[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana

[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana
#129-Warisan Lainnya


__ADS_3

Saat Liana dan orang-orang mengikuti gerombolan, mereka tiba-tiba dihentikan oleh seorang biarawati yang memberitahukan


bahwa yang ingin mendapat ramalan bisa datang besok karena Yang Agung sedang


tidak sehat.


Liana mengernyit dan melihat wajah kecewa orang-orang. “Bukankah beberapa


saat yang lalu dia masih baik-baik saja.” Liana bergumam dengan bingung. Tapi selebihnya dia tidak terlalu perduli. Sebaliknya


dia hanya mengikuti orang-orang.


Meskipun ramalan


tidak didapat,


pengunjung kuil diperbolehkan untuk berkeliling. Lagipula, hari


masih sangat cerah, ada baiknya untuk berjalan-jalan sebentar di lingkungan ini, pemandangannya juga baik-baik saja, tidak ada salju di


tanah seperti halnya di Ibukota Kekasisaran.


Wei Wuxian belum kembali, jadi Liana juga memilih untuk berjalan-jalan mengelilingi kuil. Dia sudah


sedari tadi penasaran dengan setiap pemandangan menakjubkan yang ia


lewati di sepanjang menuju aula utama. Area kuil itu sangat luas, sehingga ada banyak tempat yang belum dikunjungi.


Pertama-tama, dia berhenti di kolam teratai misterius yang pernah dilewatinya sebelumnya. Banyak bunga teratai


mekar  dan penuh aura spiritual yang cukup murni


membawa udara segar.


Lalu dia menjelajahi berbagai tempat yang terlihat eksotis disana. Tak sampai di sore


hari dia kembali bersama


para pengunjung kuil ke tempat akomodasi yang


tersedia di sana untuk sejenak beristirahat dan


makan sebelum mereka semua kembali ke kota.


Semenatara itu, Wei Wuxian masih belum kembali.


“Apa yang dilakukan Xian gege?”


Liana bertanya-tanya saat melihat ubin di atap. Sebaliknya


dia tidak terlalu khawatir, hanya


merasa sedikit kesepian.


Dia sedang melamun ketika tiba-tiba


terdengar suara ketukan dari pintu


membuatnya sadar.


Liana membuka


pintu dan mendapati seorang biarawati muda berdiri di depannya.“Apa


masalahnya?” Dia bertanya.


Biarawati muda itu memiliki ekspresi tabah


saat dia berkata, “Nona Zhu


Liana, seseorang mencarimu.” Setelahnya dia langsung berbalik pergi.


Liana bingung sejenak tetapi segera mengerti saat biarawati itu berbalik menatapnya


lagi. Dia ingin dia


mengikutinya.


Liana menjadi sedikit curiga tetapi dia masih berjalan di belakang biarawati muda. Mengikutinya sampai mereka tiba di hutan yang sebenarnya tidak jauh maupun dekat di belakang kuil. Ada tebing


dengan gua yang nampaksuram dan gelap, biarawati muda itu berhenti berjalan di depan mulut gua.


Dikelilingi oleh pepohonan


tinggi dan semak belukar yang padat,


tempat itu sebenarnya cukup sepi.


“Tempat apa ini?” Liana penasaran. Mengapa membawanya ke tempat


seperti ini? Apakah dia diculik? Apakah sebenarnya


mereka adalah


organisasi perdagangan manusia? Atau sebeuah penelitian illegal? Jika benar


begitu,  maka siapapun yang ada di balik penculikanadalah orang yang sangat sopan.


Liana tiba-tiba tersentak, pikirannya barusan


sepertinya sangat konyol. Dia sepertinya


agak keluar dari logika karena terlalu


banyak melamun.


Atau mungkin


dia kurang minum. Karena entah kenapa akhir-akhir ini dia


sering memikirkan kehidupan


sebelumnya di dunia modern.


