[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana

[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana
103-Perhatian Wei Wuxian II


__ADS_3

Rumah makan itu adalah bangunan berlantai tiga, sebenarnya tepat jika dikatakan sebagai penginapan, karena lantai teratas memang menyewa ruangan tempat menginap bagi para pengunjung.


Saat keduanya memasuki rumah makan, mereka langsung disambut oleh seorang pelayan di depan pintu masuk. Pelayanan yang tidak jauh berbeda dari hotel-hotel dan restoran berbintang abad 21 membuat Liana sedikit bernostalgia.


Selain itu, pemandangan dalam ruangan ramai menyambut juga. Ada banyak orang yang mengunjungi rumah makan tersebut, banyak dari mereka juga merupakan murid dari akademi. Liana agak terpana dengan pemandangan seperti itu, hampir setiap meja di lantai pertama terisi dengan pelanggan. Membuatnya terlihat sedikit sesak. Sepertinya rumah makan ini memiliki reputasi yang baik dan layak.


Setelah bertukar kalimat dengan pelayan yang menyambut mereka di pintu masuk, keduanya dipersilahkan menuju ke tempat resepsionis untuk memesan meja atau kamar. Wuxian juga segera memesan sebuah ruangan pribadi di lantai dua dan mengajak Liana bersamanya.


Di lantai dua, mereka juga langsung disambut oleh seorang pelayan lagi. Wuxian menyerahkan nomor kamar pada pelayan dan langsung dituntun ke ruangan yang sudah dipesan.


“Pelanggan yang terhormat, ini kamar milik kalian, silahakan nikmati waktumu. Untuk pemesanan, ada buku menu yang sudah disediaan di atas meja di dalam ruangan. Kau bisa memanggil seorang pelayan dengan bel jika ada menu yang ingin dipersiapkan.”


Setelah mengataan kata-kata sambutan yang inovatif dan bersifat iklan cerdas, pelayan itu pamit pada keduanya setelah mereka memasui ruangan.


Rumah makan itu sebenarnya disebut dengan nama Aula Mengpo*. Agak aneh dan tidak biasa. Liana tidak tahu mengapa pemiliknya berinisiatif membuat nama restoran dengan hal-hal dari dunia bawah. Tetapi sepertinya saat Liana mengamati, memang agak cocok. Pemandangan yang indah di luar rumah makan yang tersambung dengan jalan utama dan di belakangnya terdapat sungai yang mengalirkan air ke danau di bawah kota mengapung—Yilongfei, juga Liana dapat melihat awan-awan putih di kejauhan pingginran kota yang berupa tebing.


^^^^^^Note: Mungikn ada dari kalian yang pernah mendengar istilah Sungai Mengpo? Itu merupakan tempat di alam baka/dunia bawah yang mana jika orang-orang ingin berinkarnasi wajib meminum air dari Sungai Mengpo agar melupakan setiap kejadian di kehidupan sebelumnya saat mereka ingin berinkarnasi. Dikatakan ataan jika manusia tidak meminum air dari Sungai Mengpo, mereka tidak dapat beriknarnasi menjadi manusia tapi tidak akan melupakan kejadian di kehidupan sebelumnya. Untuk informasi yang lebih lengkap dan tepat, silahkan untuk mengecek Google.


^^^^^^


Pemandangan seperti itu benar-benar membuat orang sedikit melupakan masalah mereka, menikmati diri dalam keadaan santai, sangat nyaman.


Liana yang sudah tersesat dalam lamunan meihat sungai di luar dari jendela ruangan tida menyadari jika saat ini ada seorang pemuda yang juga mengamatinya dengan diam-diam dengan pandangan yang pastinya sulit Liana artikan.


Wei Wuxian dan Liana tidak membuat suara apa pun saat mereka memasuki ruangan pribadi rumah makan. Hanya menikmati diri masing-masing dalam keheningan. Sudah beberapa waktu, terus seperti itu. Mungkin memang kebiasaan keduanya jika saat mereka bersama, akan selalu ada momen diam, damai dan harmoni. Mungkin tidak akan ada pasangan yang seperti mereka. Tidak berinteraksi tapi memiliki ikatan yang sangat baik dan saling mengerti dengan pemahaman diam-diam. Ugh yah, setidaknya memang terlihat seperti itu.


