![[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana](https://asset.asean.biz.id/-reinkarnasi--sayap-takdir--zhu-liana.webp)
Berbicara mengenai silsilah keluarga Zhu, Liana mengetahuinya dari cerita Ling.
Zhu Moran merupakan seorang Perdana Mentri Kekaisaran Naga yang merupakan salah satu dari tiga Kekaisaran di Benua Timur.
Mentri Zhu memiliki seorang Permaisuri bernama Wei Xiening yang merupakan adik sepupu kaisar saat ini, Wei Wangji.
Wei Xiening adalah ibu kandung dari Zhu Wan Feng dan Zhu Liana. Sayanganya sang Permaisuri tidaklah berumur panjang. Dia meninggal dunia karena kebakaran yang terjadi di Paviliunnya. Saat itu Zhu Liana masih berumur empat tahun.
Selain itu, Mentri Zhu juga memiliki tiga orang selir yang sebagian dipilihkan untuknya. Sebagai seorang pejabat tinggi negara, dia memang diharuskan memiliki selir meski tak ingin.
Selir pertama benama Wen Canran, dia adalah putri seorang selir dari keluarga Wen yang secara tak sengaja malah masuk menjadi selir Perdana Mentri. Dia juga sebenarnya adalah sahabat dekat dari Wei Xiening.
Banyak rumor mengatakan bahwa Wen Canran sengaja menggoda Perdana Mentri dan menaiki ranjang dari suami sahabatnya itu.
Entah rumor itu benar atau tidak, tapi itu benar menjadi buah bibir masyarakat dan menjatuhkan pamor kediaman Zhu yang dibilang bersih dari berita jelek dan memalukan.
Lebih-lebih bagi Wei Xiening selaku nyonya Manor. Dicibir sedemikian rupa sebagai wanita yang tidak bertanggung jawab pada rumah sendiri. Karena itulah Zhu Moran semakin didesak oleh pejabat lain untuk memiliki lebih banyak selir. Lalu dengan persetujuan sang istri, mau tidak mau dirinya hanya bisa menerima meski enggan.
Wen Canran memiliki seorang putra bernama, Zhu Lianhu, dia seumuran dengan Zhu Liana meski lebih muda beberapa bulan.
Lalu, selir kedua bernama Yuan Feihua. Yuan Feihua hanya memiliki seorang putri yang satu tahun lebih muda dari Zhu Liana bernama Zhu Weiling. Seperti yang telah disebutkan, dia adalah anak keempat atau putri kedua Keluarga Zhu.
Lalu yang terakhir bernama Yu Meiying yang merupakan selir ketiga kediaman Zhu. Selir ini memiliki dua orang anak kembar laki-laki dan perempuan.
Yang laki-laki bernama Zhu Wuxia dan yang perempuan bernama Zhu Yuxia. Mereka berumur 13 tahun, hanya beda beberapa menit. Zhu Wuxia merupakan kakak dari Zhu Yuxia yang berarti dia adalah anak kelima atau putra ketiga kediaman Zhu. Sedangkan Zhu Yuxia merupakan putri bungsu kediaman itu.
Dan sayang sekali, selir ketiga juga meninggal setelah dia melahirkan anak kembarnya. Dan sekarang si kembar diambil hak asuhnya oleh Wen Canran.
Ya, setelah kematian sang Permaisuri, Zhu Moran tidak lagi mengambil selir. Karena awalnya ia memang tak pernah menginginkan seorang selir, ia hanya ingin bersama permaisurinya. Akan tetapi para pejabat itu mendesaknya memiliki selir setelah insiden bersama Wen Canran.
Dia sungguh menyesal karena telah menghianati sang istri. Akan tetapi Wei Xiening tetap berkata dengan senyuman lembut padanya bahwa segala sesuatu yang terjadi memang sudah di takdirkan.
Akan tetapi siapa yang tahu bahwa itulah awal dari segala bencana yang terjadi pada keluarganya.
