![[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana](https://asset.asean.biz.id/-reinkarnasi--sayap-takdir--zhu-liana.webp)
"Sekilas, Nona Muda Liana memang terlihat sehat dan baik-baik saja. Akan tetapi ...." Tabib Han menghentikan ucapannya, wajahnya kembali berubah rumit. "Dia masih begitu muda. Haah, inilah alasan mengapa saya mengajak anda ke tempat sepi, Tuan Perdana Menteri. Putri Anda itu sepertinya tak ingin Anda khawatir."
"Sebenarnya apa yang ingin Tabib Han katakan?" Zhu Moran memperlihatkan perasaannya yang tidak baik lewat ekspresi. Kentara dia begitu khawatir tentang keadaan putrinya itu.
Tapi Han menggeleng lemah sebelum akhirnya dia menjelaskan situasi Liana. "Dalam tubuh Nona Muda terdapat Racun Kalajengking Merah. Meski racun sudah ditekan dan Nona Muda begitu bijak, dia memperlambat aliran darahnya agar racun tidak kembali menyebar dan membuat tubuhnya terbakar. Tapi tetap saja Racun Kalajengking Merah adalah racun yang mematikan. Bahkan aromanya saja memiliki setengah dari efek racun sebenarnya."
Mata Zhu Moran melebar. "Apa separah itu?" gumamnya. "Lalu, apa masih dapat di obati?" tanyanya penuh harap.
Tabib Han tersenyum kecil. "Tenang saja. Meski Racun Kalajengking Merah adalah racun yang langka dan ganas, tapi itu masih memiliki penawar. Hanya saja ...." Ucapannya kembali terjeda saat dirinya menghela napas. "Maafkan aku untuk mengatakan ini, Tuan Perdana Menteri. Tapi bahan penawar dari racun itu tak ada padaku. Mereka juga memiliki kelangkaan setara dengan racun tersebut." Wajahnya terlihat begitu menyesal.
Zhu Moran terdiam, menunduk sejenak untuk merenung sebelum akhirnya dia mengangkat kepalanya kembali melihat Tabib Han.
"Tabib Han dapat menuliskan resepnya padaku. Aku akan berusaha untuk menemukan mereka," ucapnya sungguh-sungguh.
Tabib Han juga memasang wajah serius. Dia sudah menduga perkataan Zhu Moran ini. Sang Perdana Menteri adalah orang yang penting dan berkuasa. Akan lebih mudah baginya untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Tapi dirinya hanya ingin mengingatkan pejabat penting istana itu. "Anda yakin? Sebagian resep ini berada di tempat yang berbahaya dan menentang nyawa," ucapnya.
"Lalu apa yang mesti ku lakukan. Aku adalah seorang Ayah yang menyayangi putrinya," balas Zhu Moran dengan senyuman tak berdaya. Hampir nampak seperti orang yang berputus asa. "Jika sampai aku juga kehilangan Liana, maka bagaimana aku bisa menghadapi Xiening nantinya?"lanjutnya dapam hati.
Tabib Han untuk ke berapa kalinya menghela napas. "Baiklah." Dia kemudian mengeluarkan kertas kecil dengan warna sedikit kuning dan kuas pena pendek dari balik pakaiannya. Ini sudah kebiasaannya menjadi seorang Tabib. Perlu sekali menuliskan resep obat pada pelanggan dan dia berkunjung ke rumah mereka atau mereka yang datang padanya.
Tanpa menunggu banyak waktu, dia sebenarnya juga adalah seorang Kultivator. Dengan mudahnya menarik Qi sebagai tinta. Dia menuliskan berbagai macam bahan herbal untuk penawar racun yang di derita Liana. Setelah selesai, dia langsung menyerahkan resep tersebut pada Zhu Moran dan mengatakan beberapa hal tentang itu.
"Tuan Perdana Menteri, saya harap Anda dapat menemukan semua bahan ini secepatnya. Karena saya khawatir Nona Muda Liana tak dapat menekan racun lebih lama," ungkapnya saat akhirnya dia berdiri memohon izin untuk pamit dan kembali ke rumahnya.
Zhu Moran tentu mengizinkan. Dia melihat punggung pria muda yang menjadi tabib itu menjauh dan mengecil hingga tak terlihat lagi. Lalu berbalik menatap kertas yang ada di tangannya.
