![[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana](https://asset.asean.biz.id/-reinkarnasi--sayap-takdir--zhu-liana.webp)
Tamu dari negara dan benua lain sebenarnya datang keesokan harinya melalui gerbang teleportasi yang sangat praktis dan ekonomis.
Seluruh orang di ibu kota sangat sibuk membersiapkan acara tahun baru yang meriah, ada yang menyambut arus yang datang dari luar ibu kota, banyak yang sudah menggantung lampion dan lentera merah di depan rumah masing-masing dan juga banyak di sepanjang jalan-jalan besar dan pohon-pohon di sekitar, benar-benar ramai hari itu, sangat semarak.
Tentunya kesibukan juga tak luput dari kediaman perdana menteri. Karena sudah tidak ada lagi seorang nyonya yang mengatur kediaman, Liana yang menjadi putri tertua lah yang bertanggung jawab untuk mengatur segalanya.
Dia benar-benar lelah, apalagi ada seorang penyihir wanita tua dengan mulut tajam yang sering kali merecoki pekerjaannya.
Dia pulang kemarin dan mendapati jika ada anggota baru yang tinggal di Manor, yang tak lain adalah seorang tetua dari klan pusat yang mengaku sebagai Bibi dari Ayahnya—Zhu Moran, dan yang berarti adalah nenek sesepuhnya dari klan Zhu.
Sayangnya, Liana tidak memiliki perasaan baik pada wanita tua itu saat mengetahui jika wanita tua itu sama sekali tidak menyukai dirinya dan bahkan agaknya memandang rendah Liana. Sebenarnya tidak hanya Liana, tetapi dia benar-benar sombong sebagai tetua dan tidak menyukai generasi muda.
Ditambah, dia benar-benar seorang ratu drama. Ah ya, dia sepertinya bernama Xie Ling’an, seorang kultivator yang tidak begitu berbakat, di usianya yang sudah hampir satu abad, dia masih mandek di Fondasi Alam Fana dan tidak bisa menembus ranah selanjutnya.
Dia juga sangat iri dengan orang-orang yang lebih berbakat darinya. Mungkin hatinya sudah menghitam oleh kedengkian.
Wanita tua benar-benar sangat menyebalkan. Mengandalkan kekuasaannya sebagai tetua, dia sering menyulitkan Liana dan penghuni Manor Perdana Menteri Lainnya.
Sebenarnya Liana bisa saja mengalahkannya di tempat jika bukan karena perkataan sang Ayah yang menyuruhnya untuk tetap menghormati wanita tua itu.
“Aagh! menyebalkan. Sebenarnya apa yang wanita tua itu inginkan? Diberi ini tidak mau, kita melakukan ini tidak boleh. Seolah-olah dia adalah Kaisar yang menguasai dunia. Jika bukan karena keluarga kita berhutang budi pada kakek ke-empat, aku benar-benar ingin menendang penyihir itu dari Manor.” Suara raungan frustasi datang dari Wan Feng yang berdiri di sisi Liana.
Mungkin karena dia yang sudah lebih lama tinggal di Manor dan lebih dulu mendapat masalah dari Wanita Xie itu, dialah yang sepertinya paling membenci Xie Ling’an.
Ah benar, Liana juga mendengar dulu kakek dari pihak Ayah yang sudah meninggal pernah diselamatkan oleh kakek ke-empat dalam klan Zhu. Itu juga sebabnya Wanita tua Xie itu sangat mengudara bahkan di depan Ayahnya—Zhu Moran.
Itu cerita lama, dan generasi itu sudah lama meninggal dalam perang, tapi seseorang memang benar harus membalas budi.
Liana hendak menghela napasnya, tapi segera terganggu oleh helaan napas lain yang berturut-turut di sekitarnya.
Dia memandangi semua saudaranya yang kini bersama dirinya duduk di kursi melingkasi sebuah meja dengan banyaknya kertas kertas yang menumpuk hampir membuat sebuah bukit kecil.
