![[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana](https://asset.asean.biz.id/-reinkarnasi--sayap-takdir--zhu-liana.webp)
Lama keheningan di antara mereka. Tapi keduanya nampak tak gelisah atau perduli tentang itu. Mereka sama-sama menikmati kedamaian sampai Yunan Pavitri lebih dulu membuka suara.
"Waktu itu ... diriku belum sempat bercerita, ya?"
Liana menoleh untuk melihat wanita yang kurang lebih mirip dengannya itu.
"Itukah alasanmu memanggilku lagi?" tanyanya begitu santai namun juga bukan berarti tidak sopan. Liana hanya belum terbiasa atau bisa dibilang jika dia masih agak linglung menghadapi wanita itu yang mengaku sebagai ibunya.
"Ugh! Betapa dinginnya." Liana tahu Yunan Pavitri hanya ingin bercanda, jadi dia diam saja dan itu malah membuat suasana di antara mereka terasa semakin canggung. "Khem! Apa kau ingin mendengarnya?" Yunan Pavitri tak lagi berniat membuat candaan karena dirasa itu kurang berhasil untuk seorang seperti Liana. Gadis itu, suasana hatinya sedang tidak bisa dibilang baik atau buruk saat ini.
Liana memiringkan kepalanya saat memandangi wanita itu. Tapi setelahnya dia mengangguk tanpa mengeluarkan kata-kata. Hal-hal yang berhubungan dengan masa lalu Klan Yunan pasti adalah sesuatu yang penting dan berhubungan dengan dirinya. Jadi mendengarkan kisah-kisah itu adalah sesuatu yang tidak merugikan dirinya.
Yunan Pavitri yang mendapat tanggapan positif tentu merasa senang. Dia tersenyum begitu lebar seperti seorang remaja yang mendapat bunga dari pujaan hatinya, segera menjadi antusias.
"Baik, kita mulai dari mana ya?" Dia bergumam saat tangan kirinya menyentuh siku tangan kanan yang kini tengah menyangga dagunya. "Ah, apa Dia pernah menceritakan sesuatu padamu?" tanyanya.
Liana mengangkat satu alisnya. "Dia?"
"Iya, Dia--Tuan Zanzhu Ren Zuxian," jawab Yunan Pavitri selalu antusias. Sifatnya agak berkebalikan dengan Liana yang serius, wanita itu riang dan ceria.
"Xian gege? Dia memang pernah bercerita padaku," kata Liana membalas.
"Aah, kau masih memanggilnya seperti itu," ucap Yunan Pavitri merasa sedikit lucu dan hal itu membuat Liana menjadi heran.
Masih memanggilnya seperti itu? Maksudnya apa? Bukankah Liana memang selalu memanggil Wei Wuxian dengan nama itu. Ah, jika dipikir lagi, dia jadi merasa itu agak lucu tapi manis. Liana berkedip saat menyadarinya, tapi karena merasa tak ada yang salah, dia tak memikirkannya lagi.
Sebagai gantinya, sekarang dia akan mendengarkan cerita yang ingin Yunan Pavitri utarakan padanya.
"Sampai mana dia bercerita?" tanya wanita itu.
Liana sendiri agak ragu untuk mengatakannya. Takut jika wanita di depannya itu menjadi murung setelah dia berbicara, tapi karena sudah ada yang bertanya, maka dia juga harus menjawab. Liana membuang napasnya. "Kehancuran Klan," jawabnya singkat dan mendapat balasan tersentak dari Yunan Pavitri dengan kata 'ah!'. Wanita itu sepertinya kaget.
Tapi berbeda dengan apa yang Liana pikirkan dari reaksinya. Wanita itu sama sekali tak terganggu dengannya, sebaliknya dia malah terlihat tengah merenung, seperti memikirkan sesuatu yang Liana tak tahu apa itu.
Sesekali dia juga melirik Liana yang memandangnya lekat-lekat, membuatnya terkekeh. Hingga akhirnya wanita itu menepuk telapak tangannya dengan tangan lain yang terkepal seraya berkata, "Baik, mari kita menceritakan tentang kisah perjalanan hidup dari seorang anak yang terlahir dari rahim wanita suci."
Liana masih diam, tapi mendengarkan apa yang akan dikatakan Yunan Pavitri selanjutnya.
