![[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana](https://asset.asean.biz.id/-reinkarnasi--sayap-takdir--zhu-liana.webp)
Yah, wajah gadis itu memanglah mirip dengan Wei Xiening, ibunya yang sekarang, ibunya yang dikatakan telah meninggal, ibunya yang menghilang, ibunya yang ingin dia berikan keadilan.
Liana nampak terguncang sampai sebuah tepukan ringan kembali ia rasakan di pundaknya.
Liana spontan menoleh pada sang pelaku yang tak lain adalah Yunan Pavitri. "Si- siapa dia?" Dia berkata dengan tergagap sambil menunjuk gadis berambut hijau itu.
Yunan Pavitri diam sekejab sebelum akhirnya membuka mulutnya untuk berbicara. "Yunan Shu'er--putri dari Pemimpin Klan--Yunan Tripa," jawabnya.
"Aku tahu itu. Tapi kenapa dia mirip dengan ibu Xiening?"
Yunan Pavitri menghela napasnya saat dia kemudian berjalan menghampiri tubuh Yunan Shu'er yang terbujur kaku di tanah dengan ekspresi wajah penuh penyesalan.
"Wei Xiening adalah Yunan Shu'er," jawabnya.
Alis Liana terangkat dan pupil matanya mengecil. Dia terkejut tapi hanya diam saja karena tak tahu harus mengatakan apa. Jadi apakah gadis yang dikutuk sang Zanzhu Ren Zuxian itu adalah ibunya? Pantas, pantas saja.
Liana kurang lebih memahami beberapa hal. Seorang Yunan selalu terlahir dari darah pasangan Yunan. Akan tetapi Zhu Moran adalah manusia biasa bukan bagian dari Klan Yunan. Liana tahu itu karena dia pernah bertemu dengan Zeith dan Tufa. Aura milik mereka berbeda dari orang biasa, dan Liana yakin itu adalah aura seseorang yang terlahir dari Klan Yunan. Lalu kenapa dia bisa menjadi seorang Yunan sedangkan Wan Feng tidak? Lalu ibunya--Wei Xiening, dia tak tahu apa pun tentangnya, dimana dia sekarang? Tapi Liana yakin jika dia masih hidup saat ini, di suatu tempat.
Yunan Pavitri sepertinya tahu apa yang dia pikirkan. "Seluruh anggota Klan selain kau dan diriku telah dikirim ke alam reinkarnasi lebih awal tanpa kehilangan ingatan masa lalu karena Yang Mulia Zanzhu Ren Zuxian. Bukankah dia sudah menceritakan hal itu padamu?"
"Lalu kenapa ...." Kata-kata Liana tertelan kembali saat melihat siluet seseorang dari balik asap di depan sana. Berjalan ke tempat keduanya dengan langkah ringan.
Semakin dekat, sosok itu nampak semakin jelas. Bertubuh ramping dan tinggi, kain merah yang menyala berkibar seperti api, dan rambut yang seperti sutra merah itu bertentangan.
Perlahan wajah sosok itu terlihat jelas. Alis yang melengkung tajam sangat cocok dengan matanya yang bermanik cokelat, akan tetapi cahaya di sana sedikit redup karena kesedihan. Bibirnya yang berwarna nampak kontras dengan kulitnya yang pucat, akan tetapi itu sekali tak mengurangi daya tariknya, akan tetapi semakin membuat orang tak pernah bosan memandangi dirinya.
Sosok merah itu tak lain adalah sang Zanzhu Ren Zuxian yang agung. Berjalan dengan langkah pelan, di tangannya terdapat sosok lain yang mungkin dan cantik tengah tertidur, tak mengkhawatirkan keadaan sekitarnya yang kacau.
Yunan Pavitri sebaliknya melangkah mendekati dua sosok itu. Meski tak terlihat, dia masih menundukkan kepalanya di depan Zanzhu Ren Zuxian untuk menghormatinya.
Tempat mereka saat ini memang hanyalah sebuah kenangan yang terjadi di masa lalu. Berbeda dengan alam mimpi dimana tempat Liana bertemu dengan Yunan Pavitri. Tempat mereka sekarang memang hanya terlihat seperti sebuah Film layar lebar tiga dimensi.
Liana juga memperhatikan dari jarak yang sedikit jauh. Dia melihat Yunan Pavitri terus memandang bayi kecil yang berada dalam gendongan Zanzhu Ren Zuxian.
Dan dia memanggil dengan lirih, "Li ...."
Liana tak tahu apakah Yunan Pavitri tengah memanggil dirinya atau bayi dalam gendongan itu. Bayi dengan warna rambut yang tak biasa, bercampur antara putih, biru dan aksen emas di beberapa tempat. Tapi percampuran itu memang terlihat cantik untuk si bayi mungil.
