![[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana](https://asset.asean.biz.id/-reinkarnasi--sayap-takdir--zhu-liana.webp)
“Aha, ahaha. Terima kasih pujianmu.” Pemuda itu tidak tahu harus berkata apa mendengar pujian sederhana Liana, dia menggaruk belakang lehernya kembali, sedikit terpana karena diberi senyuman oleh seorang gadis untuk pertama kalinya, ingat! Untuk pertama kalinya.
Namun beberapa saat setelahnya, dia dapat merasakan sebuah tatapan mengarah padanya. Membuat tubuhnya gemetar dengan dingin. Pemuda itu mencari dari mana asal tatapan yang menusuk itu dan mendapati seorang pemuda lainnya di belakang Liana tak jauh. Tiba-tiba dia menelan ludahnya yang kering dengan paksa, menakutkan.
Wuxian memicingkan matanya mengukur pemuda tak di kenal namun familiar itu. Seolah memberi peringatan untuk jangan memiliki pemikiran tentang gadisnya.
Sebagai sesama lelaki, tentu saja pemuda itu tahu peringatan yang di arahkan padanya. Dia kembali menggaruk belakang kepalanya dengan canggung dan salah tingkah.
Liana yang merasakan atmosfer tempat itu sudah berbeda menjadi kecanggungan, dia menoleh ke belakang, memandangi Wuxian yang masih berdiri di tempatnya semula. “Ge, kemarilah!” Dia memanggil.
Wuxian yang sedikit menelan cuka masih menerima panggilan Liana. Dia mendekat, dan saat dia sudah sampai, dia tak segan lagi mengambil tangan gadis itu dan memegangnya dengan erat, seolah kembali mengonfirmasi jika Liana adalah miliknya, hanya miliknya!
Pemuda di depan hanya tersenyum kaku dengan pemandangan itu. Dia berpikir, hanya melakukan sedikit kontak biasa dan bahkan tidak menggoda gadis serba putih itu, tapi seolah sudah melakukan hal keji dan hendak dipenggal. “Sebab itulah aku tidak suka jatuh cinta. Orang-orang seperti itu akan berubah menjadi bodoh dan menakutkan,” gumamnya dalam hati.
Tiga orang itu kembali terdiam, menilai masing-masing pihak lain. Namun akhirnya, Liana yang memulai berbicara lagi. Karena Wuxian sepertinya tidak ingin membuang suaranya untuk pemuda itu dengan alasan yang tidak dimengerti Liana, tapi itu yang terlihat.
Dan pemuda itu sepertinya ingin bicara, tapi dia ragu-ragu dan memandang takut pada Wuxian. Aih! Hubungan apa yang telah terbentuk di antara keduanya sekarang?
“Siapa namamu?”
Pemuda itu terentak dan dengan refleks menjawab, “Lu- Luo Xing.”
“Sebelumya?”
Kali ini pertanyaan itu membuat Luo Xing bingung dan curiga, tapi dia masih menjawab, “Aku tidak ingat.”
Yah, dia memang tidak mengingatnya, wajahnya cukup jujur dengan mengatakan hal itu. Lagi pula, kejujuran adalah karakter dari setiap anggota klan Yunan. Mereka dapat menutup mulut jika tidak ingin mengungkap rahasia, tapi mereka tidak dapat mengungkapkan kebohongan. Karena mungkin itulah salah satunya alasan, mengapa klan dapat dihancurkan?
“Hm?” Liana mengangkat alisnya. Sepertinya Luo Xing ini adalah kasus yang aneh. Liana memandang Wuxian untuk meminta jawaban.
Dan Wuxian menjawab dengan ringan. “Sepertinya dia mengalami sesuatu yang tidak terduga di kehidupan sebelumnya. Tapi dia memang salah satunya dari seratus anggota.”