Wanita itu sendiri masih berpikir untuk menyusun kata-kata selanjutnya. Tapi dia tiba-tiba menyentak dengan suara, "Yah! Kenapa kita tidak menggunakan cara itu saja," gumamnya tak dapat di mengerti Liana.
__ADS_1
Sebelum dia bertanya, wanita itu lebih dulu mengatakan sesuatu. "Bercerita sepertinya kurang akurat untuk mengetahui kebenaran. Jadi lebih baik kita menyaksikan langsung, bagaimana menurutmu?" Dia bertanya.
Liana terdiam sebentar. "Cara kedua." Kemudian menjawab dengan singkat.
"Hm hm, pilihan yang baik. Nah, ini mungkin akan menjadi perjalanan yang sedikit menegangkan. Pegang tanganku dan kita akan berangkat." Dia telah mengulurkan tangannya di depan Liana saat dirinya telah berdiri.
Gadis itu sendiri tanpa ragu menerima uluran tangan Yunan Pavitri. Menggenggamnya erat dan menarik diri untuk bangun. Raut wajahnya juga masih sama, tidak ramah maupun tidak dingin. Tapi pancaran matanya memiliki kilat cahaya yang aneh, dia sebenarnya antusias dan Yunan Pavitri menyadari itu sehingga dia membentuk bibirnya menjadi senyuman simpul penuh arti.
"Jadi, ayo. Tutup matamu terlebih dahulu." Liana menuruti perkataan Yunan Pavitri dan menutup matanya dengan santai.
Setelah Liana menutup matanya, kegelapan total langsung mengampiri. Seolah seluruh indranya berhenti berfungsi. Dia tak mendengar apapun selain beberapa saat yang lalu samar-sama mendengar suara Yunan Pavitri menggumamkan sesuatu seperti mantra. Lalu setelah itu semuanya menjadi hening dan dia mulai merasa jika tubuhnya saat ini tengah melayang di udara, ah sepertinya tidak. Bahkan udara juga tak terasa di tempat itu, ini seolah berada di kehampaan.
Perasaan yang sama seperti saat dirinya berada di dalam Dimensi Ruang Waktu, ketika itu dia tanpa sengaja memasukinya karena terdesak oleh Monster Belut Naga. Dan di dalam Dimensi Ruang Waktu itulah Liana melihat sesuatu yang membuat dirinya merasa begitu marah saat itu.
Tapi saat ini Liana berinisiatif untuk tidak membuka matanya sampai mendengar perintah dari Yunan Pavitri. Dia tak ingin lagi melihat seuatu yang sama sekali tak ingin dirinya lihat.
Sampai beberapa saat setelahnya, sebuah tepukan pada pundaknya mendarat dan menyadarkan Liana. Gadis itu membuka matanya saat mendengar suata wanita yang ia kenali.
Dia sedikit menyipit untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam mata. Lalu menoleh ke samping. Di sana masih Yunan Pavitri yang juga melihat ke arahnya.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya wanita itu. "Yah, untuk pertama kali sepertinya memang dapat membuat pusing," ucapnya melanjutkan.
"Yah, kau sudah tahu tentang itu. Jadi mungkin apakah kau pernah masuk sebelumnya?" tanya Yunan Pavitri.
"Satu kali," jawab Liana.
'Yah, seperti yang diharapkan dari pemegang Sayap Takdir.' Begitulah kalimat yang tertulis di wajahnya segera setelah mendengar jawaban Liana. Dia dia juga melengkungkan senyum lebar di bibirnya sambil menaruh kedua tangannya di pinggang hingga nampak arogan seolah berucap, "Dia memang Putriku!" dengan begitu bangga.
Liana sendiri baru tahu jika wanita yang mengaku sebagai ibu pertamanya ini memiliki sifat yang begitu eksentrik dan narsis. Jika dipikir-pikir, dia nampak mirip dengan seseorang.
Yah, kakaknya yang bodoh itu juga tak jauh beda dengan Yunan Pavitri yang sekarang dirinya lihat.
"Hm hm, memang dirimu." Sekali lagi wanita itu menepuk-nepuk pundak Liana bermaksud untuk menyalurkan pujiannya.
"Dimana kita sekarang?" Baru sekarang Liana memperhatikan jika mereka berdua masih melayang di udara. Melihat daratan luas hijau terbentang dengan dikelilingi pemandangan laut biru dari ketinggian.
