[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana

[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana
80-Undangan Kaisar


__ADS_3

Tapi … tunggu dulu! Pemuda itu berkata jika ciuman barusan adalah


yang pertama baginya, dan itu … pertama dalam kehidupan ini?


Tunggu dulu! Bukankah berarti Liana juga begitu. Seketika dia


mengingat kembali kejadian yang dia saksikan dalam dunia kenangan.  Dia tersentak kemudian wajahnya kembali


memerah. Meski saat itu dia hanya sebuah kesadaran, tapi apa yang di rasaan Bai


Lan Jin, dia juga merasakannya. Sial! Kenapa Wuxian kembali mengingatkan dirinya


pada hal seperti itu, mesi hanya mentransfer energi spiritual, itu tetap bibir


yang bertemu bibir, tetap sebuah ciuman.


Tapi Liana berusaha menarik kesadaran dan akalnya kembali. Dan baru


pada saat itulah Liana melonggarkan pegangan pada pedangnya dan menurunkan


bahunya yang sedari tadi tegang. Tidak apa-apa, ini bukan hal yang memalukan


dan juga, nalurinya seperti membisikan jika dia belum dapat mengalahkan pemuda


di depannya itu. Wuxian masih terlalu kuat untunya, biarkan dia mengejar


ketertinggalan perlahan.


Liana tak terbiasa berada di bawah tekanan orang lain, jadi saat


mengetahui dia tak bisa mengalahkan pemuda itu, dia sedikit frustasi.


Meski begitu, wajah Liana masih menunjukkan kewaspadaan saat


dirinya menatap mata gelap Wuxian yang seolah menampilkan ilusi nyala api yang


membara, memantulkan wajahnya yang berekspresi kaku.


Lalu tiba-tiba dia tersentak, dia sudah melakukan tindakan yang


begitu impulsif dan konyol. Dia pasti sudah dirasuki barusan. Mengapa sampai


bersusah payah menguras tenaga yang nampaknya sia-sia dia keluarkan? Bodoh!


Liana akhirnya perlahan menjadi tenang, pedang di tangannya juga


perlahan menghilang menjadi butiran cahaya kunang-kunang, hanya sekejab lalu


leyap. Dia menyimpan kembali pedang itu ke tempat di mana dia mengambilnya.


Liana kembali memandang wajah ceria Wuxian, namun kali ini dia


mengendur, menyadari sepertinya dia cukup keterlaluan. Kembali pada sikap


dewasanya, sedikit acuh dan sombong, namun sangat berkesan dan menampilkan aura


mempesona. Dia sangatlah menarik secara alami sebagaimana pembawaannya yang


percaya diri.


“Xian ge, sudah sampai mana tingkat kultivasimu?” tanyanya


kemudian.


Wuxian yang masih terpana dengan tampilan sosok Liana seketika


tertegun dengan pertanyaan tib-tiba gadis itu. tapi dia kembali menampilkan


senyumnya yang jenaka, kemudian menjawab dengan suara yang santai, “Tidak


ingat, tidak pernah dihitung.” Jawaban seperti itu akan terdengar sombong jika


diucapkan oleh orang lain, tapi karena diucapkan oleh Wuxian, jawaban seperti


itu nampak begitu alami.


Liana bahkan mengerutkan alisnya lebih dalam. “Lalu, apa kau


melihat tingkat kultivasi milikku?” Dia bertanya lagi.


Kali ini Wuxian mengangguk disertai kekaguman dan kebanggaan dalam


suaranya, “Forging Qi lapisan ke seratus. Li’er benar-benar berbakat, kau


bahkan belum genap dua bulan berlatih, tapi sudah mencapai hasil sejauh ini.


Luar biasa!”


Liana bahkan lebih malu saat mendengar pujian seperti itu dari


orang yang telah menciptakan dunia luas tempatnya berkultivasi. Suasana di


sekitar mereka berubah dengan cepat, seolah pertengkaran kecil yang barusan


mereka lakukan tidak pernah terjadi.


Bersamaan dengan itu, Ling yang tidak terlihat dari tadi


menghampiri keduanya, membawa pesan. “Nona, seorang Kasim Kaisar datang, ingin


bertemu denganmu dan Pangeran Ke-tiga.”


Barulah selesai dia berbicara, Kasim yang di maksud terlihat


berjalan di belakangnya. “Maaf mengganggu Pangeran dan Nona Muda Zhu, yang


rendah ini di kirim Yang Mulia Kaisar untuk mengundang Pangeran dan Nona


menghadiri jamuan makan siang bersama.”


Satu sisi, Wuxian mengerutkan alisnya kurang suka. Dan sisi Liana,


dia menatap bingung pada sang Kasim. “Jamuan makan siang?” tanyanya.


