[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana

[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana
52-Ikut Dalam Pelelangan


__ADS_3

Masalah serangga dalam mangkuk mie terselesaikan. Kedatangan pelayan yang mengantar pesanan untuk si pria tambun menjelaskan semuanya.


Pelayan itu adalah seorang gadis muda yang energik. Dia dengan tegas menjelaskan bahwa pesanan yang dia antarkan sangat bersih.


Awalnya pria tambun masih bersikukuh dan menyalahkan pelayan itu. Tentu saja gadis pelayan itu mengelak karena dia tidak pernah merasa melihat serangga apalagi menaruhnya dalam mangkuk mie hingga sampai ke meja si pria tambun. Dan dia malah dengan keras menyalahkan si pria tambun dengan alasan pria itu hanya ingin menjatuhkan kedai mie tempatnya bekerja. Sebab dia juga mengenal di pria sebagai pesaing tuannya si pemilik kedai.


Dari awal dia sudah mencurigai pria itu karena memang selama ini dia selalu berusaha untuk membuat kedai Mie Ting jatuh. Hanya saja dia tidak pernah berhasil. Lalu hari ini juga. Dia ingin sekali mengusir pria tambun tersebut, hanya saja tuannya selalu mengingatkannya bahwa pembeli itu adalah raja. Jadi dia terpaksa meladeni pria itu yang tentunya dengan wajah kusut.


Perdebatan terus terjadi di antara mereka. Namun akhirnya si gadis pelayanlah yang menang. Tuduhannya atas pria tambun mendapat kesaksian dari seorang pelanggan yang duduk dekat di meja pria itu.


Pelanggan tersebut mengatakan jika dia melihat sendiri si pria tambun memasukkan serangga diam-diam ke dalam mangkuknya.


Ck ck ck! Liana menggeleng akan hal itu. Kenapa tidak dari tadi si pelanggan mengungkapkan kesaksiannya? Namun dirinya hanya diam menyaksikan semua perdebatan itu sambil menunggu mie yang belum juga sampai ke mejanya.


Yah, kasus benar-benar selesai. Pria tambun itu mendapat tuntutan atas nama pencemaran nama baik. Mungkin besok dia harus gulung tikar dari bisnisnya di ibu kota. Kasihan? Tidak, tidak. Itu memang salahnya telah memfitnah orang lain.


Ingat! Tak pernah ada kejahatan yang sempurna.


"Maaf, Nona dan Tuan Muda. Sebelumnya, saya Ting Bo, pemilik kedai mie ini. Terimakasih telah membantu kedai kami." Ting Bo, pemilik kedai menghampiri tempat duduk Liana dan Wan Feng.


Keduanya saling berpandangan sebelum akhirnya Wan Feng balik memperkenalkan dirinya dengan Liana. Sedangkan gadis itu hanya acuh saat melihat tatapan terkejut si pemilik kedai.


Ting Bo tak menyangka, gadis yang akhir-akhir ini sering dibicarakan orang-orang ibu kota malah duduk santai di kedainya.


Dia telah banyak mendengar rumor tentang Liana dari pembicaraan para pelanggannya yang sering berkunjung. Mulai dari betapa sombongnya dia, julukannya si sampah dari Manor Zhu, si tak berguna, lalu yang terakhir adalah tindakan cepatnya yang melaporkan keberadaan monster hingga desas-desus gadis serba putih yang melerai pertempuran peserta yang terpengaruh ilusi Bunga Iblis di kawasan hutan sekitar Bukit Awan.


Ting Bo merasa aneh dengan rumor-rumor itu. Jelas kini dia tak percaya jika seorang Liana adalah gadis sombong tak berguna. Melihat dari bagaimana caranya menyelesaikan masalah, terlihat begitu santai namun luar biasa di matanya. Dia mengagumi gadis itu ketika memgungkapkan argumennya. Nampak seperti petugas pemerintahan yang berpengalaman. Sangat hebat! Begitulah pikirnya.


Akhirnya dia menyampaikan terimakasihnya sekali lagi pada pasangan adik dan kakak tersebut. Dia juga berkata bahwa keduanya dapat makan gratis di tempat ini selama kunjungan mereka. Dia benar-benar merasa lega karena kedainya tak jadi memiliki nama yang tercemar. Menurutnya memberi keduanya makan gratis sebagai tanda terimakasih juga belum cukup untuk itu.


Sementara Liana dan Wan Feng jelas dengan senang hati menerima. Makan gratis, siapa yang tidak mau? Hahaha.


~o0o~


"Fuah, aku sangat kenyang. Mie mereka benar-benar enak." Wan Feng berkata sambil menepuk perutnya yang terasa penuh saat mereka telah keluar dari kedai.


Liana juga mengangguk setuju dengan itu. Tak tanggung-tanggung, mereka berdua menghabiskan tiga mangkuk sekali gus masing-masing.

__ADS_1


Ting Bo sendiri agak menyesali perkataannya untuk memberikan mereka makan gratis di kedai miliknya. Diam-diam dia berdo'a supaya mereka tak datang setiap hari, karena jika iya, mungkin kedainya akan tutup lebih cepat karena bangkrut!


Ah sungguh, pikirannya sudah berlebihan. Tapi sebenarnya dia juga cukup senang karena pasangan adik kakak itu menyukai hidangan kedainya. Jadi yaah, semoga saja dia tidak benar-benar bangkrut nantinya.


"Jadi, sekarang ayo lanjutkan perjalanan," ucap Liana.


Dia berjalan terlebih dulu dengan Wan Feng yang mengejarnya juga Ling yang masih setia diam mengekor mereka. Dia juga dapat satu mangkuk mie gratis sebelumnya.


