![[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana](https://asset.asean.biz.id/-reinkarnasi--sayap-takdir--zhu-liana.webp)
Sejak hari itu dan seterusnya, gagasan Liana benar-benar diterima dalam kelas. Guru Lin juga lebih serius mengajar murid-murid yang bertahan dalam kelasnya. Terkadang dia juga mengajukan banyak pertanyaan pada para murid dan menyuruh mereka untuk melakukan banyak uji coba dan melakukan banyak penelitian atas penemuan-penemuan baru miliknya maupun dari para murid.
Murid lain yang memilih meninggalkan kelasnya sebelumnya juga mendengar jika guru Lin telah mengajar murid dengan baik juga memilih untuk mengikuti pelajarannya. Sayangnya guru Lin dengan tegas mengusir mereka. Dia mengatakan jika dirinya tidak akan pernah menerima para murid yang tidak memiliki kesabaran dan bersikap sombong.
Murid yang memilih bertahan dalam kelasnya merasa lega karena mereka memilih untuk tetap tinggal dalam kelas, yang membuat mereka bersuka cita. Dan jujur saja, guru Lin benar-benar guru yang mengajar dengan baik.
Banyak murid dalam bimbingannya meningkat dengan signifikan. Bahkan beberapa senior di Yilongfei yang pernah diajari oleh guru Lin juga mengakui hal yang sama.
Lalu entah dari mana dan siapa yang memulai pembicaraan, berita mengenai guru Lin adalah kepala akademi Yilongfei menyebar sampai pada murid baru.
Itu lebih membuat murid baru yang mendapat pelajaran dari guru Lin merasa lebih senang. Juga, murid-murid yang lain menghormati mereka karena guru Lin sebenarnya dalah wali kelas murid baru dari kelas utama alkimia. Banyak murid-murid yang iri, tapi mereka tidak mampu memperotes. Siapa suruh mereka meninggalkan kelas guru Lin saat itu?
Hari-hari Liana juga semakin dan semakin damai, hingga tak terasa sebenarnya sudah akan mendekati pertengahan akhir dari semester pertamanya di Yilongfei yang berarti beberapa hari lagi adalah tahun baru. Dan ini sebenarnya sudah hampir satu tahun sejak dia kembali dan hidup di tiga benua.
Sudah memasuki musim dingin, dan salju bertumpukan di halaman asrama juga di sepanjang jalan-jalan Yilongfei.
Dunia sudah menjadi serba putih dan sangat dingin, seandainya dia bukanlah kultivator, berjalan-jalan di jalanan umum hari ini mungkin akan membuatnya masuk angin dan flu.
Hari masih pagi dan lumayan dingin di luar, beruntung hari ini diliburkan karena beberapa hari memang akan menjadi tahun baru.
Banyak murid-murid memilih untuk kembali ke rumah di kota asal mereka. Liana tak terkecuali, besok dia juga akan kembali mengunjungi ayah dan kakaknya di ibu kota bersama yang lainnya.
Dia nampak linglung memikirkan sesuatu saat mengahadap ke luar jendela. Berfikir jika ini mungkin akan menjadi kali pertamanya sejak dua dekade terakhir untuk merayakan tahun baru bersama keluarganya.
Liana entah mengapa merasa jika semua yang ia lalui adalah sebuah mimpi. Dia tampa sadar mencubit wajahnya sendiri karena naluriah alami.
“Sakit,” gumamnya dengan diakhiri sebuah senyuman nyata.
Benar, semuanya bukan mimpi. Dia benar-benar hidup sampai saat ini dan melalui semua hal yang pernah ia lalui. Ayahnya, kakaknya dan semua orang masih menunggunya di rumah, hanya … dua wanita yang ia panggil ibu, dia belum melihat mereka lagi setelah beberapa tahun.
Liana tidak tahu bagaimana mengatur perasaannya sekarang. Dia hanya merasa ingin menjadi serakah.
Sampai sesuatu yang bercahaya terbang menghampiri dirinya. Liana mengangkat tangannya meraih hal bercahaya itu dan melihat jika itu adalah seekor kupu-kupu yang cantik terbuat dari energi spiritual unsur cahaya berwarna agak putih keemasan.