Liana menghela napas dengan kebiasaan buruknya. Dia bahkan tidak menyadari jika biarawati


muda yang membawanya ke tempat


itu sudah lama pergi meninggalkannya sendirian.

__ADS_1


“Ya sudah, masuk saja.” Berbicara


dengan dirinya sendiri, Liana melangkah masuk ke dalam gua


yang gelap sampil membawa sebuah mutiara bercahaya sebagai penerang jalan.


Seperti gua-gua pada umumnya, disana gelap dan lembab. Sepertinya


sesekali dia dapat


mendengar cicitan tikus


dan kelelawar serta


suara air menitik dari dinding


yang berlumut.


Ada kehidupan yang


ramai tapi terasa sepi entah kenapa.


Beruntungnya Liana sudah terlebih menghalangi indra penciumannya


sesaat setelah melangkah ke dalam gua


saat dia menyadari ada bau aneh dari kotoran hewan-hewan nocturnal yang hidup disana.


Liana tidak tahu mengapa biarawati membawanya ke tempat seperti ini. Ini bukan


tempat yang cocok untuk melakukan pertemuan


serius dengan seseorang.


Dilihat dari seorang biarawati muda yang menyampaikan pesan


padanya, seseorang yang ingin menemui dirinya mungkin adalah orang-orang dari kuil itu sendiri.


Liana sebenarnya sudah sangat mencurigai orang-orang kuil yang sedari


pertama dilihatnya sangat aneh. Tapi dia masih tetap mengikuti karena ingin


mengetahui apa yang akan


mereka lakukan padanya.


Sambil berjalan dengan hati-hati, Liana tetap mengamati sekeliling gua


tetapi belum menemukan


jebakan atau sesuatu


yang emncurigakan. Selain aura


spiritual yang semakin


padat semakin dia memasuki kedalaman gua


dan bau-bau aneh lainnya, gua itu sebenarnya terlihat seperti gua biasa.


Tapi setelah Liana datang ke dunia ini, dia selalu meyakini, semakin


biasa sesuatu, semakin banyak hal yang


cocok untuk meletakkan rahasia.


Hampir satu jam lamanya, Liana terus menyusuri gua, semakin dia masuk ke dalam sana,


tapi masih belum menemukan


ujungnya. Hampir ingin


berhenti melanjutkan dan kembali, hanya


saja dia terlalu penasaran dengan apa yang akan dia jumpai di akhir.


Menggertakkan


gigi dan terus berjalan hingga samar-samar dia mulai mendengar suara air dari


depan tidak terlalu jauh. Matanya


bersinar saat menemukan


sesuatu. Terus


mempercepat langkahnya ke tujuan. Sayangnya dia


langsung di blokir oleh dinding


gua tepat sebelum asal suara air yang didengarnya.Sialnya, itu jalan buntu!


Liana kesal, yakin di balik dinding pasti


ada sesuatu, atau itu mungkin jalan keluar


lain dari gua.


Menyerah bukan kata yang bisa


disematkan pada seorang


Liana.Dia mengetuk


dan meraba-raba dinding gua yang dingin, mencoba mencari mekanisme atau pintu


yang mungkin ada di sana. Sampai dia mendengar suara gema yang terdengar


berbeda di suatu tempat di dinding, lebih nyaring dari sekitarnya, yang


menandakan ada ruang kosong di baliknya.


 “Hei, otak manusia itu


pintar.” Liana


mencibir pada dinding, dia tidak seperti Liana yang tenang ketika dirinya kesal.


Baik, dia memang

__ADS_1


sudah lelah fisik dan mental berjalan sepanjang sore di dalam gua yang gelap,


lembab dan bau. Meskipun dia


seorang kultivator dan


dia cukup sabar. Tapi seorang kultivator yang


belum menembus batas fana seperti dirinya juga dapat lelah dan masih memiliki enam emosi


dan tujuh keinginan.Singkatnya, dia bukan boddhisatva.


