[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana

[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana
57-Pertarungan di Atas Akar Bakau


__ADS_3

Hujan belum juga berhenti dan malam juga semakin larut. Namun suasana menyeramkan di kedalaman hutan tersisihkan karena rengekan, celotehan dan gerutuan bocah laki-laki yang terus memaksa Liana untuk mengubah nama pemberiannya.


Liana merotasikan bola matanya semakin jengah. Haih, bocah ini sebenarnya diberi makan apa? Sudah satu jam lamanya dia tak berhenti mengoceh.


"Hmm! 'Chao' memang sangat cocok sebagai namamu," ucap Liana akhirnya setelah sekian lama menahan rasa panas di telinganya.


Sedangkan si bocah laki-laki hanya menganga tak dapat percaya. Segala usahanya, mulai dari bertingkah menggemaskan bahkan sampai menangis, gadis di depannya itu sama sekali tak merasa tersentuh atau kasihan sama sekali. Hei! Bukankah penampilannya tidak begitu buruk? Dia tampan dan manis, menurutnya.


Jadi apa yang salah?


"Mana bisa seperti itu? Tuan Muda ini adalah orang yang sangat berwibawa. 'Berisik' itu tak cocok untuk dijadikan nama. Ayolah, Nona. Kau sangat cantik dan terlihat pintar. Bagaimana mungkin memberi nama seperti itu pada Tuan Muda ini."


Liana menghentikan langkahnya terus berbalik menatap bocah laki-laki dengan satu alis terangkat dan satu tangan yang bertengger angkuh di sebelah pinggangnya. Dia tak ayal bagaikan seorang nyonya majikan yang hendak memarahi pelayan kecilnya yang tidak bekerja dengan baik.


"Chao adalah namamu mulai sekarang. Tadi kau sendiri yang memintaku untuk memberikanmu nama, jadi jangan protes. Lagi pula kau bukan orang, maka terima saja." Liana kembali melangkahkan kakinya setelah mengatakan kalimat tersebut, meninggalkan si bocah laki-laki yang mematung. Sampai ....


"Huwaa! Kau gadis yang kasar dan tidak berperasaan. Bagaimana bisa? Kau sama sekali tidak terpengaruh oleh pensona anak kecil yang menggemaskan seperti diriku." Chao, bocah laki-laki itu berguling di atas akar besar yang merapat sambil mengerang tangis tak terima karena pesonanya sama sekali tak dapat mempengaruhi Liana.


Yah, mungkin ... mungkin saja gadis serba putih yang bahkan belum menyebutkan namanya itu tidak memiliki hormon gairah sama sekali. Dia pasti tidak normal. Pikirannya bocah itu bahkan berkelana ke mana-mana.


Liana sendiri kembali berhenti mendengar omong kosong Chao. Sudut bibirnya berkedut karena itu.


"Konyol!" Entah Liana mengatai dirinya atau bocah itu.


Tapi dia merasa suasana disini benar-benar konyol. Langit bahkan telah sepi kembali. Hujan juga berhenti namun suasana hutan masih sama saat pertama kali dia memasukinya, hanya saja rengekan Chao membuat suasana yang tadinya mencekam malah menjadi ramai.


Di tengah tangisan Chao, Liana mengernyitkan dahinya merasa ada sesuatu yang mendekati tempat mereka.


"Ck!" Liana berdecak sebelum akhirnya menyambar kerah pakaian Chao dan menyeret bocah itu untuk ikut naik ke atas pohon.


"Ahk! apa yang kau lakukan padaku? Lepaskan! Cepat lepaskan!" Bocah itu memberontak berusaha melepasakan cengkeraman Liana pada kerahnya, dia sulit bernapas, sungguh.


"Diam dan menurutlah."


Kaki Liana menapak mulus pada dahan bakau hitam yang lumayan besar. Melepaskan kerah pakaian Chao sambil tetap fokus menatap ke arah bawah, dimana ada sesuatu yang ia tunggu segera datang.


Chao yang tadinya hendak protes menjadi ikut bungkam melihat wajah serius Liana. "Apa ada sesuatu?" Dia berbisik.


"Mn, sesuatu yang besar," jawab Liana juga berbisik.


Dia segera menajamkan visinya dan melihat ada sesuatu yang bergerak di bawah akar-akar bakau, tepatnya ... itu berada di dalam lumpur.

