[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana

[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana
69-Kisah yang Disaksikan II


__ADS_3

Liana terus menyaksikan pertumbuhan bayi Bai Lan Jin, ah kenapa saat dia mengingat nama itu dia tidak bisa untuk tak merasa canggung? Baik, mungkin karena sekarang dia ingat jika bayi itu adalah dirinya sendiri. Jadi, memanggil dirinya dengan nama konyol seperti itu terasa aneh menurutnya, tapi sejujurnya Liana sendiri juga tak membenci nama yang di berikan pertama kali padanya itu.


Rasanya sudah bertahun-tahun Liana mengamati perkembangan Bai Lan Jin. Dan bayi mungil itu kini telah tumbuh menjadi bocah kecil lima tahun. Lincah dan ekspresif juga menggemaskan tentunya. Rambutnya yang berwarna tak biasa juga memanjang hingga punggung, benar-benar menambah kesan yang manis pada wajah mungilnya yang bulat. Menjadi daya tarik bagi dirinya.


Dan bocah itu sebenarnya memiliki kekuatan fisik di atas rata-rata orang. Bahkan mungkin setara atau sepertinya lebih kuat dari orang dewasa. Sungguh mengejutkan!


Akan tetapi, terlepas dari ketidakbiasaan bocah itu, para warga di desa memperlakukannya dengan sangat baik dan ramah. Sebab dia juga sering membantu beberapa petani menanam padi dan tanaman tanian lainnya, melakukan irigasi bahkan hingga membajak sawah dan bermain dengan lumpur bersama kerbau atau sapi.


Kehidupannya lumayan damai, tentram dan menyenangkan di masa kecil. Bermain sebagaimana anak kecil pada umumnya yang terkadang sedikit nakal juga.


Liana mengamati tanpa lelah, sedangkan dua orang yang sedari awal menunjukkannya pemandangan ini telah lama berpisah darinya, mereka pergi dan mungkin kembali ke dunia nyata atau mengamatinya dari alam mimpi.


Liana sendiri cukup enggan meninggalkan tempat itu karena rasa penasarannya akan hidupnya di masa lalu. Dia bahkan tidak memikirkan apa yang sedang terjadi di dunia nyata saat ini karena ketidakberadaan. Tapi di memang tak khawatir karena ada Wuxian yang mengurus segalanya di sana, itulah kata pemuda berambut merah itu.


Liana kembali mengamati Bai Lan Jin yang kini tengah duduk dengan muram dan kesal di pojok kuil menghadap dinding. Dia tengah dihukum oleh Kepala Kuil karena melakukan kenakalan lagi. Tadi pagi dirinya mengajak anak-anak seumurannya untuk mencuri buah hasil panen para warga.


Hanya saja belum sempat dia mengambil satu, Kepala Kuil yang tak sengaja lewat dan melihat aksinya.


Liana sendiri tak menyangka jika dirinya di masa lalu akan begitu nakal. Mencuri? Dia bahkan tak pernah meletakkan satu kata ini dalam kamus hidupnya. Dia tak percaya jika bocah Bai Lan Jin sekarang adalah dirinya. Tapi meski begitu, dia tertawa dan terhibur melihat aksi nakal bocah itu. Setidaknya, di masa ini dia memiliki kehidupan kecil yang bahagia.


"Bai Lan Jin, apa kau tahu kesalahanmu?" Itu adalah suara milik Kepala Kuil Yan yang tengah menceramahinya.


Lelaki tua itu selalu memanggil Bai Lan Jin dengan nama-nama yang err ... seperti, Xiao Bai, Xiao Lan, Xiao Jin, Bai Bai, Lan Lan, dan Jin Jin. Memanggilnya seperti nama hewan peliharaan kecil yang lucu. Tapi ketika dirinya sedang marah atau mendisiplinkan bocah itu, dia akan memanggilnya dengan nama lengkap.


"Tak tahu," jawab Bai Lan Jin singkat. Dia merajuk karena kesal dihukum. Dan dia memang anak yang cukup pemberani. Pipinya yang kemerah-merahan nampak semakin merah saat dirinya memunggungi Kepala Kuil Yan, nampak marah karena aksinya gagal dan dia dihukum.


Kepala Kuil Yan mendesah lelah menghadapi kelakuan gadis kecil itu yang semakin hari semakin tak terkendali. Namun sebenarmya dia sendiri cukup terhibur dengan keberadaan Bai Lan Jin. Mengisi kekosongan dan kesepiannya di hari tua, membuatnya merasakan apa itu keluarga sekali lagi.


