[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana

[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana
86-Godaan yang Tak Tertahankan


__ADS_3

Akademi Yilongfei tidak berada di dalam ibu kota Kekaisaran, itu cukup jauh di selatan. Jika menggunakan jalur darat, mungkin akan memakan waktu setidaknya satu bulan perjalanan menggunakan kuda tercepat. Mereka juga tidak dapat menggunakan pintu teleportasi antar kota seperti biasanya, karena tidak ada jalur teleportasi menuju Yilongfei, tempat itu adalah sebuah pulau yang mengapung di atas awan dan dikelilingi kabut putih tebal hingga sulit untuk melihat keberadaan tempat itu.


Jadi menggunakan alat tranportasi udara seperti hewan terbang adalah pilihan tercepat. Mungkin dua minggu paling lama merekan sampai disana jika tidak ada hambatan.


Liana lebih dulu pamit pada orang-orang rumah, berkata kepada Ayahnya untuk selalu menjaga kesehatan, jangan terlalu keras berkerja lembur setiap malam. Lalu dia juga berkata kepada Wan Feng untuk mengelola apa yang sudah mereka rencanakan. Ah benar, dua saudara lelakinya yang lain, Zhu Wuxia dan Zhu Lianhu sudah lebih dulu berangkat beberapa hari lalu. Mendadak karena aka nada acara perekrutan murid baru di musim gugur ini.


Sebenarnya tanpa di duga, Nyonya An yang ia temui di pelelangan rakyat tempo lalu juga berada di sana, menemuinya.


Bertukar kata sebentar dengan wanita bersuara nyaring itu, “Nyonya An, aku mempecayakan pelelangan itu padamu. Semoga itu dapat membantu orang-orang. Ah ya, setiap musim, aku akan mendistribusikan beberapa barang untuk dilelang. Kau tidak perlu khawatir kekurangan.”


Nyonya An mengangguk, dia sebenarnya mengagumi gadis muda di depannya. “Terima kasih, Xiaojie, karena telah percaya padaku.”


Liana kembali membalasnya dengan dengungan halus. Setelah beberapa kali lagi mengucapkan sepatah dua patah kata dan menerima beberapa nasehat dari penatua, Liana dan lainnya berangkat.


Di atas derek, dia hanya berdua dengan Wei Wuxian, saudarinya yang lain tentu di beri tunggangan berbeda, tunggangan terbang dari kediaman Perdana Menteri sendiri yang berupa Derek juga, tapi lebih kecil dari milik sang Pangeran Ke-tiga.


Kedua gadis itu juga mengerti, mereka tak bisa mengganggu pasangan itu dan hanya mampu tersenyum masam.


Dan juga, ada beberapa pengawal dari istana dan kediaman Perdana Menteri yang mengikuti mereka dengan hewan tunggangan terbang masing-masing.


Saat itu, Weiling tiba-tiba menghela napasnya di samping Yuxia. “Haa~, aku masih bersalah pada kakak ke-dua. Aku merasa malu karena sering menggertak dirinya.”


Dan Yuxia terdiam, dia juga merasa bersalah dan malu pada dirinya sendiri karena berhasil dibodohi dengan hasutan omong kosong. Sebelum akhirnya mengemukakan pendapatnya tentang Liana. “Kakak kedua begitu baik. Dan dia adalah orang yang hebat. Dulu aku sering menghina betapa lemahnya dia setelah jatuh satu kali. Meski begitu, dia memang bukan orang yang pengecut. Dan sekarang dia bahkan sudah jauh lebih kuat dari diriku.”


“Kau benar.” Weiling menyetujui. “Aku selalu dibutakan oleh ketenaran dan pujian hingga menjadi selalu iri padanya. Tapi setelah tahu dia begitu mudah memafkan kita dan bahkan menyuruh kita menjadi lebih kuat. Aku merasa begitu kekanak-kanakkan. Padahal dulu kita semua begitu dekat satu sama lain. Tapi setelah kejadian itu ... semuanya berubah. Aku tidak tahu kenapa, aku juga merasa malu karena perbuatan jahat ibuku.”


Kali ini keduanya menjadi hening sepanjang waktu. Sedangkan orang yang mereka bicarakan dengan santainya duduk di atas derek, menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya yang halus. Di belakang Liana, Wuxian mengamati punggung lurus gadis itu dengan penuh perhatian.


