![[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana](https://asset.asean.biz.id/-reinkarnasi--sayap-takdir--zhu-liana.webp)
Saat Liana dan orang-orang mengikuti gerombolan, mereka tiba-tiba dihentikan oleh seorang biarawati yang memberitahukan
bahwa yang ingin mendapat ramalan bisa datang besok karena Yang Agung sedang
tidak sehat.
Liana mengernyit dan melihat wajah kecewa orang-orang. “Bukankah beberapa
saat yang lalu dia masih baik-baik saja.” Liana bergumam dengan bingung. Tapi selebihnya dia tidak terlalu perduli. Sebaliknya
dia hanya mengikuti orang-orang.
Meskipun ramalan
tidak didapat,
pengunjung kuil diperbolehkan untuk berkeliling. Lagipula, hari
masih sangat cerah, ada baiknya untuk berjalan-jalan sebentar di lingkungan ini, pemandangannya juga baik-baik saja, tidak ada salju di
tanah seperti halnya di Ibukota Kekasisaran.
Wei Wuxian belum kembali, jadi Liana juga memilih untuk berjalan-jalan mengelilingi kuil. Dia sudah
sedari tadi penasaran dengan setiap pemandangan menakjubkan yang ia
lewati di sepanjang menuju aula utama. Area kuil itu sangat luas, sehingga ada banyak tempat yang belum dikunjungi.
Pertama-tama, dia berhenti di kolam teratai misterius yang pernah dilewatinya sebelumnya. Banyak bunga teratai
mekar dan penuh aura spiritual yang cukup murni
membawa udara segar.
Lalu dia menjelajahi berbagai tempat yang terlihat eksotis disana. Tak sampai di sore
hari dia kembali bersama
para pengunjung kuil ke tempat akomodasi yang
tersedia di sana untuk sejenak beristirahat dan
makan sebelum mereka semua kembali ke kota.
Semenatara itu, Wei Wuxian masih belum kembali.
“Apa yang dilakukan Xian gege?”
Liana bertanya-tanya saat melihat ubin di atap. Sebaliknya
dia tidak terlalu khawatir, hanya
merasa sedikit kesepian.
Dia sedang melamun ketika tiba-tiba
terdengar suara ketukan dari pintu
membuatnya sadar.
Liana membuka
pintu dan mendapati seorang biarawati muda berdiri di depannya.“Apa
masalahnya?” Dia bertanya.
Biarawati muda itu memiliki ekspresi tabah
saat dia berkata, “Nona Zhu
Liana, seseorang mencarimu.” Setelahnya dia langsung berbalik pergi.
Liana bingung sejenak tetapi segera mengerti saat biarawati itu berbalik menatapnya
lagi. Dia ingin dia
mengikutinya.
Liana menjadi sedikit curiga tetapi dia masih berjalan di belakang biarawati muda. Mengikutinya sampai mereka tiba di hutan yang sebenarnya tidak jauh maupun dekat di belakang kuil. Ada tebing
dengan gua yang nampaksuram dan gelap, biarawati muda itu berhenti berjalan di depan mulut gua.
Dikelilingi oleh pepohonan
tinggi dan semak belukar yang padat,
tempat itu sebenarnya cukup sepi.
“Tempat apa ini?” Liana penasaran. Mengapa membawanya ke tempat
seperti ini? Apakah dia diculik? Apakah sebenarnya
mereka adalah
organisasi perdagangan manusia? Atau sebeuah penelitian illegal? Jika benar
begitu, maka siapapun yang ada di balik penculikanadalah orang yang sangat sopan.
Liana tiba-tiba tersentak, pikirannya barusan
sepertinya sangat konyol. Dia sepertinya
agak keluar dari logika karena terlalu
banyak melamun.
Atau mungkin
dia kurang minum. Karena entah kenapa akhir-akhir ini dia
sering memikirkan kehidupan
sebelumnya di dunia modern.
