![[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana](https://asset.asean.biz.id/-reinkarnasi--sayap-takdir--zhu-liana.webp)
Beberapa hari berlalu setelah pesta itu berlangsung. Liana dan Wei Wuxian juga bersiap untuk kembali ke Benua Timur. Beberapa anggota klan akan mengawal mereka, dan beberapa lainnya juga kembali ke daerah mereka tinggal sebelum berkumpul kembali. Sisanya yang memilih tinggal atau mereka akan menjalankan beberapa misi mengenai perang yang akan berlangsung dan juga kesibukan lainnya yang bersangkutan dengan Tiga Benua. Sama seperti kegiatan mereka sebelum kemusnahan klan sebelumnya, yaitu menjaga kestabilan di Tiga Benua.
“Kepala Klan, ada laporan dari mata-mata mengatakan bahwa Benua Timur telah diserang sekelompok besar pasukan monster.”
Saat Liana dan Wei Wuxian berpamitan dengan Klan Yunan, mereka di kejutkan dengan kedatangan seorang
anggota klan yang bertugas untuk memantau keadaan di luar gunung. Mereka saling memandang dengan pemahaman.
Anggota yang melaporkan situasi melanjutkan dengan cemas, “Dikatakan bahwa lebih dari sepuluh ribu Monster berada di tahap Pelatihan Roh yang mana seribu di antaranya setidaknya berada di tingkat Raja, Ratusan di tingkat Kaisar dan belasan di tingkat Dewa. Ada juga beberapa yang setara dengan tingkat pembukaan gerbang. Ratusan ribu pasukan hendak menembus perbatasan di tiga Kekaisaran. Sekte-sekte besar juga sudah mulai turun tangan ….”
Yang berarti perang besar-besaran antara kultivator dan Monster akan dimulai kembali.
Meski pembawa berita tidak mengatakan kalimat terakhir, tetapi semua orang yang ada di sana memahaminya. Perang besar dengan monster telah terjadi beberapa abad lalu kini dimulai kembali. perang yang menghancurkan
kedua belah pihak.
Meskipun tampaknya kultivator benua timur saat itu memenangkan pertempuran dan berhasil mengusir para monster ke pulau terbuang. Tetapi vitalitas mereka juga rusak parah. Apalagi ini baru ratusan tahun yang sekejab
mata bagi kultivator yang bisa hidup selama ratusan ribu tahun.
Berbeda dengan para monster yang berkembang sangat cepat. Selama energi negatif di dunia tetap ada, kebencian seperti itu tidak akan pernah menghilang. Itulah mengapa para kultivator memilih untuk mengurung para monster di pulau terbuang dari pada melenyapkannya yang hanya mustahil dilakukan, apalagi keberadaan hitam itu adalah penyeimbang dunia.
Bayangkan jika dunia hanya ada putih, tentunya hanya akan merusak keseimbangan alam. Alam yang terancam juga akan menciptakan keberadaan yang berlawanan setelahnya untuk mengimbangi. Dan dari pada muncul sesuatu yang tidak diketahui, bukankah lebih baik mempertahankan yang sudah terlihat dan diketahui keberadaannya, membuat mereka tahu bagaimana menanggapi dengan tindakan yang tepat.
Kejam memang. Tapi begitulah hukum dunia, bukan hanya dimana hukum yang kuat yang berkuasa atas yang lemah. Tetapi terkadang yang terkuat pun dapat kalah.
Hal ini tidak hanya disadari oleh Liana, Wei Wuxian dan klan Yunan. Tetapi jauh dari tiga benua. Di pulau terpencil yang suram. Duduk disinggasananya, pemimpin dari seluruh monster-monster itu, Ye Qiunan juga
mengerti hal yang sama.
__ADS_1
Dalam ruang singgasana yang kosong, hanya dirinya yang duduk di sana sambil memainkan bongkahan giok transmisi di tangannya yang menampilkan sesosok yang tertunduk di dalam sel dengan rantai yang mengekang empat anggota tubuhnya.
Seolah menyadari bahwa seseorang sedang menatapnya, sosok yang dirantai itu mengangkat kepalanya, memperlihatkan wajah kuyu tetapi tidak mengurangi kecantikannya. Hanya saja matanya yang bercahaya menatap tajam dengan permusuhan, marah, dendam, benci dan sedikit bahagia dan kasihan?
Ye Qiunan selalu menyukai mata sosok itu saat menatapnya, meski sekarang hanya lewat pengawasan spiritual seperti ini, tetapi itu tidak membuatnya untuk tetap merasa antusias. Hanya saja makna terakhir dari tatapan itu membuatnya tertegun untuk sementara.
~o0o~
Wei Xiening. Masih terbelenggu di penjara. Dengan sosok yang semakin kurus tapi dengan tekad yang meningkat. Sebagai anggota klan Yunan, dia merasakan keberadaan pemimpinnya meskipun berada dijarak ribuan mil saat mereka kembali ke tempat kelahiran.
“Liana, Li’er …”
Merindukan gadis kecil itu yang mungkin sekarang telah menjadi wanita muda yang cantik. Dia merasakan keberadaannya jauh namun sangat dekat, menjadi semakin kuat. Entah kenapa hatinya terasa masam, hidungnya sakit.
