![[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana](https://asset.asean.biz.id/-reinkarnasi--sayap-takdir--zhu-liana.webp)
Dan akhirnya, Liana dan Wei Wuxian masih harus tetap berbagi satu kamar bersama dalam suasana yang agak aneh dan membuat canggung.
Bukannya mereka tidak pernah berada di ruangan yang sama sebelumnya. Hanya saja perkataan resepsionis masih teringat di benak Liana.
Mengatakan jika dia dan Wei Wuxian adalah pasangan muda yang baru menikah dan menjadi malu-malu sehingga memesan dua kamar yang terpisah.
Saat itu Liana dapat melihat tatapan suami resepsionis pada mereka menjadi penuh arti saat dia tersenyum mengatakan jika kamar memang hanya tertinggal satu saja untuk mereka. Bahka suami resepsionis itu berkata
dengan nasihat yang membuat Liana menjadi semakin tidak nyaman.
Dan tiba-tiba saja ruangan itu dipenuhi dengan suasana canggung yang tidak tertahankan.
Tetapi saat Liana melihat Wei Wuxian yang nampak begitu tenang saat menuangkan dirinya secangkir the dari teko yang sudah tersedia di atas meja dalam ruangan itu. Dia tidak bisa membantu tetapi malah merasa sedikit konyol dan entah kenapa dia juga merasa kesal. Seperti dia akan mengharapkan sesuatu terjadi.
Liana tersentak menyadari pikirannya yang mulai menjadi aneh. Mengapa dia mengharapkan sesuatu terjadi pada mereka?
Dia buru-buru menyingkirkan pikiran kotor yang mulai merasuki dirinya, menggelengkan kepalanya.
Tentu saja perbuatan kecilnya itu tak luput dari pengawasan Wei Wuxian. “Ada apa, Li’er? Apa kau merasa tak baik?” Dia bertanya tetapi tidak bergerak dari tempat duduknya.
“Tidak, aku ... aku akan pergi membersihkan diri terlebih dahulu.” Liana bahkan tak sadar jika dirinya tergagap saat berbicara. Sungguh, suasananya semakin aneh dan aneh.
Tanpa menunggu tanggapan dari yang lain, Liana buru-buru memasuki ruangan yang diketahui sebagai kamar mandi yang hanya dibatasi oleh sebuah sekat yang terbuat dari papan kayu.
Dia bahkan tidak memikirkan jika ada seorang laki-laki yang berada di ruangan yang sama denganya, memperhatikannya dengan lebih gugup dari pada dirinya sendiri.
Wei Wuxian meremas cangkir teh kecil yang dipegangnya hingga buku jarinya memutih. Wei Wuxian merasa tenggorokannya menjadi sangat kering saat mendengar suara air memercing dari tempat sebelah.
Tuhan, dia bahkan tidak mampu bergerak dari tempatnya sekarang.
Wei Wuxian menutup matanya dengan alis berkerut saat tiba-tiba udara menjadi terdistorsi di sekitarnya. Lalu sesaat kemudian, dia menghilang dari tempat meninggalkan debu beterbangan.
Wei Wuxian kembali muncul di sebuah bukit karang kecil di pinggir pantai. Hujan masih turun dengan deras, tetapi satu helai kain di tubuhnya tidak sedikit pun meninggalkan jejak air. Ada sebuah kubah transparan di sekitarnya yang memantulkan air hujan saat hendak menyentuhnya.
__ADS_1
Wei Wuxian masih memejamkan matanya mendengarkan ombak yang menghantam karang tempatnya
berdiri. Menghilangkan pikiran-pikiran yang tak pantas yang baru saja melintasinya.Angin meniup ribuan helai rambutnya yang sudah berubah menjadi merah berapi.
Saat matanya terbuka, maniknya yang gelap dalam seperti lubang yang tidak memiliki dasar.
“Hanya tinggal dua tahun lagi.” Wei Wuxian bergumam pelan. Dia tiba-tiba menghela napas dengan keras dengan wajah tegang dan serius hingga terlihat lucu untuk seseorang yang selalu tenang seperti dirinya.
Jika Liana melihat penampilannya saat ini, dia mungkin akan bertanya apakan laki-laki ini adalah Xian Gege yang dia kenal. Sekarang dia lebih mirip dengan pemuda berdarah panas yang baru masuk masa pubertas.
Sayangnya Liana tidak melihat penampilan langka itu. Dia sendiri saat ini tengah linglung, berendam di dalam bak kayu berisi air panas. Bersyukurlah tidak ada lagi orang lain di dalam ruangan yang sama dengannya di saat mandi.
Baru saja saat dia menyadari jika Wei Wuxian masih berada di luar, dia menjadi salah tingkah hingga memercikkan air ke seluruh pakaiannya, membuatnya basah bahkan sebelum dia melepaskannya.
Wajahnya sangat merah, sangat panas sehingga mungkin dapat merebus telur di sana, oke ini hanya metafora.
