![[REINKARNASI] Sayap Takdir: Zhu Liana](https://asset.asean.biz.id/-reinkarnasi--sayap-takdir--zhu-liana.webp)
Tapi … tunggu dulu! Pemuda itu berkata jika ciuman barusan adalah
yang pertama baginya, dan itu … pertama dalam kehidupan ini?
Tunggu dulu! Bukankah berarti Liana juga begitu. Seketika dia
mengingat kembali kejadian yang dia saksikan dalam dunia kenangan. Dia tersentak kemudian wajahnya kembali
memerah. Meski saat itu dia hanya sebuah kesadaran, tapi apa yang di rasaan Bai
Lan Jin, dia juga merasakannya. Sial! Kenapa Wuxian kembali mengingatkan dirinya
pada hal seperti itu, mesi hanya mentransfer energi spiritual, itu tetap bibir
yang bertemu bibir, tetap sebuah ciuman.
Tapi Liana berusaha menarik kesadaran dan akalnya kembali. Dan baru
pada saat itulah Liana melonggarkan pegangan pada pedangnya dan menurunkan
bahunya yang sedari tadi tegang. Tidak apa-apa, ini bukan hal yang memalukan
dan juga, nalurinya seperti membisikan jika dia belum dapat mengalahkan pemuda
di depannya itu. Wuxian masih terlalu kuat untunya, biarkan dia mengejar
ketertinggalan perlahan.
Liana tak terbiasa berada di bawah tekanan orang lain, jadi saat
mengetahui dia tak bisa mengalahkan pemuda itu, dia sedikit frustasi.
Meski begitu, wajah Liana masih menunjukkan kewaspadaan saat
dirinya menatap mata gelap Wuxian yang seolah menampilkan ilusi nyala api yang
membara, memantulkan wajahnya yang berekspresi kaku.
Lalu tiba-tiba dia tersentak, dia sudah melakukan tindakan yang
begitu impulsif dan konyol. Dia pasti sudah dirasuki barusan. Mengapa sampai
bersusah payah menguras tenaga yang nampaknya sia-sia dia keluarkan? Bodoh!
Liana akhirnya perlahan menjadi tenang, pedang di tangannya juga
perlahan menghilang menjadi butiran cahaya kunang-kunang, hanya sekejab lalu
leyap. Dia menyimpan kembali pedang itu ke tempat di mana dia mengambilnya.
Liana kembali memandang wajah ceria Wuxian, namun kali ini dia
mengendur, menyadari sepertinya dia cukup keterlaluan. Kembali pada sikap
dewasanya, sedikit acuh dan sombong, namun sangat berkesan dan menampilkan aura
mempesona. Dia sangatlah menarik secara alami sebagaimana pembawaannya yang
percaya diri.
“Xian ge, sudah sampai mana tingkat kultivasimu?” tanyanya
kemudian.
Wuxian yang masih terpana dengan tampilan sosok Liana seketika
tertegun dengan pertanyaan tib-tiba gadis itu. tapi dia kembali menampilkan
senyumnya yang jenaka, kemudian menjawab dengan suara yang santai, “Tidak
ingat, tidak pernah dihitung.” Jawaban seperti itu akan terdengar sombong jika
diucapkan oleh orang lain, tapi karena diucapkan oleh Wuxian, jawaban seperti
itu nampak begitu alami.
Liana bahkan mengerutkan alisnya lebih dalam. “Lalu, apa kau
melihat tingkat kultivasi milikku?” Dia bertanya lagi.
Kali ini Wuxian mengangguk disertai kekaguman dan kebanggaan dalam
suaranya, “Forging Qi lapisan ke seratus. Li’er benar-benar berbakat, kau
bahkan belum genap dua bulan berlatih, tapi sudah mencapai hasil sejauh ini.
Luar biasa!”
Liana bahkan lebih malu saat mendengar pujian seperti itu dari
orang yang telah menciptakan dunia luas tempatnya berkultivasi. Suasana di
sekitar mereka berubah dengan cepat, seolah pertengkaran kecil yang barusan
mereka lakukan tidak pernah terjadi.
Bersamaan dengan itu, Ling yang tidak terlihat dari tadi
menghampiri keduanya, membawa pesan. “Nona, seorang Kasim Kaisar datang, ingin
bertemu denganmu dan Pangeran Ke-tiga.”
Barulah selesai dia berbicara, Kasim yang di maksud terlihat
berjalan di belakangnya. “Maaf mengganggu Pangeran dan Nona Muda Zhu, yang
rendah ini di kirim Yang Mulia Kaisar untuk mengundang Pangeran dan Nona
menghadiri jamuan makan siang bersama.”
