
"Bagaimana ini, kenapa kau hanya diam saja? Sekarang kita harus bagaimana sayang?" Tanya Ibunya Melisa yang begitu panik setelah nama Tuan Feto menjadi jajaran salah satu orang yang terlibat dalam kasus pembunuhan dan pencurian organ Velerie. Dia sudah mendapat surat pemanggilan untuk di mintai keterangan pagi tadi, dan itu benar-benar membuat Ibunya Melisa benar-benar stres berat.
Tuan Feto mengeraskan rahangnya, menatap ke arah istrinya yang terus mondar mandir karena perasaan panik yang dia rasakan. Sebenarnya Tuan Feto ingin sekali mengatakan jika semua ini terjadi karena emosi yang tidak terkontrol istrinya, dia ingin memaki kebodohan istrinya, tapi dia juga sadar itu tidak akan ada gunanya. Ibunya Melisa mirip sekali sifatnya dengan Melisa, enggan berpikir jernih dan bertindak hanya karena terpancing keadaan sesaat, juga emosi yang tak ingin di tahan sama sekali.
Sekarang semua benar-benar sudah berada di ujung tanduk, dan dia juga hampir tak bisa melakukan apapun sekarang. Melenyapkan Martin sudah gagal, membunuh Helena juga akan jadi masalah besar karena sekarang semua pasang mata seperti sedang mengawasi dirinya.
"Sayang, bagaimana kalau kita datangi saja kedua orang tua Helena? Kita minta dia untuk menghentikan Helena, berikan saja mereka yang yang banyak, tidak mungkin mereka akan menolak uang banyak kan? Kehidupan mereka juga tidak mulus, mereka pasti akan tergoda dengan uang banyak."
Tuan Feto membuang nafasnya, lalu memijat pelipisnya karena kepalanya benar-benar sakit sekarang.
"Hentikan saja rencana bodoh mu itu, kau pikir semua akan selesai hanya dengan uang? Kau tahu benar jika pada akhirnya mereka menolak, maka nama kita akan semakin terperosok jatuh tak tertolong lagi. Inilah kenapa alasannya aku terus melarang mu melakukan ini dan itu tanpa izin dariku. Kau dan Melisa sama sama keras kepala dan selalu merasa benar sendiri. Sejak awal aku sudah bilang untuk sedikit lebih sabar agar sampai kita mendapatkan donor ginjal, tapi kenyataannya anak mu itu tidak bisa menahan diri. Lalu akibatnya, aku harus melakukan apa yang seharusnya tidak aku lakukan, mengutamakan putriku yang jelas tidak ingin di penjara, menyelamatkan cucuku juga. Aku sudah hampir kehilangan energi karena masalah ini, padahal sesulit apapun yang namanya pekerjaan tidak pernah membuatku merasa seperti sekarang. Kau membuatku merasa akan lebih baik jika saat itu kita tidak kenal."
Ibunya Melisa membulatkan matanya dengan tatapan terkejut, dia juga terlihat marah karena apa yang di katakan suaminya benar-benar menyakitkan hati. Rasanya dia ingin marah dan membalas ucapan suaminya, tapi dia juga cukup sadar jika apa yang di katakan oleh suaminya memang benar adanya.
"Jangan bicara sembarangan, kau tahu itu tidak mungkin karena kenyataannya kita sudah bertahun-tahun bersama bahkan memiliki cucu bukan?"
__ADS_1
Tuan Feto membuang nafasnya. Sial! di saat yang tidak tepat dia justru tengah berpikir bagaimana ya jika dia tidak menikahi Ibunya Melisa? Apakah dia akan memiliki banyak anak, banyak cucu dan hidup dengan menyenangkan? Sejuta kali di pikirkan memang kenyataannya itu juga sudah tidak mungkin, Mengani Melisa yang di penjara tentu saja dia sedih, tapi berapapun usianya dia masih bisa memiliki anak lagi walaupun harus dengan wanita lain bukan?
