Why?

Why?
Rentaro Ishida


__ADS_3

7 tahun yang lalu, tahun 201x ....


“Selamat pagi, semuanya! Perkenalkan, nama saya adalah Rentaro Ishida, panggil saja Ren, dan saya berasal dari Jepang! Mulai hari ini, saya akan sekelas dengan semuanya, mohon bantuan untuk ke depannya!”


Usai memperkenalkan diri dengan suara yang lantang nan semangat, pemuda yang berdiri di depan kelas itu langsung membungkuk lurus 90 derajat, kemudian berdiri tegap kembali. Tidak hanya semangat ’45, Ren melontarkan senyum yang sangat cemerlang. Bahkan, kedua mata abu-abunya seolah bersinar terang.


Kontras dengan pemuda yang baru masuk dan berteriak, murid seisi kelas—termasuk guru yang berdiri di samping—hanya terdiam dengan mata yang membulat. Sebagai anak remaja yang rata-rata sudah berusia 17 tahun, mereka paham bahwa menjadi murid baru itu mempunyai perasaan yang bercampur antara grogi sekaligus gembira. Namun, tidakkah dia terlalu berlebihan pada semangatnya?


“Jadi, di mana tempat duduk saya, Ibu Guru?” tanya Ren masih dengan suara lantang.


Bu Ernita, guru mapel matematika yang merangkap sebagai wali kelas XI IPA-A ini terkesiap. “Oh, ya, tempat dudukmu ada di meja kosong sana, di pojok kiri deretan belakang,” ujarnya seraya menunjukkan arah.


Ren mengangguk mantap. “Baik, Ibu Guru,” tukasnya kemudian berjalan penuh semangat bagai anak kecil.


Setiap langkah yang ia ambil, hampir seluruh mata—terutama murid perempuan—mengekorinya bergerak. Mereka masih sangat penasaran dengan sosok Ren yang muncul mendadak di tengah pelajaran dan mengecoh perhatian. Belum lagi dengan wajah Asianya yang berbeda serta warna kulit yang relatif putih dibandingkan dengan murid laki-laki yang rata-rata coklat dan kuning langsat. Bukankah dia semakin menarik perhatian?


Begitu tiba di meja kosong yang disebutkan, Ren pun menarik kursi dan mendudukinya dengan postur tubuh yang tegap. Rekan satu mejanya—yang ternyata adalah laki-laki—langsung menyambut dengan girang. “Konnichiwa* ,” sapanya.

__ADS_1


Ren sedikit terkejut mendengar sapaannya. Lantas, ia tersenyum lebar. “Konnichiwa,” balas Ren.


“Namaku Andika, panggil saja Andi. Yoroshiku Onegaishimasu* ,” ujarnya sambil tersenyum lebar.


“Yoroshiku nee,” balas Ren lagi. “Bahasa Jepangmu bagus, Andi-san*.”


Andi terkekeh pelan. “Nggak, kok. Aku hanya bisa yang sederhana dari nonton anime. Pergi ke Jepang adalah impianku, terutama ke Akihabara. Katanya itu kota anime, kan? Kamu sudah pernah pergi ke sana?”


“Kalau ke sana saya—”


“Untuk yang di belakang,” potong Bu Ernita dari depan kelas, “Ibu tahu kalian penasaran dengan teman baru dan ingin berkenalan. Tapi sekarang sedang jam pelajaran jadi mohon diundur dulu pengenalannya dan fokus ke pelajaran.”


Bu Ernita membuang napas. “Baik, kita lanjutkan. Tiga orang yang dipanggil silakan mengerjakan soal yang ada di papan tulis. Bagas, Eva, dan Rika.”


Ketiga murid yang disebut namanya serentak berdiri. Bersamaan mereka berjalan ke depan kelas untuk mengerjakan soal matematika yang sudah tersedia di papan. Ren yang tiba-tiba bergabung di pertengahan kelas tadi hanya memerhatikan.


“Kami sedang kuis matematika,” bisik Andi menerangkan. “Bu Ernita akan memanggil kami secara acak untuk mengerjakan soal di depan. Aku belum dipanggil dan semoga tidak selama-lamanya.”

__ADS_1


Ren tidak memedulikan Andi yang sedang sibuk berdoa—daripada belajar, lantas ia menatap lurus ke depan kelas, memperhatikan murid yang sedang mengerjakan soal dengan serius. Di antara mereka bertiga yang berjejer, salah satu tampak mencolok dengan rambut yang keriting ngembang berwarna hitam kecoklatan.


“Andi-san, itu siapa yang berdiri di tengah?”


Andi berhenti berdoa dan menghadap ke depan. “Oh, namanya Eva. Dia sekretaris kelas kami. Rambutnya unik, ya? Dia cukup populer karena rambutnya.”


Tidak menyahut Andi, Ren hanya terpaku memandang gadis berambut unik itu.


***


Catatan:


*1: Sapaan “selamat siang” dalam bahasa Jepang. Namun, jika diucapkan selain di siang hari memberikan arti sapaan “hai”.


*2: Pada pengenalan diri adalah “senang berkenalan dengan Anda” dalam bahasa Jepang.


*3: Panggilan yang sopan/hormat kepada seseorang dalam Bahasa Jepang.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2