Dan dia menghela napas lega setelah tidak merasakan siapa pun di dalam ruangan. Berarti Xian gege mungkin sudah pergi. Dia memang pria yang baik.
Liana turun dari bak mandi saat merasa dirinya sudah cukup berendam. Lalu mengeluarkan pakaian dari ‘ruang’nya. Saat dirinya berjalan keluar dari kamar mandi, itu bertepatan dengan suara ketukan pintu.
Barulah dia berjalan untuk membuka pintu dan mendapati yang mengetuk adalah seorang pelayan penginapan.
Pelayan itu tersentak saat melihat Liana tetapi kemudian dia seperti mencuri-curi pandang ke dalam ruangan dengan rasa ingin tahu.
Liana mengernyitkan alisnya melihat tindakan kurang sopan dari pelayan wanita yang terlihat baru berumur awal dua puluhan itu. Kalau dilihat-lihat, dia sepertinya agak mirip dengan resepsionis dan suaminya, pelayan ini mungkin putri keduanya.
“Akhem!” Liana berpura-pura terbatuk untuk menghentikan tindakan pelayan.
Pelayan itu memerah malu karena mendapat peringatan yang lugas. Dia menggaruk telinganya dan tersenyum canggung.
Liana tidak tahu apakah harus marah atau tertawa melihat tindakannya.Tetapi dia masih bertanya dengan sopan, “Apa ada sesuatu?”
Pelayan itu menjadi semakin malu karena sudah tergelincir dari tujuan awalnya. “A- anu, itu. Apakah, apakah tamu
__ADS_1
terhormat ingin memesan menu? Lalu, lalu ingin memesan meja di bawah atau ingin makanan dibawakan ke dalam kamar?”
Liana masih tetap tenang, tidak lagi ingin melanjutkan mengenai tindakan pelayan itu. Dia berkata, “Apa menu istimewa disini? Tolong bawa semuanya ke dalam. Kami akan makan di sini.”
“Ya, ya, baik.” Pelayan itu mengangguk dengan senang seperti ayam mematuk pakannya.Lalu dia pergi setelahnya.
Liana menutup pintu, berjalan ke jendela dengan pemandangan laut di seberang.
Hujan masih mengguyur seluruh tempat, dan air laut nampaknya sedikit naik, langit diliputi awan tebal dengan sesekali kilat menyambar. Bukan pemandangan yang indah dilihat.
Kata orang, hujan selalu dapat mengingatkan akan masa lalu. Kali ini Liana sedikit mempercayainya karena entah kenapa dia mengingat hal-hal sebelum kematiannya di dunia Modern.
Saat itu juga hujan, semua rekan seperjuangannya mati satu-persatu karena serangan jebakan dari musuh bersama dengan orang-orang menjijikkan yang disebut sebagai tiang Negara itu.
Liana memejamkan matanya menyembunyikan kebencian dan penyesalan dari masa lalu. Benar, meski pun hidupnya di dunia modern hanya sementara karena cepat atau lambat dia tetap kembali ke dunia ini. Tetapi perasaan itu adalah nyata, rekan-rekannya nyata, setiap kejadian yang dia alami nyata.
Dan orang itu, yang memberinya perintah terakhir untuk mengakhiri hidupnya, dialah yang paling Liana sesali. Karena setelah semua yang terjadi, dia tidak dapat memaksa dirinya untuk membenci lelaki yang sudah dia anggap seperti orang tuanya sendiri.
“Sangat dingin, jangan sampai masuk angin.”
Suara dalam nan tenang dari seseorang membawa Liana kembali ke dunia nyata. Lalu dia merasakan hangat di tubuhnya. Sebuah mantel bulu disampirkan di kedua pundaknya, membungkus dirinya dan membuatnya hangat.
Lalu dia melihat Wei Wuxian yang sudah berjalan kembali ke meja yang sudah penuh dengan makanan hangat setelah dia menutup jendela, mengusir hawa dingin dan percikan air hujan.
Ruangan menjadi sedikit lebih sunyi karena hujan teredam.
“Duduk dan makanlah selagi masih hangat.”
Liana melirik meja dengan makanan yang penuh kepulan uap panas. Dia menjadi sedikit lapar setelah melihat makanan yang menggugah seleranya. Dia dan Wei Wuxian telah melakukan Inedia selama beberapa hari sebelum akhirnya mencapai kota pelabuhan yang ramai, yang ternyata juga dikenal sebagai kota pasangan.
Dikatakan jika setiap warga yang sudah di kota pelabuhan ini ternyata masing-masing sudah memiliki pasangan mereka sendiri. Tidak terkecuali anak-anak yang telah ditunangkan oleh orang tua mereka sendiri setelah mendapat persetujuan perjodohan dari yang disebut Yang Agung di sebuah kuil suci kepercayaan masyarakat di kota pelabuhan ini.
Liana tidak sengaja mendengar cerita dari orang-orang yang berlalu lalang. Yah, sebagai seorang kultivator, dia memang memiliki pendengaran yang tajam.
__ADS_1
~o0o~