[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana

[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana
100-Arena Pertarungan


__ADS_3

Tidak hanya Wei Wuxian yang medapat kabar tantangan Liana pada Murong An Fei. Orang yang tentunya menjadi sekutu Murong An Fei juga telah mendengar berita itu.


“Gadis bodoh itu? apa yang dia lakukan, berbuat gegabah! Aku tidak mengerti mengapa Tuan kita harus memilih gadis bodoh sepertinya untuk datang bersama kita di Yilongfei.” Seorang gadis dengan penampilan nyentrik menggerutu tak suka dan wajahnya sangat kesal.


Seorang pria berwajah serius memandang gadis itu dengan wajah tanpa ekspresi, memberikan pendapatnya, “Tuan kita bijaksana, selalu memiliki pertimbangannya sendiri. kita harus percaya padanya. Dia selalu memiliki rencana dan melihat ke masa depan. Daerah ini bukan wilayah kita, kita harus lebih berhati-hati. Jaga pikiran dan perilakumu.”


Mendengar pria yang terlihat lebih tua darinya memberi komentar masuk akal, gadis itu medengus kesal tetapi dia masih dengan patuh mendengarkannya. Mau bagaimana pun, pria itu lebih kuat darinya.


~o0o~


Arena Pertarungan Akademi Yilongfei dibuat khusus untuk para murid yang ingin unjuk bakat atau bahkan ada yang menggunakannya untuk menyelesaikan masalah antara kedua belah pihak.


Seperti kata seseorang, “Jika tidak bisa menggunakan mulut untuk berdebat, maka gunakan tinju untuk melawan.”


Seperti itulah keadaan Liana dan Murong An Fei sekarang. Dan saat ini, keduanya sudah berdiri di sisi berlawanan panggung arena, saling memandang dan mengawasi pihak lain. Dengan wasit berada di tengah untuk mengawasi jalannya pertarungan yang adil. Wasit sendiri hanyalah seorang penatua yang juga sering mengawasi murid-murid yang bertarung di dalam arena. Sebab itulah dia nampak berpengalaman dengan pemandangan seperti ini, dan dia juga cukup profesional.


Sebelum memulai, wasit tentunya akan menjelaskan peraturan pertarungan. “Peraturannya, yang mengaku menyerah, tidak bisa lagi bertarung dan keluar dari arena akan menjadi orang yang kalah. Tidak diizinkan berbuat curang, menggunakan senjata tersembunyi dan racun. Tidak dapat menggunakan pil obat untuk meringankan cedera saat masih di dalam pertarungan. Dan terakhir, tidak diizinkan untuk membahayakan nyawa sesama murid di dalam arena. Apa kalian mengerti?”


Secara alami, kedua murid yang berada di dalam arena mengangguk paham. Tapi mereka sudah memiliki pemahaman diam-diam untuk mengalahkan yang lain.


Liana masih menunjukkan sikapnya yang tenang, lalu saat wasit menyuarakan aba-aba mulai, dia sudah merentangkan tangannya dan seketika sebuah pedang dengan gagang putih dan bilah mengkilap tajam muncul di sana membuat penonton terkesiap.


Tidak diragukan lagi, Murong An Fei yang berada di atas arena juga terkejut. Tak menyangka jika gadis yang ia anggap tidak berguna kini mengeluarkan kekuatannya, itu pun terasa tak biasa. Tidak seperti penonton yang kurang tahu, dia yang menjadi lawan Liana telah merasakan penindasan dari aura kuat yang ia anggap berasal dari pedang Liana.


Hatinya menjerit berkata jika Pedang itu adalah senjata ajaib Kelas Atas!


Sebuah senjata juga akan memiliki tingkatan layaknya Kultivator manusia untuk membedakan kualitas dan kekuatan senjata. Dibagi menjadi peringkat sederhana seperti Kelas Rendah, Menengah, Tinggi dan Atas. Namun ada pula tingkatan yang lebih tinggi dari itu, yakni Kelas Bumi, Langit, dan kelas lain yang hanya menjadi legenda bagi dunia kultivator, Kelas Surgawi.


Dan tebakan Murong An Fei saat ini adalah benar jika pedang yang Liana bawa di tangannya hanyalah senjata Kelas atas. Ya, hanya, sebab Liana juga memiliki senjata dengan kelas yang lebih tinggi dari itu yang tentunya semua berasal dari Shiro, dia tidak tahu dari mana datangnya semua benda-benda ajaib dan kuat yang diberikan Shiro padanya, dia hanya tahu jika sang Pegasus yang ia pelihara adalah makhluk yang kaya.