Melihatnya beberapa kali, dia tahu Liana adalah orang yang kuat. Tapi mengamatinya lebih jauh, dia melihat kerapuhan gadis itu yang disembunyikan di tempat yang paling dalam, dalam dirinya. membuat Wuxian ingin sekali melindunginya, memperlakukannya menjadi baik dan lebih baik lagi.


Dia tidak bisa membiarkan pria lain mendekati gadisnya ini. Dia benar-benar memiliki pesona yang jarang dapat ditolak. Mungkin, sesampainya di akademi nanti dia bisa menguncinya, mengurungnya untuk dirinya sendiri. Aih~ betapa baiknya jika dia dapat melalukan hal itu.


Dengan senyum ringan dan rasa nyaman yang datang padanya, Liana merasa santai. Tapi segera dia merasakan tatapan panas dari belakangnya. Tanpa berbalik, Liana langsung saja bertanya bertanya, “Ge, bagaimana menurutmu?”

__ADS_1


“Hmm, apa itu?”


“Aku. Kau sudah memperhatikan diriku sedari tadi.” Saat dia mengatakan hal ini, Liana berbalik dan langsung melihat wajah Wuxian yang tersenyum padanya. “Apa yang sedang kau rencanakan?” Firasat buruk. Liana memicingkan matanya curiga menatap Wuxian.


Seandainya dia juga sudah mampu mendengar pikiran pihak lain, apa jadinya nanti? Tapi Liana benar merasa jika sosok di dekatnya ini tengah merencanakan sesuatu padanya. Membuatnya sedikit waspada.


Wuxian mengerutkan bibirnya. “Li’er akan memiliki banyak penggemar nanti. Xian akan dilupakan. Betapa baiknya jika Li’er hanya bersama Xian sepanjang waktu. Bisakah Xian mengunci Li’er nanti? Tidak boleh bertemu orang lain.”


Liana lantas hampir tersedak napasnya sendiri. Apa … apa itu tadi? Dia tidak berharap Wuxian akan menjawab seperti itu. setidaknya dia berpikir sang Pangeran akan sedikit menyangkal.


Tapi apa ini? perkataan Wei Wuxian, bukankah itu terlalu terang-terangan? Dan, kenapa dia melakukan Meng* ? Ahh~ Liana tidak bisa menolak sesuatu yang imut. Segera wajahnya memerah dan dia ingin berteriak seperti gadis muda lainnya. Itu terlalu tak tertahankan melihat pemuda tampan dengan garis wajah yang terlihat polos bertingkah imut padamu. Dan tambahan, itu adalah tunangannya sendiri. Ini jelas adalah godaan, godaan besar!


*Note: Meng istilah China yang berarti bertingkah imut.


“Ge- gege? kau ... kau, apa yang kau lakukan?”


Liana sebenarnya tadi ingin mengintrogasi pemuda itu dengan serius. Membuatnya mengaku dan menjadi gugup. Tapi dia malah ditembak dengan sesuatu yang tak dapat ditolaknya.


Lalu sekarang dia tidak tahu harus melakukan apa.


Liana ditembak berkali-kali, wajahnya sudah sangat panas, dia berbalik memunggungi Wuxian kemudian langsung duduk berlutut, menunduk menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Tidak ingin melihat orang lain yang membuat jantungnya berdetak begitu kencang.


Beruntung tidak ada yang memperhatikan kelakuan memamerkan cinta mereka. Karena Derek yang keduanya naiki terbang beberapa jarak lebih jauh dari yang lainnya. Atau kalai tidak, mungkin Liana akan merasa lebih kehilangan muka dari pada Wuxian yang sudah dikenal dengan label bodohnya sebagai seorang Pangeran.


Setelah beberapa kali pertukaran manis dari tindakan penuh cinta Wuxian pada Liana yang membuat gadis itu hampir pingsan dengan tegukan darah dalam tubuhnya yang seolah akan mengering. Sebenarnya suasana di antara Wuxian dan Liana memang cukup harmonis, tapi sekarang bertambah menjadi manis dan membingungkan bagi Liana yang tidak mengerti apa-apa.


Dia tiba-tiba berpikir, akhir-akhir ini, Xian gegenya lebih sering berinisiatif menggodanya. Terakhir kali saat mereka berada di taman sakura yang ada di istananya. Dan sekarang dia bertingkah imut, menggerakkan Liana.