Liana juga melihat lebih dekat saat tiba-tiba seseorang berkata padanya, "Dia adalah dirimu--sang Pemilik Sayap Takdir yang terlahir dari rahim wanita suci."
Keduanya terkejut saat mereka dengan cepat berbalik ke belakang. Di sana sudah ada sosok merah lain yang berdiri menatap mereka dengan pandangan tak terbaca.
__ADS_1
"Xian gege?!" panggil Liana saat mengenali siapa orang itu.
Yunan Pavitri sendiri langsung berlutut sambil menundukkan kepalanya lebih dalam. "Yang Mulia?" Dia juga memanggil.
"Wanita suci--Yunan Pavitri, apa kau telah mendapat izin dari yang atas?" tanya Wei Wuxian tanpa emosi dan ekspresi dengan wujudnya sebagai Leluhur Pelindung Klan Yunan.
Yunan Pavitri masih menunduk dalam, tak berani sekali pun mengangkat kepalanya untuk memandang Tuannya. "Wanita ini ingin melihat putrinya dan telah mendapat izin," jawabnya dengan suara yang pelan.
Wuxian mengangguk kecil saat pandangannya beralih pada Liana yang kini kembali memperhatikan bayi itu.
Liana sendiri sebenarnya merasakan suasana di tempat ini agak canggung, jadi dia bertanya, "Apa benar ini aku?" Dia sedikit ragu meskipun fitur wajah bayi itu memang memiliki beberapa kemiripan dengannya, walau pun tidak begitu jelas karena si bayi belum mengalami masa pertumbuhan karena baru saja terlahir.
Wuxian tersenyum kecil tapi dia tidak menjawab pertanyaan Liana, sebaliknya dia melambaikan tangan dengan ringan hingga tiba-tiba pemandangan di depan mereka berubah menjadi sebuah pedesaan bercahaya redup dengan sawah padi di sekelilingnya. Sangat asri!
Tapi pemandangan desa bukanlah sesuatu yang ingin Wuxian tunjukkan pada Liana. Pemuda berambut merah itu segera mengarahkan Liana pada satu tempat.
Liana melihat bayangan merah yang lain juga familiar pada tempat yang di tunjuk Wuxian. Jadi dia mendekat, mungkin apa yang ingin dia ketahui dapat dia lihat di sana.
Liana sampai di tempat yang ditunjuk Wuxian. Di sana hanyalah sebuah kuil kecil tanpa pengunjung, karena hari memang sudah malam dan kuil itu menjadi sepi.
Liana dapat melihat jika Zanzhu Ren Zuxian di masa lalu tengah berdiri di depan altar pemujaan, masih dengan menggendong bayi. Tapi tiba-tiba dia membuat gerakan membungkuk. Meletakkan bayi itu di tengah altar.
Mengusap kepala bayi dengan lembut sambil memberikan kehangatan padanya, Zanzhu Ren Zuxian memberikan mantra perlindungan pada bayi tersebut dan membuatnya berhenti menangis.
Liana terkejut, dia ingin menarik Zanzhu Ren Zuxian untuk kembali, tapi dia sadar tak dapat menyentuhnya karena tempat dia kini berada hanyalah sebuah kenangan yang menjadi sejarah masa lalu. Dan orang yang ia raih itu adalah isi dalam kenangan itu sendiri.
Jadi Liana mengambil inisiatif lain dan bertanya pada orang aslinya yang kini berdiri di sampingnya dengan tenang. "Mengapa kau meninggalkan seorang bayi di depan altar kuil? Dia ... dia sepertinya kedinginan dan sangat kecil."
Ah, Liana sepertinya lupa jika bayi itu sebenarnya adalah dirinya sendiri. Wujud pertamanya sebagai tunas baru yang menjadi Pemilik Sayap Takdir dan yang lahir dari rahim Wanita Suci, Yunan Pavitri.
"Sang Zanzhu Ren Zuxian tak bisa." Bukan Wuxian yang menjawab, tapi kali ini adalah Yunan Pavitri.
"Tak bisa?" Liana berbalik menatap wanita itu.
Yunan Pavitri sendiri lebih dulu memandang ke arah Wuxian untuk meminta izin berbicara lebih jauh. Pemuda itu terdiam sebagai jawaban persetujuan. Ini benar-benar sesuatu yang canggung untuk berbicara mengenai dirimu sendiri. Jadi baiknya dia membiarkan Yunan Pavitri yang berbicara untuknya.
"Yang Mulia tidak bisa membawa bayi itu karena dia sendiri tak akan tinggal lama di dunia dalam wujud fisiknya," jelas Yunan Pavitri.
"Mengapa begitu?" tanya Liana. Dia masih penasaran, tapi memiliki beberapa tebakan di dalam otaknya. Dengan ragu dia berkata, "Apa ... apa itu karena hukuman dari petir kutukan?" Liana kembali mengingat cerita Wuxian saat mereka berada di Menara Langit.
