![[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana](https://asset.asean.biz.id/-reinkarnasi--sayap-takdir--zhu-liana.webp)
Baru saja Liana menginjakkan kakinya di tanah, suara teriakan seseorang menyambutnya antusias. “Li’er, akhirnya kau kembali.” Wan Feng berjalan ke arahnya, nampak terengah-engah. Dia habis berlari barusan, entah apa yang dilakukan sang Tuan Muda Zhu itu sebelum melihat kedatangan Liana, benar-benar bersemangat.
Karena melihat wajah sang kakak yang begitu cerah dibawah cahaya bulan, perasaan Liana juga menjadi semakin baik. Tapi dia tetap terdiam menunggu pemuda dua puluh tahun itu untuk memulai pembicaraan yang akan segera mereka bahas.
Wan Feng sudah berhasil menormalan pernapasanya, tak lagi terengah-engah seperti barusan, sekarang dia sangat stabil. “Li’er, keputusanmu untuk membangun rumah lelang untuk rakyat biasa tempo hari —” Sampai sini dia berhenti sebentar untuk melihat bagaimana reaksi Liana.
Liana yang semulanya hanya berniat untuk mendengarkan sampai akhir, membuka suara, “Apa lokasi sudah ditentukan? Jika iya, maka dana pembangunan sudah bisa segera kakak kirimkan,” ucapnya berhenti sampai di sana. “Sepertinya kita juga perlu untuk mengundang nyonya An untuk datang membahas hal ini lebih lanjut. Bagaimana menurutmu kakak?”
Mereka memang sudah membahas ini sejak awal, dan alasan Wan Feng tidak kelihatan dari pagi adalah karena Liana memintanya untuk memeriksa lokasi, tempat dibangunnya rumah pelelangan murah yang mereka dan Nyonya An—si wanita pembisnis cerdas dengan suara yang luar biasa menggelegar ketika dirinya berteriak.
“Itu bagus. Kapan kau berencana untuk mengundang dirinya?” Wan Feng menanggapi usulan Liana dengan positif. Dia juga berpikir akan lebih nyaman untuk membahas hal-hal penting ini bersama orang-orang yang bersangkutan.
“Bagaimana jika besok? Tidak akan cukup waktu sampai keberangkatanku ke Yilongfei.” Liana menerangkan dengan serius. Beberapa hari lagi, dia tidak akan cukup sibuk untuk mengurus hal-hal disini dengan tenang, jika dirinya memiliki seseorang yang dapat dipercaya untuk menggantikan dirinya, maka itu akan sangat baik.
Wan Feng mengangguk setuju dengan ide Liana. “Maka aku perlu menyuruh seseorang untuk menjemputnya ke mari.”
Kemudian keduanya berjalan bersama, masuk ke dalam kediaman Perdana Menteri. Saat itulah seseorang berpakaian pelayan tiba-tiba berlari mengahmpiri mereka dengan tergesa-gesa.
“Tuan Muda! Nona Muda! Ini ... hah .. hah ..! Tuan ... tuan besar sedang mencari kalian berdua.” Setelah dilihat kembali, pelayan itu ternyata adalah orang yang sering berada di sisi Zhu Moran. Wanita tua yang menjadi pengasuh sang Ayah, Wu Dang.
“Wu mama, mengapa kau berlari begitu tergesa-gesa? Kau harus memperhatikan kesehatanmu lain kali.” Wan Feng mendesah lelah melihat wanita tua itu yang memaksakan diri.
Sedangkan Liana hanya diam saja, tapi tatapannya melembut saat memperhatikan Wu Dang. Dia ingat wanita ini juga sering membantu dirinya meski dengan hal-hal kecil seperti mengirimkan makanan dan pakaian hangat ke paviliunnya ketika dirinya masih sering diintimidasi oleh orang-orang tertentu yang penuh iri dan dengki.
Dan Liana tahu jika wanita tua ini sangatlah loyal kepada Ayahnya. Dia juga berdedikasi dan juga baik. Tapi usianya sudah tidak mumpuni untuk terus bekerja di sisi Zhu Moran, sebab itulah dia sudah jarang terlihat di dalam Manor, sibuk dengan keluarganya yang berada di pinggiran ibu kota, ada kabar jika putra tertuanya tengah melangsungkan pernikahan sebulan yang lalu. Dan hari ini Liana melihatnya lagi, dia memang sering datang untuk berkunjung namun sepertinya juga wanita tua ini ingin menyampaian sesuatu hal yang amat penting.
