[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana

[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana
38-Kekacauan


__ADS_3

Zhu Moran begitu terkejut dengan tindakan tak sopan dari putri kesayangannya itu. Tapi dia juga terlihat khawatir dengan keadaan Liana yang sekarang begitu mengenaskan.


Beberapa bagian pakaiannya robek dengan kulit yang mengeluarkan darah yang masih menetes, rambutnya juga begitu berantakan dengan ranting dan dedaunan yang tersangkut disana.


Ah, itu mungkin karena dia tidak memilih jalan dan langsung menerobos agar cepat sampai ke tempat itu. Bahkan tadi beberapa kali dia terpeleset karena jalanan yang curam dan licin. Tapi Liana tetap bergerak gesit hingga hanya membutuhkan waktu tiga puluh menit untul sampai. Kecepatan yang luar biasa jika menghitung tinggi bukit yang mungkin sudah cocok di sebut gunung itu, sekitar sembilan ribu kaki dari daratan rendah.


"Apa yang terjadi?" tanya Zhu Moran panik melihat kondisi putrinya itu.


Liana yang masih menstabilkan napasnya memandang Zhu Moran dengan serius. Tapi dia segera berbicara lagi setelah mendapat sedikit ketenangan.


"Tidak ada waktu ... di puncak bukit ... monster ... mereka sangat banyak!" Dengan perkataan yang putus-putus dia berusaha menjelaskan apa yang terjadi. Tapi hal itu malah membuat beberapa orang di dalam sana kebingungan.


"Li'er, apa maksudmu?" Kali ini Kaisar lah yang bertanya saat mendekati dirinya dengan segelas air di tangan untuk di berikan pada Liana.


Liana segera menyambar gelas dan meneguk isinya. Dia benar-benar melupakan etikanya, padahal masih berada di hadapan sang Kaisar. Ah bodo amat!


Liana segera menghembuskan napasnya saat selesai menegak segarnya air yang masuk ke tenggorokannya.


"Para Monster muncul di puncak bukit, mereka sangat banyak. Kita harus memusnahkannya atau sesuatu yang buruk akan terjadi," jelasnya dengan nada serius memandang wajah-wajah kebingungan disana.


"Nona Muda ...."


Sebelum seseorang melantunkan kalimat tak percaya Liana segera memotongnya sambil melayangkan tatapan tajam pada orang itu. "Paman Kaisar bisa menyuruh orang untuk memeriksanya terlebih dahulu jika tidak mempercayai perkataanku," ucapnya dengan nada tegas sedikit memberi intimidasi meskipun tak berefek pada sang Kaisar tapi itu membuat pria agung itu tertegun.


"Sangat mirip dengan Xiening," batin Kaisar dalam hati. "Cepat periksa puncak bukit!" titahnya segera memerintahkan bawahannya.


"Yang Mulia, kenapa anda harus mendengarkan omong kosong dari seorang gadis muda? Para Monster masih terkurung dalam pulau terbuang, mereka tidak mungkin bisa sampai ke sini." Seorang pria paruh baya yang tadi ingin membantah perkataan Liana kembali berkomentar.


Kaisar menaikkan sebelah alisnya menatap pria itu yang merupakan salah satu menterinya.


Liana memandang tak suka. Dengan lidah berdurinya, dia berkata, "Apa kau ingin putramu mati?!" Dengan sarkas dan tatapan tajamnya, ucapan Liana benar-benar mengejutkan semua orang yang ada di sana.


Liana tahu pria paruh baya itu, dia adalah Menteri Pertahanan yang sering berselisih pendapat dengan ayahnya. Yah Liana tentu mengetahuinya dari sang kakak cerewetnya yang kadang-kadang mengikuti rapat peradilan di istana. Kalau tidak salah, orang itu bernama Mu Zhameng.


"Lihatlah Menteri Zhu, beginikah caramu mendidik anak yang bahkan tidak tahu etika sama sekali," ucap Mu Zhameng dengan nada tak suka dan sekaligus mencari kesempatan untuk menjatuhkan Zhu Moran.

__ADS_1


Liana semakin geram dibuatnya, sekarang banyak nyawa yang di pertaruhkan, tapi bisa-bisanya orang ini berdebat mengenai masalah yang tidak penting.


Dengan sekali sentak, Liana melambaikan tangannya mengelurkan Qi untuk mengikat Mu Zhameng.


Semua orang kembali terkejut dengan tindakan Liana. Meski tak dapat melihat energi spiritual gadis itu, tapi mereka masoh dapat merasakannya.


Pikiran semua orang selain Zhu Moran hanya satu bahwa Liana bukanlah sampah lagi.


"Apa yang kau lakukan padaku, gadis sialan?!" Mu Zhameng memberontak dalam ikatan, dia tak tahu kenapa tapi Qi nya tidak dapat di gunakan untuk membuka tali.


