![[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana](https://asset.asean.biz.id/-reinkarnasi--sayap-takdir--zhu-liana.webp)
Menunggu pagi, Liana berhenti dari meditasinya. Kembali merenung karena akhirnya tak bisa tertidur juga. Memikirkan beberapa hal yang terjadi sejak dirinya kembali ke dunia ini.
Otaknya langsung berputar pada ingatan kecilnya ketika kebakaran di Paviliun ibunya terjadi.
"Aneh, sangat aneh."
Lalu tiba-tiba dia teringat dengan kisah kehancuran Klan Yunan yang di ceritakan Wei Wuxian padanya.
Saat itu Yunan Shu'er yang jelas dia ketahui adalah Wei Xiening di kehidupan ini menerima kutukan dari sang Zanzhu Ren Zuxian.
Mata Liana terbelalak saat dirinya langsung berdiri dari tempat tidur. Kutukan itu ... ah, dia tahu jika kutukan itu tak akan membuat hidup Wei Xiening lebih baik akan tetapi dia juga tak akan mudah mati begitu saja. Sekarang Liana semakin yakin jika ibunya benar-benar masih hidup di suatu tempat.
Yang mungkin saat ini dia juga tak dalam keadaan baik. Memikirkan itu, cahaya mata Liana menjadi lebih muram.
Akhirnya dia menghela napas. Ibunya, Wei Xiening berkata jika saat itu tubuhnya juga terdapat racun. Dan dia menyebutkan tentang 'wanita itu'. Apakah Wen Canran atau Yuan Feihua? Atau bisa jadi keduanya.
Lalu Liana kembali teringat dengan seorang yang menjadi dalang kehancuran Klan Yunan, Ye Qiunan.
Laki-laki serakah itu ... dimana dia sekarang? Zanzhu Ren Zuxian juga memberinya kutukan untuk tetap hidup. Mungkinkah dia memang masih hidup hingga sekarang? Dan ... dan juga, dimana dia?
"Sepertinya aku harus bertanya pada Xian gege tentang ini," gumamnya.
Liana kembali duduk dan sedikit memejamkan matanya sebentar lalu tiba-tiba kembali terbuka. Dia mendapatkan sesuatu.
Dari kisah Klan Yunan yang diceritakan Wei Wuxian padanya, dia dapat menyimpulkan jika Ye Qiunan sebenarnya memang menyukai Yunan Shu'er. Hanya saja dia memiliki ambisi yang terlalu dalam hingga rela menghianati kekasihnya sendiri.
Dan jika laki-laki itu memang masih hidup sekarang, dia pasti akan mencari ibunya. Sebab hanya dialah orang luar yang begitu memahami Klan Yunan yang bahkan sampai mengetahui kelemahan mereka.
Anggota Klan Yunan tak abadi, tapi mereka dapat terus bereinkarnasi tanpa kehilangan ingatan masalalu. Dan Ye Qiunan tahu akan hal itu. Seorang yang memiliki ambisi besar tidak akan mudah melepaskan apa yabg awalnya dia miliki.
Entah kenapa Liana merasakan jika Ye Qiunan ini memiliki hubungan dengan kebakaran Paviliun Wei Xiening dan segala hal yang terjadi belakangan ini.
Jika itu benar? Maka ... apa yang akan terjadi selanjutnya? Dan apa yang dia rencanakan?
Anggota Klan Yunan saat ini tengah menyebar dan terpisah di berbagai tempat. Dan sebagai orang yang disebut Tunas Baru dan pemilik Sayap Takdir, Liana tahu jika salah satu tugasnya adalah mengumpulkan mereka kembali.
Liana sedikit tidaknya mengerti seperti apa dia sebagai pemilik Sayap Takdir dari kisah Bai Lan Jin yang ia saksikan sendiri.
Dia dapat mengubah takdir orang-orang yang dekat dengannya, entah itu menjadi takdir yang baik atau buruk. Jadi dia bisa saja mematahkan kutukan dari Zanzhu Ren Zuxian kala itu.
