![[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana](https://asset.asean.biz.id/-reinkarnasi--sayap-takdir--zhu-liana.webp)
Wuxian berkedip menatap Liana, dia tidak menjawab tapi mengeluarkan suara seperti, ‘ah!’ pelan lalu segera berbalik. Kembali berjalan di depan dengan dituntun jalan oleh Tuan Kota, mereka akan melihat halaman dan kamar tempat mereka menginap lebih dulu sebelum makan malam.
Di sisi lain, Liana diam-diam kembali mengulum senyumnya tidak keberatan atas tindakan Wuxian. Dia malah merasa lucu, pemuda itu berkomitmen untuk tidak menyangkal atau menyetujui julukan yang beredar untuknya, tapi dia sekarang tengah memperlihatkan jawaban untuk pertanyaan Liana bahwa dia bukanlah orang yang bodoh. Ah, baiklah, ini juga bisa disebut sebagai jawaban.
Tapi orang-orang di sekitar mereka yang tidak mengerti dan masih takut-takut untuk kembali berbicara. Berpikir jika sang Pangeran ke-tiga tengah marah. Weiling dan Yuxia diam-diam menatap Liana, agak khawatir. Tapi mereka masih tidak bisa bersuara saat melihat gadis serba putih itu masih tetap tenang seperti biasanya.
Keempatnya dituntun ke sebuah halaman besar yang ada di kediaman Tuan Kota. Lumayan bagus meski tidak sebagus bangunan di Ibu Kota, tapi itu adalah tempat tinggal yang cukup nyaman. Terdapat beberapa pohon Prem yang menghiasi halaman itu dan bangunannya juga nampak baik dan terurus. Sepertinya biasa digunakan untuk menyambut tamu.
“Yang Mulia, halaman sederhana ini adalah bangunan terbaik yang kami miliki. Harap apakah Yang Mulia tidak keberatan untuk tinggal di dalamnya?” Tuan Kota itu membungkuk dengan sedikit penyesalan.
Kota yang ia perintah tidak semakmur dan sekaya Ibu Kota. Tergolong cukup miskin dari kota-kota lainnya. Tapi keunggulan kota ini adalah penduduknya memang cukup ramah dan bersahabat, membuat suasana kota lebih hidup dan hangat.
Kualitas hidup masyarakat di kota itu memang jarang di atas rata-rata, tapi Liana juga memperhatikan, pengemis-pengemis di jalanan juga tidak banyak dan mereka tidak ada yang terlihat sampai sangat menyedihkan. Bahkan ada beberapa orang yang sepertinya rajin memberi mereka makanan.
Meski Liana dapat melihat Tuan Kota ini pandai menjilat, tapi sepertinya itu hanya karena takut, bukan untuk naik tangga. Yah, Liana sepertinya tidak bisa membenci orang tipe ini, mereka hanya ingin bertahan hidup sedikit lebih lama. Walau pun masih agak menjengkelkan.
Wuxian mengangguk sedikit melihat halaman yang lumayan baik itu. “Ini sudah cukup.” Dia memberikan sebuah kantung koin pada Tuan Kota, kemudian berkata, “Tolong siapkan makan malam dengan itu, sisanya ... kau bisa membagikan kepada pengemis.” Wuxian tahu lelaki paruh baya ini, meskipun tampaknya sama dengan pejabat yang ada di istana, tapi dia sepertinya punya harga diri. Toh dia memang tak kekurangan uang, sebab itulah dia menyuruhnya untuk membagikan sisa uang itu pada Pengemis.
Tuan Kota sekali lagi menunduk hormat. “Akan kami siapkan, Yang Mulia.”
Setelah itu, dengan isyarat Wuxian, dia berbalik meninggalkan halaman. Mengintruksikan beberapa pelayan untuk menyiapkan sajian makanan terbaik untuk tamu.
Kini tinggal mereka berempat dengan para pelayan dan penjaga yang sudah diatur di posisi mereka. Wuxian melihat tiga bersaudari itu satu persatu dengan terakhir pandangannya yang jatuh pada Liana. “Kalian bisa beristirahat terlebih dahulu, aku perlu bicara pada Li’er,” ucapnya.
