![[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana](https://asset.asean.biz.id/-reinkarnasi--sayap-takdir--zhu-liana.webp)
Keesokan harinya, seseorang benar-benar datang untuk menjemput mereka seperti kata Tetua Li. Liana dan murid yang menerima undangan lainnya di bawa ke tempat berbeda, sedangkan Yuxia dan Weiling pergi ke tempat pendaftaran biasa, terpisah dengan Liana.
“Aku akan menunggu kabar baik dari kalian berdua,” ucap Liana saat mereka berpisah.
Weiling dan Yuxia memberikan anggukkan positif dan percaya diri.
Sebenarnya usia untuk perndaftaran hanya maksimal 15 tahun. Wuxian dan kedua pangeran lainnya sudah menjadi murid di akademi Yilongfei tahun kedua dan ketiga. Jadi mereka tidak akan mengikuti Liana ke tempat pendaftaran tapi langsung mengikuti kelas untuk memnuhi absensi.
Wuxian sendiri, meskipun sepanjang tahun dia tidak pernah mengunjungi akademi, tapi dia tetap mengikuti ujian tiap semester dan meraih nilai yang tinggi. Dia tidak ke kelas atau mengikuti Liana melainkan pergi ke tempat kepala sekolah untuk memberitahu kehadirannya kembali ke akademi.
Liana bersama selusin murid lainnya dibimbing menelusuri sepanjang lorong akademi. Dan di sepanjang jalan, Liana tak sengaja mendengar obrolan menarik beberapa murid yang membuatnya tersenyum.
“Hei-hei! Apa kau pernah dengar? senior Wei telah kembali!”
“Hah?! Senior Wei yang mana?”
“Idiot, Senior Wei, Wei Wuxian. Dia telah mencetak skor mendapat nilai tertinggi di setiap bidang pembelajaran akademi!”
“Ah, benarkah? Yang itu. Astaga ya ampun, bukankah dia sudah menjadi legenda selama tiga tahun ini? mengapa dia kembali sekarang?”
“Aku tidak tahu, tapi ku dengar dia akan menemani kekasihnya disini.”
“Apa?! Senior Wei punya kekasih? Tidak mungkin!!!”
“Ck ck ck! Kau sudah ketinggalan info. Itu adalah tunangan masa kecilnya. Katanya nona ini adalah sampah di ibu kota.”
“Hah, dari mana kau tahu itu?”
“Huh, saudaraku bekerja di ibu kota. Rumor ini sudah sangat terkenal di sana.”
“Sial! Benarkah, senior Wei dengan seorang sampah? Kau pasti bercanda.”
Semakin Liana mendengarnya, semakin dia ingin tertawa. Di mana pun, orang-orang akan selalu senang dengan gosip.
Tapi Liana mengerti sekarang, meski pun seorang Wei Wuxian sudah membingkai dirinya dengan rumor jika dirinya adalah pangeran yang bodoh. Tapi di akademi ini, dia adalah seorang idola ternyata dan juga, dengan label misterius. Menarik, sangat menarik!
Setelah itu, suara-suara gosip semakin mengecil seiring jauhnya Liana berjalan mengikuti rombongan hingga akhirnya menghilang.
Semuanya kembali tenang. Saat ini lorong sudah terputus dan mereka berhenti di depan sebuah ruangan dengan pintu berdaun dua yang di atasnya terukir dengan pola dua ekor naga yang saling berhadapan dengan sepasang sayap di antara mereka.
“Kita sudah sampai,” ucap seorang yang menjadi pembimbing mereka. “Biar ku beritahu pada kalian terlebih dahulu ruangan ini adalah tempat pengujian bakat kalian. Meski kalian semua mendapat surat undangan resmi dari akademi, tapi kalian masih harus mengetes bakat untuk menentukan kelas mana kalian ditempatkan.”
Liana masih menyimak dengan penuh perhatian sampai seseorang sedikit menyenggolnya. Liana menoleh dan mendapati pelakunya adalah seseroang yang dia kenal. “Hei Liana, semoga kita berada di kelas yang sama.” Yah, siapa lagi jika bukan Wei Lanhua.
__ADS_1
Liana tersenyum, membalas, “Mn, itu tergantung seberapa berbakatnya dirimu.”
“Ah!” Sejenak Lanhua tidak tahu harus mengatakan apa tapi sejurus kemudian dia cemberut dengan wajah yangs edikit memerah. “Liana, apa kakak ke-tiga yang mengajarimu untuk menggertak seseorang?”
