![[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana](https://asset.asean.biz.id/-reinkarnasi--sayap-takdir--zhu-liana.webp)
“Salam, Ayah.” Keduanya segera membungkuk memberi salam pada Zhu Moran.
“Li’er, Wan’er. Kebetulan kalian berada disini. Ada yang ingin ayah katakan pada kalian berdua.” Zhu Moran tersenyum menyambut Liana dan Wan Feng.
Tapi Liana merajut alisnya merasa sesuatu yang salah. Dia kemudian melirik Wen Canran yang berdiri diam di dekat Zhu Moran. Tersenyum begitu manis layaknya seorang ibu yang menyambut anak-anaknya. Tapi entah kenapa Liana malah merasa jijik saat melihatnya.
“Selir Wen, sepertinya kau melupakan sesuatu?” tanya Liana memberi kode, dia sengaja menekan kata selir untuk mengingatkan wanita itu tentang identitasnya.
“Ah, Li’er. Sepertinya ibu memang sudah tua, maafkan ibu.”
Hah, Liana sekarang ingin bertepuk tangan. Betapa tebalnya wajah wanita itu. Dia bahkan berpura-pura tak mengerti dan menyalahkan arti perkataan Liana.
“Selir Wen, kau sekarang melupakan dua hal!” Nada bicara Liana menjadi lebih tinggi bahkan membuat Zhu Moran mengerutkan dahinya.
Sedangkan Wan Feng sendiri berusaha menahan senyumnya. Sangat baik jika adiknya sudah dapat bicara. Dia berbakat dalam membuat orang lain kesal dengan lidah tajamnya itu. Lihatlah, bahkan wajah selir Wen sudah memerah duluan, mungkin merasa malu.
“Li’er, apa yang ibu lupakan? Ibu tidak mengerti apa yang kau katakan.” Meski begitu wanita itu tak ingin menyerah.
Liana tak menanggapi perkataannya malah berbalik bertanya pada Zhu Moran. “Ayah, sejak kapan ayah mengangkat seorang permaisuri setelah ibu Wei?” Nadanya dingin dan menekan membuat Zhu Moran tersadar.
Memang ada yang salah dari tadi. Dia lalu melihat Wen Canran dengan wajah terkejut dan merah. Zhu Moran memejamkan matanya menghela napas. Putrinya sedari kecil memang orang yang tegas, sangat mirip dengan mendiang ibunya. Hanya saja setelah kejadian kebakaran itu, Zhu Liana menjadi bisu dan saat itu pula dia sangat tertutup pada siapapun. Tapi sekarang dia kembali melihat ketegasan di mata putrinya, dia merasa lega tapi juga merasa sedih. Putrinya menjadi dewasa.
Tapi sebelum Zhu Moran mengangkat suara. Liana sudah mendahuluinya. “Sejak kapan seorang selir belaka menentukan pernikahan dari tuan muda di dalam kediaman?” Liana melirik tajam pada Wen Canran yang kini menahan amarahnya. Liana sengaja terus menekan kata selir berkali-kali agar membuatnya malu.
Wan Feng sendiri hanya terdiam, bersusah payah menahan tawanya dalam wajah sedatar mungkin. Baiklah, untuk kali ini biarkan adiknya yang menangani. Lihat seberapa tebal wajah wanita itu? sampai kapan dia akan bertahan dengan pendiriannya?
Zhu Moran tentu terkejut mendengar pertanyaan Liana. Mereka mendengar apa yang baru saja diperbincangkannya dengan Wen Canran. Sejujurnya dia juga tak menyukai usulan wanita itu. Dia hanya menginginkan kebahagiaan putra-putrinya.
__ADS_1
Membebaskan mereka untuk memilih pasangan yang dicintai. Tidak mengekang mereka dengan tali perjodohan dengan alasan politik. Dia tentu juga tidak menginginkan hal itu. Karena itu adalah pesan dari mendiang permaisurinya. Dia harus menepati janji demi kebahagiaan putra-putrinya. Tapi mungkin untuk Liana akan berbeda. Karena dia telah memiliki tali pertunangan sejak kecil karena perjanjian Kaisar terdahulu dengan saudaranya yang merupakan Ayah dari Wei Xiening.