Memikirkan itu, Kepala Kuil Yan tidak bisa memarahi Bai Pan Jin lebih jauh. Akhirnya dia berkata, "Tetap berdiri di sini sampai kau tahu apa kesalahanmu!" Suaranya pelan namun tegas. Dia kemudian meninggalkan bocah itu yang menggerutu sendiri.


Liana? Dia sudah terkekeh beberapa kali memandangi ekspresi Bai Lan Jin dari samping yang menurutnya lucu. Dia sebenarnya ingin meraih wajah mungil itu, meremasnya dan mencubit pipinya dengan keras. Kembali melupakan jika gadis kecil dan bocah nakal itu adalah dirinya sendiri.


Perlu diingat, meski pun sebelumnya Liana adalah Jenderal Wanita dalam Organisasi Polisi Tentara terbesar dunia--yaitu WSA--bersikap dingin, tegas dan acuh tak acuh pada semua orang, dia masihlah memiliki sikap seorang gadisnya yang sangat menyukai hal-hal yang menggemaskan dan lucu.


Liana akhirnya mengehela napas karena dia sadar tak akan bisa menyentuh apa pun yang ada di tempat ini.

__ADS_1


Baru setelah itu di berdiri tegak saat merasakan ada seseorang yang mendekat. Dan saat dia berbalik, sosok merah tengah berjalan santai, masuk ke dalam kuil.


Itu adalah Zanzhu Ren Zuxian!


Yah, Zanzhu Ren Zuxian yang ada di masa (Tempat) ini. Yang meletakkan bayi mungil Bai Lan Jin di altar kuil. Mengapa dia ada di sini sekarang? Bukankah Yunan Pavitri pernah mengatakan jika dia tidak bisa tinggal lama di dunia?


Yah, itu benar. Zanzhu Ren Zuxian saat ini memang hanyalah sebuah jiwa yang telah meninggalkan tubuh fisiknya karena kutukan petir reinkarnasi.


Liana juga memperhatikan selama lima tahun ini, sang Zanzhu Ren Zuxian selalu berada di sisi Bai Lan Jin--melindunginya.


Sepertinya gadis kecil itu juga merasa jika ada seseorang, ah bukan, maksudnya sesuatu yang datang. Dia berbalik melihat apa itu hingga senyumnya terbit, melengkung ke atas dan melebar saat dirinya mulai tertawa bahagia.


"Xian gege?!"


Uhuk!


Liana tersedak napasnya sendiri hingga terbatuk saat mendengar panggilan gadis kecil itu untuk sang Zanzhu Ren Zuxian.


Meski pun dia telah berkali-kali mendengar Bai Lan Jin memanggil dengan sebutan itu, Liana masih tak terbiasa dan dia merasakan sesuatu antara canggung dan malu.


Dari dulu dia memang selalu akrab dengan sang Zanzhu Ren Zuxian. Mungkin itu sebabnya saat dia terbangun dalam tubuh aslinya setelah kematian menjadi Jenderal Wanita WSA dan pertama kali bertemu dengan sosok itu dalam wujud sang Pangeran--Wei Wuxian dalam ulang tahunnya yang ke lima belas, dia tak pernah sedikit pun menganggapnya asing dan dengan cepat bergaul.


Saat Zanzhu Ren Zuxian masih melangkah mendekati Bai Lan Jin, dia dengan senyumannya yang sopan dan ramah berkata, "Melakukan kesalahan lagi?" Nadanya terdengar lembut dan halus di telinga, penuh kasih sayang.


Bai Lan Jin merubah raut wajahnya menjadi cemberut. "Apa Xian gege juga akan menyalahkanku dan memberikan hukuman seperti kakek Yan?"


Zanzhu Ren Zuxian terkekeh saat dirinya berlutut di depan Bai Lan Jin untuk menyamakan tinggi mereka. "Tidak." Dia menggeleng sambil mengacak-acak rambut tiga warna milik gadis kecil itu.


Mata Bai Lan Jin bersinar cerah mendengar jawabannya. "Benarkah?" Senyumnya kembali melebar.


"Mn, apa pun yang kau lakukan, aku tidak akn menyalahkan dirimu." Zanzhu Ren Zuxian mengangguk dengan pasti.