Liana mengangkat alisnya, tertarik dengan ucapan Lanhua, “Mengapa kau berpikir begitu?”
Lanhua tersentak mendapat sebuah pertanyaan, dia ragu-ragu dan bertingkah takut-takut, melihat kiri dan kanan kalau-kalau Wuxian akan mendengar apa yang dia ucapkan. Dia semakin mendekati Liana dan berbicara dengan berbisik dan Liana semakin penasaran dengan apa yang akan dia dapatkan segera dari Lanhua.
“Jangan memberitahu siapa pun, apa lagi kakak ke-tiga, dengar?”
Liana ingin tertawa sebenarnya tapi dia masih mengangguk, “Baiklah. Lalu katakana!”
“Ini ... kau tahu, “Ini, ke-tiga ... itu ....” Lanhua sedikit menelan ludahnya dengan kasar. “Dia sangat jahat!”
Liana beredip mendnegar itu tapi kemudian dia segera menutup mulutnya lalu membuang pandangan ke arah lain menyembunyikan tawanya yang hendak pecah. Dia benar-benar mersa lucu dengan itu, apalagi hal seperti ini dikatakan oleh seorang gadis yang lugu seperti Lanhua. Liana sungguh tidak bisa menahan tawanya.
Sayangnya kesenangan itu hanya bertahan sebentar sampai seseorang memanggil nama Liana. “Nona Muda Zhu, berikutnya adalah giliranmu.”
Pembimbing itu berkata dengan suara dingin, sedari tadi dia sudah memperhatikan Liana dan Lanhua dan menjadi tidak senang karena dua gadis muda itu nampak main-main dan tidak mendengarkan penjelasannya.
Dia mencibir dalam hati. Anak muda generasi kedua selalu bersikap sewenang-wenang dan sombong, menganggap diri mereka sangat berkuasa.
Liana segera menyesuaikan kembali ekspresinya dan menangkap pandangan menghina dari pembimbing itu saat dia hendak berjalan masuk ke dalam ruangan. Hanya saja Liana tidak begitu perduli dengan padangan orang lain pada dirinya, dia segera membuang itu jauh dibelakang kepalanya setelah dia melihat isi ruangan.
Orang itu terlihat begitu muda tapi semua rambutnya berwarna putih, seputih salju. Liana tak yakin, tapi sepertinya orang ini bukanlah manusia. Melihat dari temperamennya yang tenang, Liana jadi mengingat Shiro yang masih bermalas-malasan di dalam ruang dimensi.
Liana tiba-tiba memanggilnya, “Shiro?!”
“Ya, Tuan.”
“Apa kau tahu bagaimana cara menipu benda itu?” Liana merujuk pada alat tes bakat.
Setelah beberapa waktu tidak ada yang menjawab Liana. “Apa yang ingin Tuan lakukan?” Shiro balik bertanya.
“Apa kau pernah mendengar istilah Low Profile? Aku hanya tidak ingin mencolok. Kau tahu kondisiku, bukan? Aku lebih suka hal-hal yang tenang.”
Diam sebentar, Shiro akhirnya berkata, “Shiro memiliki beberapa benda yang Tuan inginkan.”
“Hum, berikan satu padaku,” pinta Liana. “Yang tidak mencolok,” tambahnya setelah beberapa saat.
Setelah itu dia mendengar Shiro menjawab, “Baik.”
Liana tersenyum saat merasakan sesuatu mendarat di telapak tangannya. Sebuah cincin, sepertinya. Dan Liana segera memakainya, cincin itu menghilang di jarinya. Membuat Liana puas. Benda-benda yang diberikan Shiro tidak pernah sesuatu yang tidak berguna. Senang rasanya memiliki hal-hal berguna disekitarnya. Liana bersuka cita dalam hatinya.
__ADS_1
Dia kemudian menghampiri orang berambut putih yang menunggu di dekat altar yang tersenyum padanya. Liana memberi salam hormat padanya, sebab Liana mengetahui kultivasi orang ini cukup tinggi, dan Liana menjadi segan, tidak ingin menyinggungnya.
“Nona Muda, saya adalah Mu Xiangxi. Anda bisa memanggil saya Tetua Mu.”
“Tetua Mu.” Liana sopan saat dia mengangguk dan Tetua Mu juga tersenyum puas.
“Baik, saya akan menjelaskan kepada anda tentang benda-benda ini.”
