![[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana](https://asset.asean.biz.id/-reinkarnasi--sayap-takdir--zhu-liana.webp)
Karena keasyikan berburu dan berbelanja. Liana dan Wan Feng hampir melupakan tujuan utama mereka ke pasar. Dan hari pun sudah mulai gelap tapi tak kunjung juga membuat pasar sepi malah mungkin bertambah ramai.
Yaa, dari awal memang keduanya ingin membeli kebutuhan untuk berburu nanti seperti senjata dan lainnya.
Keduanya yang masih di buntuti penjaga setia yang tak lain adalah Ling dan Hai Xia sebagai pembawa barang belanjaan. Mereka tak banyak bicara akan tetapi menangis dalam hati karena membawa begitu banyak barang-barang belanjaan para Tuan di lengan. Itu berat! Apalagi terus dibawa berkeliling yang malah hanya berjalan kaki. Beruntung tingkat kultivasi keduanya lumayan. Jika tidak, mungkin sudah pingsan di tengah jalan.
"Kau ingin membeli senjata seperti apa Li'er?" Wan Feng memulai percakapan dengan bertanya.
"Mungkin panah dan beberapa belati," jawab Liana santai.
Wan Feng menaikkan sebelah alisnya. "Sebenarnya Paviliun Jian Tie (Pedang Besi) di Manor banyak macam senjata. Tapi kenapa kau malah memilih untuk membeli?"
Benar, sedari tadi itu yang ingin ditanyakan Wan Feng pada sang Adik. Mengapa malah repot membeli senjata jika di rumah sudah ada banyak?
Liana menoleh ke samping dimana tepatnya sang Kakak berada. "Seingatku, senjata di Manor semuanya telah berada ditingkat Spiritual kelas menengah hingga tinggi. Tidak ada yang cocok untukku. Aku ingin senjata biasa."
Jawaban Liana benar-benar membuat Wan Feng ternganga. Adiknya ini ... memang unik dan memiliki pemikirannya sendiri. Di saat orang-orang malah berburu senjata Spiritual dengan kualitas yang semakin tinggi, tapi dia malah menginginkan yang biasa dan mengatakan bahwa senjata Spiritual tidaklah cocok untuknya. Wan Feng bahkan tidak tahu harus menyebut adiknya ini bodoh atau terlalu percaya diri. Jika orang lain mendengar perkataan adiknya itu, mungkin sudah dihujat berkali-kali sebagai orang yang sombong.
"Bukankah itu semakin baik? Perburuan Musim Semi bukanlah Perburuan yang menargetkan hewan biasa, tapi binatang ajaib, Li'er. Kau tahu itu, bukan?" Wan Feng menatap khawatir pada pada Liana.
"Kakak, apa yang kau tahu?" Liana membalas mencibir Wan Feng. Mungkin saat ini pemuda itu tengah memikirkan cara untuk mencekik adiknya di tempat. Lihat saja wajahnya yang kini sudah memerah dan hampir menghitam. Jika bukan adik sendiri, mungkin sudah menjadi santapan Serigala liar dibuatnya. Tolong! Siapa pun, beritahu Wan Feng untuk tetap bersabar menghadapi adiknya yang berlidah racun.
Sebelum Wan Feng membuka suaranya, Liana lebih dulu melanjutkan kalimatnya. "Senjata Spiritual tidak cocok untuk melatih kemampuan bela diri. Itu malah bisa jadi sebagai penghambat berkembangnya seseorang. Sangat sia-sia."
Aaa, Wan Feng tidak jadi memarahi adiknya. Tapi tetap saja .... "Li'er, menghadapi binatang ajaib dengan binatang biasa itu berbeda." Dia masih berusaha mengingatkan Liana tentang bahaya yang nanti dihadapinya.
"Aku tahu dan justru karena itulah. Semakin berbahaya maka semakin baik pula."
Wan Feng tidak lagi membalas perkataan Liana. Adiknya itu sangat keras kepala. Apapun yang ingin dilakukan maka lakukanlah, dia nanti yang berperan sebagai penjaga. Di akhir obrolan, Wan Feng malah menghela napas sembari menggelengkan kepalanya.
Sebenarnya alasan Liana menginginkan senjata biasa karena ... yah, Manual yang dia gunakan. Disana ada sebuah kalimat yang berbunyi, "Melampaui batas adalah Kekuatan". Dan Liana mencoba untuk mengartikannya sebagai Tantangan. Artinya, semakin dia mencoba untuk melampaui batas, maka dia akan semakin dekat untuk menembus batasannya sendiri dan akhirnya dia juga akan semakin kuat.
Karena itulah dia mencoba mengahadapi tantangan itu. Dan keberuntungan berpihak padanya. Pada Perburuan Musim Semi adalah tempat yang cocok untuk mencoba pemahamannya tentang Manual yang ia gunakan.
__ADS_1
Dan juga alasan lainnya adalah karena dia ingin melihat langsung bagaimana cara orang menempa senjata. Tapi tentu dia tidak akan memberitahu Wan Feng mengenai ini karena itu bukan alasan yang penting.
Lama mereka mengobrol hingga tak terasa tempat yang dituju sudah semakin dekat saja.
