![[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana](https://asset.asean.biz.id/-reinkarnasi--sayap-takdir--zhu-liana.webp)
Liana yang tengah mengobrol dengan Lanhua merasakan aura familiar mendekat ke arahnya. Dia segera berbalik untuk melihat siapa yang datang.
Senyumnya segera mengembang melihat wajah manis Wuxian yang kini juga menatapnya lembut.
Sebenarnya posisi Liana dan Lanhua agak sedikit berjauhan dengan orang-orang di perjamuan. Mereka memilih tempat yang sedikit orang di sana. Keramaian selalu menjadi sesuatu yang tak bisa membuat Liana nyaman. Jadi dia mengajak Lanhua untuk mengobrol sendiri.
Sebenarnya sang Putri seharusnya bersama keluarga Kekaisaran. Hanya saja gadis itu terlalu keras kepala. Dia malah lebih memilih bersama Liana. Katanya bersama orang-orang istana selalu membuatnya sesak. Sangat jujur.
"Xian gege! Kau kemari?" Liana dengan antusias berdiri dari duduknya menghampiri Wuxian.
Dia bahkan mengabaikan Lanhua yang bingung di tempatnya. Sang Putri belum menyadari keberadaan kakaknya. Dan juga dia terkejut karena Liana mampu menyadari keberadaan yang sangat tipis itu. Seberapa tajam visinya?
Wuxian tersenyum kepada Liana. Dia segera meraih tangan gadis itu saat sudah berada di dekatnya.
Entah apa yang terjadi? Tapi semua orang dapat merasakan keberadaan Wuxian saat bersama dengan Liana.
Lanhua bahkan membulatkan matanya tak percaya. Kaisar juga anggota kekaisaran lainnya merasakan hal sama.
Apakah mereka pasangan yang telah ditakdirkan? Begitu pertanyaan dalam pikiran orang-orang yang memang mengetahui kondisi sang Pangeran Ke-tiga.
"Mn, Xian mencarimu," jawab Wuxian pelan agar hanya Liana yang mendengar dirinya. Akan terasa aneh jika orang lain mendengar gaya bicaranya yang berbeda pada Liana.
Yaah, dia memang akan menjadi orang yang berbeda jika berhadapan dengan gadisnya itu.
"Huum, aku tak melihatmu saat di istana. Xian gege dimana saat itu?" tanya Liana. Dia memang tak melihat sang Pangeran Ke-tiga saat berada di istana tadi pagi.
Wuxian tidak menjawab, tapi dia hanya tersenyum membuat Liana bingung sendiri.
"Ya sudah kalau kau tak ingin mengatakannya. Ayo kita duduk sebelum perjamuan selesai."
Liana segera menarik tangan sang Pangeran menuju meja yang dia tempati dengan Lanhua tadi. Sementara gadis itu masih terperangah di tempat melihat sang Kakak di depan matanya.
Meskipun sering berpapasan di dalam istana, Lanhua jarang sekali melihat Wuxian jika sang Pangeran tidak menyapa terlebih dahulu.
Yaah, dengan kepribadian kakaknya yang pendiam seperti itu, tidak lagi mengherankan. Tapi melihat tatapan mata sang kakak pada gadis tunangannya, membuat Lanhua entah kenapa merasa lega. Hanya Liana yang mampu membuat Wuxian menjadi sosok yang lembut. Tidak dingin seperti biasanya.
__ADS_1
Tapi hal itu juga membuatnya merasa iri pada sosok Liana. Tapi ta sudahlah, keduanya adalah pasangan yang benar-benar cocok.
"Kakak Ke-tiga," ucap Lanhua segera merendahkan kepalanya memberi salam pada Wuxian selaku kakaknya.
Wuxian mengangguk sebagai balasan. "Adik ke-enam terlalu sopan." Dia berkata pelan, tak ada jejak emosi di dalamnya. "Kembalilah duduk."
"Terimakasih atas kemurahan kakak Ke-tiga."
Lanhua kembali duduk pada tempatnya dengan anggun. Sedangkan Liana yang sedari tadi menyaksikan interaksi keduanya hanya membuang napas. Betapa kakunya hubungan keluarga dalam istana?
"Xian gege, mari kita juga duduk. Sepertinya acara puncaknya sebentar lagi tiba."
"Mn." Wuxian mengangguk.
Benar saja yang dikatakan Liana. Acara akhir perjamuan benar terjadi setelahnya. Pembawa acara yang ditunjuk Kaisar maju ke tengah-tengah semua orang dimana sebenarnya pertunjukkan diadakan.
Dia segera mengumumkan tujuannya. "Yang Mulia Kaisar, Permaisuri, para keluarga Istana lainnya dan para tamu yang terhormat. Inilah akhir acara di malam ini sebagai sambutan acara perburuan di esok hari sebagai inti. Saya mengumumkan kepada semua tamu yang ingin menampilkan bakatnya untuk maju ke depan sebagai sarana untuk memeriahkan perjamuan kita malam ini."
Para tamu segera menjadi riuh. Para wanita berbisik-bisik, begitu pula dengan para lelaki.
Ini akan menjadi ajang adu bakat dan keterampilan sekaligus untuk menarik perhatian para tamu juga anggota istana maupun lawan jenis mereka. Dan juga untuk mencari relasi yang kuat sebagai pendukung hidup. Tujuan yang sangat jelas sekali.
