![[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana](https://asset.asean.biz.id/-reinkarnasi--sayap-takdir--zhu-liana.webp)
Liana berusaha menenangkan pikirannya dengan memejamkan mata dan berusaha mengontrol konsentrasi laju pergerakan kakinya.
Meski dirinya yang nampak selalu tenang seolah tak tersentuh oleh apapun, sebenarnya semenjak dirinya keluar dari pelatihan tertutup tempo hari, pikirannya sudah dikacaukan dengan banyak hal.
Salah satunya dengan kemunculan para monster yang menurutnya sangat aneh dan terkesan tiba-tiba.
Namun sudah tiga hari dirinya tak lagi mendengar informasi tentang kemunculan makhluk menyeramkan itu. Mereka menghilang begitu saja seolah tak pernah muncul. Bahkan Bukit Awan yang sengaja disegel sebagai tempat awal mula kemunculan mereka, semua monster di sana juga lenyap tanpa sisa. Juga tempat-tempat yang menjadi kemunculan mereka kini nampak bersih semuanya.
Pikiran pertamanya langsung tertuju pada, "Ada seseorang yang mengendalikan mereka." Namun sedari awal kemunculan makhluk itu, pikiran seperti ini memang sudah ada.
Yang membuat Liana bingung adalah alasan orang yang mengendalikan para monster itu. Apa yang ia inginkan dengan memunculkan mereka jika pada akhirnya mereka menghilang? Apa itu gertakan? Peringatan sebelum perang atau apa?
Belum cukup dengan hal itu, sekarang dirinya kembali dipusingkan dengan kemunculan lain. Tidak, tidak. Kali ini bukan monster, namun itu adalah sesuatu yang mungkin akan menjadi hal luar biasa untuk dilihat dan juga berbahaya karena sepertinya akan terjadi pertumpahan darah hanya karena keberadaannya.
Dua jam berlalu begitu cepat. Liana sudah sedari tadi melesat keluar dari penginapan setelah memeriksa keadaan semua orang.
Hujan turun dengan derasnya malam itu membuat penglihatan Liana sedikit terganggu karena cahaya bulan yang biasanya terlihat kini tertutupi awan hitam. Akan tetapi hal itu tak menurunkan kecepatan larinya. Dia nampak seperti sekelebat cahaya putih yang melesat di kegelapan malam.
Mungkin jika Liana menghitung kecepatannya, itu akan sama seperti perjalanan 500 km/jam. Bukankah itu luar biasa untuk seorang manusia? Dia bahkan mengalahkan kecepatan motor sport yang sering digunakan para pembalap. Haah, jika begini dia mungkin akan sampai dalam kurang satu jam saja dengan kecepatan seperti itu.
Liana sebenarnya hanya mengandalkan elemen angin untuk mempercepat lajunya. Untuk saat ini, itu adalah gerakan tercepatnya. Jika dia meningkatkan kekuatannya setidaknya dua kali lipat dari kekuatannya saat ini, dia bahkan dapat dengan mudah untuk memotong ruang.
Liana terus berlari menembus hujan, pakaiannya sama sekali tak basah karena di melindungi seluruh tubuhnya dengan Qi.
Dan sekarang dia hampir mendekati tujuan. Matanya menyipit saat menyadari fenomena di depannya.
Petir berkali-kali menyambar, namun hanya mengarah pada satu tempat.
"Hutan Tanah Lumpur." Liana bergumam dengan nada dingin.
Hutan Tanah Lumpur merupakan salah satu tempat yang sangat tidak ingin dirinya kunjungi.
Yah, sesuai namanya, tempat itu dipenuhi dengan lumpur kotor bahkan lumpur hisap juga banyak sebagai jebakan alami. Meski musim panas sekali pun, lumpur dalam hutan tersebut tak pernah mengeras karena kekeringan. Juga, hanya satu jenis pohon yang dapat hidup di tempat itu, yah ... Bakau. Itu menurut penglihatan Liana saat matanya menangkap akar-akar pohon menyembul tinggi dari tanah berlumpur.
