[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana

[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana
101-Pertarungan Berakhir


__ADS_3

Liana sendiri masih mempertahankan ketenangannya dan wajahnya yang masih tanpa ekpresi seolah dia tidak akan pernah bisa terguncang oleh badai sekali pun, apalagi hanya melihat makhluk level lima yang menunjukkan taring padanya.


Tapi sebenarnya yang terjadi sekarang adalah dia mendengarkan ocehan yang terdengar dari dalam kepalanya, sangat berisik.


“Cih, binatang level lima apanya? Lihatlah Nona, kau bahkan dapat menjinakkan binatang suci dan bahkan membuat Binatang Mitologi sebagai pelayan setiamu! Tapi orang merak itu sudah menjadi begitu sombong hanya karena makhluk level lima rendahan. Dia terlalu tinggi memandang dirinya sendiri.”


Dengan begitu banyak kalimat yang terlontar disertakan cibiran dan dengusan, itu tak lain adalah Chao yang menyaksikan pertarungan dari dalam ruang dimensi.


Bahkan Liana sudah mendengar suara anak beruang menyetujui ucapan sarkastik Chao.


“Gadis, apa kau membutuhkan diriku? Aku bisa keluar untuk melawan anak kucing itu.” Dengan kearogansian dari dalam darahnya sebagai binatang suci, sekarang induk beruang, Xi Niang juga ikut-ikutan.


Liana merasa tak berdaya melihat reaksi dari penghuni ruang dimensinya. Sejak Liana bertemu Murong An Fei, mereka sudah ribut memaki dan mencibir Putri Negara Merak itu dengan kejam tanpa rasa hormat akan setatusnya sebagai seorang Putri sebuah Kekaisaran. Bahkan memberinya kutukan, tidak menyisakan satu hal baik pada Murong An Fei.


“Tidak, aku bisa mengurus ini sendiri.” Dia berkata dengan singkat, setelah itu kembali fokus pada apa yang ada di hadapannya saat ini.


Saat itulah dia mendengar suara Murong An Fei yang berteriak, “Huzi, serang dia!”


Seekor macan menggeram maju, berlari dengan mata memerah mengikuti perintah majikannya untuk mulai menyerang musuh yang ada di hadapannya. Macan Api Ungu meraung dan ingin langsung menerkam dengan mulut yang bertaring terbuka lebar dengan cakar yang juga sudah terayun pada Liana. Berharap dapat menelan manusia di depannya bulat-bulat.


Jarak itu sangat dekat, tapi salah satu kaki Liana mundur satu langkah segera, memusatkan berat tubuhnya disana. Lalu bersamaan dengan itu pula, dia mengangkat pedang untuk menahan gigi dan cakar yang hendak menyentuhnya.


Tak bergeming di tempat, seekor macan dan seorang gadis berbenturan menciptakan gelombang angin yang dahsyat menyapu debu berterbangan.


Bahkan suara bentrokan itu sangat memekakkan telinga, membuat jantung orang-orang yang mendengarnya berdetak cepat karena terkejut juga tegang dan sedikit bersemangat menonton pertarungan yang hebat.


Melihat serangannya yang ganas berhasil ditahan oleh gadis manusia yang terlihat kecil itu, sebagai Binatang Iblis level lima yang setara dengan kekuatan seorang Kultivator Alam Fana, Macan Api Ungu menjadi lebih marah, bahkan api di beberapa bagian bulunya berkobar lebih besar menunjukkan betapa marahnya dia.


Liana memiringkan kepalanya mengerutkan kening, dalam pikirannya, dia tidak menyukai bulu-bulu Macan Api Ungu yang terlihat begitu halus mengeluarkan api. Itu nampak terbakar, sangat disayangkan baginya.

__ADS_1


Sebenarnya, perasaan Liana sedari tadi sudah rumit melihat macan yang muncul menjadi lawannya, makhluk itu berbulu, dan Liana suka bulu-bulu halus pada macan. Karena itulah dia merasa enggan untuk melawan karena tak ingin tidak sengaja memotong bulu-bulu itu dengan pedangnya. Jadi sedari tadi dia hanya mengerahkan sedikit kemampuannya, menghindari bagian dimana dia akan melukai Binatang Iblis tersebut.


Ah, sepertinya Liana menjadi lebih dan lebih konyol jika mengahadapi sesuatu yang dia sukai. Dan mungkin, hanya Wei Wuxian dan para makhluk yang menghuni ruang dimensi sayap kembar miliknya yang mengetahui karakter lain Liana yang seperti ini.


Wei Wuxian yang sedari tadi berdiri di antara para penonton yang ramai sangat ingin tertawa karena mengerti jalan pikir gadisnya itu. Menurutnya, Li’er-nya masih sangat menggemaskan dengan sisinya yang seperti ini. Dia bahkan lupa kemarahannya karena pertandingan ini yang sudah membuatnya bergegas secepat mungkin untuk melihat.


“Li’er, jika kau tidak segera menyelesaikan pertarungan, itu akan membuatmu repot. Aku akan memberimu hadiah jika kau menyelesaikan ini dalam waktu satu menit.” Wei Wuxian mentransmisikan suaranya langsung ke dalam pikiran Liana, membuat gadis itu tersentak.


Mengenal suara siapa yang berbicara padanya, Liana ingin mengeluh. Mengapa Xian gege harus mengatakan sesuatu seperti itu padanya? Apa dia sudah terlihat seperti orang bodoh sekarang? Liana tiba-tiba ingin meringis.


Dia mengerti tindakan konyolnya, tapi dia benar-benar tidak bisa menahan diri pada sesuatu yang terlihat imut dan berbulu lembut.