Yunan Pavitri menunduk, ragu untuk menjawab. Sementara Liana mengambil kesimpulan jika perkataannya memang benar, dia sontak menoleh pada Wuxian yang masih memperhatikan kuil tanpa ekspresi. Hanya saja Liana merasa jika pemuda berambut merah itu memiliki pancaran mata berbeda, tampaknya merasa sedikit bersalah dan menyesal, sepertinya.
__ADS_1
Dengan kebiasaan buruk yang tak bisa Liana hilangkan begitu saja, dia mengembuskan napasnya entah untuk apa.
Tetapi setelah itu, mereka di kejutkan dengan suara beberapa orang yang datang. Sepertinya mereka hendak mengunjungi kuil pada pagi-pagi buta untuk berdo'a.
Liana melihat ada lima wanita paruh baya dan tiga lainnya masih gadis, lalu dua lainnya adalah pria tua yang memimpin jalan, dan salah satu dari mereka sepertinya adalah Kepala Kuil di desa ini, melihat dari pakaiannya yang memang nampak lebih lebar, berlapis-lapis dan tertutup dari yang lain, juga pembawaannya yang lebih tenang penuh aura positif seperti orang shaleh.
Para wanita dan gadis yang mengikuti dari belakang terlibat seperti membawa keranjang berisi buah, sayur dan beberapa hasil panen lainnya.
Saling berbisik mengatakan hal seperti, semoga hasil panen mereka melimpah tahun depan, dan ada pula yang bercanda agar putra-putri mereka dapat menikah lebih cepat dan mendapat pasangan yang baik.
Dan saat itulah Liana menyadari jika bahasa yang orang-orang itu gunakan adalah bahasa dari penduduk Benua Timur. Jadi tempatnya berdiri sekarang adalah tanah pedesaan di Benua Timur.
Orang-orang itu semakin dekat, lalu seorang yang Liana yakini sebagai Kepala Kuil mengarahkan mereka dengan sopan untuk masuk.
Dan saat itulah tiba-tiba bayi yang ada dalam kuil membuat suara dan menangis keras.
Mereka semua terkejut dan bergegas masuk ke dalam kuil untuk mencari tahu apa yang terjadi? siapa yang membuat suara bayi pagi-pagi buta seperti ini?
"Astaga, Ya Tuhan. Siapa yang tega menelantarkan bayinya di sini?" Salah seorang wanita yang telah masuk dalam kuil berseru.
Saat Liana mendengar itu, dia dengan tanpa sadar menoleh pada Wuxian yang tampaknya tidak sedikit pun terganggu dengan hal itu. Tapi Liana memeperhatikan jika tangannya yang terkepal sedikit bergetar. Ah, apa maksudnya itu?
Jadi Liana tanpa sadar lagi mendekat kemudian berbisik, "Tidak apa-apa, itu masa lalu, hanya masa lalu."
Wuxian memandangnya balik. Dia berkedip ringan hingga bulu matanya yang panjang mengepak lembut seperti sayap kupu-kupu. Dia tiba-tiba berkata, "Maaf ...." dengan suara pelan.
Liana tertegun untuk beberapa saat sebelum kembali mengatakan tidak apa-apa. Dan kembali melihat ke dalam kuil di mana orang-orang itu berkumpul. Dia masuk lebih dekat untuk melihat apa yang terjadi.
Kepala Kuil itu mengangkat tubuh si bayi dalam gendongannya untuk menenangkan tangisnya. Dan syukurlah bayi itu menjadi tenang setelahnya.
Pria lainnya berkata kepada Kepala Kuil. "Kepala Kuil Yan, apa yang harus kita lakukan pada bayi ini? Dia sepertinya tampak ... tidak biasa."
Kepala kuil masih memiliki pancaran teduh di matanya saat memandang bayi tersebut. "Langit telah mengirimnya ke kuil, dia adalah anak yang diberkati. Dia akan dirawat dengan sepenuh hati disini," jawabnya tenang. "Dia akan diberi nama Bai Lan Jin," lanjutnya sambil mengangguk-anggukan kepala.
Liana tidak tahu apakah harus tertawa atau menangis untuk menanggapinya. Nama yang di gunakan Kepala Kuil itu di ambil dari warna rambut si bayi. Kesannya kepada Kepala Kuil yang bernama Yan itu tiba-tiba berubah.
Yang awalnya dia pikir nampak gigih, tenang dan berwibawa. Kini dia melihatnya sebagai tua-tua yang memiliki beberapa kekonyolan.
~o0o~
Akhem! aku kambek....
__ADS_1
Btw, yang pernah nebak Yunan Shu'er adalah Wei Xiening.... kalian benar! Selamat... selamat🎉🎊