Namun setelah lebih dekat dengan hutan, sesuatu yang berbeda nampak di matanya. Pohon-pohon yang ia kira sebagai bakau tersebut nampak lebih aneh. Mereka rata berwarna hitam dari akar hingga daun.
Liana kira warna hitam yang ia lihat dari jauh itu karena gelapnya malam.
Berhenti sejenak untuk memperhatikan. Dia jadi semakin yakin sekarang jika dunia yang kini menjadi tempat tinggalnya bukan lagi Bumi. Mungkin planet lain, galaksi lain, atau bahkan dunia lain yang memiliki hubungan paralel dengan dunia lamanya.
Liana menghembuskan napas beberapa kali sebelum akhirnya wajahnya ditekuk dengan keseriusan.
"Kau yakin disini tempatnya?"
Jika ada orang lain yang melihatnya, mungkin sudah dianggap gila karena berbicara sendiri. Tapi Liana tak gila dan dia bukannya berbicara sendiri.
Perlahan cahaya putih berpendar di sekitarnya dan muncullah sosok Shiro yang dsri atas hingga bawah selalu berwarna putih. Dia mengambil wujud manusianya.
"Tidak salah lagi, aura yang Shiro rasakan berasal dari tempat ini." Shiro kemudian mendongak melihat langit. Petir-petir itu masih mengkilat di atas sana.
Liana juga mengikuti pandangan Shiro yang nampak serius sekali melihat petir-petir tersebut.
Shiro, dia pernah merasakan sambaran yang lebih kuat dari ini dulu dan itu berjumlah ribuan kali. Bayangkan bagaimana rasanya, dipikir kekuatan sambaran yang diterima Shiro saat itu mungkin hampir menyamai atau bahkan memang sama dengan jatuhnya meteorit pada zaman Dinosaurus. Ah, itu bahkan dapat memusnahkan populasi makhluk hidup bumi sampai 70 persen. Bukankah mengerikan?
Beruntungnya, Shiro tak menerima Petir Kesengsaraan Langit di dunia nyata. Untuk Binatang Mitologi sepertinya, Kesengsaraan Langit akan membawanya pada dunia yang di sebut sebagai Primordial, tempat yang tercipta setelah kehampaan.
Untuk keterangan ini akan dibahas di lain waktu.
"Aku akan masuk."
Liana melangkah hati-hati ke dalam hutan diikuti Shiro yang juga memasuki Dimensi Sayap Kembar.
Kakinya menapak di atas akar bakau yang hitam dengan seimbang. Konsentrasinya dilipat gandakan saat melihat lumpur yang terlihat begitu misterius menurutnya.
__ADS_1
Itu ... berbahaya, jika sekali jatuh maka akan sulit untuk naik.
Langkah demi langkah dia melompat pada akar pohon. Lama-kelamaan kecepatan Liana semakin meningkat seiring dengan banyaknya akar-akar bakau tersebut. Hingga ....
"Tolong ... tolong aku!"
Teriakan seseorang meminta pertolongan menghentikan langkahnya.
Dia menoleh ke segala arah mencari keberadaan suara yang tadi di dengarnya. Hanya saja dia tak melihat apapun.
"Mungkin hanya perasaanku saja."
Tepat saat dirinya akan melangkah kembali, suara itu terdengar lagi dan kali ini lebih jelas dan lebih keras dari sebelumnya.
"Hei, Nona. Kau ... kau yang di sana. Tarik aku!"
Liana menoleh kembali namun belum juga menemukan si pemilik suara.
"Tarik aku! Aku disini. Disini, di belakangmu. Nona serba putih!"
Liana berbalik dan mendapati seseorang tengah terjebak di bawah lilitan akar bakau. Matanya menyipit melihat seorang anak laki-laki yang terlihat masih berumur 10 tahun melambaikan tangannya dengan senyuman lebar saat dirinya yang masih terjebak lilitan akar.