Tetapi, meski pun pikirannya sudah melangkah jauh kemana-mana, Liana masih bertukar serangan dengan Macan Api Ungu.


“Baik, kau tidak terlihat lucu sama sekali, dan kau memiliki bulu yang terbakar.” Dia bergumam dan Macan Api Ungu tidak mengerti apa yang gadis manusia di depannya bicarakan, tapi dia merasa seperti telah dihina, dia menjadi semakin dan semakin marah pada Liana.


Serangan macan menjadi lebih cepat dan ganas, bahkan cakar-cakarnya dipenuhi dengan api yang membara, terkena serangan sedikit akan membuat Liana terbakar.


Suara bedebam terdengar keras dengan ada suara retakan saat tinju Liana mendarat di kepala macan.


Macan Api Ungu terpental sejauh beberapa meter, kembali ke depan majikan yang mengendalikannya—Murong An Fei.


Murong An Fei sendiri kembali memuntahkan seteguk darah dari mulutnya menandakan ada cedera internal karena serangan balik yang ia dapatkan dari bertukar serangan dengan Liana.


Yah, Murong An Fei telah melakukan kontrak budak mati dengan Macan Api Ungu, jadi dia yang sepenuhnya mengendalikan kekuatan Macan Api Ungu saat dia menyerang. Karena Macan Api Ungu terluka oleh pukulan Liana, Murong An Fei yang sebagai pengendali juga terkena sebagian dampak serangan tersebut.


Dia menolehkan kepalanya memandang Liana dengan penuh kebencian dan dendam. Dia tak rela jika kalah dari gadis minim ekspresi itu. Melihat ketenangan Liana membuatnya semakin kesal, berpikir jika gadis itu memandang rendah dirinya.


Murong An Fei menggeretakkan giginya kuat, dia segera menggunakan segel tangan lain sekali lagi, membiarkan Macan Api Ungu menghilang dari panggung arena memasukkannya ke dalam dimensi Binatang karena sepertinya Binatang Iblis itu tidak bisa lagi bertarung dengan maksimal.

__ADS_1


Setelahnya, Murong An Fei nampak menggumamkan sebuah mantra membuat mata Liana menyipit dengan waspada.


Perasaan berbahaya menghampiri Liana, tapi belum sempat dia memikirkan apa yang hendak dilakukan Murong An Fei, seseorang tiba dan mendarat di atas panggung arena untuk menghentikan pertarungan, tepatnya menghentikan gerakan Murong An Fei.


Semua orang terkesiap, seketika tempat itu menjadi sunyi, hanya terdengar siulan angin sesekali yang menggoyang daun di pepohonan.


Dan saat itu, teriakan penuh emosi terdengar. “Apa yang kau lakukan? Mengapa kau menghentikanku. Aku ingin membunuh gadis tak berguna itu!”


Wajah Liana berubah dingin di atas panggung memandangi Murong An Fei yang masih mengoceh dengan penuh kemarahan. Liana tahu ucapan Murong An Fei tidak hanya didasari atas kemarahan belaka, melihat gadis itu saat pertama kali mereka memulai pertarungan dan sudah mengeluarkan aura membunuhnya, putri Murong itu benar-benar menginginkan nyawa Liana.


Namun orang yang datang menghentikan Murong An Fei juga berwajah jelek. Dia tahu gadis yang dipilih Tuannya untuk ikut bersama mereka ke kekaisaran Naga adalah gadis yang bodoh dan tidak masuk akal, tapi baru sekarang dia tahu jika Murong An Fei sepertinya telah kehilangan kewarasannya. Sungguh, dia juga tak menyukai jika Murong An Fei ikut, tapi Tuannya sudah memilih, pasti ada alasannya.


Dia, seorang pria dengan terpaksa memukul bagian belakang leher Murong An Fei dan membuatnya pingsan.


Setelah itu dengan Murong An Fei di tangannya, berbalik menghadap Liana dengan memasang wajah bersalah. “Nona Pertama Zhu, maaf atas sikap bodoh dan kasar adikku. Dia terlalu dimanja dan belum mengerti tentang beberapa hal, namun ini memang kesalahannya. Tapi, karena itulah aku berharap kau mau memaafkannya untuk menjaga wajah Negara Merak kami.”


Memandang pria di depannya, Liana masih berwajah poker. Dia samar-samar tahu siapa pria itu dari ucapannya. Adalah kakak Murong An Fei yang merupakan pangeran ke-dua kekaisaran Merak—Murong An Ding, seseroang yang juga masuk ke akademi Yilongfei tiga tahun lebih dulu dari dirinya, singkatnya Pangeran itu satu angkatan dengan Wei Wuxian.


Tapi, dari pada mengatakan pangeran An Ding datang sebagai murid Yilongfei, tahun ini, dia hanya bertugas untuk menjadi pengawas Murong An Fei. Sebenarnya bukan hanya dirinya saja, ada satu lagi ‘Kakak’ Murong An Fei yang juga memilih belajar di Yilongfei, bernama Murong An Yu.


Kedua kakak ini berbakat dan sering nama mereka tertulis di batu giok peringatan atas prestasi mereka, sangat berbeda jauh dengan Murong An Fei.


Liana baru mengetahui ini saat dalam perjalanan menuju Arena Pertarungan dari Lanhua.


Para Pangeran dan Putri Negara Merak menurunkan status mereka menjadi murid biasa hanya untuk belajar di Yilongfei, padahal jelas-jelas Negara mereka juga memiliki akademi bergengsi, apa tujuan mereka? Memata-matai?


Tapi yang jelas, apa pun itu, Liana yakin bukan hal yang baik.


~o0o~

__ADS_1



__ADS_2