“Terimakasih Tuan Muda, Pelayan Tua ini akan mendengarkan ucapanmu.” Wu Dang tersenyum saat nepasnya sudah kembali stabil. Meski usianya sudah melampaui setengah abad, tapi vitalitas tubuhnya masih cukup baik untuk beraktivitas dengan normal. Sebenarnya dia juga seorang kulitivator meski pun bukan seorang master berkemampuan tinggi, itu cukup untuk mengisi harinya hingga beberapa puluh tahun mendatang.
“Wu mama, apa yang terjadi?” Kali ini Liana yang bertanya, sdia juga memanggil Wu Dang dengan sebutan ‘Mama’ karena Wu Dang memanglah seorang pelayan senior di dalam Manor Perdana Menteri.
Setelah mendengar petanyaan Liana, Wu Dang tertegun sebentar. Dia segera memeberikan ekpresi yang tidak begitu baik. Dan firasat Liana juga menjadi buruk tentang itu. Sekali lagi dia bertanya, “Apa terjadi sesuatu dengan Ayah?” Suaranya menjadi tidak yakin.
__ADS_1
Tapi buru-buru Wu Dang menggeleng. “Tidak, Nona Muda. Tuan baik-baik saja, tapi ini ... tahanan rumah—Selir Wen Canran, dia mati dibunuh.”
Bukan hanya Liana, tapi Wan Feng juga Ling sama-sama menghirup napas dingin. Ekpresi Liana menjadi lebih rumit, dan dia menjadi semakin yakin dengan kekuatan orang yang berada di belakang layar. Siapa pun itu, dia benar-benar sangat berbahaya.
Membunuh bidak setelah tidak bisa lagi di gunakan, ini pasti perkejaan orang-orang yang kejam. Tanpa menunggu seseorang membuka suaranya lagi, Liana lebih dulu berjalan menuju ruangan kediaman Zhu Moran. Aura yang ia keluarkan begitu dingin hingga membuat orang yang bahkan berpapasan dengannya sejauh sepuluh meter menggigil karena dingin, lebih dingin dari udara malam saat itu.
Suasana hati gadis serba putih itu sudah sangat buruk sekarang, dia tak berbicara, tapi orang-orang bahkan tak berani berjalan lebih dekat dengan dirinya. Termasuk Wan Feng, dia tidak pernah melihat adiknya mengeluarkan aura yang begitu mengerikan disekelilingnya.
Tak lama, pintu ruang kerja Zhu Moran terbuka. Liana tak berkata-kata dan dia langsung masuk ke dalam setelah melihat penampilan suram pria paruh baya yang ada di dalam sana. Sejenak, dia kembali menarik aura menyeramkan yang tak sengaja dilepaskannya barusan.
“Ayah?” panggil Liana pelan dan lembut.
Zhu Moran segera menoleh ke arahnya, dahinya yang tadi mengkerut perlahan mengendur, ekpresinya menjadi lebih nyaman. “Kau disini?”
Liana semakin mendekati tempat sang Ayah, dia bertaanya kemudian, “Apa yang terjadi?”
Zhu Moran menghela napasnya cukup lelah dan ada kilatan sedih, marah juga menyesal dalam matanya, sedikit tersembunyi oleh kelembutan saat memandang Liana.
Liana masih diam, tak mengerti mengapa Zhu Moran tiba-tiba meminta maaf, tapi permintaan maaf itu seperti ditujukan padanya tapi juga seperti ditujukan pada orang lain, yang lebih mencolok adalah sikap putus asa itu. Meski pun Liana belum tahu apa tujuan permintaan maaf itu, tapi dia sudah menduga-duga beberapa hal dalam hatinya.
Dia tetap terdiam saat Zhu Moran sekali lagi berbicara, “Sekarang Ayah sudah tahu wanita keji itu adalah pelakunya, tidak ... tapi dia adalah suruhan orang lain. Tapi tetap saja, dialah yang—” Zhu Moran tercekat, sulit untuk meneruskan ucapannya.
Tapi karena itulah Liana akhirnya mengerti apa maksud permintaan maaf Zhu Moran. Pria itu sudah mengetahui jika Wen Canran adalah salah satu antek yang bekerja atas kebakan Paviliun Wei Xiening sebelas tahun yang lalu.
Zhu Moran tak lagi memandang Liana, dia hanya menunduk dengan ekspresi yang begitu pahit, berusaha menahan tangis di depan putrinya. Dalam hati dia mungkin sudah mengutuk dirinya ratusan kali atas kegagalan yang ia perbuat. Kegagalan sebagai pria, suami dan bahkan sebagai seorang ayah.
Dia telah memelihara penjahat sebenarnya di dalam rumah sendiri, bagaimana mungkin dia tidak menyalahkan diri sendiri? Dia sangat bodoh selama ini.
“Ayah ...” panggil Liana sekali lagi, tapi langsung disela oleh Zhu Moran.