“Li’er, kau salah paham pada ibu. Ibu melakukannya demi kebaikan Wan Feng.”
Ya ampun, Liana sampai jengah mendapati ketebalan wajah wanita itu. Tangannya selalu gatal ingin mematahkan rahang orang-orang dengan topeng ganda di wajahnya. Wanita benar-benar tahu caranya bersembunyi di balik topeng. Mungkin dia hanya pernah membuka topeng itu satu kali. Yaitu saat Liana pertama kali terbangun di tubuh Zhu Liana dan menuduhnya sebagai gadis pembohong yang berpura-pura bisu dengan nada sinisnya.
Liana dapat menebak bahwa kala itu Wen Canran tengah mengalami frustasi karena rencana yang ia susun tidak berjalan dengan semestinya. Yah mungkin, biasanya orang yang tidak stabil emosinya karena itu.
“Selir Wen, ketahuilah batasanmu! Kamu masih begitu muda untuk mengalami kepikunan. Padahal aku sudah berusaha mengingatkanmu berkali-kali untuk jangan mencoba menjadi seorang nyonya di kediaman ini. Ibuku masih memiliki gelar Zhumu yang tidak akan pernah bisa kau ambil begitu saja meski dirinya telah tiada. Dan ya, kau bahkan tidak pantas untuk menggantikan tempatnya. Kau bukan ibuku!” Ucapan Liana begitu dingin dan tajam membuat ruangan itu seolah dituruni badai salju. Lidahnya yang bagai duri seperti menyayat kulit hingga menembus organ dalam bagi orang yang mendengarnya.
Bahkan Zhu Moran merasa petir menyambar di dekatnya saat itu. Merasa ikut tersindir karena tidak bersikap tegas pada selirnya. Putrinya itu juga sedang memperingatinya. Liana sudah berkata seperti itu maka dia tidak bisa menolong siapapun. Putrinya itu memang benar-benar mengingatkannya pada Wei Xiening. Aura keduanya bahkan sangat mirip satu sama lain. Dan mereka sama-sama orang yang terang-terangan.
“Selir Wen, ambil hukumanmu setelah ini. Pukulan balok sebanyak lima kali karena telah melanggar aturan rumah tangga.”
“Tapi, Li’er ....”
“Sudah ku katakan, ketahuilah batasanmu, Selir Wen! Kita tidak sedekat itu hingga kau bisa memanggil namaku sesuka hati. Itu menjijikkan!” Bahkan Liana sampai membentaknya. Mengirimkan intimidasi untuk membuatnya tunduk dan menurut.
“Baik, Nona ke-dua.” Wen Canran tak bisa menyangkal lagi, topengnya telah retak, mau tak mau dia harus melepasnya juga. Dia mengeratkan giginya menahan kekesalan yang ada memandang diam-diam dengan tajam pada Liana.
Tak ada yang berkomentar setelah itu, Liana mengusir Wen Canran dari ruangan. Dia akan membicarakan sesuatu dengan Zhu Moran.
Tapi sebelum Wen Canran sempat melangkahkan kakinya keluar ruangan, Liana kembali menghentikan gerakannya.
“Oh ya, jangan lupa serahkan buku akuntan padaku besok pagi. Setelah ini aku yang akan mengurus kediaman, kau bisa bersantai dan melayani ayahku dengan tenang.”
Sambaran petir sekali lagi terdengar, namun kali ini tepat di telinga Wen Canran. Jika gadis itu mengambil alih kuasa untuk mengurus kediaman, maka dia tak ayal hanya akan menjadi selir biasa.
__ADS_1
Dia tahu bahwa token keluarga masih berada di tangan Wei Xiening yang entah sekarang ada dimana, mungkin di sembunyikan oleh Zhu Moran. Dia sudah berusaha dengan keras sedari dulu agar mendapat kuasa atas token tersebut. Tapi sampai sekarang garis dari batang token itu bahkan tak pernah dilihatnya.
