![[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana](https://asset.asean.biz.id/-reinkarnasi--sayap-takdir--zhu-liana.webp)
Saat Bai Lan Jin membuka mata, hari sudah sore. Dia mendapati dirinya tengah terbaring di dalam ruangan yang sangat dia kenali, itu adalah kamar miliknya. Sangat beruntung ruangan ini tak ikut terbakar oleh api.
Dan orang-orang yang ia kenali pula kini mengelilingi tempat tidurnya.
"Berapa lama aku tertidur?" tanyanya dengan suara yang tak bergitu jelas.
Tapi orang-orang di sekeliling menjadi antusias karena itu. Saling berbisik pada satu sama lain karena dirinya telah terbangun.
Lalu seorang wanita yang lebih tua menghampirinya dengan segelas air putih di atas nampan.
"Xiao Bai, kami semua mencemaskanmu. Kamu tak sadarkan diri selama dua hari." Wanita itu berkata dengan nada lirih.
Bai Lan Jin hendak duduk dan ia segera di bantu oleh seseorang. Namun dia tak memperhatikan, dia hanya meraih segelas air yang diberikan kepadanya.
"Bibi Gu, dimana Kakek Yan?" tanyanya setelah itu.
Sayangnya orang yang di tanya hanya terdiam memandangnya dengan sedih.
Melihat penampilan seperti itu, Bai Lan Jin mengerti. Jadi apa yang dilihatnya terakhir kali itu adalah kenyataan. Dia tak bisa untuk tak merasa sedih. Tapi seberapa pun bersedihnya ia, seolah air matanya telah habis. Dia tak dapat menangis. Dan itu membuatnya terlihat menjadi lebih kasihan di mata orang-orang.
Keesokan harinya, semua warga desa yang meninggal kemarin dimakamkan. Banyak warga yang masih hidup, tapi banyak pula dari mereka yang kehilangan. Tangis memenuhi udara di desa itu.
Bai Lan Jin sendiri hanya menatap kosong pada gundukan tanah di depannya. Dia tak tahu harus mengatakan apa atau melakukan apa. Dan perasaan bersalah tiba-tiba menyerbu dirinya. Dia terjatuh berlutut, kali ini mengeluarkan air mata dan suara ratapan histeris keluar dari mulutnya. Berkali-kali meminta maaf pada pemilik gundukan kuburan di depannya.
Orang yang melihatnya pun semakin merasa sedih untuknya. Gadis itu masih begitu muda, tapi dia mati-matian melindungi orang-orang dan membantai para monster. Tapi akhirnya dia masih tetap kehilangan orang berharganya, dia masih kehilangan keluarganya.
Saat siang hari, semuanya kembali tenang. Dan sekarang Bai Lan Jin duduk tanpa ekspresi di depan beberapa orang yang terlihat asing.
Warga desa telah memberitahunya, jika mereka adalah master bela diri yang datang membantu desa melawan monster.
Belakangan diketahui jika sebagian besar daerah di perbatasan Benua Timur saat ini telah diinvasi sekelompok besar monster. Dan desa tani menjadi salah satunya karena memang tidak begitu dengan perbatasan laut.
Tak ada yang tahu mengapa tiba-tiba para monster itu menjadi beringas dan tak terkendali setelah sekian lama hidup berdampingan di wilayah manusia. Dan para master bela diri yang menyebut diri mereka kultivator di seluruh benua mendapat misi untuk melenyapkan setiap monster yang berkeliaran.
"Nona Bai Lan Jin?" Seseorang yang terlihat seperti pria dewasa umur tiga puluh tahun menyapa Bai Lan Jin dengan ramah.
Mereka juga melihat aksi gadis itu saat membantai para monster. Mereka kagum melihat keberaniannya.
Orang-orang di depan Bai Lan Jin ini berseragam sama. Mereka memperkenalkan diri sebagai murid dalam dari sebuah sekte besar di Benua Timur, Sekte Menara Langit.
