Why?

Why?
Terbanglah Setinggi Mungkin!


__ADS_3

Martin terdiam sebentar, menahan dirinya yang merasa kesal sekali dengan apa yang di katakan Pengacara Jhon. Tentu saja dia tahu apa maksud pengacara Jhon menginginkan kasus ini untuk dia saja yang mendampingi Helena. Kalau kasus ini di tangan Pengacara Jhon, sudah pasti pengacara Jhon akan mencari kambing hitam dan menjadikan dia tersangka untuk mengakhiri kasus ini. Sungguh sangat muak sekali menghadapi orang seperti Pengacara Jhon, tapi bukankah akan lebih baik kalau membiarkan kail di gigit ikan?


"Sudahlah, berhenti berpikir dan berhenti menganggap dirimu tidak berguna. Aku akan membantumu menyelesaikan kasus ini, kau santai saja." Pengacara Jhon menepuk pundak Martin sembari tersenyum ramah.


"Kalau begitu, maafkan aku merepotkan Pengacara Jhon. "Ucap Martin, tak terlihat keberatan sama sekali, dia justru tersenyum dengan senang seolah tak lagi Haris menyusahkan diri dan terbebas dari pekerjaan yang sulit.


Dasar bodoh dan tidak berguna! Ternyata kebodohan pria ini ada gunanya juga.


Pengacara Jhon tersenyum karena menganggap apa yang dia pikirkan adalah memang apa yang terjadi. Dia tidak tahu, tidak melihat bagaimana Martin tersenyum penuh maksud menatap punggung Pengacara Jhon yang menjauh meninggalkan ruangannya.


"Dasar licik, gara-gara kau aku harus segera mempersiapkan segalanya jadi lebih cepat kan? Berpikirlah semau mu, aku menunggu kau menyeret orang yang tidak bersalah untuk menyelesaikan ini dan mengakhiri dengan semakin memperindah namamu. Aku menantikan aksi itu, terbanglah setinggi mungkin, aku yang akan merangkak meraih kakiku, menarikmu dan menjatuhkanmu ke dasar jurang yang berlumpur."


Martin merah ponselnya, mengirimkan pesan kepada Helena mengenai pembicaraan antara dia dan juga pengacara Jhon barusan. Untuk detailnya akan dia bicarakan setelah pulang kerja nanti.


Sore harinya.


Begitu Martin keluar dari ruangannya, semua orang berbisik, matanya tertuju kepada Martin menjelaskan bahwa mereka pasti sedang menggunjing. Apa yang mereka gunjingkan?


"Tetap saja pengacara Jhon yang menyelesaikan pekerjaannya, ternyata dia memang tidak berguna."


Yah, seperti itulah yang mereka gunjingkan. Sakit hati? Tidak, Martin sudah tidak merasakan sakit hati entah mendengar secara langsung ucapan itu atau tidak. Kenapa? Karena bagi Martin, orang bodoh adalah orang yang senang tiasa membiarkan mulutnya mengoceh, matanya menatap menilai sesuka hati, barulah memikirkan di akhir cerita. Tentu saja Martin juga merasa bodoh maka dari itu dia tetap tersenyum saat orang lain menyebutnya seperti itu. Tidak berdaya melihat keburukan, pasrah saat melihat orang lain menangisi ketidakadilan yang tak berpihak padanya.


Begitu sampai di parkiran mobil, sebentar Martin terdiam menatap sosok yang sangat dia kenal, dia adlah matan istrinya. Dia terlihat begitu mencintai suaminya hingga tidak memperdulikan wajah suaminya yang terlihat kesal dan dia terus saja mencoba untuk merangkul lengan suaminya meski berkali-kali di tepis tangannya. Martin terdiam, tidak tahu kenapa dia benar-benar merasa kasihan dengan mantan istrinya itu. Dulu dia begitu mencintai mantan istrinya, kemanapun pergi inginnya selalu bersama istri, saling menggenggam tangan, memeluknya, tapi mantan istrinya yang menolak dengan alasan malu, kadang sedang tidak mood. Yah, kehidupan memang misteri yang tidak bisa di tebak bukan? Sekarang mantan istrinya terlihat seperti budak cinta.