Kasim itu mengangguk, kemudian menjawab, “Benar Nona, Yang Mulia

__ADS_1


mengundang anda sekalian. Tahu jika Nona Muda berkunjung.”


Tidak tahu kenapa, tapi setelah menyelesaikan kalimatnya, Kasim


kecil itu langsung merasakan dingin di punggungnya.


Wuxian memandang Liana dengan tatapan rumit, lalu gadis itu juga


berbalik memandangnya dengan akhir helaan napas. Istanan adalah tempat tercepat


untuk menyampaikan informasi. Dia tidak heran lagi jika Kaisar telah mengetahui


kedatangannya yang tiba-tiba hanya untuk mengunjungi Wei Wuxian. Lagi pula


benar, tempat yang paling berbahaya memanglah Istana.


Melihat wajah serius pemuda itu, Liana merasa ada sesuatu yang


salah. “Bagaiamana menurutmu, Ge?” tanya Liana.


“Ayo pergi!” Wuxian menarik tangan Liana yang kini sudah berada


dalam genggamannya.


Mengikuti langkah sang Kasim yang menuju ke aula utama, tepatnya


Istana Kasiar, tempat perjamuan diadakan. Mereka melangkah tanpa terburu-buru.


Tak butuh waktu lama untuk sampai, mereka semua adalah Kultivator,


langkah santai mereka lebih cepat dari manusia biasa, dan sebenarnya, jarak


antara Istana pangeran Ke-tiga tidak begitu jauh dari istana Kaisar itu sendiri.


Saat tiba di depan pintu aula perjamuan, penjaga pintu yang menjaga


pintu ruangan berteriak mengumumkan kedatangan mereka, segera pintu berdaun dua


itu terbuka lebar—mempersilahkan mereka untuk masuk ke dalam ruangan yang luas


dan megah.


Pemandangan pertama yang menyambut penglihatan Liana adalah ruangan


luas dan panjang, berbagai kelambu kuning dan merah yang melambai di sisi pilar-pila


kayu berukiran rumit nan indah.


Lalu tepat di ujung sana, sang Kaisar sudah duduk di singgasana


tertinggi dengan meja penuh hidangan makanan dan anggur, juga kursi megah telah


di dudukinya dengan martabat tapi juga santai.


Lalu sisi kiri dan kanannya juga terisi oleh anggota keluarga


kekaisaran lain yang sebagian besar wajah mereka asing di mata Liana.


Para pangeran dan putri memisahkan diri. Tak ada selir tingkat


dan Guifei yang boleh berkenan hadir. Jadi ada empat wanita Kaisar yang duduk


lebih dekat dengannya, untuk melayani saat makan.


Huanghou, atau permaisuri sendiri duduk di samping sang Kaisar,


kursinya bersisian dengan meja yang hanya dipisahkan beberapa jengkal. Menuang anggur


untuk pria agung itu sambil menjaga martabatnya sebagai ibu negara.


Lalu para selir tinggi duduk di tempat yang lebih bawah sesuai


dengan status mereka.


Kiri kanan ruangan juga telah di isi oleh anak-anak Kaisar yang di


akui.


Sekilas, pemandangan tertib seperti ini nampak begitu harmonis


dilihat. Tapi tak ada yang tahu jika dibalik punggung orang-orang itu sudah


tangan yang tersembunyi, membawa racun skema dan intrik licik untuk yang


lainnya. Udara di sekitar ruangan benar-benar membuat Liana muak.


Tapi demi kesopanan dan rasa hormat pada Kaisar, Liana masih


menampilkan ekspresi acuhnya saat berjalan dengan santai dan anggun di samping


Wuxian.


Pemuda itu juga sebenarnya merasakan hal yang sama seperti yang di


rasakan Liana. Sebab itulah dia lebih suka mengunci dirinya dari lingkungan


istana, tidak suka bergaul dan berkeliaran dengan orang-orang yang berlabel


keluarga ini.


Dan karena itu pula dia lebih suka bersembunyi di balik gelar


pangeran bodoh dan tak berguna, hanya untuk menghindar dari pergulatan istana—perebutan


tahta. Tak ada gunanya jika dia mendapat kekuasaan seperti itu, lagi pula dia


tida hidup untuk hal seperti ini. Dia terlahir, hidup dan mati karena gadis di


sebelahnya. Berkuasa atau tidak, tak ada hubungannya dengan tujuan hidupnya.


“Salam Fuhuang!” Wuxian berseru saat dia sedikit menundukkan


kepalanya.


