[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana

[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana
45-Wei Wuxian II


__ADS_3

"Baiklah, apa yang ingin kau tanyakan?" Pria di seberang Liana tersenyum dengan lembut.


"Pertama, apa kau memang Xian gege?" tanya Liana saat dia semakin mengerutkan alisnya hingga matanya juga ikut menyipit.


Pria itu masih mempertahankan senyumnya. "Bagaiamana menurutmu, Li'er?" Bukannya menjawab, pria itu malah bertanya balik.


Dan hal itu membuat Liana mendengus, tapi dia tetap menjawab pertanyaan. "Wajahmu ... mirip, tapi kau terasa berbeda dengannya."


Pria itu menganggukkan kepalanya, entah apa maksudnya. Baru kali ini Liana kesulitan membaca sikap prilaku seseorang, pria bersurai merah itu begitu misterius. Segala tindakannya terlihat begitu alami namun mengandung jejak kehati-hatian. Dan pria itu suka sekali tersenyum padanya.


"Maka anggap saja begitu," ucap pria itu kemudian.


"Ha?" Liana hanya menganga, sungguh dia tidak mengerti mengapa pria bersurai merah itu mengucapkan kalimat seperti itu. "Maksudmu?"


Pria itu terkekeh melihat ekspresi Liana yang menurutnya cukup menghibur. "Aku adalah Xian dan Xian adalah aku. Anggap saja begitu." Tapi dia tetap menjelaskan maksud dari perkataannya.


"Jadi kau benar-benar Xian gege?" tanya Liana sekali lagi.


"Ya." Pria itu ... ah maksudnya Wuxian mengangguk mengiyakan.


"Bagaimana itu mungkin?"


"Tentu saja bisa Li'er, bahkan sang Keturunan Terakhir juga tahu itu," jawab Wuxian sambil melirik Shiro yang masih berlutut disana. Oh ya ampun, Pegasus cantik kita di lupakan.


Liana mengerjab dan dia juga ikut menatap Shiro yang tidak berani mengangkat kepalanya. "Shiro?" Liana menunjuk makhluk kontraknya itu saat dirinya kembali menatap Wuxian yang kini memiliki rambut berwarna merah.


Rasanya dia belum percaya jika pria itu adalah Wei Wuxian, Xian gegenya, tunangannya. Meski wajah pria itu mirip dengan Wei Wuxian, tapi auranya benar-benar berbeda. Bahkan Liana kini sangat jelas merasakan kehadiran pria itu, tidak seperti Wuxian yang memiliki hawa keberadaan yang sangat tipis, hampir setipis benang. Dan yah, Wei Wuxian yang ia kenal tidak memiliki rambut merah, melainkan hitam dan agak kecoklatan sebagaimana umumnya penduduk Benua Timur.


"Jelaskan padaku kenapa kau bisa menjadi Xian gege! Dan kenapa kau selalu memanggil Shiro dengan sebutan Keturunan Terakhir?" tanya Liana pada kalimat terakhir.


Ada banyak pertanyaan di kepalanya untuk pria itu jawab. Dan hari ini dia ingin mengetahui segalanya, beberapa rahasia yang selalu menghantui pikirannya dan tentunya jati dirinya. Siapa itu Zhu Liana sebenarnya?


"Apa kau mau mendengar cerita?" tanya balik Wuxian penuh misteri. Dia menghampiri Liana dan duduk di kursi yang ada di sebelah gadis itu. Dan Liana? Matanya terus mengikuti kemana pria itu bergerak. Dia benar-benar ingin mengetahui kebenaran darinya.

__ADS_1


"Kenapa harus cerita? Aku ingin kau menjelaskan semua pertanyaanku." Liana memberenggut karena pria itu begitu bertele-tele.


"Jangan menyela!" ucap Wuxian sambil menyentil dahi Liana hingga membuat sang empu meringis memegang dahinya yang memerah.


Gadis itu mendengus, tapi dia menurut dan diam seperti Shiro yang kini menyaksikan dua atasannya berinteraksi. Yah atasannya, dia hanya akan memanggil kedua orang itu sebagai tuannya. Liana, bangsawan Klan Yunan dan Wei Wuxian sang Zanzu Ren Zuxian Klan Yunan.


Wuxian tersenyum kembali sebelum akhirnya dia bersuara. "Cerita ini akan menjawab pertanyaanmu." Ucapannya terhenti saat dia kembali melihat reaksi Liana.


Gadis itu terlihat serius, sangat menggemaskan! Wuxian yang tidak tahan hanya bisa mengusap rambut gadis itu hingga berantakan. Hatinya benar-benar menghangat hanya saat bersama Liana. Padahal sudah lama sekali dia melupakan perasaan seperti ini, perasaan duniawi yang membatasi geraknya. Tapi dia tak membencinya, perasaan seperti ini bukanlah hal yang buruk, iya kan? Semoga.


"Xian gege! Kenapa kau menjadi nakal sekali?!" ketus Liana tak terima rambutnya menjadi kusut karena ulah pria itu.