Liana kembali


mengetuk di sekitar area dinding yang terdengar nyaring dan mendapati jika area


itu seluas pintu satu orang. “Heh, menemukanmu!” Dia mengangkat alisnya dan terkekeh


menyenangkan.


Gadis serba putih itu mundur satu langkah dari dinding menyiapkan tinjunya dengan sedikit aura spiritual. Mengayunkannya


dan ...BOOM!!!


Dinding pecah menjadi kepingan kecil


yang langsung berserakan


di lantai tanah yang dingin dan lembab.


Liana mengayunkan lengan bajunya dengan gerakan ringan, membuat debu hasil dari kerusakan dinding gua


menyebar hingga menghilang, tidak lagi menghalangi pandangannya melihat apa yang ada di depan.


Sebelum presepsinya jelas, telinganya sudah mendengar suara air


yang jatuh dengan keras. Dan apa yang


dilihatnya sekarang juga


lebih menakjubkan.


Air terjun yang jatuh dari ketinggian ratusan meter tempatnya menapak, Liana bahkah tidak tahu darimana air mengalir karena dibelakangnya adalah gua kering


yang pengap. Meliputinya adalah pemandangan luas pepohonan hijau yang berdesir


tertiup angin sepoi-sepoi yang sejuk. Ada banyak jenis bunga dengan berbagai warna terlihat dari atas sini. Burung-burung


terbang dan berkicau germbira.


Dan hewan dari berbagai bentuk, dari yang normal hingga aneh hidup berdampingan akrab tanpa


perselisihan.


Seperti dunia lain yang dipisahkan oleh dinding batu. Sangat berbeda saat dia menoleh ke depan dan ke belakang.


Liana baru tahu ternyata akhir gua yang ia jelajahi adalah puncak suatu pegunungan dengan pemandangan yang menakjubkan menyambutnya.


Bukankah dia berada


di Surga?


Ini benar-benar memukau dan memanjakan mata.


“Hebat!” Liana berteriak dengan senyum di wajahnya saat kemudian dia menyadari jika aura spiritual di tempat itu adalah sangat murni dan tebal, bahkan menyamai


ruang dimensi sayap kembar


miliknya.Tetapi Liana


tidak langsung berkultivasi, sebaliknya dia dengan penasaran mengamati


lingkungan saat ini berada, yang nampak sedikit familiar, namun Liana tidak


dapat mengingat dimana dia pernah melihat pemandangan seperti ini sebelumnya.


Sejujurnya, dia telah sibuk dengan pekerjaan


polisi tentara di dunia sebelumnya, sangat jarang dapat menikmati keindahan alam


seperti ini. Dia


berjalan-jalan dengan riang.


Dia seperti anak kecil yang


menemukan mainan baru.Berlari kesana


kemari sambil mengumpulkan harta yang berserakan disana-sini. Semuanya luar


biasa.


Sampai dia menemukan bahwa jalan yang ia lalui semakin familiar. Liana memikirkan sesuatu saat


jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.


“Mungkinkah?”


Liana mempercepat langkahnya, menyusuri jalan yang dia ingat. Sampai beberapa saat, dia melihat pondok-pondok kecil beratapkan jerami dari


beberapa ratus meter jauhnya.


Mata Liana menjadi cerah saat dia mendekati tempat tujuan.


Dia sedikit


terkejut saat


melihat siluet merah sudah menunggu di depan gerbang desa.


“Gege!” Liana berteriak dengan gembira. Dia terkejut,


tapi hanya itu dan tidak heran jika melihat Wei


Wuxian sudah menunggunya di Desa Yunan.


Benar, dia sudah berada di tempat legendary, Pegunungan Seribu,


yang mana disana adalah pemukiman dari klan

__ADS_1


terkuat Tiga Benua, klan Yunan. Dia kembali ke kampong halamannya.


~o0o~


__ADS_2