[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana

[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana
22-Kartu Mengejutkan


__ADS_3

Masih berada di panggung.


Liana tetap tenang mengamati kartu-kartu yang akan dia pilih. Sebenarnya bermain tebak-tebakan seperti ini cukup menyenangkan.


"Apa aku sudah boleh memilihnya?" tanya Liana tiba-tiba dengan polosnya.


Masih dengan wajah datarnya yang tidak berubah sejak naik panggung, dia memandang kedua lelaki barat itu bergantian.


"Silahkan Nona Liana!" Master Tufa lebih dulu berkata.


Sebenarnya dia cukup kagum dengan ketenangan Liana yang tidak goyah di tengah-tengah cibiran orang ramai.


Jika saja dia tahu bahwa Liana sama sekali tidak perduli, mungkin sudah berteriak, 'Nona, kau sangat luar biasa!'


Usia lima belas tahun, siapa yang akan mengira jika usia semuda itu bahkan sudah memiliki aura yang begitu berbeda. Sangat tenang dan acuh tak acuh seolah bukanlah bagian dari dunia.


Liana kembali mengalihkan perhatiannya pada sepuluh kartu yang berjejer di depannya. Menimang-nimang kartu mana yang akan dia pilih. Sangat serius hanya untuk sebuah permainan. Tapi Liana benar-benar terpengaruh oleh suasana tegang itu dan dia bahkan menjadi lebih berhati-hati. Oh ayolah, jika sesuatu yang diminati memang harus menjadi yang terbaik.


Maksudnya, jika seseorang benar-benar menyukai sesuatu, dia akan menggunakan seluruh kemampuannya untuk mendapatkan yang terbaik dari itu. Bukan begitu?


Setelah beberapa saat memikirkannya, Liana memilih kartu di baris jajaran pertama. Kartu ke dua dari arah kiri.


"Ini, aku memilih yang ini!" Dia menunjuk kartu pilihannya.


Di seberang sana, Master Tufa bertanya, "Nona Liana yakin?" Sebagaimana prosedurnya, dia mengetes seberapa yakin Liana dengan pilihannya itu.


"Yakin!" jawab Liana tak tergoyahkan.


"Maka baik." Master Tufa tersenyum tipis. Dia kemudian meletakkan telapak tangannya di meja menyapu kartu-kartu yang tidak terpilih dalam satu usapan. Dan kartu itu menghilang lagi beralih pada tangan Master Tufa.


Sulap adalah tentang kecepatan dan muslihat mata, bukan berarti ilusi. Akan tetapi itu adalah seberapa terampil sang pesulap mempengaruhi para penontonnya. (Hanya pendapat pribadiku!)


Suasana semakin tegang meskipun itu hanya disebut sebagai permainan. Tapi orang-orang zaman kuno benar-benar percaya dengan yang namanya ramalan. Jadi saat mendengar Al si rambut pirang menyebutkan nama pertunjukkan yang mereka tampilkan, orang-orang tidak bisa untuk tidak antusias sekaligus penasaran.


Ya, mereka penasaran bagaimana takdir seorang Nona Muda sampah dari kediaman Zhu itu.


Tapi banyak juga yang diam-diam menghela napas. Apa yang bisa dilihat dari takdir seorang tak berguna. Menurut keyakinan mereka, takdir Liana akan biasa saja, mungkin cenderung buruk. Tapi siapa yang tahu jika sang Pencipta berkehendak, apapun bisa terjadi. Bukan begitu?


Kartu masih berada di meja. Dan saatnya itu dibuka oleh sang Master Pesulap yang katanya akan meramal takdir seorang Zhu Liana.

__ADS_1


Namun betapa kagetnya ia ketika melihat isi kartu.


Master Tufa tiba-tiba berdiri, dia segera menghampiri Al yang sejak tadi menyingkir dari sana dan hanya berdiri di pojok panggung.


Hal itu membuat para penonton berbisik heran. Apa yang dilihat Master Pesulap itu hingga membuatnya begitu terkejut? Orang-orang memiliki satu pemikiran di kepala.


"Yang Mulia!" teriaknya tanpa sengaja karena terlalu panik.


"Apa yang ...." Belum sempat Al membalas perkataannya yang dengan sembrono memanggilnya, tapi langsung disergah dengan sodoran kartu di tangan Master Tufa.


Al juga terkejut melihat isi kartu yang selama ini ia cari pemiliknya. Dia kemudian memandang Liana yang menatap mereka dengan bingung.


Dia segera menghampiri sang Nona Muda. "Nona Liana, bisa kita berbicara sebentar?"


~o0o~


Saat ini, Liana, Wan Feng, Al dan Master Tufa telah berada di salah satu restoran mewah di ibu kota. Mereka menyewa satu kotak ruang di lantai dua. Untuk menghindari kebocoran informasi, tak lupa mereka menggunakan sihir array pembatas agar apa yang mereka bicarakan tidak terdengar orang luar.