"Ini Benua Tengah," jawab Yunan Pavitri yang kali ini lumayan singkat dan entah kenapa Liana yang mendengarnya jadi merasa aneh.
"Benua Tengah?" ulang Liana.
__ADS_1
"Yah, tepatnya adalah Pulau Pegunungan Abadi."
Liana tersentak, menoleh pada Yunan Pavitri kemudian pada daratan hijau dibawahnya. Memang di sana ada banyak gunung-gunung kecil dan beberapa gunung yang lebih tinggi menjulang di bawah kaki keduanya.
Sebelum Liana mulai bertanya lagi, Yunan Pavitri kembali bersuara lebih dulu. "Saat akhir yang menjadi awal. Ini adalah hari dimana hancurnya Klan Yunan."
Ucapannya wanita itu lagi-lagi membuat Liana tertegun. Tapi belum selesai keterkejutannya, muncul asap hitam pada titik tententu di Pulau Pegunungan Abadi. Asap yang mengepul begitu hitam dan banyak itu adalah akibat dari sebuah kebakaran besar. Ah, asap itu bukan muncul begitu saja, hanya saja Liana yang tidak memperhatikannya lebih awal.
Liana tahu dirinya kini hanyalah sebuah kesadaran. Jadi dengan seringan bulu dan tanpa peringatan, dia segera melesat ke asal kebakaran.
Akan tetapi wanita di sebelahnya tak mengikuti, tak bergerak sedikit pun dari tempatnya dan tak nampak terkejut dengan tindakannya itu.
Liana sendiri tak memikirkannya lebih jauh. Dia hanya terus melesat ke tujuannya dan mendarat dengan ringan ketika dia sampai.
Matanya menatap lekat ke depan, melihat sesuatu yang mengerikan. Api berkobar membakar pepohonan dan gubuk-gubuk kayu beratapkan jerami, pohon di sekitarnya juga tak luput dari jilatan si jago merah.
Lalu tanahnya yang cokelat berumput hijau tersiram cairan merah yang Liana yakini itu tentunya adalah darah. Beberapa mayat tergeletak dengan kondisi begitu buruk. Tangan, kaki bahkan kepala mereka beberapa terpisah. Sayatan pedang juga melebar di anggota tubuh lainnya.
Meski pun Liana tak mencium aroma apa pun karena indra itu tak berfungsi dalam bentuk kesadarannya saat ini. Dia hanya dapat melihat dan mendengar.
Lalu saat langkah gadis itu semakin maju, kengerian yang ia lihat juga tak semakin baik. Lebih banyak mayat di tanah dalam kondisi mengenaskan.
Dan saat itulah matanya terpaku pada satu mayat dengan wajah tak asing. "Pangeran Zeith De Alertio Virth!" ucap Liana dengan kaget.
Meskipun wajah mayat itu nampak lebih tua dari sang Pangeran dari Kerajaan Benua Barat, mereka masih memiliki kemiripan yang begitu jelas.
Jadi ucapan sang Pangeran memang benar jika dirinya juga seorang Yunan. Dan sepertinya dia juga buka Yunan biasa. Dan Liana melihat di leher mayat itu terdapat plakat kayu yang di jadikan kalung. Nampak seperti sesuatu yang begitu penting.
Liana memperhatikannya setiap detailnya dan melihat sebuah tulisan kecil yang menggunakan huruf romawi yang bertuliskan 'Pemimpin Klan' yang kesemuanya menggunakan huruf Kapital.
Lagi, Liana terkejut. Jadi apakah Benua Tengah telah mengenal huruf romawi? Itu masih di pertanyakan, tapi melihat ini ... dia tak lagi dapat mengehentikan asumsi itu.
Lalu matanya beralih pada sekitar lagi sebelum akhirnya menangkap sosok dengan mata tertutup namun ekspresinya terlihat begitu sedih dan menyesal.
Mata Liana melebar ketika melihat sosok itu yang memiliki rambut hijau sulur yang menjuntai di tanah. Seorang gadis muda yang dalam cerita Wei Wuxian bernama Yunan Shu'er. Gadis yang menjadi awal semua ini terjadi.
Tapi sebenarnya bukan itu yang membuat Liana terkejut. Melainkan wajah ... wajah wanita itu. Mengapa begitu mirip dengan .... "Ibu ...." panggil Liana pelan dalam keterkejutannya.
~o0o~
__ADS_1
See U...