Diikuti oleh Liana yang juga member salam. “Yang Mulia ....” Dia tidak

__ADS_1


lagi memanggil dengan sebutan Paman Kaisar sebagai sopan santun di depan anggota


keluarga kekaisaran lainnya. Singkatnya, sebenarnya dia malas jika nanti ada


yang mengomentari tindakannya yang kurang sopan dan tak beretika.


Liana sudah menebak prilaku dari wajah-wajah yang dia lihat di


dalam ruangan. Liana bahkan melihat tatapan menghina dari sang Huanghou saat


pertama kali dirinya memasuki ruangan. Juga cibiran-cibiran tak bersuara dari


beberapa pengeran dan putri.


Itu membuatnya menghela napas malas dalam hati.


Kaisar juga tak mempermasalahkan panggilan itu sekarang, dia cukup


mengerti perangai orang-orang yang berada disisinya. Jadi dia akan mengikuti


aturan lama saat ini. “Ah-Xian, Li’er. Duduklah di tempat kalian berdua.”


Kaisar berkata dengan ramah, mempersilahkan kedua pasangan muda-mudi itu untuk


duduk di tempat yang telah di sediakan pada mereka.


Keduanya menurut, karena Liana dan Wuxian telah di tetapkan sebagai


pasangan, maka tempat duduk mereka tak berhadapan melainkan bersisian seperti


para pangeran yang sudah memiliki Wangfei disisinya.


Setelah melihat keduanya duduk, Kaisar kembali berkata, “Li’er, kau


pasti belum mengenal semua orang di dalam ruangan ini, bukan? Biarkan Zhen


memperenalkan mereka padamu.”


Liana merasa sedikit aneh tentang itu, tapi dia tak menolak


kebaikan Kaisar karena akan menjadi tabu. “Merepotkan Yang Mulia.” Dia segera membungkuk


sebagai ucapan terimakasih atas niat baik pria agung itu.


Tapi berbeda dengan Liana, para pangeran dan putri itu masih


memperlihatkan martabat tinggi mereka dan duduk dengan angkuh. Beberapa dari


mereka masih muda, Liana mengerti.


Kaisar mulai memperkenalkan orang-orang. Mulai dari sang permaisuri


dan seterusnya.


Liana menyimak dengan penuh perhatian.


Huanghou atau Permaisuri saat ini yang menggantikan Permaisuri


terdahulu—Lan Xixi yang meninggal dunia karena melahiran sang Pangeran Ke-tiga


Wei Wuxian bernama, Nian Yangchi yang dulunya adalah seorang Huang Guifei. Dia melahirkan


tiga anak untuk Kaisar, dua putra dan satu Putri.


Wei Muzhi, Pangeran Pertama yang sudah mewarisi gelar Putra


Mahkota, saat ini telah berumur 27 tahun, memiliki banyak selir tapi belum


memiliki Wangfei.


Lalu putranya yang kedua bernama Wei Mufeng, satu tahun lebih muda


dari Wuxian, dia adalah Pangeran Ke-empat.


Setelahnya ada Wei Lanhua, sahabat Liana, Putri pertama atau anak


ke-enam Kaisar  yang kini juga berumur 15


tahun. Dia adalah putri yang paling di sayangi Permaisuri.


Selanjutnya adalah Selir Agung atau Huang Guifei yang sekarang, dia


bernama Yan Yinian. Dia melahiran dua putra untuk Kaisar.


Pertama bernama Wei Zijing, Pangeran ke dua yang mendapat gelar Raja


Min karena prestasinya di medan perang, saat ini masih berusia 23 tahun. Yah,


Liana dapat melihat dari cara berpakaian sang Pangeran, dan postur tubuhnya


yang tegap, dia telah melalui banyak medan pertempuran.


Lalu putranya yang ke dua adalah Wei Wujing, Pangeran Ke-lima dan


saat ini masih berumur 16 tahun.


Lalu selir Kaisar yang selanjutnya adalah dua Guifei yang duduk


lebih jauh dari Kaisar. Mereka adalah Zi Xuemei dan Fei Xiao Ying. Mereka masing-masing


melahirkan satu anak untuk Kaisar.


Wei Gu Wan, sang Pangeran bungsu alias Anak Ke tujuh Kaisar12 tahun.


Dia adalah putra Zi Xuemei.


 Dan Fei Xiao Ying hanya


melahiran seorang putri untuk Kaisar, yaitu Wei Yi Rong, 12 tahun saat ini dan


dia adalah putri bungsu alias anak terakhir yang di akui Kaisar.


~o0o~


Oke, Episode kali ini aku nyoba Upload lewat Laptop... ternyata yah... nggak ribet amat sih...

__ADS_1


__ADS_2