Dua lelaki yang mengaku sebagai Pesulap Sirkus dari Benua Barat itu dengan terpaksa menghentikan pertunjukkan dan membubarkan penonton yang kecewa. Ada hal yang lebih penting dari pertunjukkan main-main itu. Dan sekarang disinilah mereka bersama suasana serius memenuhi ruangan.


"Khem! Nona Muda Ke-dua Zhu, Tuan Muda pertama Zhu. Sebelumnya saya akan memperkenalkan diri secara resmi pada kalian dulu. Saya yakin, kalian berdua bukanlah orang yang menyukai kebohongan. Maka saya akan berkata jujur pada kalian." Al si rambut pirang berdiri di seberang meja. Di sampingnya juga sudah ada Master Tufa.


Wan Feng mengangkat alisnya. "Zeith? Virth? Anda adalah Pangeran Mahkota Virth?" tanyanya kaget. Dia bahkan tak sempat membalas sapaan, akan tetapi Zeith hanya tersenyum memaklumi.


"Anda menebaknya, Tuan Muda."


Tiba-tiba Wan Feng sadar akan kecerobohannya sebagai bangsawan. "Ah, maafkan saya, Pangeran." Dia segera membungkuk sebagaimana biasanya memberi salam pada orang lain ketika bertemu, tentunya menggunakan salam orang dari Negeri Timur. Yakni menangkup kepalan tangan di depan dada, gaya laki-laki.


Liana juga berdiri, dia menunduk menyilangkan kakinya seraya mengangkat sedikit hanfunya kemudian merendahkan tubuh dengan menekuk kakinya, lalu sedikit membungkukkan kepalanya.


"Menyambut Pangeran Mahkota dari Virth!" ucapnya tegas namun juga terdengar halus.


Bahkan Zeith dan Tufa melongo melihat Liana dapat memberi salam dengan budaya Barat mereka.


"Nona Liana mengerti budaya barat kami?" tanya Zeith memastikan.


Wan Feng sendiri bingung dengan adiknya itu. Tapi dia hanya bungkam, nanti tanyakan saja di rumah.


"Beberapa," jawab Liana singkat dan dia langsung duduk kembali diikuti ketiga laki-laki itu.

__ADS_1


Liana mengambil cangkir yang sudah berisi teh di dalamnya kemudian meminumnya perlahan dan elegan. Itu sudah lebih dulu di sediakan oleh pelayan Restoran untuk mereka berempat.


"Apa yang ingin Yang Mulia Pangeran Zeith katakan padaku?" tanyanya menggunakan antara bahasa Formal dan Informal.


Zeith yang masih terpaku pada penampilan anggun Liana segera tersentak dikala Tufa memanggilnya. Dia kembali mengingat tujuan awal mengajak sang Nona Muda Zhu itu untuk membicarakan hal serius.


"Ah Nona, saya ingin bertanya pada Nona. Nona dapat melihat ini." Dia mengeluarkan Kartu yang tadi dipilih Liana dari saku pakaiannya dan meletakkannya di atas meja.


"Kosong?" Alis Liana terajut melihat kartu pilihannya.


"Benar."


"Apa artinya?"


"Kertas kosong berarti tidak ada, itu tidak ada sama sekali."


"Maksudmu masa depanku tidak ada?" tanya Liana agak khawatir. Meski pun dia tidak begitu percaya dengan yang namanya ramalan dan hanya menganggap hal yang ia lakukan tadi hanyalah permainan, tapi tetap saja dia merasa gelisah.


"Lebih tepatnya, Nona bisa membentuk sendiri masa depan seperti apa yang Nona inginkan," jelas Zeith meluruskan makna dari kartu pilihan Liana.


"Membentuk masa depanku sendiri? Bukankah itu tidak mungkin!" Liana ragu.


"Nona, apa Nona Liana pernah mendengar ungkapan 'Segala sesuatu bisa menjadi mungkin jika ada kepercayaan.'"


Liana terdiam mendengar balasan Zeith. Dia memikirkannya dan dia kembali mengingat pengalaman hidupnya selama ini. Yah, Kepercayaan. Bahkan jika itu adalah sebuah kebohongan, jika dipercaya maka itulah faktanya. Itu yang selalu dia pelajari selama ini.


"Lalu ...."


~o0o~


Ku double Up lagi. Sebenarnya ku Up berapa itu tergantung berapa jadinya pas hari itu, jadi yah, kadang Up ganda atau kadang cuma satu.


BTW, buat yang ngasih TIP. Kalian .... 😭.


Huwaa makasih, jangan sungkan buat bikin aku jadi kaya... wkwk. Iya kan, kalo punya duit ya bisa beli kuota, kalo ada kuota, ya Up nya jadi lancar.


Hoho makasih juga buat yang masih setiap baca nih cerita halu abal-abal. Abal-abal pun tak apa, yang penting nggak bikin yang nulis jijik liat karyanya sendiri. 😂hehe


Dah ya, See U...

__ADS_1


__ADS_2