__ADS_1


"Shiro, apa itu dia?" Liana semakin menyipitkan matanya saat sebuah ekor yang panjang terlihat oleh matanya.


"Benar, Tuan. Anda harus behati-hati. Ini agak tidak biasa." Shiro muncul tiba-tiba di samping Liana.


"Huwaaa! Ha- hantu!!!"


Bocah ini ... Liana benar-benar ingin menampar bokongnya atau jika bisa dia ingin mencekiknya supaya dia berhenti ribut. Hei, suasana disini sedang genting. Tidakkah fia tahu?


"Diam atau aku akan melemparmu ke bawah?" ancam Liana bernada dingin yang membuat Chao refleks menutup mulut dengan kedua tangannya.


Dia benar-benar diam meski banyak pertanyaan yang ingin ia ajukan pada gadis serba putih itu.


Siapa sebenarnya dia? "Memiliki Binatang Mitologi sebagai bawahannya, gadis ini sama sekali tak biasa. Pantas saja si tua Kun Lin itu menyuruhku untuk menyelidikinya." Chao, bocah itu mengalihkan perhatiannya pada sosok Shiro yang berada di samping Liana.


Dia tak memungkiri jika sekarang dirinya merasa sedikit tertekan dengan aura yang dikeluarkan makhluk cantik itu. Dan yah, "Sang Pegasus, dia belum mendapatkan kekuatan sejatinya."


Shiro yang merasa diperhatikan balik menatap Chao. Dia berkedip beberapa kali melihat tampilan bocah itu, rasanya sedikit tidak asing. Dia merasa pernah bertemu dengannya, tapi dimana?


"Dia datang!" Seruan Liana membubarkan acara tatap-tatapan Shiro dan Chao. Mereka serentak mengalihkan pandangan ke depan.


Suara gemeretak terdengar nyaring dari bawah sana. Sesuatu telah mematahkan akar-akar bakau dari dalam lumpur. Sebuah kepala yang nampak hitam dan berlumpur muncul di balik patahan akar.


Raungan amarah keluar dari mulut makhluk berlumpur itu. Penampilannya begitu aneh di mata Liana.


Itu nampak seperti Belut tapi memiliki sisik yang keras di punggungnya dan tanduk bercabang bagaikan rusa di bagian kepalanya.


"Makhluk apa itu?" tanya Liana dengan kerutan yang jelas terlihat di antara alisnya.


"Be- Belut Naga ...." Bukan Shiro yang menjawab, melainkan Chao yang kini matanya terbuka begitu lebar menyaksikan kengerian di depannya.


"Ha?!" Liana yang tak paham malah memiringkan kepalanya. Belut Naga? Apa itu? Sangat aneh.


"Tuan, dia adalah Belut setengah Naga, Binatang Iblis yang memiliki sedikit darah Naga dalam tubuh. Makhluk itulah yang memancing Petir Kesengsaraan Langit. Tapi sayangnya, dia mungkin telah gagal menerobos kesengsaraan untuk menjadi Binatang Ilahi, dia tidak dapat bertranformasi menjadi Naga Sejati dan sekarang malah berubah menjadi Monster." Dan kali ini Shiro yang menjelaskan.


Mendengar kata Monster, Liana bereaksi sedikit berbeda. "Sebenarnya ada berapa jenis monster di dunia ini?" gumamnya. Kemudian dengan sekali kibasan tangan, sebuah pedang dengan bilah mengkilat muncul di tangannya.


"Tuan ingin menghadapi makhluk itu?"


"Jika tidak menaklukkannya sekarang, dia akan mengacau di masa depan." Pegangan Liana pada gagang pedangnya semakin erat seiring dengan bertambah fokus dirinya pada sekitar. "Lima, enam, tujuh .... Beberapa orang bergerak kemari. Sepertinya mereka juga mengincar makhkuk ini."


Tanpa mengatakan hal lebih jauh lagi, Liana melesat menghampiri Belut Naga yang masih mengamuk.

__ADS_1


Tindakannya jelas membuat Chao terkejut. "Apa kau tidak mengkhawatirkan Tuanmu?" Pertanyaan itu tiba-tiba saja terlontar dari mulutnya pada sosok Shiro yang masih berdiri tenang di tempatnya.