__ADS_1
Bai Lan Jin menanggapi dengan anggukkan sopan. Masih berduka, dia tak bisa menjawab mereka dengan senyuman ramah dan ceria seperti biasanya. Dan orang-orang sekte Menara Langit dapat memahami hal itu.
Pria yang tadi menyapa kembali bersuara, "Nona Bai Lan Jin, maukah kamu bergabung dengan sekte kami dan membantu untuk menumpas para monster yang meresahkan warga." Yah, dari awal mereka memang berencana merekrut Bai Lan Jin sebagai siswa di sekte mereka.
Melihat bakat gadis itu yang luar biasa, siapa yang tidak mau dia berada dipihak mereka?
Bai Lan Jin menghembuskan napasnya sebentar. Dia juga memiliki tujuan membalas dendam. Jadi tanpa pikir panjang, dia menyetujui ajakan mereka untuk bergabung di sekte. Lagi pula itu juga baik untuknya, dia juga berencana untuk menjadi seorang kultivator.
Kesepakatan telah di buat. Para Kultivator itu berencana untuk kembali ke sekte dan melaporkan hasil mereka.
Bai Lan Jin juga ikut keesokan harinya ketika mereka berangkat. Dia tak lupa berpamitan pada warga desa. Tangis haru menyertai langkahnya. Sekarang dia dapat melihat dunia lebih luas.
Tahun-tahun juga berganti. Bai Lan Jin akhirnya resmi menjadi murid dalam di sekte. Dia memiliki bakat gemilang di antara yang lain. Membuat beberapa orang iri dan berusaha menjatuhkan dirinya.
Namun Bai Lan Jin adalah seorang yang memiliki prinsip. Dia juga tak mudah digertak. Beberapa kali orang mencari masalah dengannya, dia dapat menumbangkan mereka dengan mudah.
Dukungan para penatua juga bersamanya. Jadi lambat laun, tak ada yang berani menggali kuburan.
Hingga akhirnya bencana dimulai. Peperangan dengan para monster telah lama berlangsung. Namun sekarang di kabarkan jika seseorang yang mengendalikan mereka telah muncul.
Peperangan besar itu benar-benar berubah menjadi bencana. Sebagian dari wilayah Benua Timur hancur, terbakar oleh api dan tersiram oleh darah. Pemandangan itu tak lebih baik dari neraka.
Tapi kemudian datang sosok yang nampak heroik. Selalu menggunakan gaun putih dengan topeng setengah wajah. Yang menjadi ciri khas juga warna rambutnya yang unik, memiliki tiga warna. Mudah dikenali, para warga Benua Timur menyebutnya sebagai Nüshén Xuèxīng 女神血腥 (Dewi Berdarah), sebab setiap kali dia memasuki perang, gaun serta topengnya akan selalu bermandikan darah. Begitu beringas dan kejam saat membunuh musuhnya, para monster. Orang takut, tapi mereka juga menyebutnya penyelamat.
Sebab, perang yang selalu dia ikuti selalu membawa kemenangan. Hingga puncaknya, dialah yang mengirim si pengendali ke tempat asalnya dan juga membantu para penatua untuk mengurung para monster di pulau terbuang.
Namun sejak saat itu, tak ada lagi yang tahu di mana keberadaan sang Nushen Xuexing. Dia seolah lenyap di telan bumi. Banyak orang berpikir jika dia telah mati. Namun orang-orang tak pernah melupakan kisah heroiknya. Namanya selalu di nyanyikan dalam lagu dan ditulis dengan berbagai kisah menakjubkan yang sebagian besarnya dilebih-lebihkan.
Itulah menjadi akhir dari kisah hang Liana saksikan. Tak ada yang tahu jika sosok Bai Lan Jin benar-benar mati saat itu, tepat setelah menghilangnya jiwa sang Zanzhu Ren Zuxian yang selalu berada di sampingnya.
