![[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana](https://asset.asean.biz.id/-reinkarnasi--sayap-takdir--zhu-liana.webp)
Liana termenung sendiri di dalam kamarnya, memikirkan sesuatu yang dia lihat tadi siang dan sekarang sudah malam, tapi Liana tidak bisa lepas dari bayangan bagaimana Wan Feng melemparkan bola api ke arah pohon hingga membuat pohon itu hangus dalam sekejab.
Liana dapat memastikan bahwa suhu api sangatlah tinggi, mungkin bisa sampai ribuan derajat celcius. Dan itu bukanlah manipulasi sejenis sulap dan lainnya karena begitu nyata. Pikirannya mendadak kosong karena selalu mendapati sesuatu yang tidak masuk akal sejak dirinya terbangun di dunia ini.
Tapi, jika dipikir-pikir dia yang hidup kembali memang sudah tidak masuk akal karena seharusnya dia sudah mati. Dia sendiri yang menusuk jantungnya, apalagi dia telah kehilangan begitu banyak darah karena peluru yang bersarang di perutnya, kemungkinan dia bisa hidup hanyalah kurang dari angka satu. Dan jika pun dia hidup, seharusnya tidak berada di dunia antah berantah ini, kan? Mestinya dia terbangun di dunia modern. Yah, ini hanya pikiran acak Liana.
Jadi sepertinya dunia tempatnya berada sekarang memanglah dunia fantasi, sekarang dia harus memaksa untuk membalik logikanya. Disini mungkin beberapa hal yang dia ketahui tidaklah berguna.
“Haih ....” Dan akhirnya Liana menghela napasnya. Dia memandang wajahnya di cermin, itu sangat mirip dengan dirinya ketika remaja hanya saja Zhu Liana memiliki rambut yang panjang, jika di gerai akan sampai melewati pinggang. Sedangkan dirinya memiliki rambut yang dipotong pendek seleher. Karena sudah menjadi aturan di kemiliteran.
Dia kemudian merabanya dan itu halus, mungkin karena selalu dikeramas dengan tanaman herbal dan lainnya.
“Nona, mari bersiap. Perjamuan sebentar lagi dimulai.”
Suara Ling mengejutkan Liana, hampir dirinya melayangkan pukulan pada wanita itu yang tiba-tiba datang tanpa suara dan langsung berdiri di belakangnya.
“Hah, kau mengagetkanku.” Liana menurunkan tangannya yang terkepal membentuk tinju di depan wajah Ling setelah itu dia mengusap dadanya untuk menenangkan irama jantungnya yang berdetak cepat.
Ling sendiri masih mematung di tempat, dia tak kalah terkejut dengan Liana karena majikannya itu tiba-tiba saja hendak menyerangnya. Dia sempat merasakan angin kejut akibat pukulan Liana yang tak sampai. Jika saja Liana tidak ahli mengontrol gerakan tangannya, Ling tidak ingin memikirkan apa yang akan terjadi pada tulang hidungnya.
“Khem, maafkan saya, Nona,” ucapnya menetralisir keterkejutannya dan setelah itu tersenyum begitu lembut.
Merasa ada yang janggal, Liana mengerutkan alisnya melihat pelayan yang setidaknya sudah berumur 25 tahun sekarang. Biasanya di usia seperti Ling di dunia kuno ini sudah memiliki dua anak.
Tapi perempuan itu malah memilih untuk tetap mengabdi pada keluarga Zhu dan melayani dirinya.
Ah ya. Liana baru menyadari bahwa Ling adalah orang yang memiliki ketenangan cukup baik. Dia hanya akan menampilkan ketidak stabilan saat Liana mendapat ketidak adilan dari orang lain. Contohnya pagi tadi saat dia bertemu dengan Weiling dan Yuxia. Sangat loyal! Atau memang ada sesuatu yang tidak Liana ketahui tentang perempuan itu.
Liana menghela napas lalu menggelengkan kepalanya pelan. “Ling, siapkan aku air untuk mandi!” Dia tidak seharusnya memikirkan hal yang tidak perlu untuk saat ini. Lebih baik segera bersiap untuk acara perjamuan.
__ADS_1
Ling juga tidak lagi menanyakan apapun, menuruti perintah majikan adalah pekerjaannya, maka lakukan sebagaimana profesinya menjadi pelayan yang baik. Menyiapkannya air mandi dan membantu Liana bersiap.
Hanya membutuhkan waktu kurang dari setengah jam untuknya mempersiapkan diri sampai seseorang mendatangi Paviliunnya.
“Kakak,” panggil Liana pada sosok laki-laki jakung yang duduk di kursi bambu yang ada di teras depan. Laki-laki itu tetap menunjukkan kharismanya dengan balutan pakaian biru gelap, dengan pakaian dalamnya yang berwarna putih. Juga tak lupa dengan jubah luar biru gelapnya. Dia tampan dan penuh wibawa. Dia adalah Wan Feng.
“Oh, kau sudah siap?” Wan Feng bertanya. Dia melihat seorang gadis cantik dengan balutan hanfu berwarna putih dengan sulaman benang berwarna perak sebagai coraknya. Dia tersenyum lalu mengampiri Liana, meraih tangan gadis itu untuk menjadi gandengannya. “Selamat ulang tahun!”
“Terima kasih, Kak.” Liana hanya mengangguk, kegiatan seperti tersenyum tetap masih menjadi hal sulit baginya.
