![[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana](https://asset.asean.biz.id/-reinkarnasi--sayap-takdir--zhu-liana.webp)
Weiling yang semulanya ingin mempermalukan Liana malah merasa telah mempermalukan diri sendiri. Ditambah bisikan orang-orang membuat tangannya semakin terkepal dibalik lengan hanfunya yang panjang.
Dia tidak bisa mengungkapkan satu pun kata. Apalagi kini dia sedang berada di tengah keluarga kekaisaran juga perwakilan negara lain. Habis sudah citranya. Dan semua ini karena Liana, saudari sampahnya itu. Sampai kapan pun gadis itu akan menjadi benalu dalam hidupnya. Gadis itu adalah batu yang selalu membuatnya tersandung. Tanpa sadar, dia malah menambah kebencian pada Liana.
Ah, naif dan tak sabaran. Itu mungkin tanggapan Liana pada Weiling jika dia tahu apa yang ada dipikiran gadis itu tentangnya.
"Hmm, jika kau tak malu mengiringi tarian yang buruk dariku juga tak masalah. Aku akan mengabulkannya supaya tak membuat adik lebih malu."
Guhk! Banyak orang yang tiba-tiba menyemburkan minumannya saat mendengar perkataan Liana. Mereka terkejut!
Apa yang terjadi dengan otak Nona Muda Ke-dua Zhu itu? Bisakah dia tidak mempermalukan Weiling lebih jauh jika menari dengan buruk?
Sedangkan Wan Feng yang menyaksikan dari jauh sudah tertawa cekikikan di dekat sang Ayah.
"Ayah, kenapa aku memiliki saudari yang seperti itu? Dia begitu hebat dalam berkata konyol tanpa merasa salah."
Zhu Moran sendiri sudah mengusap wajahnya berkali-kali. Entah kenapa dia juga merasa malu dengan sikap Liana yang tidak seperti gadis lainnya. Dia seolah bukan makhluk seperti mereka. Dia bebas dan tak terkekang. Jiwanya begitu luas tanpa takut tekanan. Mempermalukan diri sendiri bukanlah hal yang harus ia perdulikan. Tapi meski begitu, Liana adalah putri yang ia sayangi.
Begitu pun dengan Lanhua yang kini tengah menahan tawanya mati-matian. Jika berlangsung lebih lama, citranya sebagai seorang putri harus ia relakan merosot. Dan Wuxian malah tersenyum melihat gadisnya yang aneh tapi unik.
"Hahaha!"
Tiba-tiba gelak tawa seseorang mengalihkan perhatian semua orang.
Di keramaian para tamu, seorang pemuda dengan rambut pirang dan mata birunya begitu tergelak sendiri.
Heboh sambil memukul meja, dia mengabaikan tatapan aneh dari orang-orang.
"Nona Liana, anda sangat pandai membuat lawakan. Sangat lucu!"
Sebenarnya dimana letak lucunya dari perkataan Liana? Jika tidak memperhatikan, maka pertanyaan itulah yang muncul di benak orang-orang.
Tapi jika orang benar-benar memahami kalimat itu, mereka akan mengerti. Liana hanya mempermalukan Weiling dengan caranya sendiri. Dan dampaknya memang mengundang tawa bagi orang yang mengenal Liana. Dia hanyalah sampah tak berguna, bukan begitu?
Liana mengatakan dia tak bisa menari karena membencinya, tariannya juga begitu buruk.
Jika saja Weiling benar-benar mengiringi tarian Liana yang buruk dengan musiknya yang terkenal indah. Hah, itu hanya akan menjadi lelucon untuknya. Dengan artian lain, Liana ingin mengatakan Zhu Weiling adalah gadis yang bodoh.
Rencana yang dia buat hanya akan berakhir membuatnya malu.
__ADS_1
Banyak tamu yang tiba-tiba mengerti dengan itu pun tertawa pelan.
Liana menyunggingkan senyumnya tipis. "Saya tersanjung dengan ucapan anda, Pangeran dari Virth," ucap Liana merendahkan tubuhnya dan mengangkat sedikit gaun hanfunya memberi hormat ala barat pada pemuda pirang itu.
Zeith hanya tersenyum setelah itu. Tidak dia sangka, kunjungannya ke Benua Timur untuk yang pertama kali akan seluar biasa ini. Tidak hanya bertemu leluhur, tapi juga mendapat hiburan yang menyenangkan.
Weiling sendiri sudah mati kutu disana. Dia tak bisa berkata apapun lagi setelah Liana angkat bicara. Aaakh! Bodoh!
Hanya mengumpati dirinya dalan hati. Tiba-tiba dia rubuh dan pingsan di tempat dengan konyolnya, mungkin karena terlalu malu hingga pertahanan dirinya melemah begitu saja dan membuatnya tak sadarkan diri.