Liana menghela napas dengan kebiasaan buruknya. Dia bahkan tidak menyadari jika biarawati
muda yang membawanya ke tempat
itu sudah lama pergi meninggalkannya sendirian.
__ADS_1
“Ya sudah, masuk saja.” Berbicara
dengan dirinya sendiri, Liana melangkah masuk ke dalam gua
yang gelap sampil membawa sebuah mutiara bercahaya sebagai penerang jalan.
Seperti gua-gua pada umumnya, disana gelap dan lembab. Sepertinya
sesekali dia dapat
mendengar cicitan tikus
dan kelelawar serta
suara air menitik dari dinding
yang berlumut.
Ada kehidupan yang
ramai tapi terasa sepi entah kenapa.
Beruntungnya Liana sudah terlebih menghalangi indra penciumannya
sesaat setelah melangkah ke dalam gua
saat dia menyadari ada bau aneh dari kotoran hewan-hewan nocturnal yang hidup disana.
Liana tidak tahu mengapa biarawati membawanya ke tempat seperti ini. Ini bukan
tempat yang cocok untuk melakukan pertemuan
serius dengan seseorang.
Dilihat dari seorang biarawati muda yang menyampaikan pesan
padanya, seseorang yang ingin menemui dirinya mungkin adalah orang-orang dari kuil itu sendiri.
Liana sebenarnya sudah sangat mencurigai orang-orang kuil yang sedari
pertama dilihatnya sangat aneh. Tapi dia masih tetap mengikuti karena ingin
mengetahui apa yang akan
mereka lakukan padanya.
Sambil berjalan dengan hati-hati, Liana tetap mengamati sekeliling gua
tetapi belum menemukan
jebakan atau sesuatu
yang emncurigakan. Selain aura
spiritual yang semakin
padat semakin dia memasuki kedalaman gua
dan bau-bau aneh lainnya, gua itu sebenarnya terlihat seperti gua biasa.
Tapi setelah Liana datang ke dunia ini, dia selalu meyakini, semakin
biasa sesuatu, semakin banyak hal yang
cocok untuk meletakkan rahasia.
Hampir satu jam lamanya, Liana terus menyusuri gua, semakin dia masuk ke dalam sana,
tapi masih belum menemukan
ujungnya. Hampir ingin
berhenti melanjutkan dan kembali, hanya
saja dia terlalu penasaran dengan apa yang akan dia jumpai di akhir.
Menggertakkan
gigi dan terus berjalan hingga samar-samar dia mulai mendengar suara air dari
depan tidak terlalu jauh. Matanya
bersinar saat menemukan
sesuatu. Terus
mempercepat langkahnya ke tujuan. Sayangnya dia
langsung di blokir oleh dinding
gua tepat sebelum asal suara air yang didengarnya.Sialnya, itu jalan buntu!
Liana kesal, yakin di balik dinding pasti
ada sesuatu, atau itu mungkin jalan keluar
lain dari gua.
Menyerah bukan kata yang bisa
disematkan pada seorang
Liana.Dia mengetuk
dan meraba-raba dinding gua yang dingin, mencoba mencari mekanisme atau pintu
yang mungkin ada di sana. Sampai dia mendengar suara gema yang terdengar
berbeda di suatu tempat di dinding, lebih nyaring dari sekitarnya, yang
menandakan ada ruang kosong di baliknya.
“Hei, otak manusia itu
pintar.” Liana
mencibir pada dinding, dia tidak seperti Liana yang tenang ketika dirinya kesal.
Baik, dia memang
__ADS_1
sudah lelah fisik dan mental berjalan sepanjang sore di dalam gua yang gelap,
lembab dan bau. Meskipun dia
seorang kultivator dan
dia cukup sabar. Tapi seorang kultivator yang
belum menembus batas fana seperti dirinya juga dapat lelah dan masih memiliki enam emosi
dan tujuh keinginan.Singkatnya, dia bukan boddhisatva.