Sang Pegasus sedikit menarik bibirnya membentuk senyum tipis, amat tipis hingga seseorang dapat ragu mengartikan itu sebagai senyuman jika melihatnya. "Tuan memiliki kemampuan untuk menghadapi makhluk itu," jawabnya tenang membuat Chao menatapnya tak percaya.


Chao memang tak dapat melihat tingkat kultivasi Liana, tapi dia merasakan aura gadis itu masih berada pada tingkat Penempaan Qi. Apa yang bisa di lakukan oleh gadis Penempaan Qi pada Binatang Iblis yang berubah menjadi Monster dengan kekuatan menyamai Binatang Ilahi.


Chao ingin menyangkal hal itu, hanya saja melihat betapa percaya dirinya sang Pegasus dengan kemampuan majikannya, dia terdiam dan mulai memperhatikan hal yang membuatnya tercengang di bawah sana.


Liana dengan gesit mengayunkan pedang ditangannya dengan gerakan menebas. Hanya saja, sisik pada Monster Belut tak hanya keras tetapi juga licin. Ini akan susah untuk hanya menggoresnya.


Apalagi sekarang belut itu semakin marah dengan tindakan Liana. Tubuhnya yang sepanjang lima puluh meter dengan lebar tujuh meter itu sudah menggeliat di atas akar bakau, dia tak lagi berada di dalam lumpur. Kini penampilan penuhnya telah nampak di mata Liana.


Yah, memang agak mirip seperti Naga yang ada di buku. Makhluk Mitologi dari daratan Asia yang selalu dilambangkan sebagai kekuatan yang mendominasi.


Meski tak dapat menggores kulit bersisik Monster Belut, dampak yang di timbulkan dari ayunan pedang Liana dapat menghempaskan pohon yang lebih kecil di sekitarnya. Kekuatan yang ia keluarkan memang tidak main-main. Dia benar-benar mengerahkan segalanya untuk menghadapi Naga jadi-jadian itu.


Shiro sendiri nampak menyaksikan dengan santai, tidak tegang seperti hal nya Chao yang kini malah menggigit jarinya gugup. Padahal bukan dia yang bertarung.


Yah, Shiro tahu seberapa kuat Tuannya itu. Jika saja ini masih Liana saat di Perburuan Musim Semi, gadis itu bahkan tak akan mampu menyentuh Monster Belut.


Kekuatan Liana memang telah meningkat secara signifikan. Gadis itu berlatih sangat keras di dalam dimensi, dan dia sendiri yang menyaksikan seberapa gigihnya Liana.


Rasa khawatir memang ada, hanya saja kepercayaan Shiro pada gadis itu lebih kuat dari ketakutannya sekali pun. Gadis serba putih itu adalah majikannya. Dan majikan sang Pegasus tak pernah menjadi orang biasa. Heh, alasan itu pula yang membentuk kesombongan dari Ras Kuda Putih Bersayap tersebut hingga mengalami akhir kemusnahan. Sayang sekali.


Kini beralih kembali pada Liana yang masih menghadapi Monster Belut.


Liana dapat melihat aura kebencian yang besar menguar dari tubuh makhluk itu. Aura yang selalu ada pada para Monster karena suatu alasan.


Makhluk itu terus berteriak marah pada sosok gadis serba putih seolah telah melihat musuh bebuyutannya. Dia tak dapat berbicara sebagaimana Binatang Suci dan tak dapat mengubah wujudnya selayaknya Binatang Ilahi pada umumnya. Sebab, dia telah menjadi Monster karena gagal menerima Petir Kesengsaraan Langit.


Dan itu semua terjadi karena ulah para manusia serakah yang hendak memburunya. Dia benar-benar marah sekarang karena awalnya hendak menjadi Binatang Ilahi sang Naga yang agung, namun sekarang malah menjadi makhluk rendahan yang menyeramkan. Dia tidak menerimanya, sungguh.


~o0o~


Hahaha, ternyata Chao ... dia siapa ya? :v


Dia bukan orang, kata Liana. Tapi juga bukan makhluk binatang ajaib juga... lalu apa hayo? tebak lagi!


So, maaf karena akhir-akhir ini banyak banget hari bolongnya... yaah, aku tahu resikonya... pembaca harian jadi menurun... but Its oke...


Ya, ayo keluarin ide kalian lagi... karena ide-ide dari kalian juga ngebantu aku berimajinasi... makasih lho...

__ADS_1


__ADS_2