__ADS_1
~o0o~
Weiling dan Yuxia segera bersujud memohon maaf. “Kakak, maafkan kami. Kami salah, tidak akan mengulanginya lagi.” Weiling begitu histeris, bahkan airmatanya dalam sekejab luruh begitu saja.
Yuxia juga mengikutinya, bersujud memohon maaf dengan membenturkan kepala beberapa kali. Berharap hukuman mereka tidak dijalankan.
Liana hanya melihat keduanya tidak panas dan dingin, hanya datar dan datar. Hidup di kemiliteran membuat empatinya sedikit melonggar. Hukuman kecil seperti itu tak akan cukup bagi pembuat masalah.
Akan tetapi disini dia sekarang berperan sebagai Zhu Liana, melembut sedikit sepertinya tak apa. “Kakak, adik ke-empat dan adik ke-enam masih muda. Mereka bisa saja melakukan kesalahan. Hukuman rumah sepertinya terlalu berat,” ucapnya dengan nada melembut.
“Jadi, sebaiknya kita harus memaafkannya karena telah menghinamu dan ibu?” tanya Wan Feng. Nadanya seperti tak terima karena Zhu Liana begitu mudah memaafkan keduanya.
Liana menggelengkan kepalanya. “Aku tidak mengatakan untuk memaafkan mereka. Menghina ibu tetaplah sebuah kesalahan besar. Aku hanya bilang bahwa hukuman rumah sepertinya terlalu berat, sebaiknya ganti dengan hukuman lain,” jelas Liana.
Mereka bahkan mengacuhkan tangisan kedua gadis itu yang masih bersujud mendengarkan.
“Jadi, hukuman apa yang ingin kau berikan?”
“Karena Yuxia telah menghina ibu selaku Nyonya kediaman Perdana Mentri. Mengapa tak menyuruhnya bersujud di depan tanah Lianhua Yin setiap pagi dan memasang dupa disana? Dan untuk Weiling ... sederhana. Adik ke-empat bisa menyalin etiket kebangsawanan sebanyak sepuluh kali dan menyerahkannya padaku.”
~o0o~
Masalah mengenai hukuman Weiling dan Yuxia telah diputuskan. Yuxia benar-benar harus bersujud di depan tanah gersang yang semula adalah bangunan yang begitu indah itu. Dan Weiling menyalin catatan tentang etiket bangsawan. Sebenarnya Yuxia juga mendapat hukuman menyalin, tapi sebanyak lima kali.
Hanya saja mereka akan melaksanakan hukuman setelah perjamuan selesai supaya tidak menimbulkan rumor.
Mau tak mau mereka harus menurut sebab tidak bisa melawan perintah Wan Feng yang begitu menakutkan di matanya.
Saat ini, Liana beserta Wan Feng dan Ling juga pelayan Wan Feng yang bernama Hai Xia sedang menuju ke ruang baca Zhu Moran.
Weiling dan Yuxia sendiri di suruh kembali ke tempat mereka. Jangan berkeliaran atau hukuman akan ditambah, begitu ancaman dari Wan Feng membuat keduanya lari terbirit-birit.
Tuan muda pertama itu memang selalu tegas terhadap peraturan. Tidak berbeda jauh dengan Liana. Mungkin karena sama-sama hidup dalam dunia militer.
__ADS_1
“Li’er, hadiah apa yang kau inginkan dari kakak?” Wan Feng tiba-tiba bertanya di tengah jalan.
Liana menoleh ke arahnya. “Apapun yang diberikan kakak, aku tetap akan menerimanya.” Dia berkata dengan lembut meski tak ada senyuman. Sudah dikatakan bahwa wajahnya begitu kaku hingga lupa bagaimana caranya tersenyum kecuali dalam keadaan tidak sengaja maupun tidak disadari, mungkin.