__ADS_1
Kupu-kupu spiritual itu mendarat di jari telunjuk Liana dengan sesekali mengepakkan sayapnya membuat sari dari cahaya bertebaran dari sana. Sontak hal itu membuat seluruh ruangan menjadi semakin hangat.
“Ayo pergi ke suatu tempat yang menyenangkan?!”
Suara yang sudah Liana kenal terdengar dari kupu-kupu. Liana berkedip sedikit tersentak, ternyata benda di tangannya juga menjadi penyampai pesan. Liana tersenyum dan menoleh kembali keluar jendela.
Hingga dia mendapati seseorang yang sudah sangat familiar dengan jubah hitam yang kontras dengan tanah bersalju di sekitarnya berdiri di bawah pohon yang membeku tertutup hamparan putih yang jatuh dari langit, menunggu dirinya dengan sebuah senyuman yang hangat di musim dingin.
“Apa yang kau lakukan di sana?” tanya Liana balik pada kupu-kupu pengantar pesan yang sebenarnya agar dapat di dengar oleh Wei Wuxian di seberang.
Seperti yang diharapkan, pemuda itu akan sering menjawabnya dengan, “Aku menunggumu.”
Liana sebenarnya sudah ingin tertawa dengan cara interaksi mereka seperti ini. Tapi dia dapat memasang wajah lurus sambil terus berbicara dengan kupu-kupu pengantar pesan. “Di luar itu sangat dingin.” Baik, Liana adalah seorang kultivator.
Di tempat, Wei Wuxian mengangkat alisnya dan tertawa kecil. “Aku bisa menghangatkanmu.” Dia menjawab dengan cara yang bergitu alami, tidak takut jika ada orang yang mendengarnya mungkin akan memikirkan hal-hal yang ambigu.
Tapi jika memang ada, dia adalah Wei Wuxian yang tidak memperdulikan itu, mungkin akan dengan senang hati membiarkan pikiran orang lain berkelana.
Tapi Liana berbeda, dia hanyalah gadis yang benar-benar masih polos, tidak memiliki implikasi dalam pikirannya jika Wei Wuxian telah berbicara dengan makna tersirat padanya. Tidak tahu apakah itu suatu keuntungan atau rugi memiliki kekasih dengan pikiran yang selalu murni.
Haih, tidak tahu apakah harus tertawa atau menangis. Wei Wuxian hanya memperhatikan Liana melepas kupu-kupu yang hinggap di jarinya. Gadis itu bergegas berdiri mengambil mantel berbulu dari dalam lemari pakaian dan turun keluar dari asrama.
Setelah beberapa saat, dia sudah berada di depan Wei Wuxian dengan pakaian hangat dan pipinya yang memerah karena habis berlari. Saat dia bernapas, kabut dingin selalu keluar dari bibirnya karena suhu yang dingin. Itu membuatnya tampak semakin menggemaskan di mata Wei Wuxian.
“Aah, kapan dua tahun segera berlalu,” pikirnya dalam hati dengan tidak sabar, rasa ingin cepat-cepat membuat gadis ini menjadi miliknya, hanya dirinya.
Dengan pemikiran seperti itu, Wei Wuxian sudah menundukkan kepalanya semakin mendekati Liana hingga kedua bibir dingin itu bersentuhan dengan ringan.
Liana hanya membeku di tempat karena tindakan wei Wuxian yang tiba-tiba mencium dirinya. Namun dia tersadar segera dan hendak mendorong Wei Wuxian. Tapu pemuda itu segera memeluknya erat.
“Biarkan ... biarkan aku melakukannya sebentar. Li’er, biarkan aku.” Suaranya begitu serak, tenggorokan Wei Wuxian kering hingga ia terpaksa menelan ludahnya dengan kasar. Matanya tidak dapat menyembunyikan kabut keinginan.
Liana memang gadis yang polos, tapi dia tidak begitu bodoh saat melihat petunjuk yang begitu jelas di depan matanya. Dia hanya merasa kengerian saat melihat tatapan Wei Wuxian yang begitu dalam di manik matanya yang sudah menggelap.