__ADS_1
Nah, sekarang, setelah mendengar perkataan Wuxian, Luo Xing tidak bisa untuk tidak terkejut. Jika dia masih tidak mengerti makna kata-kata itu, maka cantumkan namanya di belakang kata bodoh. Dia segera mengonfirmasi jika dua orang yang terasa familiar ini adalah orang-orang yang dia cari. Sungguh keberuntungan untuknya.
“Kalian berdua?”
Wuxian dan Liana menoleh padanya bersamaan. Tapi Liana segera melihat langit yang sudah semakin terang, dia berkata, “Mari bahas di tempat yang lebih nyaman.”
Semua orang setuju dengan hal itu, jadi mereka memilih untuk keluar dari kediaman Tuan Kota dan memilih tempat untuk berbicara serius.
Luo Xing pergi terlebih dahulu dan menunggu keduanya di luar kediaman atau di kota. Lagi pula dia bukan tamu Tuan Kota dan hanyalah penguntit yang ingin tahu, akan aneh jika dia berada di sana atau bisa jadi dia akan dikira sebagai penjahat atau mata-mata.
Jadi setelah membersihkan diri, Liana memberitahu dua saudarinya jika dirinya akan keluar dengan Pangeran Ke-tiga, dia tidak akan sarapan bersama di kediaman Tuan Kota. Lalu menambahkan, “Jika kalian juga ingin keluar, bawalah satu atau dua penjaga bersama kalian. Kota sangat ramai, dan mungkin juga bisa ada pencuri atau berandal, meskipun tempat makmur, tapi orang-orang berpikiran sempit masih ada dimana-mana, kalian tetap harus berhati-hati, mengerti?”
Dua gadis itu mengangguk dengan patuh. “Kami akan mendengarkan saran kakak ke-dua. Tidak perlu khawatir tentang itu.”
“Maka baguslah, jaga diri kalian. Aku pergi.”
“Kakak juga harus berhati-hati.”
“Bagimana?” tanya pemuda itu.
“Tidak apa-apa. Lalu gege, kau sudah memberitahu Tuan Kota? Jangan sampai dia panik seperti tadi malam.” Liana terkekeh mengingat hal itu. Betapa paniknya wajah Tuan Kota saat dia berbicara terburu-buru menghampiri mereka, hampir seperti akan menangis jika keduanya tidak cepat kembali.
“En, dia sudah diberitahu.”
Wuxian juga ikut tersenyum tipis, kemudian seperti kebiasaan yang mulai disukainya akhir-akhir ini, dia mengacak rambut Liana, membuat gadis itu kesal saat harus kembali merapikannya. Beruntung dia hanya sering mengikat rambutnya dengan sederhana, dan jarang memakai riasan berlebih, hanya satu tusuk rambut giok sebagai penyangga agar rambutnya tidak tersebar dan juga pita, atau kadang gelang rambut yang terlihat biasa.
Tapi jangan remehkan, apa yang selalu tampak biasa dia pakai di tubuhnya bukan hanya kebutuhan untuk menempel saja, tapi itu juga berbagai alat sihir pertahan yang berkualitas tinggi, seperti hanfu putihnya yang tidak dari model yang sama. Tusuk rambut giok yang sekarang bertenggel di kepalanya juga merupakan senjata rahasia.
Yah, itu terkadang di berikan oleh, Ayahnya, Wuxian, ada juga juga beberapa dari Shiro dan yang dia beli sendiri. He, itulah kelebihan menjadi kaya.
“Kalau begitu ayo berangkat!”
__ADS_1
Keduanya pun berjalan dengan santai, kembali meninggalkan kediaman Tuan Kota tapi kali ini dengan beberapa pengawal yang menyamar di sekitar mereka dengan beberapa penjaga gelap juga yang berjaga di bayang-bayang dan siap untuk membantu di saat yang genting.
~o0o~
“Jadi kalian berdua benar-benar ....” Luo Xing merasa tidak percaya hingga seperti bermimpi.