“Baik, kalau itu yang Li’er katakan. Kakak akan segera menyiapkan hadiah yang bagus untukmu.” Wan Feng tersenyum dengan semangat. Kemarahan yang tadi dia rasakan pada Yuxia dan Weiling lenyap begitu saja. “Ayo!” Dia kemudian menarik tangan Liana agar berjalan lebih cepat menemui sang ayah.
Liana hanya menggeleng melihat Wan Feng. Laki-laki yang sekarang menjadi kakaknya itu begitu menyayangi sosok Zhu Liana. Entah kenapa dia menjadi begitu iri. Sebab yang dia tahu, keluarganya di dunia modern hanyalah sang ibu yang telah meninggal ketika dirinya bahkan baru mengetahui arti dunia.
Sejak meninggalnya sang ibu, Liana menjadi orang yang penyendiri, pemurung dan cenderung bersikap dingin pada orang lain. Hinga saat ini, kepribadiannya sebagai introvert benar-benar tak bisa di hilangkan begitu saja.
Saat mereka sampai di depan ruang kerja Zhu Moran, Liana dan Wan Feng berhenti di depan pintu karena mendengar suara wanita yang berbicara pada ayah mereka.
Liana sendiri mengernyitkan dahi, dia mengingat suara itu. Dia adalah wanita yang menuduhnya sebagai orang yang berpura-pura bisu saat pertama kali bangun kemarin.
“Suami, Wan Feng sudah dewasa. Sudah waktunya dia mencari seorang istri. Aku sudah berbicara pada nyonya Jiang mengenai putrinya.”
Wanita itu tidak lain adalah Wen Canran, selir pertama Zhu Moran. Selama ini dia menjadi wanita yang paling berkuasa di Manor. Mengatur segala urusan rumah tangga dan bersikap seperti seorang Nyonya kediaman padahal dirinya masihlah selir yang tidak jauh beda dengan seorang pelayan. Hanya satu tingkat lebih tinggi.
Liana menyipitkan matanya mendengar kalimat yang di lontarkan Wen Canran. Seorang selir belaka ingin mengatur pernikahan tuan muda di Manor, betapa tidak tahu batasan diri.
Liana menoleh pada Wan Feng yang kini sudah berwajah gelap. Samar-samar Liana dapat merasakan bahwa tangan Wan Feng berusaha untuk dikepalkan hanya saja dia masih menggenggam tangan Liana, mungkin takut menyakitinya.
Mereka berdua mendengar jawaban samar-samar Zhu Moran yang mengatakan akan memikirkan perkataan Wen Canran.
Ck, Liana tahu bahwa pria paruh baya itu terlalu lembut sebagai kepala rumah tangga. Dia tak menyalahkan sifat itu, malahan itu suatu yang baik. Hanya saja dia seharusnya juga memiliki ketegasan sebagai seorang pria. Tidak boleh menjadi begitu menurut hanya kepada seorang selir belaka.
Liana sendiri yang merupakan pelayan masyarakat mesti dibekali pengetahuan sejarah. Dia tentu tahu sistem dan adat istiadat zaman kuno ini. Dia tidak memiliki pemikiran pro maupun kontra tentangnya. Dia netral, sebab budaya memang memiliki ketentuan sendiri pada zamannya. Cepat atau lambat tentu akan berkembang. Itulah yang membentuk keseimbangan dunia.
Dia kembali melihat Wan Feng yang sepertinya berusaha keras menahan amarahnya yang hendak meluap-luap. Liana segera menggenggam tangan laki-laki itu lebih erat menyalurkan ketenangannya.
“Ayo masuk dan beritahu batas mana yang bisa dilangkahi wanita itu.” Nada bicara Liana begitu dingin membuat Wan Feng tertegun tapi dalam sekejab dia tersenyum kembali.
Dia mengangguk dan setelah itu Liana membuka pintu yang tadinya hanya mereka pandangi.
__ADS_1
~o0o~