
"Nona Helena, mungkin ini memang bukanlah yang anda inginkan, tapi Tuan Feto sudah menyiapkan semua ini sebelum dia benar-benar mantap menyerahkan diri ke kantor polisi. Mengenai harta yang di berikan kepada anda, semuanya murni adalah hasil kerja keras Tuan Feto. Tidak ada uang negara, tidak ada uang rakyat atau hasil penipuan di dalamnya, pihak berwajib sudah memastikan semua itu." Ucap Sektretaris nya Tuan Feto yang tiba beberapa saat lalu.
Helena terdiam, dia tidak tahu harus mengatakan apa, Ibunya yang ada di sana karena sejak dia memutuskan untuk bercerai dan bertemu kembali Helena, dia di bawa pulang oleh Helena dan tinggal bersama di apartemen.
"Nona, sekeras apapun anda menolak, pada akhirnya harta ini juga akan menjadi milik anak anda kelak. Di sini sudah tertera bahwa harta yang sudah di pindah tangankan atas nama anda tidak akan bisa di pindahkan lagi kecuai kepada anak kandung anda. Jika anda tidak menandatangani persetujuan maka secara otomatis harta ini tetap akan langsung ke anak anda nantinya. Kesannya boleh saja Tuan Feto memaksa, tapi hanya ini yang bisa dia berikan untuk anda, Nona."
Ibunya menatap Helena dengan diam, tentu saja dia tahu bagaimana perasaan Helena saat ini. Harta yang di berikan kepada Helena tentu saja adalah hal yang menyenangkan, tapi bagi Helena tentu adalah hal yang tidak dia inginkan. Semua tentang Tuan Feto hanya akan mengingatkan dia kepada kenyataan yang telah membuat Velerie meninggalkan dunia ini bukan? Ibunya Helena meraih tangan Helena, menepuk punggung tangannya pelan seolah dia ingin mengatakan kepada Helena bahwa sabar dan tenang adalah jalan yang terbaik untuk mengambil sebuah keputusan yang cukup besar.
"Aku tidak tahu harus mengatakan apa, bahkan aku tidak di berikan kesempatan sama sekali untuk menolak bukan? Tapi masalahnya aku tidak siap dengan ini, biarkan aku bertemu dengan Tuan Feto lebih dulu, aku harus bicara dengannya." Ucap Helena, dan langsung mendapatkan anggukan setuju dari sekretaris nya Tuan Feto.
"Tentu saja, aku akan menyiapkan waktu untuk anda berkunjung ke sana. Selama ini Tuan Feto tidak pernah menemui siapapun yang datang, jadi aku perlu bicarakan ini dulu dengan beliau."
"Tentu saja." Ujar Helena.
Beberapa hari kemudian.
Sekretaris Tuan Feto menghubungi Helena bahwa dia bisa menemui Tuan Feto hari ini. Helena tentu saja memenuhinya, tak lupa juga Martin menemani Helena sementara Sofia di titipkan bersama dengan Ibunya Helena. Tentu saja Ibunya Helena tidak merasa keberatan sama sekali, karena seperti janjinya kepada Helena di dalam hati, dia akan melakukan apapun yang bisa membahagiakan Helena.
__ADS_1
Di penjara.
"Kau datang juga, nak?" Tuan Feto tersenyum, mengabaikan bagaimana penampilannya yang tidak sehebat biasanya, tapi dia tetap terlihat baik-baik saja. Baju tahanan yang dia gunakan seolah tak membuatnya terpengaruh sama sekali, berbanding terbalik dengan Melisa yang begitu tertekan seingat Helena.
"Bagaimana kabar mu? Kau terlihat membaik, tapi karena aku belum tahu benar dari mu aku belum benar-benar merasa lega." Ujarnya membuat Helena tersenyum tipis tak tahu harus mengatakan apa. Nak, lalu menanyakan kabar dengan nada bicara yang begitu lembut. Sial, rasanya Helena sedikit tergugah hatinya, tapi luka yang di berikan Tuan Feto seolah begitu segar di ingatan nya.