Dia benar-benar tidak menduga jika dirinya sangat beruntung hingga bertemu dengan dua leluhur yang dicari seluruh anggota klan di kota kecil ini. Dia kaget, sungguh.Awalnya dia hanya menduga jika dua orang itu juga anggota biasa seperti dirinya karena perasaan familiar yang dia miliki. Tapi dia sungguh tidak menyangka.
Saat ini ketiganya sudah berada di dalam sebuah tempat makan paling terkenal di ibu kota dan memesan sebuah kotak di lantai tiga untuk berdiskusi hal-hal rahasia dengan nyaman tanpa takut dengan tembok yang memiliki telinga hantu.
Tiba-tiba Luo Xing segera berlutut dengan satu kaki dengan tangan terkepal menumpuk di depan dada, memberi hormatnya yang sungguh-sungguh dan tulus pada dua orang di seberangnya itu, “Maaf, karena tidak menyambut dua leluhur lebih awal!”
Liana mengernyit karena merasa tidak nyaman dengan tindakan Luo Xing, dan panggilan leluhur sepertinya agak berlebihan untuknya. Tapi dia masih tidak mengatakan apa pun, menunggu respon Wuxian lebih dulu.
Hanya saja setelah melihat tindakan tenang pemuda di sebelahnya itu yang masih dengan santanya meniup teh panas dalam cangkir membuatnya sedikit kesal. Hei, anggota keluarga ada di sini tapi dia masih bersikap begitu acuh tak acuh.
Liana hanya tidak tahu saja Wuxian yang acuh tak acuh itu masih menyimpan dendam atas sebotol cuka yang ditumpahkan olehnya. Jika dia tahu, mungkin dia akan berpikir jika Xian gege telah menjadi kekanak-kanakkan lagi.
Jujur saja, tempramen seorang Wei Wuxian akan mudah sekali berubah-ubah jika itu menyangkut tentang gadisnya. Dia akan menjadi apa anak-anak, penggoda, peri bijaksana, bahkan seorang budak hanya untuk merebut perhatiannya. Oke, untuk yang terakhir memang sedikit berlebihan, tapi jika sesuatu terjadi di masa depan, dia mungkin tidak akan ragu untuk bersikap seperti itu, hanya pada Liana, Li’er miliknya.
“Baiklah, itu cukup. Mengapa kau harus berlutut, sepertinya kita dari generasi yang sama, maka bersikaplah biasa.” Liana sudah tidak tahan hingga ada beberapa keluhan dalam nada suasaranya.
Selama ini dia memiliki beberapa toleransi pada mereka yang sering berlutut dan bersujud tanpa sebab pada yang lebih berkuasa, dia sering mengahadapi hal seperti itu ketika masih berada dalam kediaman Perdana Menteri. Dia sudah mencoba untuk bersikap biasa saja, tapi tetap saja, selalu ada jejak ketidaknyamanan.
Dia dulunya adalah seorang jenderal di dunia modern, para bawahannya hanya akan berlutut ketika mereka akan menerima hukuman karena sebuah kesalahan. Dia memiliki pengaturan agar mereka bersikap loyal, mandiri dan tegas, namun juga mengahargai komitmen dan harga diri.
Berlutut di depan seorang wanita seperti dirinya, Liana tahu bahwa hati kecil dari pria-pria besar itu tidak akan bisa menerimanya meskipun mereka telah mengakui kesetiaan padanya. Itulah sebabnya dia hanya akan membiarkan mereka berlutut hanya dalam satu kondisi itu saja, bahkan pada seorang yang lebih berkuasa seperti jenderal besar sekali pun.
Banyak yang memberinya dan anak buahnya kritik karena itu, dianggap sebagai tidak menghormati atasan. Hanya saja setelah membuktikan kekuatan pasukannya, semakin jarang untuk orang-orang memberi komentar.Mungkin itu salah satu penyebab mengapa Liana disingkirkan. Hum, agak miris!
~o0o~
__ADS_1