__ADS_1
“Apa ... apa yang kau inginkan?” Liana gugup setengah mati, dia tidak pernah melihat Wei Wuxian memandangnya seperti dia memandangnya saat ini.
Pelukan Wei Wuxian semakin erat. Kepalanya bersandar di bahu Liana saat dia mencoba menstabilkan pernapasannya yang terengah-engah karena keinginan. Dia ingin mengatakan pada Liana jika dia menginginkan gadis itu. Tapi dia masih berusaha mempertahankan rasinolitasnya saat ini. Jika dia benar-benar memaksakan diri pada Liana, gadis itu mungkin akan membencinya.
Dengan pemikiran seperti itu, Wei Wuxian ditenangkan dengan perlahan.
Liana sendiri sudah panik melihat kanan-kiri dan segala arah. Dan dia segera menghela napas saat tidak mendapati satu orang pun selain mereka berdua yang berada di tempat itu saat ini.
Saat ini Wei Wuxian masih memeluknya. Hanya, Liana tidak lagi bersuara atau melakukan apa pun, membiarkan pemuda itu bersandar padanya.
Sampai dia mendengar Wei Wuxian berbisik di telinganya, “Li’er, kau benar-benar terasa manis, hampir membuatku tidak bisa mengendalikan diri.”
Setelah apa yang terjadi barusan, bagaimana mungkin Liana tidak mengerti apa maksud Wei Wuxian. Dengan wajah memerah karena malu dan marah, Liana dengan sekuat tenaga mendorong tubuh Wei Wuxian menjauh darinya, dan berhasil. Wei Wuxian terdorong mundur satu langkah dan mendapati ekspresi marah dari Liana.
“Apakah sudah selesai? Jika ya, aku ingin kembali ke asrama.” Gadis itu membuat komentar.
Wei Wuxian terkejut, dia meraih tangan Liana yang hendak melangkah pergi. Gugup, dia berkata, “ Li’er, ini salahku. Maafkan aku, baik?”
Liana hanya memberinya, “Humph!” dan, “Lepaskan aku!” yang membuat seorang Wei Wuxian semakin kalang kabut. Aiyo! Sebenarnya ada apa dengan pasangan muda satu ini?
“Bukankah, bukankan kita akan pergi ke suatu tempat?”
Liana diingatkan mendadak berhenti berjuang. Dia memang bosan di kamar asramanya karena itu dia memilih untuk mengikuti Wei Wuxian dan menemuinya di luar. Hanya, dia tidak tahu jika pemuda itu tiba-tiba akan mencium dirinya, lagi.
Dan Wei Wuxian melihat tanggapan Liana yang terdiam membuatnya senang. Dia hendak menarik Liana tapi gadis itu masih berdiri menjadi batu di tempatnya memandang Wei Wuxian dengan menyelidik. “Kemana kita pergi?”
Wei Wuxian juga berhenti, dia tersenyum dan senang dalam hatinya karena Liana tidak menolaknya. Dia dengan semangat menjelaskan, “Ada tempat yang bagus untuk dikunjungi saat musim dingin, kau pasti akan menyukainya.”
Liana hanya bisa pasrah saat Wei Wuxian mulai menarik dirinya berjalan. Entah sejak kapan dia sadar jika dirinya tidak dapat benar-benar menolak pemuda di depannya ini.
Pemikiran seperti itu juga entah bagaimana membuatnya menghela napas. Tapi Liana juga tidak membenci hal ini. Mungkin karena sudah lama tidak menerima perasaan hangat dari orang lain. Dan Wei Wuxian memang selalu membuatnya merasa nyaman bersamanya.
“Yah, ini tidaklah buruk. Hanya, sampai kapan kehangatan seperti ini bertahan?” Liana bermonolog dalam hati.
__ADS_1
En, tapi sesuatu yang akan terjadi di masa depan, biarkan itu dipikirkan di masa depan. Untuk saat ini, mempertahankan hubungan yang harmonis sudah cukup untuknya.
~o0o~