~◇~
Liana memiliki perasaan rumit saat dirinya terbangun. Mengingat kembali kisah hidupnya di masa lalu sebagai Bai Lan Jin. Dia bahkan tersenyum getir pada akhirnya.
Jadi Liana hanya memandang sosok berambut merah di samping tempat tidurnya. Saat akhirnya dia bergumam, "Bukankah ini seperti kisah yang menyedihkan? Bad ending."
Wuxian hanya terdiam sebagai tanggapan. Tapi dia meraih pergelangan tangan gadis itu untuk memeriksa denyut nadinya. Itu normal, dan dia segera menghela napas lega.
"Racun Kalajengking Merah telah sepenuhnya bersih dari tubuhmu," ucap Wuxian mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
Liana hanya mengerutkan keningnya merasa heran. Tapi dia tak menanggapi hal itu lebuh jauh. "Berapa lama aku tidur?" Akhirnya dia bertanya.
"Semalaman," jawab Wuxian.
"Hmm, begitukah. Aku merasa telah menjalani waktu bertahun-tahun." Liana menghela napasnya, kembali pada kebiasaan buruk.
"Perbedaan waktu di alam mimpi tak dapat di prediksi. Terkadang terasa begitu lama tapi nyatanya itu hanya sesaat, begitu sebaliknya." Wuxian menjelaskan dengan tenang.
Tepat setelah itu, pintu kamar Liana kembali di buka, memperlihatkan sosok pria paruh baya yang entah mengapa terlihat beberap tahun lebih tua sekarang.
Wajah Zhu Moran terlihat begitu kusut, tapi saat melihat sosok gadis yang ia rindukan telah terbangun dari koma, matanya segera bersinar.
"Li'er," panggilnya lirih saat langkahnya yang begitu gontai, begitu tak bertenaga.
Liana bahkan cemas jikalau dia akan terjatuh. Jadi gadis itu beranjak dari tempat tidur, menghampiri Zhu Moran dan berniat memapahkan.
"Ayah, kau ...." ucapan Liana terhenti saat pria itu mengangkat tangannya, menyuruhnya kembali duduk.
Sebagai gantinya, Wuxian sendiri yang membimbing Zhu Moran. "Pangeran ...." Membuat pria itu sedikit terkejut dengan kemurahan hatinya untuk membantu.
Namun pada akhirnya Zhu Moran hanya mengatakan terimakasih untuknya.
Liana sendiri menatap Wuxian yang entah sejak kapan sudah kembali pada penampilannya semula. Rambutnya tak lagi merah seperti sebelumnya dan sikapnya juga menjadi lebih sembrono seperti Wei Wuxian--sang Pangeran Ke-tiga.
"Paman terlalu sopan," balas Wuxian dengan senyumnya yang biasa konyol.
Liana menghela napasnya ... lagi. Sebelum Zhu Moran mengeluarkan suara, Liana lebih dulu menjelaskan hal-hal. "Ayah, kau kurang istirahat. Terlalu memaksakan diri dan menjadi begitu khawatir. Aku tak apa sekarang, Xian gege sepertinya telah menjagaku dengan baik."
Yah, sebelumnya pemuda yang menjadi tunangannya itu memang menjaga Liana. Bahkan telah mendapatkan penawar racun untuk menyembuhkannya.
Memang membuat Zhu Moran tenang dan mendengarkan instruksi Wei Wuxian. Hanya saja dia adalah orang tua biasa, menjadi khawatir adalah hal yang biasa pula ketika melihat anaknya yang terbaring begitu lama di tempat tidur. Dia tetap cemas.
Dan saat mendengar berita jika anak gadisnya itu akan segera bangun sebentar lagi, dia bergegas untuk menghampirinya dalam keadaan yang kurang baik.
Belum lagi pekerjaan yang begitu memberatkannya di saat seperti ini. Bagaimana dia tidak menjadi lebih kusut sekarang?
~o0o~
Oke... aku double Up hari ini...
__ADS_1