Itu membuat kedua gadis kembali merasa khawatir. Mereka melirik Liana takut-takut dan mendapati gadis serba putih itu mengangguk pada mereka. “Pergilah, kalian perlu beristirahat dari perjalanan panjang, seseorang pasti akan memanggil kalian ketika waktunya makan malam.”
Setelah mendengar perkataan Liana, Weiling dan Yuxia dengan enggan pergi meninggalkan pasangan itu.
Setelah kepergian dua saudari Liana. Wei Wuxian segera meraih lengan gadis itu dan mengajaknya keluar dari kediaman Tuan Kota untuk berkeliling kota tanpa pengawalan.
“Kemana kita akan pergi?” tanya Liana.
“Ku dengar, mereka akan mengadakan Festival Lentera Musim Gugur malam ini. Ayo lihat!”
“Ah, benarkah?”
__ADS_1
“Um!”
Liana terkekeh dengan jawaban singkat sang Pangeran. Seperti tengah merajuk. “Maka, baiklah.” Dan dia akhirnya menyetujui usulan itu dan membuat bibir Wei Wuxian naik.
Oh, sepertinya Liana melupakan kejadian di atas derek saat Wuxian menggodanya. Dan sekarang sepertinya dia juga tidak tahu jika dia telah masuk perangkap sang Pangeran yang berperut hitam.
Benar, lupakan saja apa yang kan terjadi di masa lalu dan masa depan. Mereka hanyalah pasangan aneh yang baru mengetahui apa artinya menjadi pasangan.
~o0o~
Langit hari itu sudah berubah gelap saat mereka mencapai alun-alun kota. Sangat ramai dengan orang-orang yang terus berlalu lalang. Tempat itu sebenarnya cukup dekat dengan pasar, dilihat dari bagaimana ada beberapa stan atau kedai-kedai kecil pedagang yang berdisi di sisi jalan, menjajakan dagangan mereka.
Beberapa aksesoris yang sepertinya kebanyakan terbuat dari daun maple yang merah dan kuning atau yang berbentuk seperti itu dijual. Juga manisan dan camilan lainnya. Yah, cukup semarak dengan tambahan lampion dan lentera warna-warni yang cantik dengan berbagai bentuk yang lucu-lucu juga menarik.
Terlepas dari itu, banyak juga pasangan muda yang berjalan-jalan menikmati waktu kebersamaan mereka.
Dari apa yang di dengar Liana dari kebisingan, sebenarnya Festival Lentera Musim Gugur di kota ini juga sering di sebut sebagai Festival Cinta. Aih, dan sekarang Liana mengerti mengapa Festival ini disebut begitu. Karena akan ada semacam acara seperti event yang memungkinkan para pria dan wanita muda yang belum menikah untuk mencari jodoh yang cocok menurut mereka.
Salah satunya adalah memberikan Lentera pada orang yang mereka sukai, jika di terima, mungkin mereka akan melanjutkan hubungan dengan lebih serius. Yah, pokonya yang seperti itulah, seperti ajang pencarian jodoh. Cukup menghibur untuk dilihat.
“Nah, apa maksudnya semua ini? bukankah kau bilang pada Tuan Kota untuk menyiapkan makan malam?” Saat ini, kedua tangan gadis serba putih itu sudah penuh dengan berbagai jajanan yang dibeli dengan sengaja oleh Wuxian, padahal dia tidak meminta pemuda itu untuk membelinya sama sekali. Dan lagi pula dia tidak akan bisa memakan semuanya. Lalu, sebenarnya dia tidak mengerti apa yang dipikirkan Wuxian. Akan tetapi, ketika melihat wajahnya yang tanpa ekspresi dengan alis yang ditekuk ke dalam, Liana mengerti, sang Pengeran masih merajuk.
Tapi tepat setelah perkataannya berakhir, Wuxian merebut semua makanan yang ada di tangan Liana. “Jika tidak mau, ya sudah.” Lalu dia memakannya dengan cara yang lucu, menurut Liana.