Yah, dan acara itu menjadi kacau. Tak ada yang mau naik untuk pertunjukkan. Tapi tak ada yang kecewa karena pertunjukkan dari Nona Muda Ke-dua Zhu telah memberikan hiburan berbeda pada mereka.
Mungkin saat siuman nanti, Weiling tak akan berani menampakkan wajahnya di depan semua orang untuk beberapa waktu ke depan. Dan yah, mungkin juga akan banyak dari orang-orang itu melupakan bahwa yang menghibur mereka hanyalah nona sampah dari Manor Zhu.
Ah, baiklah. Liana memang berbeda.
~o0o~
Malam semakin larut, tapi Liana belum juga beranjak ke dalam tenda untuk beristirahat. Duduk di atas batu memandangi gelapnya malam dengan taburan miliaran bintang sambil menikmati angin dingin menerpa wajahnya. Dia memejamkan mata sejenak.
Namun ketenangannya itu segera terusik karena suara semak yang bergoyang tak jauh dari tempatnya.
Dia menajamkan visinya untuk melihat di dalam gelap. Memperhatikan semak yang terus ribut di depannya.
Dengan pelan Liana melangkah ke sana. "Tunjukkan dirimu, aku tak suka bermain petak umpet!"
Dengan segera Liana mengeluarkan belati yang selalu ia bawa di bali pakaiannya.
Mengambil ancang-ancang untuk menyerang, dia semakin dekat dengan semak-semak.
Suara krasak-krusuk terus terdengar hingga sesuatu tiba-tiba meloncat dari dalam sana mengagetkan Liana.
Sesuatu seperti bola bulu putih meloncat melewatinya.
"Kelinci?" Liana menarik sebelah alisnya ke atas merasa heran dengan wujud kelinci yang aneh. Baru pertama kali dia melihat seekor kelinci dengan tanduk bercabang seperti rusa meski dengan ukuran yang lebih kecil.
Dia lalu menyimpulkan jika kelinci bertanduk rusa itu adalah Hewan Roh setelah memperhatikan lebih teliti.
"Dari auranya terlihat masih berumur puluhan tahun. Hewan Roh level satu. Tak berbahaya." Liana menghela napas lega karena mengetahui bahwa Kelinci Roh di depannya itu bukanlah ancaman.
__ADS_1
"Huft! Sebaiknya aku beristirahat. Besok pasti melelahkan."
Dia beranjak dari tempat itu segera ke tendanya untuk beristirahat hingga matahari terbit esok hari.
Liana tak sadar jika tak jauh dari tempatnya itu, seseorang telah mengamati dirinya dari awal.
Sosoknya dengan tenang duduk di cabang pohon yang besar dan bersandar di batangnya. Dengan surainya yang panjang berwarna merah diterpa angin, bibirnya menarik sebuah senyuman penuh makna saat melihat punggung gadis serba putih itu menjauh dari sana. Pancaran matanya dalam tak terbaca.
Jika Liana melihatnya, dia akan mengenali siapa orang itu.
Tiba-tiba saja asap hitam berkumpul di dekatnya. Semakin lama asap itu membentuk wujudnya menjadi seseorang berpakaian serba hitam. Bisa dipastikan bahwa orang utu adalah pengawal gelap.
"Yang Mulia." Orang serba hitam itu segera bersimpuh dengan satu lutut sambil menundukkan kepalanya memberi hormat.
Sosok bersurai merah hanya terdiam dan tanpa menoleh pada si pengawal gelap.
Pengawal gelap itu mengerti, bahwa orang yang ia panggil dengan sebutan Yang Mulia itu alias Tuannya menginginkan informasi dari tugas yang ia laksanakan.
"Mereka mulai bergerak. Ajang perburuan kali ini mungkin tidak akan berjalan dengan semestinya. Kami juga menemukan mata-mata mereka dari beberapa negara. Apa yang harus kami lakukan selanjutnya, Yang Mulia?"
"Terus awasi. Kalian hanya boleh bertindak jika situasinya memang sudah tidak memungkinkan."
"Baik, Yang Mulia." Pengawal gelap itu menjawab dengan tegas. Tapi setelahnya dia seperti menciba mengatakan sesuatu tapi masih ragu. Dan itu di sadari oleh sosok berambut merah.
"Katakan apa yang ingin kau katakan, Chen."
"Yang Mulia, apa anda tidak menemui si darah murni? Anda hanya mengamatinya dari jauh selama bertahun-tahun."
"Belum saatnya. Tunggu dia yang mencari diriku."
Sosok bersurai merah itu kembali tersenyum penuh arti. Dan matanya masih tak terbaca menatap tenda tempat dimana Liana beristirahat. "Aku menunggumu." Dia bergumam.
Bersamaan dengan itu keduanya menghilang di udara tanpa meninggalkan jejak jika mereka pernah berada di sana.
~o0o~
Hai Hai!
Nih ku kabulin buat yang malam mingguan, sendiri di rumah. Kayak aku *~*...
__ADS_1