Masih dengan damainya mereka bertiga berjalan dan sesekali bercengkrama atau mampir ke kedai-kedai lain yang menjual berbagai hal.


Semakin mereka melangkah ke sebelah timur pasar, suasana semakin berbeda. Masih ramai, namun kawasan timur pasar memang terlihat lebih merakyat dari kawasan barat yang mana di sana adalah kawasan untuk orang-orang elit berbelanja karena kedai dan toko memang lebih besar dan mewah.


Sedangkan di bagian timur ini nampak para penjual memiliki lapak yang berhimpitan hingga membuat sesak. Benar-benar suasana pasar.


"Kita sampai."


Ketiganya berhenti di depan kerumunan orang-orang saat ucapan Ling terlontar tiba-tiba.


"Disini kah?" tanya Liana agak heran. Dia sebenarnya membayangkan tempat pelelangan seperti auditorium sederhana atau paling tidak ya sebuah lapangan kecil dengan panggung di tengahnya.


Itu tepat di tengah jalanan pasar dengan oranh-orang bersorak memperebutkan barang. Nampak tidak terorganisir namun sebetulnya pelelangan ini lumayan tertib. Ada penjaga juga di setiap sudut, mereka bertugas untuk mencegah keributan tak perlu. Ya kalau-kalau ada para juru lelang maupun peserta yang berselisih.


Wan Geng juga. Sedari tadi dia sudah mengerutkan alisnya tak nyaman. Dia memandang sang adik yang masih diam memperhatikan kerumunan di depan sana.


"Ayo!" Tiba-tiba Liana berseru memberi instruksi untuk keduanya ikut maju ke dalam sana.


Namun Wan Feng segera menarik lengannya membuat langkah gadis serba putih itu terhenti seketika.


"Kau yakin, Li'er?" tanyanya nampak ragu.


Liana berkedip dua kali sebelum dirinya mengangguk. "Iya. Ini unik dan aku penasaran bagaimana aturan lelangnya."


Melihat keyakinan dan antusiasme Liana. Wan Feng dengan tekadnya yang naik, dia menghembuskan napasnya, menarik banyak udara dari hidung dan mengeluarkannya perlahan lewat mulut.


"Baiklah, ayo!" Dia menarik tangan Liana, berusaha menerobos kerumunan. Liana sendiri meraih tangan Ling untuk ikut bersama mereka membuat gadis pelayan itu tersentak kaget.


"Permisi, biarkan kami lewat. Permisi ... Permisi." Satu persatu orang berusaha digeser oleh Wan Feng.

__ADS_1


Sayangnya kerumunan itu terlalu fokus pada pelelangan. Mereka malah semakin berdempetan saat sang Letnan Jenderal berusaha memisahkan mereka. Namun bukan Wan Feng namanya jika dia mudah menyerah.


"Nyonya, tolong minggir sebentar, kami juga ingin ikut dalam lelang," ucapnya sedikit memohon.


"Aiyo! Anak muda. Kau mengagetkanku." Seorang wanita paruh baya dengan pakaian agak lusuh namun bersih berseru saat Wan Feng menepuk pundaknya.


Wanita itu memandang dari bawah ke atas dan dari atas ke bawah penampilan Wan Feng yang nampak seperti anak bangsawan. Orang kaya! Pikirnya.


"Aiyoyo, kau anak tampan ingin ikut pelelangan? Baiklah ...." Wanita paruh baya itu lantas mencolek dagu Wan Feng dengan genit. Pemuda itu jelas kaget dan menatap ngeri padanya.


Sedangkan Liana dan Ling diam-diam menahan tawa mereka melihat ekspresi sang Tuan Muda Pertama Zhu itu. Sangat lucu.


Wanita paruh baya kini beralih menatap dua gadis muda di samping pemuda tampan dan kaya yang ia lihat.


"Aaa, kalian juga ingin ikut?" tanyanya yang langsung diangguki Liana dan Ling serempak.


"Baik ...." jedanya sebelum ... "Teman-teman, mohon beri jalan untuk ketiga anak muda ini!" Wanita iti berteriak tepat di telinga mereka.


Wan Feng lantas menutup telinganya erat dengan tangan saat suara nyaring wanita itu bergema. Liana malah mundur beberapa langkah dengan tangan yang sudah bertengger menutup pendengarannya. Sedangkan Ling memejamkan matanya kaget.


"Apakah wanita ini berbicara dengan Qi? Suaranya sangat besar." Wan Feng bergumam dalam hati merutuki rasa sakit dari indra pendengarannya.


"Keras sekali." Liana juga membatin.


"He- hebat!" Sedangkan Ling malah memuji betapa menggelegarnya suara wanita itu yang ia taksir mungkin akan terdengar hingga ratusan meter jauhnya. Dia memang selalu mengagumi hal-hal yang luar biasa. Mungkin karena itulah dia menjadi begitu patuh pada Liana.


Sebab dari dulu dia selalu menyaksikan kesabaran dan tekad gadis itu, hal-hal aneh yang sering ia lakukan contohnya saat Liana selalu bangun pagi-pagi buta untuk berolah raga, dan juga ... dia tetap tersenyum dalam kebisuannya. Ling tak pernah melihatnya terpuruk dengan keadaannya yang saat itu bisa dikatakan cacat.


Mungkin bagi orang lain jika mengalami hal seperti yang dialami Liana, mereka akan lebih memilih mati.


Namun gadis itu tetap teguh dengan punggungnya yang selalu kokoh mendengar setiap hinaan dan cibiran orang pada dirinya.


Hal itu benar-benar membuat Ling kagum.


~o0o~


Okey! Ternyata kemarin diriku dapet rezeki, lumayanlah buat beli Voucher Wi-Fi... wkwk... Aku curhat lho ya... wehehe.

__ADS_1


__ADS_2