Sampai beberapa saat kemudian, Liana mengalihkan perhatiannya. Saat dia berbalik dari memandang seuatu di luar, matanya langsung bertemu dengan tatapan Wei Wuxian yang duduk di depannya, hanya dihalangi sebuah meja.


Liana tertegun dengan manik pekat nan gelap di seberang. Mata itu terlihat sangat jernih dan menampilan kemurnian yang tak ternoda.


Liana dapat merasakan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, dan seolah ruhnya terhisap ke dalam tatapan yang dalam, dia tak bisa membantu tapi terdiam dalam linglung.


Saat dia tersadar, mata itu menunjukkan senyum, melengkung menjadi bulan sabit. Alis yang bergerak lembut di atasnya akan nampak seperti bilah pedang tajam yang ditempa selama bertahun-tahun.

__ADS_1


Liana tidak pernah mengira jika ada sesuatu yang terlihat begitu cantik di dunia ini. Dia tanpa sadar mengangkat tangannya, mendekat dan meraih.


Wei Wuxian tidak siap, dia tidak pernah menyangka jika Liana akan melakukan tindakan tiba-tiba seperti menyentuh alis dan matanya. Dia membeku di tempat tapi membiarkan gadis itu menyentuh dirinya. Jantungnya sudah berdebar cepat beberapa kali lipat dari normal saat dia melihat Liana keluar dari kelasnya hari ini. Dan sekarang, dengan tindakan gadis itu, dia sudah berusaha untuk menahan diri dari memeluknya.


Saat dirinya berpikir, tangan Liana sudah akan menjauh. Wuxian segera meraih tangan itu membuat sang empu tersentak.


“Anu, maaf.” Liana mencicit, dia tidak pernah merasa begitu malu karena bertindak begitu tidak sopan saat ini. Astaga, siapa yang memberinya keberanian untuk bahkan menyentuh seorang pria? Dia pasti sudah dirasuki, benar, itu pasti dia telah dirasuki barusan.


Tawa kecil di seberangnya terdengar, semakin membuat Liana malu. “Ada apa Li’er? Sudah menyentuh tapi tidak ingin bertanggung jawab?”


Rasa malu segera berubah menjadi kekesalan, Liana hampir melupakan jika seorang Wei Wuxian juga adalah orang yang tidak tahu malu.


Dia ingin menarik tangannya yang dipegang erat oleh Wei Wuxian, tapi tentu saja kekuatannya tidak sekuat pemuda itu. Baru saat inilah Liana merasakan sedikit penyesalan tentang perbedaan gender.


“Lepaskan tanganku!”


“Um?” Wei Wuxian menggeleng, tetapi dia sekarang malah memegang tangan Liana dengan kedua tangannya, tidak ingin melepaskannya barang sekejab.


Tapi pemuda di depannya itu tidak mau mendengarkan barang sebentar. Malah tersenyum lebar dari telinga kiri ke telinga kanan yang membuat Liana semakin merasa kesal dan konyol.


“Li’er, kau sudah menggodaku, mengapa tidak ingin bertanggung jawab?”


Liana tersedak, hampir tidak bisa berkata-kata. Kapan? Kapan dia menggodanya?


Wei Wuxian sendiri sudah menahan tawanya sedemikian rupa. Melihat wajah kesal Liana, dia merasa sangat lucu.


Liana tidak ingin menghabiskan waktunya dnegan omong kosong seorang Wei Wuxian. Karena tidak bisa melepaskan diri dari cengkraman kuat pemuda itu, dia menyerah untuk berjuang, membiarkan tangannya terus dipegang dan dimainkan. Liana duduk kembali dengan seribu kekesalan.


Mendengus, dia berkata, “Aku lapar.” Um ya, dia memang lapar. Dengan wajah yang sedikit memerah, dia memberi intruksi pada Wei Wuxian untuk memesan hidangan yang ada di buku menu.