Dan untuk melawan gadis angkuh seperti Murong An Fei, senjata kelas atas sudah cukup untuk menakut-nakuti dirinya. Orang harus tahu jika Liana masih berada di ranah Penempaan Qi. Membawa senjata dengan kelas yang lebih tinggi tentunya tak mungkin baginya menurut orang-orang. Sebab, semakin tinggi kelas senjata, tentunya akan semakin sulit dikendalikan, karena senjata-senjata itu memiliki roh di dalamnya. Dan biasanya, roh-roh itu terkenal liar dan sulit untuk ditaklukkan.

__ADS_1


Hanya yang kuatlah yang mendapat yang terbaik. Hukum seperti ini berlaku di dunia beladiri.


Baik, mari kembali melihat situasi di atas arena. Liana masih belum bergerak karena menunggu Murong An Fei mengeluarkan serangan terlebih dahulu. Dia hanya berdiri di atas sana layaknya tiang batu yang kokoh, hanya gaun hanfunya yang putih juga jubah luar yang ia gunakan tertiup angin, menambah pemandangan fantastis yang menakjubkan layaknya seorang Abadi yang turun sendiri menginjak tanah kotor dunia fana. Orang-orang tak sadar terpesona oleh aura miliknya.


Pulih dari keterkejutannya, Murong An Fei sudah memupuk kebencian pada lawannya. Dia bahkan sudah mengeluarkan niat membunuh yang samar tapi masih dapat dirasakan oleh Liana.


“Aku tidak percaya kau memiliki kemampuan. Hanya mengandalkan senjata untuk menakutiku, itu tidak akan cukup. Kali ini, karena kau berani memprovokasi diriku, putri ini pasti akan membuatmu menyesalinya.”


Setelah mendengus dengan amarah dan kebencian atas rasa iri dan gelap mata pada Liana yang memiliki benda kuat pada dirinya, Murong An Fei melancarkan serangan yang cukup kuat dari lecutan cambuk yang ia gunakan sebagai senjatanya.


Cahaya merah seperti api berpendar di cambuk yang elastis, mengeluarkan suara mendesis ular dan suara nyaring memekakkan telinga setiap kali diayunkan. Cambuk yang digunakan Murong An Fei juga kuat! Meski pun lebih rendah dari pedang milik Liana.


Mendapati serangan langsung yang ganas, Liana tak panik. Dari pada menghadapi serangan cepat Shiro yang mematikan pernah ia rasakan, serangan putri Negara Merak itu hanya layak disebutkan sebagai serangan liar dari seorang anak yang merajuk.


Liana sudah dengan santai menghindari setiap lecutan cambuk. Alhasil, serangan Murong An Fei selalu mengenai lantai Arena yang membuatnya seketika menghasilkan retakan di sana. Itu memang kuat, jika serangan mendarat di tubuh seorang kultivator Penempaan Qi biasa, tubuh mereka mungkin sudah terbelah.


Para penonton sudah bergidik, tapi mereka puas mendapat pertunjukkan yang menarik.


“Apa yang kau lakukan? Terus menghindar dan kalah? Benar-benar tidak berguna!” dalam kondisi seperti itu, dia bahkan tidak lupa mencibir, berusaha untuk membalik amarah juga pada Liana.


Liana mengangkat sebelah alisnya, yah, setidaknya Murong An Fei tidak menjadi bodoh sepenuhnya. Dia hanya gadis yang tidak masuk akal dengan kurang didikan dan terlalu dimanja. Mungkin, masih dapat diperbaiki.


Liana seketika menghentikan langkah kakinya yang menghindar, menyentak cambuk dengan tangkisan pedangnya. Matanya mulai berkilat dengan bahaya saat menyaksikan Murong An Fei mundur beberapa langkah akibat gerakannya yang tiba-tiba.


Saat itulah Murong An Fei merasakan suhu dingin menerpa tubuhnya, membuat merinding. Dia melihat Liana yang berdiri di depannya dengan posisi lurus tegak tak tergoyahkan, dalam hatinya sudah memiliki sedikit rasa takut pada gadis itu tapi dia tidak mau mengakuinya.


Tidak sampai pada saat Liana mengatakan, “Sekarang giliranku.” Dia hanya dapat melihat sesuatu yang buram melesat ke arahnya dengan cepat, membawa hembusan angin yang kuat menerpa tubuhnya hingga terhuyung ke belakang.