Liana menghela napasnya sebelum akhirnya melangkah untuk membantu bocah laki-laki tersebut.
"Ahaha, Nona. Kau sangat baik, terimakasih telah membantuku." Si bocah laki\-laki dengan cengirannya yang masih tertempel di wajah menunduk berterimakasih pada Liana yang dibalas anggukkan kecil oleh gadis itu sebagai tanda menerima rasa terimakasih si bocah laki\-laki.
Liana lalu melihat kiri\-kanan dan sekitar, berharap ada orang orang lain di tempat itu. Sayangnya dia tidak menemukan siapa pun lagi selain mereka berdua dan pohon.
Kenapa bisa ada seorang anak di bawah umur berkeluyuran sendiri dalam hutan yang dikenal sebagai tempat berbahaya ini? Pemikiran itu sangat jelas terlukis dalam mimik wajahnya.
Bocah laki\-laki itu hanya menggaruk belakang telinganya merasa canggung. "Anu ... ahaha, Nona. Kau sendiri sedang apa di tempat ini?" Bukannya menjawab, bocah itu malah balik bertanya.
"Tidak sopan!" tegur Liana sambil mengetuk sedikit keras kepala bocah laki\-laki.
Si bocah laki\-laki mengaduh karena merasakan sakit di kepalanya dan mengatakan jika Liana adalah gadis yang kasar, kelak tidak akan ada pria yabg mau menikahinya.
Dan yah, perkataannya itu malah lagi\-lagi mendapat jitakan yang lebih keras dari sebelumnya.
"Nona, kau benar\-benar tidak berbelas kasihan pada seorang anak kecil sepertiku," keluh si bocah laki\-laki.
"Seseorang harus memiliki pendidikan baik sedari kecil," balas Liana masih dengan wajah datarnya.
__ADS_1
Namun perkataannya itu malah mendapat tanggapan putaran bola mata malas dari si bocah laki\-laki.
"Cih, dia sendiri pernah berlaku tak sopan pads seorang kakek tua," gerutunya yang malah terdengar seperti dengungan lebah du telinga Liana.
"Kau mengatakan sesuatu?" tanya Liana dengan mata menyipit.
Si bocah laki\-laki dengan cepat menggelengkan kepalanya. Dia menyangkal dengan mengatakan tidak mengatakan apapun.
Liana sendiri hanya menghela napasnya pelan saat kakinya juga mulai melangkah.
"Kau ingin ikut denganku atau diam disini?"
Si bocah laki\-laki bergegas mendekati Liana. Tentu saja dia lebih baik mengikuti gadis itu dari pada terjebak lagi dan sendirian.
"Hehe, Nona. Aku belum mengetahui namamu. Jadi, siapa namamu?" tanya si bocah laki\-laki sambil mengulurkan tangan kanannya di depan Liana.
Liana mengangkat sebelah alisnya mendapati tingkah bocah itu yang semakin terasa aneh baginya.
"Sebelum menanyakan nama orang lain, bukankah seharusnya kau memberitahu namamu terlebih dahulu?"
"Aah~ aku melupakannya, hehe." Bocah laki\-laki menarik tangannya kembali dan digunakan untuk menggaruk kepalanya yang tiba\-tiba terasa gatal. "Baiklah, siapa namaku ya?" Lagaknya benar\-benar seperti orang yang tengah berpikir serius.
Sedangkan Liana, wajahnya seolah terdapat kalimat bertuliskan, apakah ada seseorang yang tidak mengetahui namanya sendiri? Mungkin hanya orang Amnesia atau orang gila.
"Hehehe, berikan aku nama!" ucap bocah laki\-laki itu berseru tiba\-tiba dan mengagetkan Liana, sedikit.
"Haaah~" Lagi\-lagi helaan napas yang terdengar dari mulut gadis serba putih itu. "Chao, namamu Chao," ucap Liana membuat bocah laki\-laki mengedipkan matanya beberapa kali.
~o0o~
Note: Chăo **吵** berarti Berisik.
__ADS_1