Liana sebenarnya tahu apa fungsi semua benda itu, Shiro juga memiliki satu di dalam ruang dimensi, hanya saja lebih lengkap. Liana pernah mencobanya dan tahu tentang dirinya yang tidak memiliki akar roh karena dantian sunyi miliknya, hanya saja dia dapat mengendalikan seluruh elemen alam semesta.
Yah, jika seseorang mengetahui anomali dirinya ini, mungkin dia akan selalu diburu seumur hidupnya. Membayangkannya saja sudah membuat Liana merinding. Karena itulah dia meminta kepada Shiro untuk menyembunyikan bakat yang abnormal ini.
Liana mendengarkan sampai Tetua Mu selesai menjelaskan.
“Nona Muda, letakan tangan Anda di atas batu yang tidak berwarna di tengah dan tuangkan sedikit Qi spiritual ke dalamnya.”
Liana mengikuti instruksinya, meletakkan tangannya di atas batu kristal yang datar di tengah-tengah sepuluh bola berwarna warni, menyuntikkan sedikit Qi miliknya.
Beberapa saat, tidak ada perubahan yang terjadi, tapi segera batu putih dan merah bersinar terang.
Tetua Mu sedikit terkejut tapi segera ekspresinya kembali normal. “Akar Roh ganda Angin dan Api. Nona Muda, sepertinya anda berbakat dalam seni pedang.” Dia sedikit tersenyum pada Liana.
“Terima kasih, Tetua Mu.”
Liana juga puas dengan hasil penyamaran itu, sebab jika dia tidak menggunakan alat untuk membodohi benda tes, mungkin hasilnya akan membingungkan. Yah, meski pun akar roh ganda masih dianggap cukup sebagai bakat langka, tapi ada beberapa lusin orang yang memiliki bakat yang sama. Jadi Liana cukup puas dengan itu, Low Profile? Boleh saja, tapi dia juga tidak suka diremehkan.
Selain itu, dia juga masih mnegingat hasil pengujian bakatnya di masa lalu, sebelum tragedy kebakaran pavilion Wei Xiening. Waktu itu juga menunjukkan hasil yang sama, bakatnya yang tinggi dalam berpedang. Liana juga berpikir jika ibunya melakukan hal yangs ama untuk mengakali alat pengujian bakat pada waktu itu.
“Selanjutnya adalah melihat tingkat pelatihan Anda. Kerahkan seluruh kekuatan Anda untuk memukul papan berwarna hitam di sebelah kiri.”
Liana memiringkan kepalanya sedikit, dia sudah sampai di Penempaan Qi tingkat seratus, akan aneh jika itu juga diketahui karena normalnya, batas tingkatan penempaan Qi diketahui hanya sampai tingkat dua puluh lima. Dan sebenarnya jarang ada yang mencapai tingkat itu.
Jadi sebaiknya berapa yang Liana tunjukkan. Liana sedikit tersenyum, menghampiri papan hitam dan menyiapkan tinjunya yang sudah terkepal.
Segera suara ‘Bang!’ yang nyaring terdengar di seluruh ruangan. Papan putih di sebelah kanan sudah menunjukkan angka sepuluh disertai nama dan akar roh Liana.
Tetua Mu mengangguk lagi melihat perincian hasil tes Liana di papan putih. Tingkat pelatihan yang cukup normal diusianya saat ini, tapi jika untuk orang-orang biasa, itu sudah dibilang sebagai jenius, dia bisa menerobos langsung ke Fondasi Alam tingkat Bumi jika dapat terus berkultivasi sampai Penempaan Qi tingkat dua belas. Yah, apalagi Liana seorang bangsawan, cukup normal baginya berada di tingkat ini, apalag dia memiliki akar roh ganda, yang memungkinkan kultivasinya akan menanjak lebih cepat dari seseorang yang memiliki tiga atau lebih akar roh.
Hanya saja, jika Tetua Mu tahu Liana baru mulai berkultivasi bebrapa bulan lalu, dia mungkin akan sangat terkejut.
Setelah acara itu, Liana juga mengambil tes lain, seperti sastra, seni dan lain-lain. Selesainya, semua detail tentang tes Liana dicatat oleh Tetua Mu. Liana langsung keluar dari dalam ruangan, dia bebas untuk berkeliling akademi. Kelas akan di mulai minggu depan. Liana berencana untuk berjalan-jalan dan menjelajahi Kota Yilongfei selagi dirinya punya waktu.
~o0o~
__ADS_1