Dan seketika, semua orang juga saling memandang, terjadi keheningan sesaat sebelum semuanya tertaw serempak. Dan begitulah, seuasana yang tergang tiba-tiba mencair.
Dan sausana hati Liana juga sedikit membaik. Para-saudara-saudari berbeda ibu ini kini sudah kembali rukun seperti semasa mereka masih kecil. Berharap jika para saudara-saudarinya tetap rukun seperti ini dimasa depan.
“Aku juga sangat tidak menyukai nenek itu. Dia selalu memasanga wajah seolah-olah seluruh dunia berhutang padanya, dan dia juga selalu memarahi kita.” Kali ini suara manis seorang gadis muda terdengar, yang tak lain adalah Zhu Yuxia.
“Heh, bukankan kau juga sering memasang wajah berhutang seperti itu?” Dan saudara kembarnya—Zhu Wuxia menimpali.
“Hei, kapan aku melakukan itu?”
“Apa sekarang kau ingin berpura-pura lupa? Sebelum kak Liana sembuh, tampangmu setiap hari seperti monster ganas yang akan selalu mencari masalah pada orang lain.”
__ADS_1
“Hah?! Apa yang katakan? Coba ulangi!” Yuxia tiba-tiba berdiri sambil menyingsingkan lengan bajunya dan menatap ganas pada Wuxia, saudara kembarnya. Mereka kembar, tapi memiliki kepribadian yang sangat bertolak belakang hingga sering berkonflik sangat jarang mereka menjadi akur.
“Ku bilang kau seperti monster. Sangat jelek!”
Liana sedikit tertarik pada ucapan Wuxia, kemudian dia bertanya,“Apa kau pernah melihat Monster?”
Tiba-tiba mendapat pertanyaan dari Liana, Wuxia bingung sejenak sebelum kembali pada dirinya sendiri. “Ugh, tidak.”
“Lalu bagaimana kau tahu jika Monster itu jelek?” tanya Liana lagi.
Dan sebelum Wuxia menjawab pertanyaan Liana, Yuxia lebih dulu memberikan ejekan padanya. “Huh, Tidak? Berarti kau berbohong.” Dia meletakkan tangannya pada pinggulnya, menantang.
Wuxia, “Huh?! Aku tidak berbohong. Aku memang tidak pernah melihatnya? tapi di buku di katakan jika Monster itu adalah makhluk aneh yang lahir dari kebencian dan bentuk mereka benar-benar jelek.”
Yuxia, “Aku tidak percaya padamu. Kau pasti berbohong dan hanya mencari alasan.”
Wuxia, “Terserah kau mau percaya atau tidak, tapi faktanya kau benar-benar jelek!”
Yuxia, “Kau yang jelek!”
Wuxia, “Tidak. Kau yang jelek kerena tidak pernah memanggilku kakak. Aku lebih tua darimu.”
Yuxia, “Apanya yang lebih tua? Kita hanya berbeda tidak lebih dari waktu secangkir teh, mengapa aku harus memanggilmu kakak?”
Saudara kembar itu terus beradu argumen tetapi tidak benar-benar berkelahi. Membuat yang lain tertawa melihat keduanya yang sangat dekat satu sama lain, sepertinya.
Liana menggeleng memberi senyum kecil. Wan Feng tertawa terbahak-bahak, hampir terpingkal dari kursinya. Weiling menyembunyikan tawanya dengan kipas lipat. Dan Lianhu yang nimbrung, kewalahan memisahkan saudara kembar itu yang hampir baku hantam.
Suasana di dalam ruangan itu sangat hidup. mereka bahkan melupakan topik pembahasan tentang betapa menyebalkannya seorang pendatang baru yang merupakan seorang wanita tua bernama Xie Ling’an.
Sampai seorang pelayan wanita datang mengetuk pintu, ruangan menjadi hening seketika.