Wei Wuxian terkekeh, dia sudah tahu jika Liana tidak pernah suka memperaktikan teknik inedia untuk menahan laparnya. Alih-alih terus memakan makanan seperti manusia fana.


Dia kemudian dengan enggan melepaskan satu tangannya untuk mengutak atik buku menu yang sudah tersedia di atas meja. Dikatakan sebagai buku menu, tapi sebenarnya itu hanya sebuah lempengan batu yang terlihat cukup ajaib bagi Liana. Karena nampaknya seperti berfungsi layaknya tablet elektronik dunia modern, namun memang terlihat lebih ajaib saja karena itu batu.

__ADS_1


Jika Liana tidak memiliki ketenangan yang hampir ekstim, dia mungkin sudah berseru kagum. Pemilik restoran benar-benar sesuatu. Mungkin dia hanya akan menemukan hal seperti ini di rumah makan aula mengpo.


Meski pun Liana sudah beberapa bulan kembali dan tinggal ke di tiga benua, tapi dia memang masih asing dengan beberapa hal di tempat ini. Lagi pula, hampir seluruh masa hidupnya dia habiskan di dunia modern sebagai seorang polisi tentara dengan banyak misi berbahaya. Dia mungkin tidak akan memiliki banyak waktu untuk benar-benar menikmati dunia.


Sejenak melupakan rasa kesalnya, Liana masih memperhatikan Wei Wuxian memesan menu. Hanya sekejab dan selesai. Liana tiba-tiba ingin tertawa, nampaknya jika Wei Wuxian hidup di dunia modern, dia mungkin akan cocok menjadi seorang bisnisman muda yang digandrungi banyak wanita.


Ah, memikirkan hal seperti itu, entah mengapa Liana kembali merasa kesal. Kenapa suasana hati Liana mudah berubah-ubah sekarang? Dan itu karena seorang Wei Wuxian.


Dia ingin kembali menarik tangannya tapi lagi-lagi kalah cepat. Pemuda di depannya itu sudah kembali memegangi tangannya erat dengan kedua tangannya.


Mengelus dan membelai, menghitung kuku jarinya, bahkan membuat garis di tangannya membuat Liana merinding geli. “Apa ... apa yang ingin kau lakukan?”


Wei Wuxian tak menjawab, tapi suara pintu terbuka yang terdengar. Kemudian beberapa pelayan masuk ke dalam ruangan yang mereka pesan, membawa banyak nampan makanan. Baru saat itulah tangan Liana dilepaskan.


Liana merasa lega tapi juga merasa menyesal dan kosong, seperti ada sesuatu yang hilang darinya. Apa yang terjadi padanya hari ini?


Dia menggelengkan kepalanya mengusir banyaknya pikiran yang tidak berguna. Hanya memperhatikan para pelayan itu meletakan berbagai hidangan di atas meja hingga penuh. Aroma makanan yang harum segera menyebark e seluruh ruangan membuat orang yang menciumnya menjadi semakin lapar.


Saat seluruh hidangan akhirnya tersusun semua dengan rapi, para pelayan segera memperkenalkan nama-nama setiap hidangan dan kelebihannya dengan maksud promosi iklan. Lalu setelah itu, para pelayan mempersilahkan Liana dan Wuxian untuk mencicipi sementara mereak bergegas keluar dari dalam ruangan pribadi keduanya.


Liana tidak tahu apa yang harus dilakukan, karena setiap hidangan yang tersusun di atas meja benar-benar menggugah seleranya. Sampai seseorang meletakan semanguk sup ikan di depannya, Liana menoleh dan mendapati bahwa Wei Wuxian baru saja menyajikan hidangan paling direkomendasikan.


Liana entah mengapa merasa hangat, dia tersenyum cerah sebagai tanggapan. “Terima kasih.” Dia berkata dengan tulus.


“Um, cobalah. Semua hidangan disini sangat enak.”


“Baik.” Liana juga tidak sopan, dia segera mengambil sumpit dan mulai makan setelah melihat Wei Wuxian mengambil hidangan lain dan menyerahkannya kembali pada Liana.


Yah, dia selalu sangat perhatian padanya.


~o0o~


__ADS_1


__ADS_2