Liana sungguh tidak pernah bisa mempertahankan wajah bermartabat dan acuh tak acuh miliknya jika berada di depan sang Pangeran. Tapi itu juga membuatnya sedikit bersemangat tapi juga tertekan karena dia tidak bisa mengendalikan diri.


~o0o~


Sudah menjelang sore hari, dan waktunya mereka beristirahat. Beruntung mereka dapat cepat sampai di kota selanjutnya, jadi tidak perlu bermalam di tengah hutan yang beresiko.

__ADS_1


Kendaraan terbang mendarat di depan gerbang kota dengan Wuxian yang memimpin. Mereka tak dapat masuk ke dalam kota itu tanpa pemeriksaan terlebih dahulu.


Jadi setelah beberapa pertanyaan dan permintaan untuk menunjukkan identitas. Rombongan mereka segera di persilahkan masuk dengan keantusiasan yang tinggi. Mengetahui jika di rombongan itu ada seorang Pangeran dari Ibu Kota Kekaisaran. Tuan Kota juga menyambut mereka dengan meriah dan penuh hormat, dia membawa rombongan itu langsung ke Kediaman Tuan Kota yang merupakan bangunan terbesar di kota tersebut. Yah, dengan tidak lupa menjadi penjilat berlebihan seperti pejabat yang ahli, aih!


“Yang Mulia. Jika yang rendah ini tahu anda akan datang, kami akan mempersiapkan sambutan yang lebih baik.”


Tanpa ekspresi, Wuxian memandang Tuan Kota yang gemetaran. Yah, dia mengeluarkan momentumnya untuk menekan pria paruh baya itu. “Siapkan tempat menginap untuk tiga hari.” Dia berkata dengan datar.


Setiap orang di rombongan kecuali Liana terperangah dengan perangai acuh tak acuh yang tidak sesuai dengan rumor itu.


Weiling yang berjalan di samping kiri Liana berbisik. “Kakak, anu ... bu- bukahkah Pangeran itu dikatakan sebagai orang yang bodoh? Tapi kenapa dia tidak terlihat seperti itu sama sekali?” sebenarnya dia sudah ingin bertanya tentang ini beberapa kali. Tapi hanya sekarang dia memiliki cukup keberanian karena merasa sudah jauh lebih dekat dengan Liana.


Yuxia yang berada di samping kanan Liana juga diam-diam setuju dengan pertanyaan Weiling. Dia ingin mendengar jawaban juga.


“Hum, bukankah aku juga memiliki beberapa rumor? Lalu apa kalian percaya itu sekarang?”


Dia bertanya apa mereka percaya dengan rumor itu sekarang karena tahu jika rumor itu mereka percayai di masa lalu. Itu membuat Weiling dan Yuxia diam-diam kembali merasa malu. Tapi keduanya menggelang karena sudah tahu rumor hanyalah rumor belaka.


“Jadi apakah Pangeran Ke-tiga sebenarnya tidak bodoh?” Kali ini Yuxia yang bertanya dengan berbisik.


Liana tersenyum saat dia mengelus kepala Liana. “Nah, bagaimana menurutmu?”


“Ugh! Sepertinya tidak begitu. Tapi- tapi beberapa kali dia memang ....”


Perkataan Yuxia segera terpotong dengan sebuah dekheman dari depan. Oh ayolah, sebarapa kecil suara bisikan mereka? Seorang Wuxian adalah kultivator dengan keterampilan yang tinggi, dia dapat mendengar pikiran orang lain, suara bisikan seperti itu tentu tak luput dari pendengarannya.


“Apa yang kalian bicarakan dengan berbisik seperti itu?”


Dua gadis di samping kiri dan kanan Liana mundur satu langkah, bersembunyi di balik punggung Liana dengan gugup.


Sedangkan Liana diam-diam menutup senyumannya dengan kepalan tangan. Berusaha menahan tawa. “Ge, apa kau adalah orang yang bodoh?” Liana maju satu langkah dengan dagu yang sedikit terangkat, seperti menantang Wuxian untuk mengatakan kebenaran dari suatu hal.


Dan semua orang segera mengalihkan pandangannya kepada dua orang itu, menahan napas atas keberanian Liana untuk mempertanyakan kecerdasan seorang Pangeran.

__ADS_1


~o0o~


__ADS_2