Hanya saja, dia belum tahu cara menggunakan kelebihannya ini. Liana akhirnya kembali menghela napasnya. Sungguh kebiasan buruk.
__ADS_1
Liana akhirnya memutuskan jika besok dia akan mengunjungi istana untuk bertemu dengan Wei Wuxian.
~◇~
Sampai menjelang pagi, Liana benar-benar tak bisa tidur malam itu. Meski sebemarnya dia yang seorang kultivator tidak membutuhkan tidur sama sekali, tidak tidur satu bulan penuh tak akan mempengaruhi dirinya.
Sebagai Kultivator, hal-hal duniawi seperti makan dan minum memang tidak terlalu dibutuhkan. Karena Kultivator dapat mengubah energi spiritual Qi dalam tubuh mereka untuk menjaga kondisi mereka tetap baik.
Bahkan sebagian kultivator benar-benar meninggalkan rutinitas makan karena dalam makanan yang masuk dalam tubuh juga terdapat kotoran yang mengendap, itu dapat mempengaruhi kultivasi mereka.
Hanya saja Liana sedikit berbeda, dia telah mengharuskan hidupnya di dunia modern lebih dari dua dekade. Tak ada yang namanya pembudidaya abadi yang menentang hukum alam disana. Semuanya masih serba fana. Dan dia belum terbiasa untuk meninggalkan hal-hal itu.
Meski dia tahu kotoran dalam makanan yang mengendap di tubuhnya dapat mempengaruhi kelancaran kultivasinya, Liana tak begitu khawatir. Sebab dia tahu metode untuk membersihkan kotoran tersebut. Jadi hal sepele seperti itu tak akan pernah menghambatnya, lagi pula dia suka makan.
Lupakan itu sejenak.
Saat ini matahari sudah mencapai posisi 30°. Jika menghitung waktu ynag dia ketahui, mungkin sekarang masih sekitar jam tujuh atau delapan. Masih cukup pagi untuk menghabiskan sarapannya.
Dan baru saja dia mendengar berita dari Ling jika Zhu Lianhu dan Zhu Yuxian sudah kembali dari akademi untuk melihat Wen Canran.
Memang, Zhu Moran mengabarkan mereka tentang kondisi wanita itu. Dan mereka sudah begitu cepat kembali?
Belum Liana sempat meletakkan sumpitnya kembali karena sarapannya sudah habis, suara ketukan daei luar ruangan mengalihkan perhatiannya.
Dsn Ling yang mengerti menunduk sebentar, "Saya akan melihatnya." Dia berkata, kemudian setelah itu beranjak untuk membuka pintu.
Dilihatnya seorang penjaga gerbang Paviliun yang datang.
Karena penjaga itu tahu jika Ling adalah orang kepercayaan Nona Muda mereka, jadi dia tahu jika gadis dewasa di depannya ini memiliki pangkat yang lebih tinggi darinya. Penjaga gerbang itu sedikit menundukkan kepala sebagai salam.
"Nona Ling, Tuan Muda Ke-tiga ingin bertemu dengan Nona Muda Liana."
Ling sedikit mengangkat alisnya mendengar itu. "Aku akan memberitahu Nona Muda terlebih dahulu." Untuk sesama pelayan Nonanya, Ling tidak perlu menggunakan bahasa yang formal. Apalagi untuk seorang yang memiliki pangkat lebih rendah darinya, itu semakin tidak memerlukan keformalan.
Setelah Ling mengatakan hal itu dia masuk ke dalam untuk memberitahu Liana. Beberapa saat kemudian dia kembali menghadap si penjaga gerbang. Dia berkata, "Biarkan Tuan Muda Ke-tiga masuk."
Penjaga gerbang itu mengangguk, dia segera pergi dari sana untuk memberitahu Zhu Lianhu jika dia mendapat izin sang Nona untuk berkunjung.
Sementara Zhu Lianhu menunggu di gerbang dengan sabar. Dia melihat penjaga gerbang itu kembali dan membawa berita persetujuan Liana. Dia menghela napas lega.