"Diamlah!" bentak Liana. "Nyawa banyak orang dipertaruhkan disini, dan kau! Masih ingin menjilat di bawah sepatu Kaisar dan mempermalukan Ayahku! Atau aku harus membawamu untuk melihat para monster itu dan melemparkanmu padanya untuk di jadikan santapan, kau mau?!" sentaknya semakin mengeratkan ikatan membuat Mu Zhameng mengerang kesakitan.


"Yang Mu..lia, to ... long aku," ucapnya terputus -putus.


Sedangkan orang-orang disana tidak tahu harus melakukan apa karena tindakan gadis kecil itu yang mengejutkan mereka.


Menghiraukan keluhan Mu Zhameng, Liana kembali menatap Kaisar tanpa takut. "Paman Kaisar, bagaimana keputusanmu?" tanya Liana dingin namun masih tak mendapat tanggapan.


Melihat kebungkaman Kaisar, Liana membuka suaranya kembali. "Jika aku berbohong, aku akan mempersembahkan nyawaku sebagai gantinya."


Kaisar dan orang-orang di dalam sana juga terkejut dengan keberanian Liana.


Sang Kaisar membuang napasnya, dia kembali mengeluarkan titah yang sama untuk memeriksa puncak bukit. Dan kali ini tak ada yang menentang karena dia telah memberi peringatan.


Liana juga menghela napas lega, tapi keadaan belumlah aman. Dia masih khawatir, dengan segera menghubungi Shiro lewat ikatan kontrak. Dia menyuruh Shiro untuk pergi ke ruang dimensi bersama keluarga beruang ketika bawahan Kaisar tiba.


Shiro belum saatnya dia muncul karena Liana belum cukup kuat untuk menjaga apa yang ia miliki. Dan juga masih banyak rahasia yang belum dia ketahui. Salah satunya adalah kematian sang ibunda.


Tiba-tiba tubuh Liana melemas karena Qi di dalam tubuhnya terkuras habis, apalagi dia juga kehilangan banyak darah. Hingga ....


Brukk!


Dia terjatuh tak sadarkan diri membuat Zhu Moran kembali berseru kaget.


~o0o~

__ADS_1


"Ugh!" Liana meringis merasakan sakit di kepalanya.


Liana segera bangun dari posisi berbaringnya seraya memegang kepalanya yang masih berdenyut sakit. Kemudian dia membuka mata dan mendapati jika dirinya berada di dalam tenda. Liana mengingat apa yang terjadi.


Haih, memalukan! Bagaimana bisa dia yang seorang jenderal wanita bisa pingsan hanya karena kelelahan?


Suara samar langkah kaki segera membangunkannya dari lamunan. Dia menoleh pada pintu tenda. Di sana muncul lelaki paruh baya yang membawa nampan berisi mangkuk dan gelas kayu.


"Kau sudah sadar?" Zhu Moran tersenyum lega melihat putrinya telah sadar dari pingsannya.


Liana mengamati sang Ayah yang berwajah kusut. "Berapa lama aku pingsan?" tanya Liana mengintip ke luar tenda melihat bahwa hari masih cerah bahkan terasa masih hangat.


Zhu Moran meletakkan nampan pada nakas yang tersedia di tenda. Tenda itu cukup besar, mungkin seluas kamar Liana yang dapat menampung sekitar dua puluh orang dewasa, dan lumayan nyaman dengan fasilitas lengkap seperti di rumah.


Zhu Moran memandang putrinya dan mengelus wajah halus Liana dengan penuh kasih. "Kau tak bangun semalaman dan membuat Ayah takut," ucapnya sendu.


Liana yang melihat wajah khawatir Ayahnya jadi merasa bersalah. "Maaf telah membuat Ayah khawatir."


Zhu Moran tersenyum. Putrinya kecilnya ini adalah harta yang sangat berharga. Kehilangannya akan membuat setengah nyawa Zhu Moran ikut berkurang.


"Ini, makanlah. Kau pasti lapar," ucapnya seraya memberikan mangkuk berisi sup daging pada Liana.


Liana hanya menerimanya dengan senang hati. Yah, dia memang lapar karena kemarin hanya memakan ikan bakar dari danau.


Ah, mengingat tentang ikan itu, entah kenapa membuat Liana merasa mual. Dia baru ingat jika dia makan ikan dari danau tempat munculnya para Zombie.


Alisnya mengkerut karena merasakan hal yang tak nyaman tapi Liana berusaha untuk tidak menunjukkannya pada Zhu Moran agar tidak membuat pria itu kembali khawatir.


Liana dengan enggan menyuap sup ke dalam mulutnya meski perutnya masih terasa buruk.


~o0o~


Btw, makasih buat sarannya yang kemarin... tapi nggak ada yang sama kek aku.. mood pasti bakal balik kalo punya banyak duit... wkwk.. duh😅


Udah ah! Jangan Lupa dukungannya buat cerita yah, yang pasti kalian dah tau caranya. Like, Vote, Rate 5 dan juga Komen Kritsar... hehe See U...

__ADS_1


__ADS_2