Berlenggak-lenggok dengan halus adalah kelemahannya. Dia lebih suka bergerak gesit dengan tinju dan tendangan kasar juga kuat. Lebih suka membawa tubuhnya menantang adrenalin. Dia tak bisa menjadi perempuan halus seperti kebanyakan orang. Dia adalah sang Jenderal Wanita. Hal seperti menari bukanlah bakatnya sedari dulu. Jadi, lupakan saja.
Tapi apa yang bisa diharapkan Liana saat ini. Ada orang yang membencinya, ada orang yang ingin menjatuhkannya.
"Yang Mulia, semoga anda selalu diberi keberkahan panjang umur dan kejayaan dalam hidup."
Seorang gadis cantik nan anggun maju ke tengah memberi salam hormat pada Kaisar. Gadis itu tak lain adalah Zhu Weiling, adik tiri Liana yangs selalu merasa bangga diri karena bakat dan kecantikannga.
Kaisar mengernyit sedikit karena tidak begitu mengingat gadis di depannya itu. Tapi dia melihatnya bersama rombongan Zhu Moran. Jadi sepertinya dia adalah salah satu nona muda Zhu juga, adik dari keponakannya.
"Katakan kehendakmu nona muda Zhu!" titah sang Kaisar penuh wibawa.
"Yang Mulia, hamba ingin memainkan musik untuk pertunjukkan. Tapi hamba juga ingin ada penari yang mengiringi musik hamba. Jika berkenan, gadis kecil ini ingin kakak Ke-dua untuk menari sebagai pengiring musik, bisakah Kaisar mengabulkan?"
__ADS_1
Weiling menunjuk Liana yang berada di pojokkan bersama kedua anggota istana itu. Sedari awal dia sangat ingin mempermalukan kakak tirinya, hanya saja kesempatan itu tak kunjung datang juga. Dan sekaranglah saatnya, dia tahu Liana tak memiliki bakat apapun jadi mempermalukan dia saat ini. Apapun yang terjadi, dia harus membalas hukuman tempo hari.
Liana yang medengar namanya disebut pun hanya merajut alisnya hingga mengkerut di tengah-tengah. Setelah itu dia mendengus.
Kenapa adiknya itu tidak kreatif sama sekali? Pembalasan macam apa ini? Diam-diam dia merasa kecewa. Sebenarnya dia menunggu pertunjukkan yang menarik dari saudarinya itu.
"Haah, permainan anak-anak," gumamnya pelan.
"Li'er, kau bisa menari?" tanya Wuxian yang sepertinya juga mewakili Lanhua.
"Tidak," jawab Liana cepat.
"Huh, sepertinya dia ingin mempermalukanmu Liana. Gadis busuk itu ..." geram Lanhua seraya mengumpat Weiling dengan tak sabar.
Kaisar sendiri merasa heran dengan permintaan Weiling. Semua orang tabu jika Liana tak memiliki bakat sama sekali setelah kebakaran itu. Dia tak pernah belajar empat keterampilan wanita karena terus mengurung diri di kediamannya.
Mata Kaisar menyipit saat memandang Weiling. Gadis ini ... penuh tipu muslihat dibalik wajahnya yang terlihat polos.
Namun pandangannya beralih pada Liana yang terlihat tenang disana. Dia mengangguk pelan namun berkata, "Kenapa kau memilih Li'er?" tanya Kaisar pada Weiling. Namun kebanyakan orang lebih terfokus pada panggilan intim Kaisar pada keponakannya itu. Benar-benar disayang.
Weiling sedikit gugup saat akan menjawab tapi dia berusaha membuat dirinya terlihat normal. "Ha- hamba mendengar jika kakak Ke-dua hebat dalam menari. Karena itulah ...."
Belum sempat Weiling menyelesaikan jawabannya. Liana tiba-tiba berdiri dan memotong, "Dari mana adik ke-empat mendengar berita itu? Sepertinya kau sama sekali tidak mengenal diriku, adik."
Dia berjalan perlahan nan anggun ke tengah. Mengabaikan bisikan orang yang dari tadi berdengung bagaikan nyamuk mengenai topik yang terjadi saat ini.
"Kakak ke-dua."
Liana menatap Weiling yang kini sudah berada beberapa langkah di depannya. "Aku sama sekali tak bisa menari karena aku membencinya. Kau tau adik, aku juga tak memiliki bakat apapun dengan itu, tapi kau mengatakan hal yang sebaliknya disini. Apakah kau ingin mempermalukan diriku?" tanya Liana santai.
Padahal bagi sebagian orang, apa yang dikatakan oleh gadis berpakain putih itu adalah sesuatu yang bisa dibilang sebagai aib. Tapi dia malah mengatakannya dengan begitu mudah tanpa beban.
Weiling sendiri merasa kelu, tidak tahu membalas dengan apa. Sepertinya dia tidak belajar dari masa lalu. Dia tak ingat bagaimana tajamnya duri beracun dari lidah Liana.
Mempermalukan diri sendiri untuk membuat orang lain lebih jatuh darinya bukanlah hal yang membuatnya ragu.
__ADS_1
Bagi Liana, jika seseorang ingin mendorongnya ke dalam jurang, maka ia akan menarik orang itu juga untuk jatuh bersama. Atau bisa saja dia membuat orang yang mendorongnya sebagai tempat mendarat. Dia tidak akan merasa sakit jika jatuh seperti itu.
~o0o~