Satu sisi, Wuxian mengerutkan alisnya kurang suka. Dan sisi Liana,
dia menatap bingung pada sang Kasim. “Jamuan makan siang?” tanyanya.
Kasim itu mengangguk, kemudian menjawab, “Benar Nona, Yang Mulia
__ADS_1
mengundang anda sekalian. Tahu jika Nona Muda berkunjung.”
Tidak tahu kenapa, tapi setelah menyelesaikan kalimatnya, Kasim
kecil itu langsung merasakan dingin di punggungnya.
Wuxian memandang Liana dengan tatapan rumit, lalu gadis itu juga
berbalik memandangnya dengan akhir helaan napas. Istanan adalah tempat tercepat
untuk menyampaikan informasi. Dia tidak heran lagi jika Kaisar telah mengetahui
kedatangannya yang tiba-tiba hanya untuk mengunjungi Wei Wuxian. Lagi pula
benar, tempat yang paling berbahaya memanglah Istana.
Melihat wajah serius pemuda itu, Liana merasa ada sesuatu yang
salah. “Bagaiamana menurutmu, Ge?” tanya Liana.
“Ayo pergi!” Wuxian menarik tangan Liana yang kini sudah berada
dalam genggamannya.
Mengikuti langkah sang Kasim yang menuju ke aula utama, tepatnya
Istana Kasiar, tempat perjamuan diadakan. Mereka melangkah tanpa terburu-buru.
Tak butuh waktu lama untuk sampai, mereka semua adalah Kultivator,
langkah santai mereka lebih cepat dari manusia biasa, dan sebenarnya, jarak
antara Istana pangeran Ke-tiga tidak begitu jauh dari istana Kaisar itu sendiri.
Saat tiba di depan pintu aula perjamuan, penjaga pintu yang menjaga
pintu ruangan berteriak mengumumkan kedatangan mereka, segera pintu berdaun dua
itu terbuka lebar—mempersilahkan mereka untuk masuk ke dalam ruangan yang luas
dan megah.
Pemandangan pertama yang menyambut penglihatan Liana adalah ruangan
luas dan panjang, berbagai kelambu kuning dan merah yang melambai di sisi pilar-pila
kayu berukiran rumit nan indah.
Lalu tepat di ujung sana, sang Kaisar sudah duduk di singgasana
tertinggi dengan meja penuh hidangan makanan dan anggur, juga kursi megah telah
di dudukinya dengan martabat tapi juga santai.
Lalu sisi kiri dan kanannya juga terisi oleh anggota keluarga
kekaisaran lain yang sebagian besar wajah mereka asing di mata Liana.
Para pangeran dan putri memisahkan diri. Tak ada selir tingkat
dan Guifei yang boleh berkenan hadir. Jadi ada empat wanita Kaisar yang duduk
lebih dekat dengannya, untuk melayani saat makan.
Huanghou, atau permaisuri sendiri duduk di samping sang Kaisar,
kursinya bersisian dengan meja yang hanya dipisahkan beberapa jengkal. Menuang anggur
untuk pria agung itu sambil menjaga martabatnya sebagai ibu negara.
Lalu para selir tinggi duduk di tempat yang lebih bawah sesuai
dengan status mereka.
Kiri kanan ruangan juga telah di isi oleh anak-anak Kaisar yang di
akui.
Sekilas, pemandangan tertib seperti ini nampak begitu harmonis
dilihat. Tapi tak ada yang tahu jika dibalik punggung orang-orang itu sudah
tangan yang tersembunyi, membawa racun skema dan intrik licik untuk yang
lainnya. Udara di sekitar ruangan benar-benar membuat Liana muak.
Tapi demi kesopanan dan rasa hormat pada Kaisar, Liana masih
menampilkan ekspresi acuhnya saat berjalan dengan santai dan anggun di samping
Wuxian.
Pemuda itu juga sebenarnya merasakan hal yang sama seperti yang di
rasakan Liana. Sebab itulah dia lebih suka mengunci dirinya dari lingkungan
istana, tidak suka bergaul dan berkeliaran dengan orang-orang yang berlabel
keluarga ini.
Dan karena itu pula dia lebih suka bersembunyi di balik gelar
pangeran bodoh dan tak berguna, hanya untuk menghindar dari pergulatan istana—perebutan
tahta. Tak ada gunanya jika dia mendapat kekuasaan seperti itu, lagi pula dia
tida hidup untuk hal seperti ini. Dia terlahir, hidup dan mati karena gadis di
sebelahnya. Berkuasa atau tidak, tak ada hubungannya dengan tujuan hidupnya.
“Salam Fuhuang!” Wuxian berseru saat dia sedikit menundukkan
kepalanya.