"Aku baik-baik saja saat kalian sekeluarga masuk ke dalam penjara."
Jawaban dari Helena barusan benar-benar hanya di tanggapi dengan senyum tanpa makna oleh Tuan Feto. Memang pantas dan wajar kalau Helena Maia begitu membenci dirinya dan keluarganya. Tapi Tuan Feto juga merasa tidak pantas untuk meminta di mengerti apalagi di ampuni. Helena sudah sangat menderita sejak dia di lahirkan, jadi Tuan Feto hanya akan mendukung Helena saja, tidak akan menghentikannya selagi itu tidak berbahaya untuk Helena. Tuan Feto boleh berada di dalam penjara, tapi dia sudah membayar beberapa orang hebat untuk melindungi Helena, juga membantu Helena dalam mengurus dokumen atau apapun yang di butuhkan. Bahkan, jika Helena membutuhkan perusahaan Tuan Feto juga bisa menyiapkan meski tidak langsung dengan tangannya sendiri.
"Kenapa anda memberikan harta anda untuk ku?"
Tua Feto terdiam sebentar, Helena menggunakan panggilan anda kepada dirinya sudah pasti untuk menjelaskan bahwa Helena dan juga Tuan Feto memiliki batasan yang tidak boleh untuk di lewati.
"Tentu saja karena hanya kau yang bisa menerimanya."
Helena membuang nafas kasarnya, menatap Tuan Feto dengan tatapan dingin.
__ADS_1
"Anda hanya akan berada di dalam penjara setelah di potong masa tahanan bukan? Anda masih bisa mengelola harta anda sendiri, kenapa anda memberikan harta yang bisa anda miliki empat tahun lagi?"
Tuan Feto tersenyum, tentu saja dia tidak sembarangan dalam mengambil tindakan. Dia sudah tahu kalau dia tidak akan begitu lama berada di dalam penjara. Mengenai harta itu dia tahu benar bahwa pada akhir akan berada di tangan Helena bukan? Dia sudah tidak lagi muda, dia tidak memiliki ketangguhan seperti dulu jadi dia merasa tidak lagi menginginkan itu, dia tidak lagi menggilai banyaknya harta.
"Karena hanya kau yang pantas untuk menerima nya, nak."
Helena mencengkram kain baju yang dia gunakan, nak? Lagi lagi panggilan itu, dia benar-benar tidak nyaman mendengarnya.
"Ibu mu memberikan koleksi photo mu sejak kau baru di lahirkan, Ayah benar-benar bersyukur masih bisa melihatnya walaupun hanya dari sebuah photo. Saat kau kecil kau benar-benar mirip sekali dengan nenek mu, andai saja dia masih hidup, dia pasti akan dengan bahagia dan mengatakan ini juga." Tuan Feto tersenyum mengingat wajah Helena pada photo itu. Tidak, sebenarnya lebih tepatnya Helena benar-benar memiliki banyak kesamaan dengannya. Sikap dingin, sorot mata yang tajam, bentuk mata dan juga bentuk wajah yang tegas, Helena sungguh tidak perlu mengatakan kenyataan itu semua orang pasti akan menyetujui nya.
"Berhentilah membicarakan hal lain, aku sedang membahas tentang harta yang anda berikan padaku." Ujar Helena yang tidak ingin kehilangan Fokus.
"Seperti yang Ayah katakan, hanya kau yang pantas Karena kau adalah anak Ayah. Kenyataan ini memang menyakitkan untuk mu, tapi sebagai seorang Ayah yang di penuhi rasa bersalah dan kebencian kepada diri sendiri, rasanya ingin melakukan apapun untuk mengobati luka dan membenahi kesalahan ini. Tapi sekarang masih sangat sulit bukan? Kalau boleh jujur itu bukan termasuk memberikan harta, tepatnya Ayah meminta bantuan putriku untuk membantu mengelola bisnis."
Helena mengeryit bingung.
Bersambung.
__ADS_1