Para saudara se-Ayah itu saling memandang dengan bingung, memberi isyarat bertanya pada satu sama lain.
Laina akhirnya memutuskan untuk membuka pintu pada pelayan yang sepertinya datang untuk menyampaikan pesan.
“Ada apa?” tanya Liana kepada pelayan di ambang pintu.
Pelayan itu tetap menunduk sebagai bentuk sopan santun pada majikan, karena tabu bagi mereka untuk melihat langsung pada sang Tuan.
“Semua Tuan Muda dan Nona Muda di undang ke Aula oleh nyonya Tua Xie, ada yang ingin beliau umumkan.”
Tiba-tiba, suasana hati Liana yang mulai membaik kembali jatuh setelah mendengar nama yang disebutkan oleh pelayan kecil itu. Dan suhu di sekitarnya mendadak turun terlepas dari salju yang dingin di halaman.
__ADS_1
Palayan kecil di depannya sudah bergidik dengan kaki gemetar karena rasa takut. Sepertinya dia telah menyinggung Nona Muda! Dia hampir pingsan di bawah tekanan Liana.
Bahkan orang-orang yang ada di dalam juga merasakan tekanan yang menindas itu. Wan Feng yang memiliki tingkat ranah yang paling tinggi di antara mereka meengerutkan kening.
Adiknya itu sedang tidak bahagia, dan akhir-akhir ini, hanya satu orang yang membuatnya seperti itu.
Wan Feng juga berdiri segera menghampiri Liana, “Kali ini apa yang penyihir tua itu inginkan?”
Liana mengerutkan bibirnya tidak senang. “Aku memiliki firasat yang buruk setiap kali dia mengundang kita.” Setelah itu dia tidak mengatakan apa-apa lagi melainkan kembali ke dalam ruangan bersama Wan Feng yang mengikutinya meninggalkan si pelayan kecil yang kasihan, yang kini hampir mati lemas jika Liana tidak mengehentikan tekanannya. Hei! Dia hanya manusia biasa yang fana.
Setelahnya, pelayan itu segera berlari meninggalkan tempat para Tuan dan Nona Mudanya yang menakutkan.
Lalu, wajah semua orang buruk setelah mendengar ucapan Liana yang ia ulangi dari pelayan kecil itu.
“Dia sudah kelewatan, bukan? Menganggap Manor Perdana Menteri sebagai miliknya sendiri. Bertindak sebagai bos? Padahal Ayah belum pulang dari istana.” Lianhu yang jarang berbicara mengungkapkan pendapatnya.
“Bisakah aku memukul wanita tua itu sekali? mengapa dia mengingatkanku pada seseorang?”
Saat Weiling berbicara, semua saudaranya memandang dirinya dengan tatapan aneh dan pengertian diam-diam.
Liana, “Yah, persis sama.”
Wan Feng, “Persis sama.”
Yuxia, “Um, persis sama.”
Lianhu yang sepertinya tertiup angin dingin tidak dapat berkomentar, “….”
Dan Wuxia yang jarang di rumah dan satu-satunya yang tidak mengerti, “….”
“Mengapa kalian memandangku seperti itu? aku sudah tidak lagi menjadi Lotus Putih, baik?”
Liana, Wan Feng, Yuxia, Lianhu, “ Yah~”
Seseorang yang tidak mengerti, “Apa, apa yang kalian maksudkan? Mengapa bersikap begitu misterius?”
Lagi, semua saudara berbalik memandangnya dengan tatapan seolah mengatakan, “Kebodohan menyelamatkan anak ini.”
“Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?” Wuxia bergumam pada dirinya sendiri.
Setelah beberapa diskusi rahasia dan semberono antar saudara-saudari Zhu, para pemuda-pemudi itu melangkah dengan suasana hati yang tidak baik, menuju aula dimana tempat pertemuan. Melihat seorang wanita tua yang duduk di kursi kepala keluarga, mereka berusaha mati-matian mengendalikan amarah.
~o0o~
__ADS_1