Tapi yah, seperti yang dibilang, Murong An Fei tidak sepenuhnya bodoh. Setiap ultivator akan memiliki insting bertahan hidup, semakin kuat mereka, semakin dapat mereka merasakan bahaya, tidak terkecuali Murong An Fei.


Serangan Liana hampir tiba, dia tidak segera menggunakan cambuknya tapi malah membuangnya dan melakukan segel tangan untuk membuat formasi pertahanan.

__ADS_1


Gerakannya cepat, refleksnya baik. Hanya dalam waktu beberapa detik, sebuah formasi transparan yang tampak seperti perisai muncul di depannya menghalangi serangan kuat Liana.


Namun Murong An Fei sepertinya masih meremehkan Liana. Dia tidak terlalu mengantisipasi gerakan gadis itu yang sudah menjadi seorang veteran pertarungan tunggal seperti sekarang, lagipula Zhu Liana masih memiliki pangkat jenderalnya di dunia modern meski pun dia sudah diketahui sebagai orang yang meninggal di sana. Kekuatannya tentu tidak dapat diremehkan.


Perisai berbenturan dengan ujung pedang yang runcing dan tajam, hanya saja tidak ada orang yang membawa gagangnya. Pedang itu terbang dengan sendirinya, atau lebih tepatnya dikatakan jika pedang sudah dikendalikan oleh Liana dari jarak jauh. Itu bukan pedang terbang, tapi seorang Liana dapat mengendalikan angin, bahkan nampaknya seperti berteman dengan elemen tersebut.


Dia dengan lancar memanipulasi angin disekitarnya, bahkan membuat angin untuk menghilangkan jejak dan auranya. Dia berlatih cukup giat akhir-akhir ini, dan hampir seluruh keterampilan bertarung yang ia miliki mencapai mahir dan ada yang mnecapai kesempurnaan.


Terseksiap, penonton dan wasit yang menyaksikan pertarungan riuh dengan diskusi dan kekaguman atas teknik yang digunakan Liana yang seolah-olah membuatnya menghilang dari panggung arena dan bahkan masih mampu mengendalikan pedangnya.


Murong An Fei bingung dan panik. Tapi dia masih menggeretakkan giginya hingga mengeluarkan bunyi yang menyakitkan. Susah payah dia mencari keberadaan Liana, tapi belum sempat dia menemukannya, sebuah pukulan mengenai perutnya membuat Murong An Fei mundur sejauh tiga meter dan dia mengeluarkan seteguk darah dari mulut. Baru setelah itu dia melihat kain putih melambai tertiup angin berasal dari mana dia di serang.


“Trik curang apa yang kau gunakan?” Ah, Liana ingin menarik kembali ucapannya, putri itu bukan hanya memiliki kebodohan di otaknya, tapi dia benar-benar seorang idiot sejati.


“Tentunya trik curang yang menunjukkan jika kau adalah orang yang lemah!” Ah, meski begitu, Liana sudah memulai pelajarannya pada Murong An Fei.


Murong An Fei tentu tak terima dikatakan lemah oleh gadis yang ia anggap tak berguna seperti Liana. Dia dengan marah memaki Liana saat dirinya mulai berdiri, sepertinya sedikit pulih dari cederanya tapi wajahnya sudah menjadi pucat pasi karena kehilangan cukup banyak darah.


Dengan tertatih-tatih, dia mulai membentuk segel tangan yang lain, setelah itu berteriak dengan cukup keras, “Kelur, Huzi!”


Saat itulah, dari celah ruang muncul pusaran energi berwarna kuning-jingga di depan Murong An Fei seperti sebuah gerbang lubang cacing.


Perlahan keluar makhluk dari dalam sana, lebih tepatnya seekor binatang iblis berbentuk macan yang di berbagai tubuhnya mengeluarkan nyala api berwarna ungu yang berkobar dan sangat panas.


Macan memiliki taring yang tajam menatap Liana dengan ganas. Saat macan itu muncul, jejak kesombongan kembali terlihat dari wajah Murong An Fei. “Heh, lihat! Apa gunakan kau memiliki senjata kelas atas? Tapi aku masih akan dapat mengalahkanmu dengan binatang iblis level lima ini, Macan Api Ungu!”


Lagi-lagi penonton dikejutkan dan melanjutkan diskusi dan kekaguman. Mulai bertaruh habis-habis tentang siapa yang akan memenangkan pertarungan.


~o0o~


__ADS_1


__ADS_2