Dia tanpa sadar bergumam, "Lawan api adalah air dan es." Yah, semua bahan dalam resep penawar racun Kalajengking itu mengandung material dari air mau pun es. Itu memang langka di Kekaisaran Naga karena musim dingin yang biasanya menjadi habitat herbal bermaterial es dan air memang terjadi setahun sekali dan akan datang lagi untuk beberapa bulan ke depan. Untuk menunggu selama itu, kemungkinan tak bisa.
Tapi bukan berarti mereka saat ini tak ada. Yah, ada satu tempat untuk menemukan bahan-bahan langka ini. "Pelelangan Fangzi Bao," ucap Zhu Moran saat dia meremas kertas resep dengan genggaman yang kuat hingga membuatnya kusut.
__ADS_1
Setelah satu kali membuang napasnya, Zhu Moran juga berjalan meninggalkan tempat itu untuk kembali melihat putrinya yang malang.
Setelah beberapa saat melangkahkan kaki, dia berhenti karena sosok tak asing yang baru saja berbincang dengannya terlihat begitu serius saat berhadapan dengan sosok yang juga familiar.
"Ada apa ini? Tabib Han, ku pikir Tabib Han sudah pergi. Apa yang terjadi?" Pandangan Zhu Moran kemudian beralih pada orang yang bersama Tabib Han. "Lalu, Ling. Apa yang kau bawa itu?"
"Tuan, ini adalah herbal yang di berikan selir Wen sebelumnya pada Nona Ke-dua. Tapi Nona sepertinya tak begitu membutuhkan semua ini, jadi saya diperintahkan untuk mengembalikan mereka." Ling masih berkata dengan tenang akan tetapi beda lagi dari Tabib Han yang sudah sedari tadi mengerutkan keningnya dan membuat Zhu Moran menaikkan alis karena melihat ekspresi berbeda keduanya.
"Ada apa Tabib? Sepertinya sesuatu membuatmu tak nyaman," ucap Zhu Moran.
Masih dengan tampang seriusnya, Tabib Han berkata, "Saya tahu mungkin ini agak kurang sopan, tapi sebaiknya saya harus mengatakan ini pada Anda, Tuan Perdana Menteri."
Mendengar itu membuat Zhu Moran juga berwajah serius. "Memang apa yang terjadi?" tanyanya.
"Ini berbahaya, tapi saya tak ingin menyesal," gumam Tabib Han yang terdengar sepertu dengungan lebah di telinga kedua orang di dekatnya itu. Setelah mengambil napas dan menghembuskannya sekali, Tabib Han selesai merangkai kalimat yang akan dia utarakan selanjutnya. "Sepertinya Selir Anda itu memiliki niat lain," ucapnya ambigu. Dia sebenarnya bukan orang yang terlalu berterus terang.
Tabib Han sendiri meminta izin pada Ling dan Zhu Moran untuk membuka kotak giok yang katanya berisi herbal dari Wen Canran. Sejenak matanya menyipit diikuti dengan Zhu Moran yang menatap tajam dan menahan amarahnya di tempat saat mereka melihat isi kotak itu. Ling sendiri masih tenang karena dia sudah tahu apa isi dari kotak giok.
"Inilah yang saya maksud. Semua yang bermaterial api selalu dapat menyulut racun Kalajengking Merah." Tabib Han menggelengkan kepalanya lemah. "Saya tidak bermaksud untuk menuduh Selir Anda, Tuan Perdana Menteri. Hanya saja semua herbal ini mengandung material api. Jika memang dia tak memiliki niatan tertentu, Selir itu dapat memilih hadiah secara acak, bukan? Dan menurut yang Nona pelayan ini ceritakan pada saya. Selir itu berkata jika dia bermaksud memberi hadiah herbal-herbal ini untuk membantu Nona Muda Liana meningkatkan vitalitas tubuh. Herbal-herbal ini memang baik untuk itu jika saja Nona Liana memiliki racun dalam tubuh. Lalu, tak hanya mereka saja yang dapat meningkatkan vitalitas. Jadi, apa maksud Selir itu?"
Orang tua Tabib Han dulunya hanyalah seorang Koroner. Dia belajar dari mereka untuk menyelidiki berbagai hal termasuk bahan obat-obatan meskipun yah, itu bukan bidang pusat seorang Koroner yang selalunya berurusan dengan para mayat. Tapi semenjak kecil dia memang lebih tertarik pada bidang pengobatan. Orang tuanya juga tak memaksa dirinya untuk melanjutkan pekerjaan mereka. Tapi mereka juga mewariskan ilmu forensik padanya. Jadi yah, dia memang ahli di bidang itu.