Tapi Liana yang menyaksikan interaksi keduanya dan mendengar jawaban Zanzhu Ren Zuxian berteriak dalam hati, "Tidak, kau tidak boleh mengatakan hal seperti itu pada anak kecil. Atau dia nanti akan berbuat menyimpang ketika dewasa!!"


Hanya saja saat dirinya sibuk dengan kefrustasian, Zanzhu Ren Zuxian kembali bersuara, "Tapi, Bai Lan Jin harus mendengarkan ucapan Kepala Kuil. Mengambil milik orang lain tanpa izin memang perbuatan yang tidak baik, apa pun alasannya, mencuri tetaplah mencuri." Dia menjelaskan.

__ADS_1


Wajah Bai Lan Jin berubah murung sekali lagi, dia menunduk dan dengan pelan berkata, "Jadi aku telah berbuat salah ya, gege?"


"Itu karena Bai Lan Jin tidak tahu, jadi untuk kali ini dapat di maafkan, aku tidak menyalahkanmu. Hanya saja, jangan lakukan itu lain kali," katanya lembut seraya merapikan kembali rambut Bai Lan Jin yang berantakan karenanya.


"Aku akan meminta maaf pada Kakek Yan," ucap gadis kecil itu dengan pancaran matanya yang kini dipenuhi tekad.


Zanzhu Ren Zuxian tersenyum. "Itu bagus. Bai Lan Jin adalah gadis yang baik dan bijak. Aku akan pergi."


"Kembalilah nanti gege, aku ingin memberikanmu sesuatu," ucap gadis kecil itu kembali bersemangat.


Zanzhu Ren Zuxian hanya kembali tersenyum dengan lembut dan begitu tulus sampai akhirnya dia menghilang meninggalkan Bai Lan Jin sekali lagi di dalam kuil itu.


Liana menghela napasnya agak lega juga terpana dengan cara pemuda berambut merah itu mengajari seorang anak. Jika dirinya, mungkin mengangkat tangan dulu baru bicara. "Ah tentu saja, Xian gege tak bisa dibandingkan dengan diriku," ucapnya namun dengan senyuman yang lebar pula.


Jadi Liana masih menyaksikan kejadian itu sampai Kepala Kuil datang. Bai Lan Jin mengakui kesalahannya dengan tulus meminta maaf pada Kepala Kuil Yan.


Dan keesokan harinya dia kembali meminta maaf pada pemilik ladang yang hendak ia curi panennya. Kemudian setelah itu dia juga memberi ceramah pada teman-teman kecil seperjuangannya yang ikut dengan aksinya kemarin. Memberikan mereka petuah jika apa yang mereka lakukan kemarin adalah perbuatan yang salah.


Jadi, yah begitulah sebagian cerita mengesankan yang Liana saksikan saat dirinya menjadi seorang Bai Lan Jin di kehidupan pertama. Masa kecil yang penuh kenakalan dan kebahagiaan tentunya.


Entah kenapa, meski pun dia tahu Bai Lan Jin adalah dirinya sendiri, Liana juga masih merasakan iri padanya yang selalu di selimuti dengan kehangatan, kekeluargaan dan persahabatan.


Tapi pemikirannya yang seperti itu berakhir saat usia Bai Lan Jin memasuki angka lima belas seperti dirinya. Tepat ketika hari tulang tahun gadis muda itu. Sesuatu yang mengerikan terjadi. Sesuatu yang tak pernah disangka-sangka.


Peristiwa yang mungkin membangkitkan rasa trauma yang dalam pada sosok Bai Lan Jin.


Liana juga melihat raut wajah yang semula dipenuhi dengan senyuman manis dan tawa itu berubah menjadi begitu buruk saat matanya yang tajam memantulkan nyala api merah emas di depannya. Saat wajahnya terciprat cairan merah yang menggenang dan juga mengotori gaun putihnya.


Semuanya ... semua orang yang berada di sekelilingnya, yang mengasihinya. Mereka semua dibantai di depan matanya sendiri. Satu kata untuk menggambarkan peristiwa itu, mengerikan!


~o0o~


Oke, kita sudah memasuki konflik kali ini....


Bersiaplah! iya siapin panci, wajan, ama kompor. Kita masak terus makan bareng ... di tempat masing-masing. Ehehe...

__ADS_1


Sampai ketemu lagi di Episode berikutnya. Ngegantung ? Iya lah, kan masih ada sambungannya dan belum tamat...


__ADS_2