[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana

[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana
124-Menuju Benua Tengah


__ADS_3

Ketika waktu keberangkatan Liana sudah tiba, semua teman-teman dan keluarganya ikut mengantarkannya dari gerbang.


“Berhati-hatilah saat kau sampai disana.”


Hari ini, Zhu Moran sengaja mengambil cuti dari pengadilan pagi hanya untuk mengantarkan Liana pergi. Dia nampak sangat enggan sehingga wajahnya terlihat jauh lebih tua dari hari-hari biasanya. Dan mungkin karena banyaknya masalah yang menimpa kediaman Perdana Menteri akhir-akhir ini, sudah banyak rambutnya berubah putih. Dia tidak sebugar di masa lalu.


Liana mengkhawatirkan ayahnya, tetapi dia memang harus pergi. Dengan menjadi lebih kuat, dia juga akan jauh lebih mampu untuk melindungi orang-orang yang berada disekitarnya.


“Tenanglah Ayah, Xian Gege juga akan ikut bersamaku,” bisik Liana dengan pelan di dekat Ayahnya.


Yah, Wei Wuxian memang mengatakan untuk ikut berasama dengan dirinya. Mereka adalah pasangan yang telah bertunangan, agaknya diperbolehkan untuk terus saling bergantung satu sama lain.


Namun tidak semua orang mengetahui tentang Wei Wuxian yang akan ikut pergi bersamanya. Hanya mungkin Zhu Moran, Wan Feng dan sang Kaisar yang tahu tentang itu.


Orang-orang hanya mengetahui jika sang Pangeran ke-tiga tiba-tiba pergi menghubungi Kaisar kemarin sebelumnya untuk suatu tugas mendadak. Yah, informasi ini pun hanya orang-orang istana dan para pejabat tinggi saja yang mengetahuinya, mereka adalah orang-orang yang tahu tentang kondisi Wei Wuxian yang sebenarnya. Dan untuk detailnya pun, tak ada dari mereka yang tahu pasti apa yang terjadi.


Setelah berpamitan beberapa saat lagi dengan orang-orang yang dikenalnya, Liana berjalan meninggalkan Manor Perdana Menteri dengan menunggang hewan roh berbentuk kuda putih. Yah, kuda putih yang tak lain adalah Shiro yang mengambil wujud kuda roh biasa, tidak ada akan mengenalinya sebagai Bianatang Legendaris, sang keturunan terakhir dari ras Pegasus.


Kuda Shiro berlari dengan santai di jalanan ibu kota yang lumayan ramai.


Liana berpakaian dengan sangat biasa sehingga orang-orang tidak akan tahu jika dia adalah Nona Muda Pertama dari perkebunan Perdana Menteri. Dan lagu pun, dia memang jarang menampakan diri di depan umum.


Tetapi masih banyak juga yang meliriknya sekilas dengan terpaku.


Seorang gadis muda berpakaian putih dengan kuda putih nampak sangat heroik saat berjalan-jalan di jalanan ibu kota, apa lagi gadis itu juga memiliki penampilan yang baik seperti bangsawan dengan aura yang sekilas jika melihatnya akan membuat orang lain ingin menghormatinya.


Bisikan pujian dan rasa ingi tahu dari rakyat dapat Liana dengar, tetapi dia mengabaikannya. Dia hanya menatap lurus ke jalan yang berada di depan.


Sebentar, gerbang ibu kota sudah terlihat. Banyak orang yang berjalan keluar masuk baik dengan kendaraan mereka atau hanya sekedar berjalan kaki.


Ini adalah kedua kalinya Liana keluar dari gerbang kokoh itu. Pertama kalinya ketika dia berangkat pergi ke akademi Yilongfei. Dan kali ini dia memiliki tujuan yang berbeda dan lebih jauh untuk menapaki jalur keabadian yang sulit.


Mungkin karena berita keberadaan Monster yang telah diketahui oleh Kaisar, para penjaga di beberapa tempat di Ibu kota dan bahkan lebih khusus di setiap gerbang utama di ke-empat penjuru menjadi lebih ketat dari biasanya.


Orang-orang yang keluar masuk akan diperiksa identitasnya satu per satu.


Namun pemandangan ini masih sangat tertib, tidak ada yang memperotes tindakan sang Kaisar yang sudah lama dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana. Dia telah memenangkan hati rakyat sedemikian rupa hingga mereka menaruh sebagian besar kepercayaan mereka padanya. Setidaknya, sampai saat ini belum ada yang menimbulkan keributan yang berarti.


“Nona, kartu identitas.” Seorang prajurit penjaga berseragam lengkap dan memiliki penampilan yang cukup garang untuk dapat menakuti anak-anak, berbicara kepada Liana dengan suara dan nada yang tetap datar dan tegas.


Liana sedari dulu memang adalah warga Negara yang patuh, dia mengikuti prosedur yang ada, mengeluarkan slip giok dengan ukiran rumit dengan karakter namanya. Itu adalah tanda identitasnya.

__ADS_1


Saat melihat slip giok yang berkilau dan tembus pandang di bawah sinar matahari, prajurit penjaga itu mengubah ekspresinya menjadi terkejut. Hanya sejenak sebelum kembali pada dirinya yang tenang.


Dia tentunya mengenali benda itu dan segera mengembalikannya pada Liana.


Namun kali ini nada suaranya menjadi lebih lembut dan ringan. “Nona Muda Zhu, silahkan lewat.” Saat dia mempersilahkan Liana dengan kudanya keluar dari gerbang Ibu Kota.