"Kau benar, semua sudah terjadi, semua tidak akan kembali hanya dengan berandai-andai."
Di sisi lain.
"Bagaimana kabar anda, Pengacara Jhon? Ah, salah salah! bagiamana kabar anda, Jhon? Sudah lama tidak bertemu rasanya aku benar-benar rindu sekali." Ucap Martin yang kini berada di sebuah ruangan di mana dia bisa menemui pengacara Martin yang sedang menjalani hukuman.
Pengacara Martin tak menjawab, namun matanya benar-benar mewakili apa yang sedang dia pikirkan. Dia seperti sedang mengancam Martin, mengatakan betapa dia membenci Martin dan masih memilki niat membara untuk bisa melenyapkan Martin dnegan tangannya sendiri. Sayang, sungguh sayang sekali karena sekarang dia sedang di borgol kedua tangannya.
"Apa kau tahu, Pengacara Jhon? ah, sulit sekali karena aku terus lupa. Bagaimana kalau mulai hari ini aku sebut Jhon saja?" Martin terkekeh begitu melihat tatapan penuh kemarahan semakin memancar dari kedua bola mata pengacara Jhon. Usia mereka beda jauh, sekitar sebelas tahun apakah pantas dia panggil dengan sebutan nama oleh Martin? Jujur saja dia benar-benar sangat kesal, tapi dia terlalu malas untuk berbicara dengan Martin yang begitu menyebalkan di matanya.
Martin kini semakin memusatkan tatapan matanya kepada mata Jhon.
"Berikanlah keterangan yang sebenarnya, walaupun kau tidak sudi untuk melakukannya, setidaknya kau anggap saja melakukan itu untuk sedikit mengurangi dosa mu yang telah membuat banyak orang lain merugi dan menderita karena ulah mu. Kau tahu sekali kau sedang sangat marah dan sangat tidak Sudi untuk melihat ku, tapi aku mengatakan ini bukan karena untuk keuntunganku saja, tapi juga untukmu. Setidaknya sekali saja lakukanlah sebuah tindakan yang benar, setidaknya sekali saja kau Mendapati ucapan yang tulus, ucapan terimakasih yang makanannya juga doa baik untukmu."
__ADS_1
Pengacara Jhon menatap Martin semakin tajam.
"Berani sekali kau menceramahi ku padahal dulunya kau hanyalah alas kaki ku!"
Martin menghela nafas melihat bagaimana pengacara Jhon benar-benar tidak menerima ucapan Martin barusan.
"Jadi kau masih bersikeras? Baiklah, sungguh itu tidak apa-apa. Tanpa kau bicara aku tetap akan mendapatkan bukti yang aku inginkan, aku benar-benar akan membuat kalian semua masuk ke dalam kandang besi ini, terkurung sampai akhir hayat dengan rasa malu yang tidak akan habis sampai anak cucu kalian semua."
Pengacara Jhon terlihat goyah, tapi dia segera memperbaiki mimik wajahnya karena ada hal yang tidak boleh dia lakukan, terutama memberi keterangan yang akan membuat Tuan Feto dalam bahaya. Sekarang dia benar-benar hanya bisa diam tak bicara karena hanya itu lah yang bisa dia lindungi.
"Kau tahu benar bahwa aku sedang tidak main-main bukan? Tidak masalah kau tidak menganggap ucapan ku, tapi aku pastikan pada akhirnya aku akan mendapatkan apa yang aku inginkan sementara kau dan juga group mu itu akan berada di tempat yang sama."
Pengacara Jhon masih tidak ingin bicara meski hatinya benar-benar cukup goyah sejak tadi. Martin memang terlihat serius dan tidak main-main, maka dari itu pengacara Jhon merasakan tekanan yang cukup kuat sampai dadanya terasa sakit saat Martin berbicara terus menerus.
Bersambung.
__ADS_1