Zhu Moran yang mendengarnya semakin tersulut emosi. Tapi dengan cepat menenangkan diri. Barulah setelah itu dia mengucapkan beberapa terimakasih pada Tabib Han sebelum akhirnya tabib muda itu benar-benar pergi dari Manor Zhu.
Ling sendiri dia perintahkan untuk kembali melakukan tugas awalnya sedangkan dirinya kini melangkah lemah ke kamar Liana.
Disisi lain, Liana sudah kembali merasakan keringat dingin. Sebenarnya kondisinya sama seperti yang dikatakan oleh Tabib Han. Racun Kalajengking Merah dalam tubuh Liana tak benar-benar telah bersih. Dia hanya membuang sedikit dan sisanya dia tekan untuk beberapa waktu. Dan sekarang itu kembali menjadi liar tanpa sebab.
"Ck, benar-benar merepotkan," decak Liana saat dirinya mencoba untuk kembali duduk dalam posisi lotus.
__ADS_1
Liana segera memejamkan matanya bermaksud untuk masuk dalam meditasi. Tapi baru sebentar dia kembali merasakan rasa terbakar yang tak tertahankan itu menggerogoti organ dalamnya. Lebih sakit dari sebelumnya hingga dia kembali membuka matanya tiba-tiba.
"Racun yang sombong," gumam Liana kesal. Dia kembali berkonsentrasi dan kali ini dirinya bertekad untuk mengalahkan racun.
Dia tahu racun Kalajengking Merah memamg sangat merepotkan. Apalagi di zaman modern, bahan untuk penawar saja sudah begitu langka atau bisa jadi sudah punah. Orang yang terkena racun akan terpaksa untuk terkurung dalam ruang pembekuan dalam waktu yang lama hingga racun mereka sembuh. Itu memang efektif untuk menghilangkan racun, akan tetapi juga menyebabkan fungsi otak tak stabil karena jarangnya pergerakan tubuh. Hal itu membuat orang menjadi cacat mental.
Racun Kalajengking Merah memang pantas menyandang salah satu gelar dari lima racun paling mematikan. Kejam dalam menyiksa mangsa secara perlahan.
Hal itu membuat Liana melakukan kebiasaan buruknya, menghela napas.
Di masa lalu dia memang sedikit ceroboh dan menghirup aroma racun dari dekat. Tapi jika dia tak melakukannya, musuh akan menjadi lebih waspada pada dirinya. Hanya saja dia juga sedikit salah karena melupakan keunggulan racun tersebut. Dan ya beginilah jadinya, dia disiksa dengan rasa panas yang membakar, seolah segala jeroan di dalam perutnya tengah digoreng di dalam minyak yang panas.
Liana mengerang menahan sakit saat tiba-tiba sebuah tangan kasar menempel di punggungnya. Perlahan Liana menjadi tenang bersamaan dengan aliran hangat masuk ke dalam tubuhnya. Rasa panas terbakar barusan perlahan berubah menjadi rasa sejuk yang nyaman. Sedikit perlahan pula racun kembali berhasil di tekan.
Tapi Liana tak berniat membuka matanya lebih lebih cepat karena sekarang dia kembali berada di tempat yang sama seperti mimpinya tadi malam. Tempat yang menjadi alam mimpi miliknya yang memperlihatkan penampakan danau besar dengan bukit-bukit kecil yang mengelilinginya.
"Ini sama sekali tidak seperti mimpi, aku bahkan dapat merasakan angin yang menyapu wajahku," gumam Liana saat dirinya menghampiri wanita yang duduk di pinggir danau dengan santai tanpa kewaspadaan seperti sebelumnya.
Wanita itu mendengar gumaman Liana dan terkekeh pelan. Dia berbalik memperlihatkan senyum yang sama, lembut dan terasa hangat.
"Kita bertemu lagi," ucapnya.
Liana membalas dengan anggukkan, dia langsung duduk di samping wanita itu dan ikut melihat pemandangan danau yang memenangkan.
~o0o~
Nah Kan... Akh, pengen cepet nyingkirin salah satu Antagonisnya.... Biar bisa masuk konflik sesungguhnya... Tapi harus sabar, ayo ikuti alur! Semangat untuk diriku.
Oke para mistah--pembacaku yang sampai saat ini masih nongol di lapak ini, Do'akan penyakit malasku berkurang lah seenggaknya... hehehe
__ADS_1