Jika sekarang Liana ingin mengambil alih mengatur akuntan yang memang sedari dulu adalah haknya sebagai putri sah di keluarga Zhu. Lalu posisinya hanya akan merosot dan jatuh ke jurang yang dalam. Dia tentu tak mau itu terjadi.
“Tapi, Nona ke-dua. Tidakkah kau terlalu muda untuk urusan seperti ini, biarkan aku saja yang mengurusnya.” Dia masih ingin mempertahankan kuasanya di tempat ini. Sungguh tidak tahu malu memang.
Tapi, siapa Liana? Dia tak perduli orang-orang akan mempermalukannya setelah ini jika rumor tentang dirinya menindas selir sang Ayah menyebar. Jadi apapun yang akan wanita itu rencanakan di masa depan. Dia hanya akan memakan semuanya secara rakus dan membuangnya bagai kotoran. Tidak perduli apapun kata orang selama itu tidak menyakiti orang-orang yang seharusnya memang dia lindungi di tempat ini.
“Kenapa, selir Wen? Aku bahkan belum memperhitungkan caramu mendidik seorang anak. Kau tahu, putri asuhanmu itu bahkan berani membangkang pada kakaknya sendiri, mengatai diriku bodoh dan kehilangan akal. Bahkan berani menyumpahi Nyonya kediaman yang tak lebih dari seorang yang sudah mati. Apa seperti itu caramu mendidiknya? Dia seperti nona muda yang tak memiliki etika sama sekali. Sekarang aku semakin meragukanmu dalam urusan rumah tangga jika begini.” Lidah tajam itu sudah kembali melontarkan duri-durinya. Liana adalah seorang yang terlalu jujur meski ucapannya dapat menyakiti orang lain, dia akan mengatakan kebenarannya.
Karena bagi Liana kebohongan manis akan lebih menyakitkan jika terlambat diketahui.
Bahkan Wen Canran yang seorang pesilat lidah yang handal membeku seketika mendengar ucapannya, melirik Zhu Moran yang memiliki ekspresi sama tapi sepertinya pria paruh baya itu tidak memiliki niatan untuk menegur Liana. Jadi, Wen Canran hanya bisa mengeraskan rahanganya dengan benci. Akhirnya dia mengalah untuk saat ini saja, memutuskan untuk menuruti Liana dengan rencana di kemudian hari.
Dia pergi dengan wajah tertekuk. Mengadu pada kekosongan, berteriak marah dan melayangkan sumpah serapah pada gadis muda arogan.
Dia mengobrak-abrik barang di kediamannya setelah sampai. Bahkan para pelayan yang selalu melayaninya merasa heran. Yang mereka tahu, selama ini selir Wen adalah orang yang ramah, lemah lembut, sangat baik hati dan masuk akal. Tapi sekarang apa yang membuat wanita itu begitu marah? Mereka menjadi takut. Mereka tak tahu saja bahwa majikan yang mereka yakini sebagai wanita berbudi luhur itu adalah ular dengan seratus bisa yang mematikan. Bersembunyi di balik kegelapan dan memberi racun untuk membunuh mangsanya secara diam-diam. Sangat kejam!
“Zhu Liana, aku akan membunuhmu. Ja**lang kecil, aku tidak akan membiarkanmu mengganggu rencanaku. Kau akan mati sama seperti wanita itu. Heh, kalian adalah ibu dan anak, bukan? Maka matilah dengan hal yang sama.”
Wen Canran menggeram rendah, memandang bayangannya di cermin yang tengah tersenyum dengan menyeramkan. Di dalam otaknya sudah tersusun sebuah rencana licik.
~o0o~
Note:
__ADS_1
Oke, disini aku menuangkan seluruh emosiku pada Wen Canran! 😅
Yuhuu! Jangan lupa untuk memberi KRITSAR!