Bagaimana pun, Liana tidak perduli dengan sikap ramah Penjaga. Dia segera menarik kekang kuda sebelum melaju perlahan meninggalkan tempat itu.


~o0o~


Tak sampai beberapa Li* dari gerbang Ibu Kota, Liana kembali berhenti.


Note: 1 Li \= 500 meter.


Dia melihat siluet seseorang yang berdiri di bawah naungan pohon bersalju, bersandar di batangnya dan dengan linglung memandangi bunga teratai yang ia pegang.


Yah, dia tengah membawa bunga teratai di musim dingin. Dan itu mekar dan masih sangat segar seperti baru saja dipetik langsung dari kolam.


Liana tidak lagi heran dengan keanehan geografis di Tiga Benua yang sudah menjadi dunia ajaib. Dia hanya melihat pria itu dalam diam dari atas kudanya.


Mungkin karena menyadari seseorang tengah memandangnya, pria itu langsung mengangkat kepalanya, mata mereka langsung bertemu.


Pria itu yang tak lain adalah Wei Wuxian memandang Liana sebentar sebelum akhirnya menampilkan senyum tipis kemudian dia berjalan mengahampirinya.


Wei Wuxian mempercepat langkahnya hingga tak berapa lama dia sudah berada di dekat Liana saat dia tiba-tiba saja menarik gadis itu turun dari kuda.


Liana tersentak dari linglungnya saat merasakan tubuhnya mengambang di udara dengan sepasang tangan yang terasa panas di pinggangnya.


“Xian gege?!” Dia hampir menjerit karena terkejut dengan pergantian pristiwa yang tiba-tiba.


Saat itu dia sudah berada di pelukan Wei Wuxian dan mendengar gumaman pria itu.


“Hmm?” Suara magnetis yang mampu menghipnotis pendengarnya.


Wajah Liana tiba-tiba saja menjadi terasa panas. Dia tidak tahu sejak kapan dia mulai berdebar saat bersama Wei Wuxian.


Sebodoh-bodohnya Liana tentang hubungan dan perasaan, dia saat ini tahu jika dirinya sudah tertarik dengan pria itu.


Sedangkan Wei Wuxian, suasana hatinya yang buruk ketika Liana bersama dengan Shiro telah banyak membaik saat melihat wajah merah Liana. Entah mengapa dia merasa bangga dan juga merasa lucu melihatnya bertindak malu-malu di depannya.


“Yah, Li’er memang sangat menggemaskan.” Dia bahkan sampai bergumam dalam hati tentang betapa imut gadisnya.

__ADS_1


Shiro yang diabaikan sedari tadi telah kembali ke dalam ruang dimensi. Oh, lebih tepatnya dia dilemparkan kembali oleh Wei Wuxian. Bahkan Liana sendiri tidak menyadari jika pria yang masih saja memeluknya ini dapat mengakses ruang yang telah terhubung kontrak dengannya.


Tapi bahkan jika dia tahu, dia tidak akan menjadi bingung. Sebelumnya, Wei Wuxian adalah orang yang menciptakan ruang dimensi. Liana tahu itu dari dunia mimpi saat dia menyaksikan ingatan tentang kehidupan Bai Lan Jin.


“Xian gege?” Liana memanggil dengan canggung dalam posisi yang masih sama, dalam pelukan Wei Wuxian.


“Aku disini.” Wei Wuxian menjawabnya dengan ringan.


“Bisakah, bisakah lepaskan aku?”


Wei Wuxian bergumam tapi masih tidak melepaskan Liana.


“Ge?” Liana kembali memanggilnya.


“Ya, Li’er tidak suka dipeluk olehku?” Sebenarnya Wei Wuxian bermaksud untuk menggodanya. Tetapi ketika dia melihat reaksi Liana selanjutnya, dia benar-benar tidak ingin melepaskannya. Dia ingin terus mengurungnya disisinya, selamanya.


“Tidak, bukan itu. Aku ….” Liana entah mengapa menjadi gagap dan bersikap bodoh. Biasanya dia sangat rasional. Dan saat ini jantungnya berdetak sangat kencang.


Begitu pula Wei Wuxian, tatapannya menggelap saat wajahnya tiba-tiba sudah berada di depan Liana dan merasakan kelembutan gadis itu.


Liana, “Xi- hmp—”


!!!


Apa yang terjadi? Bibirnya telah dibungkam dengan tekanan yang dalam.


Liana dapat menghirup aroma dingin dari bunga teratai dari tubuh Wei Wuxian yang berada sangat dekat dengannya.


Wei Wuxian mengeratkan pelukannya dan semakin menekan wajah Liana untuk semakin dekat dengannya. Ingin merasakan betapa manisnya gadis itu dari bagian terlembut miliknya.


Liana sudah merasa pusing saat udara yang masuk ke dalam dirinya menipis. Sudah berapa lama Wei Wuxian menciumnya, dia tidak ingat. Hanya saja sekarang dia hampir kehabisan napas.


Tepat pada saat itu, Wei Wuxian melepaskannya dan melonggarkan kungkungannya. Menekan dahinya di dahi Liana saat napasnya masih berhembus cepat dan panas.


Wei Wuxian adalah pria dengan pengendalian diri yang kuat, tapi hanya saat bersama Liana, pertahanannya selalu dapat dirobohkan oleh gadis itu hanya dengan tindakan kecil darinya.


Mungkin karena takdir, dia menjadi begitu terikat dengan gadis itu.


~o0o~


Haiyo... maaf saudara-saudara.

__ADS_1


Baru bisa Up sekarang karena berbagai kesibukan dari minggu lalu, jadi nggak sempet nulis.



__ADS_2