Dia segera memperbaiki rambutnya agar terlihat rapi seperti semula. Liana adalah orang yang suka memeperhatikan penampilan. Maksudnya bukan penampilan seperti cantik atau tampan, tapi dia menyukai hal-hal rapi dan bersih. Bagaimana pun juga di kemiliteran, dia harus di tuntut sebagai orang yang disiplin termasuk dengan penampilan. Jadi mungkin kebiasaan itu terbawa hingga ke dunia kuno ini.


Wuxian tertawa cukup keras tapi tetap saja tak dapat menghilangkan kharisma dan ketampanannya. Ah sudahlah, seperti kata orang-orang, 'Orang ganteng mah bebas. Mau bagaimanapun akan tetap tampan.


Shiro? Baiklah dia menjadi nyamuk di antara dua sejoli itu. Tapi melihat pemandangan di depannya, dia juga tersenyum samar dan ... sedikit iri, mungkin.


Wuxian yang menyadari keheningan Liana segera menghentikan tawanya. Dia memandang balik gadis itu yang masih mematung memandangi dirinya.


Wuxian jadi merasa ... canggung saat melihat tatapan dalam gadisnya. "Khem!" Dia berdekhem untuk menyadarkan Liana dari lamunannya.


Liana mengerjab lucu namun kalimat selanjutnya malah membuat Wuxian balik tertegun.


"Tawa kalian sama. Sama-sama hangat." Liana tersenyum saat dia mulai menoleh ke arah lain, tepatnya pada Shiro. "Apa kau akan terua berlutut? Tidakkah kau merasa pegal?" tanyanya.


Shiro kembali mengangkat wajahnya yabg sempat tertunduk. Memandang kedua tuannya bergantian sebelum akhirnya dia berdiri dan membungkuk memberi hormat.


"Duduklah! Sepertinya kau juga ingin mendengar cerita," ucap Liana yang langsung di turuti Shiro. Dia duduk di kurai seberang, tempat dimana Wuxian duduk sebelumnya.


"Baiklah, gege. Kau akan memulai cerita dari mana?" Liana kembali menghadap Wuxian yang sudah kembali menormalkan ekspresi dan jantungnya.


Dia tersenyum. "Ini akan menjadi cerita yang panjang. Ku harap kau tidak akan bosan mendengarnya."

__ADS_1


"Jika memang membosankan, itu karena kau yang tidak pandai bercerita, gege."


Bukannya kesal dengan ucapan Liana, Wuxian malah terkekeh dan kembali mengusap rambut Liana. Alhasil, itu kembali kusut dan Liana ....


"Xian gege!" Dia berteriak kesal.


Hee, kenapa seorang Zhu Liana yang biasanya selalu acuh tak acuh kadang dingin dan lebih sering menampilkan raut wajah tanpa ekspresi kini bersikap kekanak-kanakan di depan seorang Zanzu Ren Zuxian seperti Wei Wuxian? Apa yang sebenarnya terjadi?


Jangan salahkan diriku sebagai penulis! Karena itu adalah sifat awal MC kita sebelum dia berpindah tempat ke dunia modern dan menjadi seirang Jenderal Wanita WSA. Jika tak percaya, tanyakan saja padanya.


Cukup sudah! Mari kembali pada Liana yang kini masih kesal sambil kembali meluruskan rambutnya dan Wei Wuxian yang masih terkekeh dengan Shiro yang setia menjadi obat nyamuk. Kasihan! Semoga Pegasus cantik kita cepat bertemu jodohnya. (Aamiinkan!)


"Baiklah, baiklah. Aku tidak akan melakukan hal itu lagi." Masih dengan sisa tawanya, Wuxian mengibaskan tangannya sekaligus meredakan tawanya yang sampai membuatnya mengeluarkan air mata.


Liana tidak menjawab, tapi dia malah memelototi Wei Wuxian memberi isyarat dengan matanya yang seolah mengatakan, "Awas jika kau melakukannya lagi!"


"Apa kau masih ingin mendengarkan cerita?" tanya Wuxian.


"Tentu saja! Kan kau yang selalu mengulur waktu."


"Iya baiklah, maafkan aku. Aku akan mulai bercerita sekarang."


"Huh!" Liana mendengus lagi.


Sedangkan Wuxian kembali terkekeh, namun segera dia hentikan saat tatapan maut kembali diarahkan padanya.


Ah ya, ngomong-ngomong, gaya bicaranya agak sedikit berbeda. Dia tidak lagi menyebut dirinya Xian saat berbicara dengan Liana, tapi malah menggunakan kata 'Aku'. Ada apa dengannya?


Aah, jangan dipikirkan! Sekarang Wuxian sudah mulai bercerita tentang sesuatu yabg terjadi jauh di masalalu.


~o0o~


Bertele-tele? Iya ngaku kok... ini akibat belum dapet plot yang pas... wehehe... ya maap..! Silahkan tuangkan hujatan yang sopan :v

__ADS_1


__ADS_2