Tapi sebelum mereka mendatangi tempat penjualan senjata, di tengah jalan banyak sekali orang berkerumun melingkari sesuatu yang mungkin menarik bagi mereka.
"Ada apa disana?" tanya Liana penasaran.
Wan Feng menggeleng. "Tidak tahu. Hai Xia, coba periksa apa yang sedang orang-orang lihat!"
"Baik, Tuan Muda." Hai Xia memberikan barang yang dia bawa pada Ling kemudian segera melesat ke kerumunan memenuhi perintah majikan untuk melihat apa yang ada disana.
Beberapa saat kemudian dia telah kembali.
"Apa disana?" tanya Wan Feng ingin tahu.
"Anu, Tuan Muda. Ada orang-orang yang melakukan pertunjukkan. Mereka menyebutnya sebagai sulap," jelas Hai Xia mengenai informasi yang dia dapatkan.
"Sulap? Apa itu?" tanya Wan Feng sekali lagi karena dia baru pertama kali mendengar kata itu.
"Hamba juga kurang tahu, Tuan Muda. Tapi itu seperti sebuah atraksi atau pertunjukkan sihir. Tapi mereka sama sekali tidak menggunakan sihir."
"Sihir? Mereka orang-orang dari barat kah?" Kali ini Liana yang bertanya. Karena setahunya, sihir hanya dimiliki orang-orang barat yang Liana samakan sebagai bagian dari Eropa-Amerika.
"Nona Muda Ke-dua benar." Hai Xia mengangguk membenarkan.
Hmm, jadi benar-benar orang barat. Yah, Liana tidak heran.
"Ingin melihat?" tanya Wan Feng melihat minat Liana dari tampang wajahnya yang datar. Entah kenapa dia bisa mengetahui apa yang Liana rasakan, mungkinkah karena ikatan darah? Jika begitu, maka itu hebat.
"Boleh?" Liana balik bertanya meminta pendapat.
Wan Feng terkekeh mendengarnya. Tentu saja boleh, hanya melihat-lihat, bukan? Itu tidak berbahaya, mungkin.
__ADS_1
"Tentu, ayo lihat!"
Wan Feng kembali menarik tangan Liana, menuntunnya untuk menuju kerumunan. Sesekali menggeser orang agar bisa menonton dari depan. Dan dia malah mendapat umpatan karena menyalip.
Tapi setelah orang-orang itu tahu jika dia adalah Zhu Wan Feng, Tuan Muda Pertama dari Manor Zhu sekaligus Letnan Jenderal Kekaisaran, orang-orang itu dengan sendirinya bergeser memberi jalan untuk keduanya sembari berbisik tentang siapa gadis yang digandeng oleh sang Letnan Muda itu. Banyak yang bahkan mengira bahwa Liana adalah kekasih sang Letnan. Tapi siapa Liana? Siapa Wan Feng? Mereka hanya mendengar bisikan itu sebagai angin lalu dan hanya berfokus pada apa yang mereka saksikan di depan sana.
Ling dan Hai Xia mereka tinggalkan berdua di tempat itu dengan barang-barang belanjaan yang berat. Sungguh majikan yang sangat baik!
"Kau juga mau lihat?" tanya Hai Xia pada Ling yang masih berwajah tenang.
"Tidak, sebaiknya kau bantu aku membawa sebagian dari ini." Ling menjawab dengan ketus seraya menyerahkan sebagian barang belanjaan para Tuan yang tadi dititipkan padanya oleh Hai Xia.
Dia kemudian mendengus meninggalkan lelaki berwajah ceria itu.
"Sangat tega," pikir Hai Xia karena Ling mengabaikan dirinya. Kemudian dia lanjut bergumam, "Sungguh wanita yang sangat dingin!"
Hei, wahai Hai Xia. Jika dia tahu apa yang dipikirkan Ling saat dirinya melimpahkan beban padanya tadi. Mungkin dia tidak akan lagi berani bertemu dengannya barang sekejab.
Yah, Ling mengutuknya agar menjadi Kasim karena sebagai lelaki, Hai Xia malah melimpahkan beban berat itu kepadanya. Lebih baik gunakan rok saja!
Meninggalkan perang gaib antara Ling dan Hai Xia. Kini Liana juga Wan Feng tengah menatap serius pada dua orang pemuda yang ada di panggung kayu yang dibuat mereka secara dadakan.
Kedua pemuda itu memanglah memiliki ciri-ciri orang keturunan barat. Berkulit putih dan mancung.
Tapi yang menjadi perhatian Liana adalah laki-laki yang berdiri di tengah panggung. Dia adalah seorang dengan rambut pendek pirang dengan mata unik berwarna biru yang cantik.
Dan yang Liana tidak menduga ialah, laki-laki berambut pirang itu begitu fasih melafalkan bahasa Negerinya, Negeri Timur. Meskipun masih ada sedikit campuran logat barat, tapi itu cukup membuat orang-orang disini mengerti apa yang dia ucapkan.
~o0o~
Oh ya! Kemarin Visual Hai Xia kelupaan...
__ADS_1
Dia wakilnya abang MC kita yak... sekaligus pelayannya sejak kecil.