Diikuti oleh Liana yang juga member salam. “Yang Mulia ....” Dia tidak
__ADS_1
lagi memanggil dengan sebutan Paman Kaisar sebagai sopan santun di depan anggota
keluarga kekaisaran lainnya. Singkatnya, sebenarnya dia malas jika nanti ada
yang mengomentari tindakannya yang kurang sopan dan tak beretika.
Liana sudah menebak prilaku dari wajah-wajah yang dia lihat di
dalam ruangan. Liana bahkan melihat tatapan menghina dari sang Huanghou saat
pertama kali dirinya memasuki ruangan. Juga cibiran-cibiran tak bersuara dari
beberapa pengeran dan putri.
Itu membuatnya menghela napas malas dalam hati.
Kaisar juga tak mempermasalahkan panggilan itu sekarang, dia cukup
mengerti perangai orang-orang yang berada disisinya. Jadi dia akan mengikuti
aturan lama saat ini. “Ah-Xian, Li’er. Duduklah di tempat kalian berdua.”
Kaisar berkata dengan ramah, mempersilahkan kedua pasangan muda-mudi itu untuk
duduk di tempat yang telah di sediakan pada mereka.
Keduanya menurut, karena Liana dan Wuxian telah di tetapkan sebagai
pasangan, maka tempat duduk mereka tak berhadapan melainkan bersisian seperti
para pangeran yang sudah memiliki Wangfei disisinya.
Setelah melihat keduanya duduk, Kaisar kembali berkata, “Li’er, kau
pasti belum mengenal semua orang di dalam ruangan ini, bukan? Biarkan Zhen
memperenalkan mereka padamu.”
Liana merasa sedikit aneh tentang itu, tapi dia tak menolak
kebaikan Kaisar karena akan menjadi tabu. “Merepotkan Yang Mulia.” Dia segera membungkuk
sebagai ucapan terimakasih atas niat baik pria agung itu.
Tapi berbeda dengan Liana, para pangeran dan putri itu masih
memperlihatkan martabat tinggi mereka dan duduk dengan angkuh. Beberapa dari
mereka masih muda, Liana mengerti.
Kaisar mulai memperkenalkan orang-orang. Mulai dari sang permaisuri
dan seterusnya.
Liana menyimak dengan penuh perhatian.
Huanghou atau Permaisuri saat ini yang menggantikan Permaisuri
terdahulu—Lan Xixi yang meninggal dunia karena melahiran sang Pangeran Ke-tiga
Wei Wuxian bernama, Nian Yangchi yang dulunya adalah seorang Huang Guifei. Dia melahirkan
tiga anak untuk Kaisar, dua putra dan satu Putri.
Wei Muzhi, Pangeran Pertama yang sudah mewarisi gelar Putra
Mahkota, saat ini telah berumur 27 tahun, memiliki banyak selir tapi belum
memiliki Wangfei.
Lalu putranya yang kedua bernama Wei Mufeng, satu tahun lebih muda
dari Wuxian, dia adalah Pangeran Ke-empat.
Setelahnya ada Wei Lanhua, sahabat Liana, Putri pertama atau anak
ke-enam Kaisar yang kini juga berumur 15
tahun. Dia adalah putri yang paling di sayangi Permaisuri.
Selanjutnya adalah Selir Agung atau Huang Guifei yang sekarang, dia
bernama Yan Yinian. Dia melahiran dua putra untuk Kaisar.
Pertama bernama Wei Zijing, Pangeran ke dua yang mendapat gelar Raja
Min karena prestasinya di medan perang, saat ini masih berusia 23 tahun. Yah,
Liana dapat melihat dari cara berpakaian sang Pangeran, dan postur tubuhnya
yang tegap, dia telah melalui banyak medan pertempuran.
Lalu putranya yang ke dua adalah Wei Wujing, Pangeran Ke-lima dan
saat ini masih berumur 16 tahun.
Lalu selir Kaisar yang selanjutnya adalah dua Guifei yang duduk
lebih jauh dari Kaisar. Mereka adalah Zi Xuemei dan Fei Xiao Ying. Mereka masing-masing
melahirkan satu anak untuk Kaisar.
Wei Gu Wan, sang Pangeran bungsu alias Anak Ke tujuh Kaisar12 tahun.
Dia adalah putra Zi Xuemei.
Dan Fei Xiao Ying hanya
melahiran seorang putri untuk Kaisar, yaitu Wei Yi Rong, 12 tahun saat ini dan
dia adalah putri bungsu alias anak terakhir yang di akui Kaisar.
~o0o~
Oke, Episode kali ini aku nyoba Upload lewat Laptop... ternyata yah... nggak ribet amat sih...
__ADS_1