Why?

Why?
Peringatan Tegas


__ADS_3

Di kantor lawyer (Firma hukum )


Pengacara Jhon meminta orang untuk memesankan tiket pesawat untuk membiarkan dia pergi ke luar negeri agar bisa lari dari keadaan yang semakin ricuh ini. Sekarang masyarakat bukan hanya menuntut perihal Helena saja, tapi mereka juga mulai menyuarakan perasaan dan tindakan tidak adil yang pernah di lakukan Pengacara Jhon padanya. Tentu saja sudah sangat banyak hal yang dia lakukan, memanipulasi kebenaran sehingga banyak pihak yang sebenarnya merasa jika dia adalah korbannya.


"Maaf Pak, anda sepertinya tidak dapat untuk ke luar negeri terlebih dulu. Nama anda ada dalam daftar hitam untuk sementara waktu ini hingga anda terbukti tidak bersalah." Ucap junior di firma hukum yang membuat pengacara Jhon benar-benar kesal dan berakibat sakit kepala.


"Sial! Ini pasti sangat sulit untuk membebaskan namaku, membersihkan namaku juga. Tapi aku benar-benar tidak bisa berpikir dengan baik kalau keadaan nya terus begini." Gumam Pengacara Jhon setelah junior yang tadi menyampaikan pesan sudah meninggalkan ruangannya.


"Aku harus melemparkan ini semua kepada Tuan Feto, atau kalau tidak aku harus bisa menyingkirkan Helena saja."


"Benarkah? Sungguh anda yakin bisa melakukan itu?"

__ADS_1


Pengacara Jhon terkesiap, dia menatap ke arah sumber suara yang ternyata adalah Martin. Entah sejak kapan Martin tiba di sana, dan mendengar apa yang dia katakan, tapi sungguh dia benar-benar tidak sopan karena masuk begitu saja tanpa permisi bukan?


Martin tersenyum miring, jelas sekali dia mendengar apa yang di katakan pengacara Jhon yang memilki niat untuk menyingkirkan Helena dalam artian membunuh Helena. Mungkin Pengacara Jhon dan Tuan Feto benar-benar tidak tahu bagaimana menghargai nyawa serta kehidupan orang lain, tapi Martin akan membuat dia mengerti akan hal itu tentu saja dengan caranya sendiri.


"Kau sudah merasa hebat sekali rupanya sampai tidak tahu harus permisi lebih dulu sebelum masuk ke ruangan ku." Ujar pengacara Jhon dengan tatapan dingin karena jujur saja dia sama sekali tidak menyukai Martin sekarang. Dulu memang seperti itu, hanya saja dulu Martin hanyalah anak bawang yang mudah dia bodohi dan akan menurut saja apa yang dia katakan. Sekarang Martin benar-benar menunjukkan taringnya di mana dia benar-benar terlihat sulit untuk di hadapi.


Martin menghela nafasnya, lalu menarik kursi untuk dia duduk dengan nyaman. Setelah itu dia memusatkan tatapan matanya untuk menatap pengacara Jhon yang masih saja menatapnya dengan dingin.


"Aku merasa anda tidak cukup pantas untuk mendapat penghormatan dari ku, perilaku sopan dariku. Aku datang kemari bukan untuk berdebat hal yang tidak penting, tapi aku datang untuk mengingatkan bahwa ketika anda melakukan sesuatu yang buruk terhadap Helena, maka aku pastikan waktu anda berada di tempat bebas ini semakin berkurang." Martin tersenyum miring menatap dengan tatapan mengancam. Beberapa waktu yang dia habiskan di firma hukum di mana pengacara Jhon berada adalah demi mengorek informasi apapun, termasuk para klien yang telah mendapat ketidak adilan demi keuntungan pengacara Jhon sendiri. Sekarang dia sudah memegang bukti dari beberapa Klein itu.


"Aku bukanya menyukai pekerjaan mengelap sepatumu, hanya saja dari menyeka sepatu, menunjukkan sisi bodoh ku, pada akhirnya aku memiliki banyak kelemahan dari pemilik sepatu. Aku bisa menikamnya sedalam yang aku inginkan, dan sekarang sedang aku lakukan."

__ADS_1


Pengacara Jhon benar-benar di buat semakin kesal, sekarang dia sungguh tidak bisa mengatakan apapun karena semakin dia banyak bicara dia akan rugi sekali. Martin datang untuk mengancamnya pasti karena dia sudah tahu pada akhirnya pengacara Jhon akan mencelakai Helena. Sudah pasti juga Martin menyiapkan sesuatu untuk terus mengawasinya dengan ketat bukan?


"Pengacara Jhon, pria yang memilih untuk tidak menikah apalagi memilki anak. Pria yang lebih suka berganti pasangan dan hidup dalam satu atap tanpa status resmi, cara seperti itu memang efektif untuk meminimalisir kelemahan agar bisa di ancam oleh orang lain. Tapi, sayang sekali aku mengetahui bahwa kelemahan mu adalah uang. Jangan bingung, aku akan membuktikan kepada anda yang terhormat ini bahwa memiliki banyak uang bukan selalu memiliki jalan untuk bahagia. Percayalah, uang yang kau miliki itu akan menjadi senjata makan tuan untukmu." Martin tersenyum lalu bangkit dari posisinya. Sudah tidak ada lagi yang ingin dia bicarakan karena dia tahu benar apa yang dia ucapkan barusan sudah cukup untuk membuat pengacara Jhon tidak macam-macam terhadap Helena. Bagaimanapun dia tidak akan mungkin berada di sisi Helena dia puluh empat jam, jadi dia ingin meminimalisir kemungkinan Helena yang akan mendapatkan celaka dari pengacara Jhon atau Tuan Feto.


Di sisi lain.


"Kau akan diam saja begini? Helena, si wanita kurang ajar itu pasti akan menertawakan kita! Wanita rendahan itu benar-benar sudah menghancurkan hidup kita! Gara-gara dia anak laki-laki kita meninggal, gara-gara dia juga kita harus mengalami ini semua! Aku benar-benar tidak tahan lagi, aku seperti ingin datang menarik rambutnya, menusuk dadanya dengan belati, melemparkan mayatnya ke kandang buaya!" Kesal Ibunya Melisa yang benar-benar merasa sangat kacau setelah apa yang terjadi dengan Melisa dan juga suaminya.


Tuan Feto membuang nafasnya, sungguh dia juga pusing dan kesal sekali. Tapi mengingat semua yang terjadi, jelas juga karena kesalahannya bukan? Andai saja Melisa bisa memiliki anak kandung lagi, andai saja Denise bukan satu-satunya cucu penerus keluarga yang di miliki, tentu saja dia juga tidak akan bertindak sampai sejauh ini.


"Diam lah, jangan bicara lagi karena kepala ku benar-benar sedang sakit. Ingat, kau juga jangan melakukan apapun terhadap wanita itu, kau tahu keluarga kita sedang jadi pusat perhatian bukan? Jadi diam dan jangan membuat masalah itu sama halnya seperti kau sedang membantuku."

__ADS_1


Ibunya Melisa terdiam tak mengatakan apapun, tapi hatinya benar-benar tidak tenang, dia tidak bisa menerimanya dan membiarkan saja Helena tenang setelah apa yang dia lakukan.


Bersambung.


__ADS_2