Gadis itu sendiri hanya dapat terpana dengan tindakannya yang selalu tidak dapat Liana mengerti. Hah, apa itu? sepertinya sang pangeran benar-benar marah. Marah hanya karena Liana bertanya apakah dia benar-benar bodoh?
Oh, ya ampun! Haruskah dia sekarang bermain peran untuk membujuk bayi besar?
“Ge ...?” panggilnya, tapi Wuxian hanya berjalan di depan dan mengabaikannya.
Liana ingin terkekeh. Dia benar-benar curiga jika jiwa sang Pangeran dan Zanzhu Ren Zuxian kembali terpisah. Um, baiklah. Itu hanya pikiran konyolnya, jadi lupakan. Karena tidak mungkin.
“Ge~” Liana memanggil dengan lebih lembut tapi tetap di abaikan. Dia hanya bisa menggeleng lalu berjalan lebih cepat untuk mensejajarkan langkahnya dengan pemuda yang merajuk.
“Wei San Gege! Apa kau benar-benar marah? Padaku?” Dia sudah berada di depan Wuxian dan menghadang langkah pemuda itu.
__ADS_1
Sungguh, dia tidak benar-benar mengerti pikiran sang Pangeran. Jika dia marah, mengapa malah mengajaknya untuk melihat Festival? Hanya saja, meskipun tidak mengerti, Liana sudah beberapa kali melihat perubahan emosi pemuda di depannya ini, jadi dia sekarang memutuskan untuk bermain peran.
Wuxian mengalihkan pandangannya dari Liana. Tapi dia tetap tidak bergerak dari tempatnya. Masih diam.
“Baiklah-baiklah, apa yang kau inginkan dariku sebagai permintaan maaf?” Liana menyerah, dia tidak tahu cara membujuk orang yang marah, sungguh.
Wuxian yang masih mengalihkan pandangannya tiba-tiba menaikkan sedikit sudut bibirnya. Hanya sedikit dan dalam sekejab mata hingga Liana tidak dapat melihatnya. Dia kemudian berbalik lagi, memandang gadis penyuka warna putih itu dengan tatapan serius. “Benarkah, kau ingin mengabulkan keinginanku?” tanyanya.
Liana segera mengangguk cepat melihat pemuda itu tidaklagi mengabaikan dirinya.
“Bagus, kau tidak bisa menarik kata-katamu.”
Entah kenapa? Tiba-tiba Liana merasakan firasat buruk. “Apa ... apa yang kau inginkan?”
Wuxian tersenyum penuh arti. “Tidak sekarang.” Saat selesai mengatakan hal itu, dia melewati Liana dan kembali berjalan.
Liana masih terdiam di tempat, saat melihat senyuman Wuxian, firasat buruknya menjadi semakin kuat. Apa yang pemuda itu rencanakan? Dia tak tahu tapi juga tidak berani menebak. Semoga saja bukan hal aneh dan memalukan. Dia berdo’a dalam hati.
~o0o~
~*Teater Kecil
[Sebab Menghilangnya Kepolosan Xian Gege] Part 1
Xian Gege: Hari ini Li’er sangat cantik, dia tersenyum. Bagaimana caranya menyenangkan hati Li’er? (Bertanya dengan ragu pada angin, angin tidak menjawab.)
Chen (Penjaga Gelap): Yang Mulia? (Dia datang tiba-tiba dan langsung berlutut dengan satu kaki ditekuk.)
Xian Gege: Chen, bagaimana cara menyenangkan gadis?
(Chen langsung mengerti dan dia mengeluarkan sebuah buku dari tempat kosong.)
(Xian Gege melihat buku itu yang berjudul “Seratus cara merayu seorang gadis)
Chen: Buku edisi terbaru tahun ini, dijamin manjur.(Iklan)
__ADS_1
PS: Liana sering memanggil Wei Wuxian dengan Xian Gege, diambil dari nama belakangnya. Berbeda dengan Bai Lan Jin yang memanggil Zanzhu Ren Zuxian dengan Xian Gege—yang berarti “kakak peri”. Xian dari Xiānnü 仙女. Yah dia memanggilnya peri karena sering menyelamatkan dirinya.
~o0o~