Liana kembali
mengetuk di sekitar area dinding yang terdengar nyaring dan mendapati jika area
itu seluas pintu satu orang. “Heh, menemukanmu!” Dia mengangkat alisnya dan terkekeh
menyenangkan.
Gadis serba putih itu mundur satu langkah dari dinding menyiapkan tinjunya dengan sedikit aura spiritual. Mengayunkannya
dan ...BOOM!!!
Dinding pecah menjadi kepingan kecil
yang langsung berserakan
di lantai tanah yang dingin dan lembab.
Liana mengayunkan lengan bajunya dengan gerakan ringan, membuat debu hasil dari kerusakan dinding gua
menyebar hingga menghilang, tidak lagi menghalangi pandangannya melihat apa yang ada di depan.
Sebelum presepsinya jelas, telinganya sudah mendengar suara air
yang jatuh dengan keras. Dan apa yang
dilihatnya sekarang juga
lebih menakjubkan.
Air terjun yang jatuh dari ketinggian ratusan meter tempatnya menapak, Liana bahkah tidak tahu darimana air mengalir karena dibelakangnya adalah gua kering
yang pengap. Meliputinya adalah pemandangan luas pepohonan hijau yang berdesir
tertiup angin sepoi-sepoi yang sejuk. Ada banyak jenis bunga dengan berbagai warna terlihat dari atas sini. Burung-burung
terbang dan berkicau germbira.
Dan hewan dari berbagai bentuk, dari yang normal hingga aneh hidup berdampingan akrab tanpa
perselisihan.
Seperti dunia lain yang dipisahkan oleh dinding batu. Sangat berbeda saat dia menoleh ke depan dan ke belakang.
Liana baru tahu ternyata akhir gua yang ia jelajahi adalah puncak suatu pegunungan dengan pemandangan yang menakjubkan menyambutnya.
Bukankah dia berada
di Surga?
Ini benar-benar memukau dan memanjakan mata.
“Hebat!” Liana berteriak dengan senyum di wajahnya saat kemudian dia menyadari jika aura spiritual di tempat itu adalah sangat murni dan tebal, bahkan menyamai
ruang dimensi sayap kembar
miliknya.Tetapi Liana
tidak langsung berkultivasi, sebaliknya dia dengan penasaran mengamati
lingkungan saat ini berada, yang nampak sedikit familiar, namun Liana tidak
dapat mengingat dimana dia pernah melihat pemandangan seperti ini sebelumnya.
Sejujurnya, dia telah sibuk dengan pekerjaan
polisi tentara di dunia sebelumnya, sangat jarang dapat menikmati keindahan alam
seperti ini. Dia
berjalan-jalan dengan riang.
Dia seperti anak kecil yang
menemukan mainan baru.Berlari kesana
kemari sambil mengumpulkan harta yang berserakan disana-sini. Semuanya luar
biasa.
Sampai dia menemukan bahwa jalan yang ia lalui semakin familiar. Liana memikirkan sesuatu saat
jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
“Mungkinkah?”
Liana mempercepat langkahnya, menyusuri jalan yang dia ingat. Sampai beberapa saat, dia melihat pondok-pondok kecil beratapkan jerami dari
beberapa ratus meter jauhnya.
Mata Liana menjadi cerah saat dia mendekati tempat tujuan.
Dia sedikit
terkejut saat
melihat siluet merah sudah menunggu di depan gerbang desa.
“Gege!” Liana berteriak dengan gembira. Dia terkejut,
tapi hanya itu dan tidak heran jika melihat Wei
Wuxian sudah menunggunya di Desa Yunan.
Benar, dia sudah berada di tempat legendary, Pegunungan Seribu,
yang mana disana adalah pemukiman dari klan
__ADS_1
terkuat Tiga Benua, klan Yunan. Dia kembali ke kampong halamannya.
~o0o~