya, aku juga tidak memiliki alasan apapun untuk menahan mu dengan hubungan pernikahan kita. Jagalah dirimu baik-baik, aku harap kau menemukan kebahagiaan seperti yang kau inginkan."
David mengangguk, membicarakan soal kebahagiaan tentu saja seperti sedang membicarakan hal fantasi yang sulit akan terjadi kepada hidupnya.
"Aku juga berharap kau benar-benar selalu baik, juga menghabiskan waktumu dengan sabar." Ucap David yang jelas tidak akan sanggup mendoakan kebahagiaan Melisa karena dia sadar benar Melisa tidak akan mendapatkan semua itu bukan? Kehilangan anak, jauh dari Ayah dan Ibu, bahkan juga hubungan mereka yang akan segera di akhiri, mana mungkin Melisa akan mendapati kebahagiaan?
"Tentu saja, aku akan bahagia dengan pilihan ku sendiri." Melisa tersenyum membuat David merasa begitu aneh tapi juga tidak berani bertanya apapun kepada Melisa.
Melisa segera meraih lembaran pengajuan cerai, menandatangi tanpa membaca isinya karena jelas itu tidak akan ada gunanya bukan?
"Ini!" Melisa menyodorkan lembaran itu untuk lebih dekat dengan David. Dia tersenyum kepada David sebelum mereka benar-benar berpisah dan tidak akan bertemu lagi.
Bersambung.
__ADS_1