“Tidak, Li’er. Aku ... aku tidak pantas dipanggil Ayah olehmu. Aku tidak pantas menjadi Ayah kalian, aku tidak pantas menjadi suaminya. Tidak pantas ....”
__ADS_1
Sampai sini Liana meraih pundak sang Ayah, memeluk pria setengah baya yang sudah menangis itu. Jika dalam kondisi biasa, itu akan sangat memalukan untuk dilihat. Akan tetapi, meski itu sangatlah memalukan, Liana menjadi tahu jika Ayahnya ini sangat mencintai Ibunya—Wei Xiening dari lubuk hatinya yang terdalam.
Meski pun Liana bodoh dalam memahami sebuah perasaan yang bernama cinta, tapi dia tidak begitu bodoh saat melihat Ayahnya untuk pertama kalinya terlihat sangat tidak berdaya. Sehari-hari, dia selalu melihatnya sebagai orang yang bermartabat, lembut dan bijak, tapi hari ini dia melihat pria paruh baya yang menyandang status sebagai ayah biologisnya itu terlihat begitu rapuh.
Siapa bilang jika orang tua selalu menjadi yang terkuat? Siapa bilang mereka harus terus terlihat hebat?
Mereka masih manusia yang memiliki tujuh emosi dan enam keinginan. Bukan mesin!
Tidaklah memalukan untuk menunjukan keluhan sesekali. Dan sebagai seorang anak, tidak boleh begitu egois bukan? Menuntut mereka untuk selalu terlihat kuat dan hebat.
Yah, tapi memang orang tua mana pun pasti ingin selalu terlihat baik dan menjadi contoh bagi anak-anaknya. Tidak ada yang mau terlihat lemah di depan anak-anaknya.
Tapi untuk saat ini, Zhu Moran tak bisa lagi memikirkan hal itu, dia hanya dapat mengingat kegagalannya sebagai seorang ayah dan suami.
Liana sendiri tak pandai menghibur orang, jadi dia tak bicara. Hanya dengan tindakan yang dimulai dari naluri, dia memeluk Zhu Moran, berusaha membuat sang ayah menjadi tenang. Mungkin sekarang lelaki setengah baya itu sedang depresi. Dia hanya bisa menjadi orang yang lebih tenang darinya.
Saat itulah dia melihat Wan Feng yang masuk ke dalam ruangan dengan ekspresi yang tak kalah suram, memandang punggung adiknya yang mungil namun selalu lurus dan tegak. Yang terlihat rapuh namun begitu kuat. Lalu beralih pada seorang pria yang terlihat menyedihkan, meringkuk di pelukan putrinya dan menyalahkan diri sendiri.
Wan Feng merasakan perasaannya menjadi sulit dan benci. Dia benci karena tidak tahu apa-apa, dia benci karena pada saat kebakaran itu terjadi, dia tidak bersama adik dan ibunya, dia benci karena tidak menemukan pelakunya lebih awal, dan dia benci karena bukan dirinya yang membunuh Wen Canran.
Tapi setelah itu dia mendengar Liana berkata dengan pelan, “Ibu masih hidup ....” kata-kata sederhana namun dapat mengguncang hati dua pria di dalam ruangan itu.
Mereka berdua begitu terkejut. “Apa yang kau katakan, Li’er? Ibumu ... dia tidak bisa keluar dari kebakaran itu. Wen Ca-, wanita keji itu telah memeberinya racun yang sama seperti racun yang dia berikan padamu. Racun Kalajengking Merah. Di sana ... dia terbakar ... dia terbakar.” Di akhir kalimat, suara Zhu Moran sangat pelan, hampir tidak dapat didengar.
Sedangkan Wan Feng yang sedikit memiliki harapan saat mednegar ucapan Liana barusan menjadi lebih murung sekaligus merasa iba melihat adiknya itu. Meski pun dia tidak di sana saat kebakaran terjadi, tapi menurut penuturan orang-orang yang menyaksikan, Wei Xiening tak mungkin selamat.
“Tidak, ibu masih hidup. dia adalah wanita yang kuat, dia tidak akan mati semudah itu. Dia juga memiliki darah Yunan dalam tubuhnya. Ayah, kakak, percayalah padaku, saat ini ibu masih hidup di suatu tempat. tapi dia tidak bisa pulang karena terdesak sesuatu.”
“Li’er ....” melihat kegigihan putrinya, rasa bersalah Zhu Moran semakin menumpuk. Tapi dia entah kenapa juga memiliki sedikit kepercayaan atas kata-kata Liana. Apalagi mendnegar putrinya menyebut klan Yunan, dia terkejut. Mungkinkah ... mungkinkah Wei Xiening benar-benar masih hidup?
~o0o~
__ADS_1