“Oh, sialan. Aku sangat ingin menangis.” Mendongak ke atas untuk menghentikan air mata yang ingin turun. Terlepas dari citranya, Wei Xiening mengendus dengan tidak etis, sama sekali tidak terlihat seperti wanita
aristokrat yang anggun.
Ketika iblis dipanggil, iblis itu datang. Oh panjang umur. Orang yang selalu diam-diam, menjadi bahan sumpah serapah mendatangi sel yang mengurung Wei Xiening membuat suasana haru semula lenyap seketika.
“Apa yang membuatmu bahagia, Shu’er?”
Pria tinggi, tampan dengan tempramen tajam, namun memancarkan hormon godaan di setiap tindakannya saat mendekatinya. Bahkan gerakan membuka sel terlihat nyaman dilihat.
Tetapi seseorang yang digoda tidak memiliki reaksi yang seharusnya, melainkan ekspresi beku dan mata dingin seketika yang bahkan menurunkan suhu penjara yang awalnya dingin mencapai titik beku. Bahkan ada ilusi suara es berderak menyelimuti ruangan.
Wei Xiening tidak menanggapi pertanyaan Ye Qiunan. Dan seseorang sepertinya juga sudah terbiasa dengan tanggapan minim dari lawannya yang tidak terpesona dengan dirinya, hanya sedikit kecewa. Yah, lagipula mereka dulunya adalah pasangan kekasih yang manis. Yang sekarang menjadi musuh yang saling menyiksa.
Jika Ye Qiunan berada di dunia modern, dia mungkin mengerti arti dari cinta sadomasokisme yang biasa tertulis dalam novel.
__ADS_1
Tapi toh tidak perduli apa. Setelah dia merebut tiga benua dan berhasil naik ke dunia asalnya dan membalas dendam. Dia akan membawa Shu’er-nya dan memperbaiki semua kesalahan yang pernah dibuatnya dahulu. Yah, mulailah dari awal. Tapi pertama-tama, ayo bunuh semua yang menghalangi terlebih dahulu, di mulai dari pria bermarga Zhu itu dan anak-anaknya yang sudah merebut kasih sayang Shu’er sehingga membencinya. Benar, itu semua salah mereka.
Sekilas merasakan tatapan membunuh dari pria di depannya. Wei Xiening langsung menjadi waspada.
“Apa yang kau inginkan?”
Ye Qiunan kembali pada ekspresi semula. “Tak bisakah aku hanya mengunjungimu?” Dia akan selalu melunakkan nada suaranya saat berhadapan dengan Wei Xiening.
Tapi tanggapan dari sikap lembut itu selalu beku dan tajam. “Untuk apa kau datang?” tidak menggubris kelembutan palsu pria yang dapat berkata manis padanya namun dapat membantai seluruh klannya karena keegoisan. Kebencian Wei Xiening pada pria itu sudah mencapai titik terendah. Bahkan tidak bisa lagi dihangatkan oleh kata cinta dan kelembutan.
Dia bukan lagi gadis naïf yang mudah di bodohi seperti dulu. Bahkan pada awalnya, baik Yunan Shu’er maupun Wei Xiening bukanlah otak cinta. Dia yang sekarang adalah wanita kuat yang memiliki keluarga untuk dijaga.
Kemarahan yang tidak tahu dari mana asalnya sangat menyesakkan karena tidak pernah mendapat tanggapan yang diinginkan dari kekasihnya. Tangan Ye Qiunan terkepal di balik jubah longgarnya.
Tetapi dia mengingat apa yang akan terjadi pada tiga benua selanjutnya membuatnya merasa lebih tenang. Sebentar lagi, pikirnya.
Memaksakan sedikit senyum di wajahnya, Ye Qiunan berkata dengan perlahan, “Aku ingin melihatmu.” Menatap mata dingin yang tidak beriak, Ye Qiunan menyerah menjadi lembut.
“Baik, akan ku katakan. Pasukanku telah menyerang benua timur. Paling banyak diarahkan ke kekaisaran Naga. Dan pria Zhu itu, dia akan segera mati bersama putranya. Tahukah kamu? akulah yang akan membunuhnya dengan tanganku sendiri.” Dia hanya mengatakan apa yang akan membuat wanita itu paling bereaksi meskipun itu membuatnya sangat cemburu.
Dan benar saja, wajah Wei Xiening menjadi pucat seketika. Matanya panik dan marah. “Ye Qiunan! Kau berani menyentuh mereka?!”
Mengapa manusia yang bahkan tidak setengah langklah mencapai gerbang itu membuatnya begitu cemas? Dia benci apapun yang menarik perhatian Wei Xiening selain padanya. Bahkan meskipun itu adalah darah dagingnya sendiri.
Berdiri di depan wanita itu, Ye Qiunan dengan kasar mencubit dagu Wei Xiening sehingga dia menghadapnya. “Mengapa kau begitu peduli padanya, Shu’er? Mengapa? Tak bisakah hanya aku yang berada dalam hidupmu, hah? Tak bisakah?”
“Aku membencimu.” Jawaban dingin dan acuh tak acuh itu seolah menyiraminya dengan seember air dingin.
Tangan Ye Qiunan di dagu Wei Xiening mengencang kemudian terlepas. Pria itu pergi dengan wajah mengerikan.
__ADS_1
~o0o~