Ini adalah kali pertama dia mengunjungi saudari tirinya itu. Zhu Lianhu sedikit gugup. Sebab sedari dulu dia memang tak begitu dekat dengan Liana. Jika dengan Wan Feng dan saudaranya yang lain, dia masih dapat berinteraksi dengan mereka seperti biasa. Hanya Liana lah orang yang tidak begitu mudah dia dekati. Gadis yang selalu menggunakan stelan serba putih itu sangat tertutup.
__ADS_1
Setelah berjalan untuk beberapa waktu, Zhu Lianhu mencapai sebuah taman dengan rumput hijau sebagai alas. Dan pohon mapel yang beberapa daunnya sudah memerah. Musim gugur segera tiba, dan cuaca memang sedikit lebih dingin akhir-akhir ini.
Di bawah pohon terdapat kursi dan meja batu, dan di salah satu kursi, Zhu Lianhu dapat melihat seorang gadis dengan gaun putih panjang tengah duduk dengan anggun nan elegan sambil memegang cangkir teh kecil di satu tangan dan sebuah buku tebal di tangan lainnya. Wajahnya yang begitu serius dan dingin menambah daya tarik, membuat orang tak bisa menarik pandangan mereka dari mengamati dirinya.
Melihat pemandangan yang baik dari penampilan Liana, entah kenapa jantung Zhu Lianhu sedikit kencang berdetak. Dia tak pernah tahu jika saudarinya itu dapat memiliki aura yang begitu mengesankan. Zhu Lianhu bertambah gugup ketika langkahnya semakin mendekat.
Liana sendiri sudah merasakan kehadiran pemuda yang seumuran dengannya itu. Baru setelah beberapa saat dia menutup buku dan mengangkat kepalanya untuk melihat Zhu Lianhu yanh sedari tadi tak melepas pandangan darinya.
Liana mengernyit melihat mata berbinar dan sedikit kegugupan pemuda itu. Dia tak tahu mengapa, tapi merasa sedikit lucu dengan itu.
Bagaimana pun, Zhu Lianhu terlihat masih polos dan murni. Tidak seperti ibunya yang penuh skema dan intrik licik. Zhu Lianhu hanya terlihat seperti remaja biasa yang ingin tahu.
"Kemari dan duduklah," kata Liana pelan tanpa nada emosi apa pun.
Dia meletakkan buku tebal di atas meja batu lalu diikuti dengan cangkir teh yang sudah tak berisi.
Lianhu menurut. Perlahan dia juga duduk di kursi batu depan Liana. Berdiam diri dengan gugup disana.
Liana perlahan mengambil teko dan menuangkan teh ke dalam cangkir kecil yang belum digunakan, menyerahkannya pada Lianhu.
Lianhu tak menolak pelayanan saudarinya itu. Dia dengan patuh mengangkat cangkir dan meminum isinya sekali teguk.
Menurunkan tangannya kembali ke atas meja. Liana sendiri kembali menuangkan teh ke dalam cangkir yang di pegang Lianhu.
"Bersantailah, dan katakan apa yang ingin kau bicarakan padaku," ucap Liana. Meski masih bernada dingin, tapi ada sentuhan kelembutan dalam suaranya.
Lianhu yang entah kenapa saat mendengar suara Liana, dia menurunkan bahunya dan menjadi lebih santai.
"Kakak Ke-dua ...." panggilnya meski agak takut-takut.
Liana menoleh. "Mn, bicaralah. Aku mendengarkanmu." Ucapannya itu menenangkan.
"Kakak, aku ... aku ingin meminta maaf padamu." Saat mengatakan hal itu, Zhu Lianhu merubah raut wajahnya menjadi muram.
Liana jelas merasakan emosi bersalah dari dalam diri pemuda itu. Entah apa yang membuat Zhu Lianhu merasa begitu bersalah padanya?
~o0o~
**Aku punya kuis... nggak apa pa.. buat seru-seruan doang... nggak ada hadiah buat pemenang...:v
Pertanyaannya: Sudah berapa lama Liana berada di dunia Kultivator**?
__ADS_1
Clue: Dihitung sejak dia mati di dunia modern dan bertransmigrasi.