__ADS_1


"Wah, ada mantan suamimu, apa kau tidak ingin menyapanya?" Melihat ada Martin yang juga menatap mereka, pria itu langsung memeluk pinggang istrinya, menatap dengan tatapan sombong seolah dia ingin menunjukkan kepada Martin bawa wanita yang dulu di puja-puja oleh Martin dengan senang hati memilih dirinya, bahkan rela membuang putrinya sendiri.


Wanita itu sebenarnya ingin mengindari kontak mata dengan Martin, tapi setelah suaminya mengatakan itu mana mungkin dia akan melakukan itu?


"Kenapa aku harus menyapa sampah yang sudah aku buang?" Ujar wanita itu, lalu membuang tatapannya seolah dia begitu malas melihat ke arah Martin.


Martin tersenyum, sungguh dia sama sekali tidak merasa kesal, tapi justru dia merasa kasihan dengan mantan istrinya.


"Benar, memang akan lebih baik jika kau tidak menyapa sampah ini. Oh ya, terimakasih karena sudah membuangku, dan membuang Sofia. Aku harap kau tidak mencoba mendekati kami, karena kalau sampai itu terjadi, kau bisa menjadi sampah yang akan di buang oleh seseorang."


Wanita itu terlihat tertekan, di dalam hatinya jelas dia merindukan Sofia, dia sangat ingin bertemu dengan anaknya. Tapi, jika dia masih saja mengurusi Sofia, dia akan kehilangan suaminya yang sekarang, dan itu adalah hal yang tidak dia inginkan saat ini.


Martin tidak ingin membuang waktu lagi, dia meninggalkan senyum kepada mantan istri dan pria kaya yang kini telah menjadi pasangan mantan istrinya. Tentu saja sikap cuek itu membuat mantan istrinya dan juga pria itu terlihat kesal. Kenapa reaksinya sangat jauh berbeda dari sebelumnya? Padahal dulu kalau mereka berpapasan secara tidak sengaja, Martin akan langsung terlihat murung, sedih, bahkan Martin juga dengan jelas menunjukan betapa cemburunya dia melihat mantan istrinya telah menjadi pasangan dari pria kaya raya, Presdir sebuah perusahaan yang cukup maju.


Disisi lain.


Helena kini sedang membaca pesan yang di kirimkan Martin karena seharian ini dia sama sekali tidak sempat melihat ponselnya, Helena juga membaca satu pesan yang di kirimkan oleh pengacara Jhon yang katanya akan menggantikan Martin. Jika saja Helena tidak mengenal Martin, dia pasti sudah akan memaki Martin dan pengacara Jhon karena menganggap mereka semua telah mempermainkan dirinya. Tapi, Martin yang membiarkan saja pengacara Jhon ikut campur tentu saja ada hal yang sudah dia rencanakan bukan?


Baru saja akan membalas pesan Martin, rupanya Martin sudah menghubunginya lebih dulu.


Kau sudah membaca pesan yang aku kirim?


"Tentu saja, aku juga sudah membaca kemana dari pengacara Jhon, dia menghubungiku beberapa kali sore tadi, tapi aku tidak mengangkatnya karena sedang bekerja."

__ADS_1


Maafkan aku karena tidak menjelaskan bagaimana rincinya, tadi aku ingin menemuimu secara langsung untuk bicara, tapi Sofia sedang demam, aku jadi tidak bisa menemuimu.


"Baiklah, tidak masalah. Kita bisa bicara dari telepon kan?"


Begini, kau percaya padaku kan?


"Tentu saja."


Baiklah, biarkan saja dia melakukan apa yang dia inginkan. Ikuti saja dia, biarkan dia memenuhi undangan media yang ingin mewakilimu atau menemanimu untuk wawancara. Kau biarkan saja dia bicara, tapi jangan lupa memberikan tambahan kalimat yang membuat orang merasa ragu. Untuk sementara ini aku tidak akan mengerjakan apapun di hadapannya, tapi ini waktunya kau berperan dengan baik.


"Aku mengerti, tapi tolong tetap bimbing aku. "


Tentu saja, aku pasti akan-


Helena terdiam karena dia mendengar suara Sofia merengek seperti sedang merasakan tubuhnya yang tidak nyaman.


Sebentar, Helena.


"Dimana kau tinggal? "


Di apartemen, ada apa?


"Kirim alamatmu, aku akan datang, biarkan aku membantumu merawat Sofia."

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2