Wan Feng tentu sadar akan hal itu, jadi dia mengelus kepala Liana penuh kasih sayang mengungkapkan kalimat dari dalam hatinya untuk menyuruh Liana bersikap apa adanya. Dia jelas sangat menyayangi sang adik lebih dari menyayangi dirinya sendiri.
“Ayo!” Wan Feng lalu mengajak Liana untuk pergi bersama-sama ke aula perjamuan.
~o0o~
Di dalam aula sudah banyak sekali orang-orang yang hadir. Mereka tentu memiliki tujuan yang berbeda. Itu dapat dilihat dari bagaimana mereka membentuk kelompok bicara. Sangat jelas sekali.
Lalu ada yang datang karena mendengar sang Kaisar juga memenuhi undangan tersebut. Yah tidak heran karena Zhu Liana adalah putri dari sepupu terkasih Kaisar. Tidak ada yang menyangkal itu sebab mengetahui bagaimana hubungan sang Kaisar Naga dengan adik sepupunya yang begitu baik.
Saat Liana dan Wan Feng akan memasuki ruangan, penjaga mengumumkan kedatangan mereka. Keduanya masuk bersamaan setelah itu.
Yang pertama kali menyapa mata Liana adalah keramaian. Dia tidak membenci keramaian, hanya saja melihat tatapan orang-orang yang seolah ingin membelah dirinya membuatnya risih.
Acara itu sangat megah untuk sekedar merayakan ulang tahun anak Mentri. Liana dapat melihat barisan tamu yang duduk bersusunan dengan rapi. Yang mana para perempuan berada di sisi kiri ruangan panjang itu dan para laki-laki berada di sisi kanan. Semua duduk dengan elegan di atas bantalan empuk.
Di depan mereka sudah ada meja-meja panjang untuk setiap orang yang diatasnya sudah tersedia berbagai makanan dan minuman juga kudapan seperti kue dan buah-buahan.
Hanya saja tatapan beberapa Nyonya Bangsawan dan Nona Muda yang memandangnya seakan dia adalah kotoran kuda membuat Liana tak nyaman.
__ADS_1
“Zhu Liana, Zhu Liana. Apa kau pernah menyinggung mereka? Kurasa tidak, mengingat bagaimana dirimu hanya mengurung diri seperti Hikikomori [1].” Batin Liana bertanya seolah dia bukanlah orang seperti itu. Dia bahkan lebih cocok dengan kata No Life itu jika tidak di hari kerja.
Hanya saja tatapan orang-orang itu membuatnya jengah.
“Haruskah kakak mengeluarkan bola mata mereka satu-persatu dan membiarkannya menjadi santapan serigala?”
Liana terkejut, dia tidak menyangka bahwa Wan Feng mengatakan hal itu di depan banyak orang.
Wan Feng juga melihat tatapan orang-orang itu pada Liana. Dia marah tentu saja. Adiknya yang begitu berharga direndahkan di depan matanya, dia tidak bisa tinggal diam.
Sedangkan para Nyonya dan Nona Muda itu bergidik mendengar ucapan Wan Feng. Lalu para pria pendamping mereka hanya menautkan wajah tak senang, tapi tetap diam. Mereka tidak bisa melakukan perlawanan, sedangkan mereka kini berada di kediaman sang Perdana Mentri, orang paling berkuasa kedua setelah Kaisar.
Lalu mereka juga takut dengan sosok pemuda yang perkataannya mengandung ancaman itu. Siapa yang tidak mengenal sang Letnan Jendral Kekaisaran Naga, Zhu Wan Feng? Keganasannya di medan perang sudah banyak dibicarakan. Ancamannya yang terdengar tidak main-main membuat semua orang menciut.
"Sudahlah, kakak. Bukankah ini sudah biasa terjadi?" Liana menanggapi seolah tidak perduli. Ya memang dari yang dia ketahui, Zhu Liana memang sering mendapati tatapan mencemooh seperti itu, bahkan dari para Pelayan. Liana juga, dia saat masih berada di WSA sebagai pemula, selalu mendapat tatapan remeh dari prajurit pria hingga dirinya membuktikan keunggulannya dan mengalahkan mereka semua. Sejak itu tak ada lagi yang berani meremehkan dirinya.
"Tapi, Li'er ...." Perkataan Wan Feng segera dihentikan Liana.
"Kakak, ini adalah hari bahagia, bukan? Jadi hiraukan saja hal-hal yang tidak perlu seperti itu." Liana berkata tanpa menoleh Wan Feng. Hanya fokus pada jalan di ruangan itu. Melangkah dengan percaya diri dan anggun. Biarkan saja para lalat berdengung.
Sebenarnya sedari tadi mereka berbicara dengan nada berbisik sambil berjalan tanpa menoleh pada satu sama lain. Wan Feng sendiri belum melepaskan tangan Liana yang menggandeng lengannya. Mereka bahkan mirip seperti pasangan jika orang tidak mengetahui bahwa keduanya adalah saudara kandung.
~o0o~
Note:
Hikikomori adalah orang yang menolak untuk keluar dari rumah, dan mengisolasi diri mereka dari masyarakat dengan terus menerus berada di dalam rumah. (Selengkapnya cek di google)
Like, Vote and Komen emang nggak wajib. Tapi selama mampu, sedekah dikit kenapa enggak?
__ADS_1
Btw, KRITSAR disarankan!